
Herman kini tengah termanggu di dalam tokonya, mengamati bagian depan toko yang cenderung sepi, lalu ia melangkah keluar tokonya dan menengok ke kanan dan ke kiri yang sepanjang mata memandang merupakan komplek pasar yang biasanya memang sangat ramai pembeli bila akhir pekan datang menjelang. Papaku dari dalam tokonya melihat sahabatnya yang tengah celingak-celinguk seperti itu, akhirnya bangun dari duduknya dan berinisiatif menghampiri Herman yang langsung menatap papa yang mendekat kearahnya.
"Ngapain lu celingak-celinguk begitu?, kalo mau rame tunggu dua hari lagi..", Papaku setengah bercanda namun tidak dengan Herman yang malah menatapnya datar.
"Kenapa lu?, malah diem aja..??", Papaku menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Jun, Alin belom cerita ya sama lu...", Herman mulai sedikit memasang wajah serius dan papa hanya mengerutkan alis, tidak mengerti apa maksud dari sahabatnya ini.
"Oh...gua tau, kemaren kemaren lu Dateng ke rumah buat ketemu si Alin kan?, gimana?, lancar ga?, rasanya ga percaya ade gue mau sama lu...", Papaku setengah menggoda Herman yang malah memasang wajah cemberut.
"Oh Alin belom cerita ya...", Herman langsung menyimpulkan melihat reaksi papa yang malah berkelakar menggodanya.
"Cerita soal apa?, kok lu keliatan serius begitu..", Papa baru ingat ia memang sedari kemarin belum bertemu dan berinteraksi dengan tanteku itu lantaran dirinya yang sudah capek setelah aktivitasnya seharian di pasar ini dan ia tadi pagi-pagi sudah membuka tokonya ini untuk membereskan stok barang dagangannya yang baru saja tiba di tokonya kemarin.
Herman menghembuskan napasnya perlahan, dan akhirnya ia mulai menceritakan secara mendetail kejadian yang ia alami ketika datang kerumahnya menemui tanteku di waktu kemarin. Papa hanya bisa diam dan menghela napas atas apa yang telah disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Sebenernya soal rumah itu gua udah bilang ke Enah buat di jual aja terus cari rumah baru.., tapi Enah gua gak mau..", Papa menanggapi cerita Herman sambil melipat sikunya, ia memang ingin sekali menjual rumah itu yang menurutnya sudah tidak kondusif untuk ditinggali manusia.
"Kenapa emangnya?", Herman merasa sedikit penasaran, ingin mendengar cerita lebih jauh mengenai rumah itu.
"Rumah itu kan udah ada dari jaman Kong Co (Sebutan untuk kakek buyut di kalangan peranakan Tionghoa) gue dari Babah. Enah ga mau jual karena itu warisan dan kenang-kenangan dari Babah..", Papaku menjelaskan dengan singkat pada Herman karena hanya itu yang dia tau.
"Lu sendiri gimana?, pernah ngalamin apa aja disitu?", tanya Herman yang pikirannya tengah berspekulasi kejadian mengerikan apa saja yang sekiranya pernah dialami papa selama tinggal di rumah mengerikan itu.
__ADS_1
"Beberapa sih.., cuma yang bikin gue keinget sih pas masih kecil....", Papa lagi-lagi menghela napas karena harus mengingat kembali hal mengerikan yang sudah ia lupakan sejak lama.
********
Sore hari ini Jun kecil tengah menikmati aktivitasnya yang tengah berburu cacing di lahan belakang rumah. Dengan besek yang terbuat dari anyaman bambu dan sebuah tongkat ranting yang cukup panjang ia berlari riang ke lahan belakang yang sangat luas itu setelah sebelumnya ia merengek pada Enah untuk meminta ijinnya masuk ke lahan ini. Sebelumnya Enah sempat melarangnya untuk ke lahan kosong belakang karena di lahan kosong itu banyak ular yang bersarang disana, Enah takut jika Jun tidak hati-hati dan malah terpatuk ular. Babah yang melihat istrinya itu akhirnya menghampiri mereka berdua, lalu mengijinkan putranya itu untuk berburu cacing di lahan itu asal dia berhati-hati dan harus sudah tiba di rumah sebelum waktu Maghrib tiba.
"Lu buat apa ngambil cacing di belakang Jun?", Tanya Babah lalu melirik besek dan ranting yang sudah ada di tangannya.
"Buat mancing Bah...", Jawab Jun lalu menunjukkan kedua benda yang ia pegang di tangannya. Sementara Enah hanya menggelengkan kepala dengan tatapan khawatir.
"Mo mancing dimana lu?,", Tanya Babah sedikit gusar, jika itu di Empang yang ada di lahan kosong itu, jelas Babah tidak mengizinkannya mengingat berapa besar dan dalamnya Empang itu. Ia ingat tiga hari yang lalu ada seekor kambing yang bernasib naas mati di Empang itu dengan kondisi yang sudah membiru dan setengah membusuk.
" Besok Bah di Empang Deket rumah si Togar Bah,, nanti mancing bareng juga sama Chian Lan....", Sekilas Ingatan Jun langsung mengarah kepada kedua temannya itu dan ia sudah berjanji akan membawa cacing yang banyak untuk acara memancing mereka nanti. Babah pun sudah pernah melihat teman dari putranya itu dan tidak mempermasalahkannya asal mereka tidak memancing di Empang belakang.
"Iya Bah...", Jawab Jun riang namun tidak dengan Enah yang masih terlihat khawatir.
"Kasih aja gapapa, jarang-jarang juga dia maen ke belakang...", kata Babah singkat kepada istrinya itu agar tidak terlalu khawatir.
Akhirnya Jun melewati pintu samping dapur dan setengah berlari menuju lahan kosong itu sambil memperhatikan langkahnya dengan seksama, takut-takut ada seekor ular yang tak sengaja melintas di dekatnya mengingat betapa lebatnya tanaman liar yang tumbuh di lahan ini, belum lagi dengan pohon-pohon yang berukuran cukup besar yang ada disana. Jun melangkah pelan melewati gudang padi dan ia memutuskan untuk mencari cacing di dekat gudang itu. Ia mulai mengorek-orek tanah dengan tongkat kayunya dan didapati beberapa cacing dengan berbagai ukuran dan ia masukkan cacing buruannya ke dalam besek dengan sedikit tanah kedalamnya. Saking asyiknya mencari cacing, Jun sampai lupa waktu dan telah terlihat dilangit yang berwarna kemerahan dengan matahari yang telah berada di ufuk barat. Jun yang memang sudah selesai mengambil cacingnya dan menyadari hari sudah sore segera bangkit dari posisinya yang semula berjongkok. Ia memegangi beseknya yang sebelumnya sudah ia ikat dengan tali rami, begitu ia bersiap akan meninggalkan tempat itu, pandangannya tiba-tiba mengarah ke arah pohon kelapa yang berjejer tak jauh dari tempatnya ia berdiri. Entah mengapa Jun merasa ada yang aneh dengan pohon-pohon kelapa itu dan ia kaget melihat salah satu pohon itu seperti bergerak. Bergerak aneh seperti sedang berusaha melangkah perlahan-lahan dan itu bukan pohon kelapa, terlihat sosok aneh menyeramkan dengan badan jangkung dan tinggi yang menyamai pohon kelapa dan menyeringai tajam kearahnya. Terlihat tangan dan jari jemarinya yang kurus mengerikan seperti ranting pohon dengan kuku panjang dan terlihat runcing. Tatapannya sangat tajam melihat Jun yang terpaku dengan wajah berkeringat dingin menahan takut. Jun menarik napas pendek-pendek dan berusaha mengingat mantra-mantra suci yang telah diajarkan oleh Babah kepadanya. Jun mulai memundurkan kakinya untuk ancang-ancang mengambil langkah seribu. Dan sosok itu semakin mempercepat langkahnya dan Jun langsung lari tunggang langgang dengan besek yang berada dalam pelukannya. Ia benar-benar ketakutan sampai-sampai ia membaca mantra-mantra suci itu dengan cukup keras dengan langkah kakinya yang berlari semakin cepat. Dengan langkahnya yang masih berlari akhirnya ia tiba di bagian dengan rumah dengan kaki gemetaran dan setengah menahan tangis. Ternyata disana sudah ada Babah dan Enah dengan Babah yang memasang ekspresi kesal dan Enah yang memasang ekspresi takut sekaligus khawatir, melihat putranya sudah mendekat ke teras depan ini, Babah langsung menarik Jun kehadapannya dan menghardik Jun yang sudah gemetar ketakutan dan menangis.
"Ini udah jam berapa Jun?,, dibilang jangan sampe Maghrib ada di belakang..??!!", Babah memegang erat pundak Jun yang hanya menunduk dan menggeleng pelan dengan isakan yang masih terdengar.
"Lu kenapa Jun?, kenapa nangis begitu??", Enah langsung mengelus pundak Babah, karena ia takut suaminya itu akan memukul Jun yang masih terlihat takut dan gemetar. Ditaruhnya besek yang di pegang Jun itu di bale panjang di teras, lalu mengelus pundak Jun untuk menenangkannya agar tidak menangis lagi.
__ADS_1
"Jun takut Nah...,", Jun menghapus air matanya yang membuat wajahnya malah kotor terkena tanah akibat kegiatan mencari cacingnya tadi.
"Lu liat apa emangnya...?,", Enah semakin khawatir melihat isakan putranya itu.
"Ada perempuan serem angkung tinggi kaya pohon kelapa Nah,, serem banget. Dia kaya mau nangkep Jun Nah...", Perlahan ia akan Jun menelan dan menghilang, hanya suaranya sedikit serak karena habis menangis.
Enah tertegun dengan penjelasan putranya itu, dan seketika Babah membisikkan sesuatu kepada Enah.
"itu Wewe Gombel, Ong...."
******
Hai...hai....para Readers
Aku ucapin terima kasih ya karena sudah mampir di novelku ini, jangan lupa favorit, like dan komennya ya biar aku makin semangat buat up-datenya.
Untuk update ke bab selanjutnya mohon sabar ya readers, karena aku sibuk dengan satu dan hal lainnya makanya kemarin aku lama update 🙏🙏
Tunggu terus ya untuk episode baru The House 1937
Regards
Mazukashina
__ADS_1