
Mama mengusap kelopak matanya yang terasa berat dan sedikit perih. Ia mulai merasakan bulir air mata yang mengalir di pipi ketika ia telah berhasil membuka mata dan cepat-cepat menghapusnya dengan kertas tisu yang tersedia di meja belajar Tante Alin. Mama melirik jam dinding yang membuatnya kaget karena jam menunjukkan pukul delapan pagi. Ia melirik sisi ranjang Tante Alin dan mendapati Tante sudah tidak ada disitu. Mama berpikir mungkin kini ia sudah mandi dan sarapan. Mama memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing, mungkin karena semalam ia kurang tidur. Mama berjalan pelan mengambil handuk, baju bersih, beserta peralatan mandi miliknya dari dalam tasnya. Ia ingin segera mandi untuk menyegarkan kepala dan tubuhnya yang terasa berat.
Mama membuka pintu kamar, menengok ke kanan dan ke kiri. Keadaan di luar kamar sangat sepi, mungkin mereka semua saat ini sudah sibuk dengan kegiatan dan aktivitasnya masing-masing. Mama melangkah ke pintu depan dan melihat Nenek yang tengah duduk berjaga di warungnya, mama melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar mandi sambil sesekali mengusap matanya yang memang terasa berat dan agak perih. Mama memang selalu merasakan berat dan perih di matanya apabila ia mengalami kurang tidur. Karena rasa perihnya masih terasa dimatanya, Mama akhirnya hanya mengedipkan matanya beberapa kali saja, karena ia tidak mau matanya terkena iritasi akibat terus menerus mengusapnya. Setibanya di kamar mandi ia akan langsung membasuh matanya dengan air agak terasa lebih baik dan segar.
Langkah demi langkah mama menuju kamar mandi, kali ini langkahnya terhenti tepat di lemari yang persis ia lihat kemarin malam. Mama sempat terkaget ketika melihat lemari itu. Sekilas dilihat, lemari ini terlihat biasa saja dengan desain furnitur lama berwarna coklat tua dengan kaca besar yang menempel di salah satu daun pintu lemari. Mama perlahan mendekati lemari itu dengan tatapan waspada, meraba gagang pintu lemari yang ternyata memang tidak terkunci, lalu membuka sisi sebelah daun pintu lemari lalu membuka sisi lainnya dengan hati-hati.
Yang terpampang di pandangannya saat ini adalah susunan dari seprei, aneka sarung bantal, selimut, dan kain sarung yang tersusun rapi di dalam lemari itu. Ia melihat dengan seksama semua sisi dari lemari itu dan.....pemandangannya sama saja. Mama akhirnya menutup rapat pintu lemari tua itu, dan terkaget untuk yang kedua kalinya karena dari kaca besar yang ada di pintu lemari itu, terlihat bayangan papa yang berdiri tepat di belakang Mama dengan ekspresi yang siapapun melihatnya, mungkin akan sama kagetnya dengan Mama. Mama menengok ke belakang, dan jelas itu memang Papa yang sepertinya baru saja dari dapur.
"Ko...", Mama memanggil Papa dengan sedikit tersengal, melihat ekspresi wajah Papa yang seperti itu, ia jadi memaklumi perkataan Tante Alin dan Nenek kemarin hari, terlihat memang Papa adalah orang cukup sulit untuk memulai terlebih dahulu dengan lawan jenis.
"Mau ambil selimut?", Papa bertanya dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Mama hanya mengangguk pelan membalas pertanyaan papa, mama tidak ingin membuat papa curiga karena telah membuka lemari ini tanpa alasan apapun.
"Tidak apa-apa, ambil saja kalau memang perlu. Lemarinya juga tidak terkunci. Sarapan susah tersedia dan Alin ada di dapur...", Lalu Papa berjalan meninggalkan Mama begitu saja.
"Makasih Ko...", Balas mama singkat yang masih merasa keheranan, apa saudara dari sahabatnya itu memang selalu berekspresi datar dengan berbicara tanpa intonasi seperti itu setiap hari?. Jika memang benar, pantas saja sampai saat ini ia masih seorang diri.
Mama kembali melanjutkan langkahnya ke dapur dan benar saja, Tante Alin kini tengah duduk di meja makan sedangkan Bi Inah tengah di luar sedang menjemur pakaian.
Mama menghampiri Tante Alin yang kini tengah menikmati teh tawar hangat, dan mama juga melirik sarapan yang ternyata memang masih terhidang di atas meja. Nasi putih dengan sayur bayam, bakwan jagung, ikan teri medan yang digoreng dengan kacang tanah, satu papa petai dan sambal terasi. Mama menghampiri Tante Alin yang menggeser untuk memberikan tempat untuk mama di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah sarapan?", Tanya mama singkat yang masih menatap menu sarapan pagi yang ada di hadapannya.
"Dari tadi, lu masih tidur makanya gua duluan...", Tante kembali meminum teh tawarnya yang sudah mulai terasa dingin dan menangkap tatapan mama yang terlihat mengerut.
"Kenapa?", Tante Alin membulatkan matanya, yang bingung dengan tatapan mama yang tiba-tiba seperti itu.
"Lu tahan juga ya tinggal di rumah ini..",
"Memangnya kenapa?", Tante terlihat heran dan akhirnya tanpa basa-basi, Mama mulai menceritakan kejadian mengerikan yang ia alami tadi malam. Mendengar hal yang dialami oleh sahabatnya itu, Tante hanya menghela napas dan menatap Mama dengan tatapan pasrah dan sedikit bimbang.
"Sebenarnya sudah dari lama gua, Ko Jun, sama yang lain usul ke Enah untuk menjual rumah ini dan tinggal di rumah baru. Tapi Enah bersikeras tidak mau menjual rumah ini, kita berempat yang malah dimarahi Enah...", Jelas Tante panjang lebar, sekilas ia mengingat perkataan Nenek yang marah besar ketika ia, Papa, Om Toni serta Tante Dewi mencoba membujuk nenek :
"Tapi lu masi betah tinggal disini Lin..", Kini mama menunjukkan ekspresi wajah setengah ngeri, baginya mengingat peristiwa kemarin malam saja sudah sangat menggangu.
"Gua juga sebenarnya jika bisa tinggal di tempat lain, gua lebih pilih tinggal di tempat lain Yul..", Tante Alin mengusap wajahnya dan menghela napas kasar. Dan ia mulai menceritakan kisah ketika Mama datang untuk
pertama kalinya ke rumah ini.
*******
__ADS_1
Dua anak dengan seragam sekolah berwarna merah putih itu masih sibuk dengan tugas sekolah yang mereka kerjakan berupa miniatur rumah-rumahan yang terbuat dari kardus bekas, beserta dekorasi miniatur halaman dan pagarnya. Sedari siang Alin dan Yuli sangat sibuk menyiapkan properti untuk mengerjakan tugas kesenian dari guru mereka. Ketika mereka selesai makan siang, Alin sudah menyiapkan beberapa kardus bekas tidak terpakai yang ia ambil dari warung Nenek, beserta gunting, dan cutter. Sementara mama sudah menyiapkan cat akrilik aneka warna, luas dua buah, lem, dan penggaris. Sambil membuat pola-pola rumah di atas kertas karton, Yuli sempat berbisik mengenai Jun, saudara dari Alin yang tadi sempat makan siang bersama mereka.
"Lin, yang tadi makan bersama kita itu Koko lu ya?", Mama mulai membuka percakapannya di tengah keseriusan mereka mengerjakan tugas.
"Koko, yang mana?", Alin balik bertanya pada Yuli karena memang di meja makan tadi ada dua orang saudaranya yang ikut makan siang bersama mereka, Toni dan Jun.
"Yang pakai seragam...", Balas mama singkat. Letak tempat duduk Yuli pada saat makan siang persis di depan Saudara Alin yang mengenakan Seragam SMA.
"Oh, itu Ko Jun, Masih SMA kelas 3, emangnya kenapa?...", Jelas Alin singkat dan kini tengah fokus menggunting kertas kardus itu sesuai dengan pola yang ia buat.
"Hmm..., Kok dia terlihat aneh ya?, Maksudnya, pas tadi makan siang, dia serius banget liatin muka gue...",
"Hahaha..., Si Ko Jun emang gitu orangnya. Sudah tidak apa-apa, dia memang seperti itu...",
Mama hanya terdiam dan kembali mengerjakan tugasnya, menggambar pola atap rumah. Memang seperti itu?,, siapapun yang di tatap seperti itu tentu akan merasa heran bahkan tidak nyaman. Setengah pekerjaan mereka hampir selesai dan Alin memohon ijin untuk ke kamar mandi. Letak kamar mandi yang memang lumayan jauh membuat Alin mempercepat langkahnya agar sampai ke tempat tujuannya. Lama berjalan, kini langkahnya melewati kamar Jun yang terlihat temaram dengan jendela yang tertutup, Alin ingat kemarin Nenek Menyuruh Bibi untuk menaruh tumpukan kardus-kardus yang telah terlipat itu tepat di kamar Jun untuk di jual nanti. Sepertinya tumpukan kardus itu cukup tinggi sampai-sampai saudaranya itu tidak membuka jendela kamarnya. Namun entah mengapa, Alin seperti melihat sesuatu yang aneh di dalam temaramnya kamar itu, tepatnya persis di bagian atas ranjang ia seperti melihat sesuatu. Alin kecil yang penasaran melangkah pelan untuk melihat sesuatu yang aneh itu. Seketika jantungnya tersentak dan ia berteriak karena melihat sosok aneh dengan rambut yang panjang tengah berjongkok di atas kasur ranjang Jun, Tubuhnya terlihat hitam legam dengan Tatapan mengerikan berwarna putih seperti ikan yang sudah mati. Menyeringai Tante Alin sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan kuku panjang hitam dan runcing seperti jarum raksasa. Makhluk apa itu?, bagaimana bisa sosok mengerikan seperti itu bisa ada di kamar Jun?, Dimana saudaranya itu?.
Tiba-tiba kamar temaram itu seketika berubah menjadi terang-benderang, dan terlihat Jun muncul dari dalam kamar yang kini hanya mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana pendek motif kotak-kotak. Ia memandangi adiknya keheranan. Karena entah kenapa adik bungsunya itu menatap kedalam kamarnya dengan ekspresi ketakutan, lalu menghambur lari ke arah dapur.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1