
Sore ini Akiong tidak jadi bermain keluar rumah dengan teman-temannya seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya karena cuaca buruk sepanjang hari ini. Hujan yang turun begitu deras, ditambah lagi dengan langit yang begitu kelam belum lagi sesekali terdengar suara petir menyambar di siang hari yang muram ini. Memang suara gemuruhnya tidak terlalu kencang, tetapi tetap saja itu membuatnya kecewa karena ia harus ada di rumah seharian ini. Biasanya ketika hujan turun ia dan teman-temannya akan pergi untuk berburu ketam atau yuyu, sejenis kepiting air tawar yang berukuran kecil yang banyak ditemui ketika hujan turun. Dibelakang rumahnya pun yang masih berupa tanah kosong yang banyak ditumbuhi tanaman liar banyak sekali Yuyu yang muncul ketika musim penghujan telah tiba. Namun karena hari ini hujan turun sangat deras dan juga adanya angin kencang disertai dengan suara petir yang terdengar bergemuruh, neneknya melarang dirinya untuk main hujan-hujanan di luar seperti sebelumnya. Seandainya saja ia tetap nekad untuk pergi keluar rumah, sudah pasti di lengan atau di betisnya akan muncul bilur yang mengerikan akibat pukulan dari neneknya dengan menggunakan gagang sapu.
Siang ini ia hanya mengurung diri di kamarnya yang berukuran kecil dengan keadaan lampu kamar yang menyala. Di luar sana begitu gelap sampai ia harus menyalakan lampu kamar dengan ditemani buku komik yang di pegang ya saat ini, jadi ia tidak merasa bosan seharian berada di dalam kamar ini. Seandainya saja tidak turun hujan deras di luar sana atau jika saja ia tidak jadi pergi bermain bersama teman-temannya, ia lebih memilih untuk datang ke warung nenek yang ada persis di samping rumahnya dibandingkan ia harus berdiam seperti ini dirumahnya sendiri. Nenek memberikan kesan tersendiri di benak Akiong karena menurutnya nenekku itu bersikap sangat baik dengannya, selalu bersikap ramah ketika Akiong datang, pernah juga nenekku sampai repot-repot menyediakan makan siang untuk Akiong di warungnya itu lalu mereka makan siang bersama disana. Tidak hanya nenekku yang menurutnya baik, tetapi papa dan tanteku juga bersikap sama baiknya pada dirinya. Tante Alin sangat senang ketika ia ada di warung nenek begitupun papa walaupun papa terlihat sedikit kaku dan serius. Seandainya saja mamanya tidak sibuk mengurus tokonya di pasar atau jika saja papanya masih hidup sampai sekarang, mungkin hidupnya tidak akan sesepi ini. Walaupun di rumah ini ada kakek dan neneknya sendiri tapi tetap saja ia merasa tak kerasan dengan mereka. Kakek memang baik padanya hanya saja sudah mulai sakit-sakitan dan harus banyak beristirahat sehingga tidak bisa banyak berinteraksi dengannya, juga neneknya sendiri yang begitu keras dan disiplin padanya. Tidak terasa hujan yang deras ini membawa suasana yang begitu sejuk dan nyaman yang telah menggiringnya ke alam mimpi.
__ADS_1
******
Akiong mengusap matanya perlahan dan penglihatannya mulai beradaptasi dengan terangnya lampu kamar yang ternyata masih menyala. Ia bangun perlahan dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar dan melihat jam dinding yang tergantung di atas televisi menunjukkan pukul setengah enam sore. Ternyata ia tidur cukup lama dan melihat ke kanan-dan ke kiri, ia tidak melihat siapapun di ruang keluarga dan akhirnya ia melangkahkan kaki kembali ke arah dapur karena panggilan alam yang harus ia tuntaskan. Ketika keluar dari kamar mandi ia melihat nasi dan lauk-pauk hangat sudah tersedia di meja dapur untuk makan malam. Neneknya yang ternyata juga ada disana menyuruhnya untuk duduk bersantap makan malam yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Akiong.
__ADS_1
("I..iya Mak.."), ia yang sudah duduk di kursi meja makan akhirnya akhirnya bangkit dari duduknya melangkahkan kaki ke arah pintu belakang yang memang cukup jauh dari meja makan ini.
Ia memegang gagang pintu dan ternyata sudah di kunci. Namun samar-samar ia mendengar suara aneh dari arah luar pintu. Sejenak ia mendengarkan dengan mendekatkan telinganya ke pintu, seperti suara benda jatuh berulang kali, entah benda apa itu. Akiong yang merasa penasaran menengok ke arah dapur dan melihat neneknya sudah tidak ada disana ia nekat membuka pintu belakang itu melangkah keluar dengan berjinjit agar suara langkahnya tidak terdengar. Setelah menutup pintu ia melihat pemandangan gelap dari lahan kosong di belakang rumahnya dengan hanya diterangi oleh cahaya kekuningan dari satu lampu bohlam yang tergantung dengan menyedihkan tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia benar-benar lupa kapan terakhir kali menginjakan kaki di tempat ini karena ia lebih sering bermain di luar sana dengan teman-temannya. Neneknya selalu melarang Akiong untuk membawa temannya bermain di sekitar lahan kosong ini karena neneknya takut ada ular yang bisa membahayakan mereka semua. Suara itu terdengar lagi kan ternyata berasal dari balik tembok pagar rumahnya, bagian dari balik tembok pagar ini merupakan rumah nenek pemilik warung yang ia tahu bahwa rumah itu memang menyeramkan. Kakeknya pernah bercerita padanya bahwa rumah itu memang sudah berdiri sejak lama sebelum rumah yang Akiong tinggali ini berdiri. Suara benda jatuh itu semakin terdengar dan wajah Akiong langsung memucat, tetapi ia juga dilanda rasa penasaran dan begitu melihat ada sebuah tangga kayu di dekat tembok pagar itu, Akiong langsung membawa tangga bambu itu dan menaruhnya secara vertikal di tembok pagar itu agar ia bisa memanjat dan melihat sumber suara aneh itu yang ada di balik tembok ini. Walaupun Akiong ragu, namun karena rasa penasarannya ia perlahan-lahan memanjat tangga itu dengan suara aneh yang masih saja terdengar, dan langkah demi langkah ia sudah sampai di atas tembok pagar itu dan terlihat bagian belakang rumah nenek yang sedikit berantakan dan sayangnya tanpa adanya penerangan. Perlahan-lahan ia menunduk melihat ke bawah di balik tembok ini dan ia terkejut melihat pemandangan aneh yang ia saksikan saat itu. Terlihat seorang yang sangat aneh dengan tubuh yang sangat kurus, terlihat kumal, kulit keriput, rambut panjang yang amat sangat berantakan dan sepertinya ia seorang wanita yang ternyata ia telanjang !!! ia tengah memainkan buah kepala tua yang sudah berwarna kecoklatan bersama dengan seorang anak yang sama kurusnya dan juga telanjang seperti sosok itu. Akiong yang masih kebingungan bercampur takut kini melihat makhluk aneh itu yang melihat kearahnya dengan tatapan mata yang sangat menakutkan melotot tajam dengan seringai di mulutnya yang berlendir dan terlihat menjijikan. Sosok itu yang tadinya berjongkok kini tengah berdiri dan terlihat bagian dadanya yang terlihat begitu banyak borok disana dan menjuntai ke bawah. Akiong yang sudah pucat pasi reflek berteriak cukup kencang dan hampir saja tangga yang menjadi pijakannya bergerak tidak seimbang kalau saja ia tidak memegang kawat yang terpasang di atas tembok pagar itu. Dengan wajah pucat pasi ia langsung turun dari tangga itu dan berlari kembali untuk masuk ke dapur rumahnya melewati pintu yang tadi ia lalui. Mungkin saja setelah ini ia akan habis di marahi oleh neneknya tetapi menurutnya itu masih tidka seberapa dengan pemadangan mengerikan yang tadi ia lihat.
__ADS_1
*********