
Sedari pagi ini hujan yang turun rintik-rintik belum berhenti juga, membuat suasana di sekitar rumah semakin sepi, hampir tidak ada kendaraan yang lewat sepanjang hari ini dan hanya terdengar suara air hujan dan sesekali terdengar suara katak ikut berbunyi. Nenek hanya duduk termenung di bale (tempat duduk lebar terbuat dari kayu untuk duduk lesehan) yang ada di depan warungnya sambil minum teh hangat tawar yang sengaja ia buat untuk menemaninya di kala hujan ini. Warung kecil milik nenek ini sudah cukup lama berdiri dengan menjual berbagai kebutuhan sehari-hari juga menjual minyak tanah secara literan yang memang pada waktu itu masih banyak orang yang menggunakan kompor minyak tanah. Biasanya jika nenek tidak mengungguli warung ini, ada tanteku yang kadang ikut membantu untuk menjaga warungnya. Tanteku jarang membantu nenek di warung karena ia bekerja di toko kain yang cukup besar yang terletak di kompleks ruko yang ada di dekat pasar.
Sesekali nenek memarahi para anak laki-laki yang berlarian dengan baju basah terkena air hujan dengan pancingan dan joran yang mereka bawa untuk memancing. Dan ia juga mengenali salah satu dari anak laki-laki itu, yang adalah cucu dari pemilik rumah di sebelah rumahnya, cucu dari sepasang suami istri yang istrinya kira-kira seumur dirinya, namun memiliki watak yang cerewet, berbeda dengan suaminya yang terlihat ramah dan sabar. Kadang-kadang nenekku mendengar suara wanita itu yang tengah memarahi cucu laki-laki nya itu karena ketahuan bolos dari pelajaran di kelas dan malah keluyuran bermain entah kemana. Pernah juga anak laki-laki itu menangis lalu berlari ke arah warung nenekku karena takut dimarahi lagi oleh wanita itu yang tak lain adalah neneknya sendiri entah karena apa, nenekku tidak sempat menanyakannya karena keburu simpati melihat anak itu yang menangis dengan luka lebam di lengan kanannya. Kemudian menyuruhnya untuk bersembunyi di dalam warungnya. Ia melihat anak itu cukup tampan dengan kulit putih dan wajah orientalnya seperti bukan orang peranakan, melainkan seperti orang Cina totok yang datang kemari. Dan belakangan ini ia mengetahui bahwa ayah anak ini memang berasal dari daratan China sana, hanya saja sudah meninggal setahun lalu karena sakit. Ibunya sibuk dengan bisnisnya di pasar sehingga hampir tak ada waktu untuk mengurusnya. Papaku yang kebetulan menghampiri warung nenek tiba-tiba kaget melihat seorang aja laki-laki dengan luka lebam yang menurutnya terlihat cukup mengerikan yang begitu kontras dengan kulit putih anak itu.
"Nah, ini anak siapa?", papaku berbisik pada nenek dengan hati-hati.
"Cucu si Ncek yang tinggal di sebelah, lu tau kan?. Istrinya galak banget, lu liat aja nih anak sampe biru begini", Nenek memandang anak itu dengan rasa simpati. Terkadang ia kasihan dengan anak ini yang sepertinya terlihat kurang perhatian dari keluarganya, mengingat wanita tua pemilik rumah itu yang cerewet dan cukup galak menurutnya.
"Terus kenapa dia disini Nah?, kalo istrinya dateng kemari gimana?", Papa terlihat gugup karena ia tidak mau kalau sampai nenek harus berurusan dengan orang seperti itu. Tapi, papaku juga kasihan melihat anak di depannya ini yang tampak habis menangis dan menahan sakit di lengan kanannya.
__ADS_1
"Udah gapapa, lu ga usah khawatir. Biar gua yang urus. Lu bawa dulu aja ke dalem nih anak. Tar kalo Ampe istrinya dateng gua yang ngomong..", Nenekku menjelaskan dengan nada mantap, nenekku sudah menganggap anak laki-laki ini seperti cucunya sendiri, mengingat pada saat itu hanya kakak laki-laki papa saja yang sudah berkeluarga namun belum dikaruniai anak.
"Tapi Nah...",
"Bawa ke dalem rumah ", Jawab nenekku sedikit kesal.
"I..iya Nah..", papaku menjawab pasrah karena sama sekali tidak bisa membantah bila nenek sudah berbicara dengan nada seperti itu. Ia juga sebenarnya kasihan dengan anak laki-laki ini hanya saja ia juga tak ingin bila nenek harus berurusan dengan orang seperti itu. Ia takut akan menimbulkan masalah baru yang tentu saja sangat tidak disukainya.
Papaku mengangguk pelan lalu menyuruh anak itu untuk berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah. Papaku sesekali tengok ke arah rumah disebelahnya takut-takut wanita itu melihatnya disini. Setelah masuk papaku menyuruh anak itu duduk di ruang tengah dan menunggu bibi datang membawakan obat untuknya.
__ADS_1
"Ga usah sungkan, anggap aja lagi main kemari...,ntar ada bibi kemari,, Ncek tinggal ya...", Kata papaku kepada anak itu yang secara tak langsung ia memberitahukan pada anak itu untuk memanggilnya Ncek (Paman, biasanya panggilan untuk adik laki-laki dari pihak papa).
Anak itu hanya mengangguk pelan dan menggumamkan terima kasih pada papaku. Ia sedikit terlihat takut dengan raut wajah papa yang memang selalu terlihat berkerut dan serius. Sepeninggal papa kini ia hanya terdiam seorang diri di ruang tengah yang cukup luas itu, sesekali ia menunduk dengan memperhatikan luka lebamnya yang hampir kehitaman mengerikan itu. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, rumah ini sama sepinya dengan rumah kakeknya di sebelah, di tambah lagi terlihat di luar sana awan mendung sudah mulai menutupi langit yang cerah, yang mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Dari jendela rumah, kini pandangannya beralih ke meja sembahyang almarhum kakekku yang ada di sudut ruangan, sebelah lorong yang menuju ke arah kamar papaku dan dapur. Meja itu cukup besar berwarna coklat tua dengan Satu meja yang tinggi dan lebar dan satu lagi meja di depannya yang berukuran pendek dan lebih kecil dan juga berwarna coklat tua. Anak itu sepertinya tertarik dengan meja sembahyang itu dan berjalan perlahan kesana. Dilihatnya sekilas foto almarhum kakekku dan mengamati benda-benda lain di meja itu, tempat hio, vas bunga plastik, tempat lilin dan tempat abu untuk menancapkan hio ketika berdoa. Namun ditengah pengamatan kecil-kecilannya itu ia seperti mendengar sesuatu. Suara aneh yang sulit dijelaskan, pelan tapi terdengar, tepat di bawah meja sembahyang ini. Ia berniat mengintip di bawah kolong meja itu karena meja sembahyang yang berukuran kecil dilapisi oleh taplak meja yang lebar berwarna merah. Ia perlahan-lahan berjongkok dan lambat-lambat mengangkat kain merah itu. Dia menundukkan kepalanya dan ia tersentak kaget melihat sesosok anak kecil dengan seluruh tubuh yang berwarna hitam legam, dengan rambut yang sangat sedikit hampir botak, kata besar yang juga berwarna hitam pekat, dan mulutnya seperti bergerak-gerak tidak jelas dan mengeluarkan suara aneh yang tadi ia dengar. Anak aneh itu seperti membuat kode dengan tangannya ingin di hampiri olehnya dan terdengar kata....
"MAAIIIIN...",
Pelan namun terdengar mengerikan, dan anak itu langsung berdiri dan melepas kain merahnya. Lalu ia kembali kaget melihat bibi yang berdiri di depan lorong dengan obat di tangannya. Melihat ekspresi takut sang anak. Bibi hanya menggeleng pelan dan menaruh satu telunjuknya di depan mulutnya.
"Jangan mau di ajak main ya...", bisiknya pelan
__ADS_1
******