
Papa kembali mengisap rokoknya dalam dalam, mengeluarkan asapnya yang membuat sekeliling pandangannya cukup kabur karena asap rokok itu. Hari ini, papa tidak membuka tokonya di pasar seperti biasanya, di siang hari ini ia tengah sibuk memperhatikan dan mengawasi para mandor dan tukang bangunan yang kini tengah melakukan pekerjaannya untuk membangun gudang yang baru, tentu dengan bentuk bangunan baru yang jauh lebih kokoh di bandingkan dengan bangunan yang sebelumnya. Papa sudah memberikan informasi ke mandor bangunan bahwa ia ingin gudang itu di buat desain bangunannya mirip dengan gudang padi yang ada di sebelahnya, hanya saja ia ingin lantai gudangnya di buat lebih pendek dan juga dengan ukuran pintu yang jauh lebih tinggi dan lebar, tentu untuk memudahkan keluar masuknya perabotan yang nanti akan kembali masuk ke gudang.
Papa duduk di salah satu kursi kayu tua yang merupakan salah satu barang dari dalam gudang itu. Kulit dari jok bantalan kursi itu sudah terlihat usang dan kotor dan terkelupas si semua bagian. Sebelum makan siang tadi, papa sudah menjemur kursi itu dengan tujuan agar aroma lembab menyengat yang ada di jok bantalannya berkurang. Namun tetap saja, karena sudah terlalu lama kursi ini tersimpan di gudang tua itu, aroma lembab masih menempel pada kursi itu.
Papa di temani sebatang rokok yang kini ia taruh di asbak dan gelas teh tawar yang sudah di Minum setengah gelas yang di taruh di meja perabot usang yang ada persis di sampingnya. Suasana yang cukup terik hari ini rasanya memang sangat aneh jika melihat papa yang malah menyulut rokoknya sambil meminum teh tawar hangat. Namun ia tidak peduli dengan semua itu, beberapa menit yang lalu memang dirinya tersadar bahwa setelah sekian lama, hari ini ia kembali merokok setelah beberapa lama ia tidak mengisap batang tembakau itu. Untuk merokok, papa memang terbilang jarang melakukannya, dan tidak sesering Om Toni ataupun almarhum Kakek. Maka dari itu, satu kotak rokok yang ia punya akan habis dalam waktu yang cukup lama.
Biasanya Papa mengisap batang tembakau itu hanya disaat tertentu saja, ketika sedang ingin merokok, sedang bosan, atau ketika sedang banyak pikiran saat ini. Ya, beberapa masalah yang terjadi saat ini cukup menyita perhatian dan pikirannya. Membuatnya lelah dan sedikit kacau, sebagai anak laki-laki yang diandalkan dalam keluarga, memang ini sudah resiko papa, tapi tetap saja resiko itu membuatnya lelah. Kemarin karena terlalu lelah, Papa meminta Tante Alin untuk memijatnya, dan sekarang tubuhnya merasa lebih baik setelah di pijat oleh Tante. Papa yang absen berdagang di pasar hari ini pun berkat ide dari Tante Alin yang menyuruhnya untuk di rumah selama seharian dan mengawasi dari proses pembangunan gudang baru di bagian belakang rumah ini.
Papa melirik asbak rokoknya dan mendapati rokoknya hanya tertinggal puntung dan sisa asap tipis dari puntung rokok itu. Pandangannya yang masih mengarah ke asbak itu, tiba-tiba pendengarannya di sapa oleh suara yang tidak asing baginya, Bi Inah berdiri tak jauh dari tempat papa duduk sambil membawa sepiring lontong dan risol dengan sepiring kecil cabai rawit.
"Koh..., ini saya bawa makanan..", Bi Inah melirik ke arah nampan yang ia bawa.
__ADS_1
"Taruh di meja itu aja Bi..", Papa menunjuk ke meja kayu berbentuk bundar yang sebelumnya sudah di bersihkan. Bi Inah menganggu dan menaruh piring dari nampan itu ke meja. Bi Inah melirik ke arah papa dengan pandangan sedikit khawatir. Sejak kemarin, memang papa terlihat lelah dan capek mengurus banyak hal di rumah ini.
"Koh, apa Engkoh mau saya buatkan obat?, Engkoh dari kemarin keliatan lelah...", Bi Inah berbicara dengan memelankan suaranya.
"Terima kasih, Bi. Mungkin nanti malam saja untuk, obatnya...", Papa memang berencana malam ini meminta kembali Tante Alin untuk memijatnya.
"Oh Baik Koh, nanti saya akan membawa poci teh juga kemari...", Bi Inah kembali melangkah ke pintu samping dapur. Papa yang melihat nampan itu di meja, segera bangun dari kursi tua itu dan mengambil satu lontong isi sayuran dari piring. Di meja itu ada empat buah piring yang terdiri dari dua piring isi lontong dan dua piring isi risol. Papa meneguk kembali teh tawar dari poci teh yang tadi Bi Inah Bawa dari dapur. Di tengah papa menikmati lontongnya, nampak Chun In melangkah ke arah dirinya sambil sesekali melirik para tukang bangunan yang tengah bekerja di lahan bekas gudang tua itu.
"Makan Koh...", Papa menawarkan aneka makanan di meja itu kepada Chun In ya g dibalas ucapan terima kasih oleh laki-laki itu. Sebetulnya hari ini ia harusnya sudah kembali ke kediamannya. Tapi karena Papa menahannya untuk pulang, karena berdalih ingin Chun In juga mengawasi proses dari pembangunan awal gudang ini, setidaknya itu untuk hari ini, karena Papa ingin memastikan bahwa semuanya sudah tidak ada "hambatan" lagi melalui laki-laki itu.
"Sudah lebih baik Koh, kemarin saya minta tolong Alin untuk memijat saya...", Papa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lebih baik ia segera menanyakan mengenai keadaan di rumahnya sekarang, terutama mengenai urusan pembangunan gudang ini.
__ADS_1
"Berarti untuk proses pembangunan ini sudah tidak ada masalah lagi kan, Koh?", Papa mengamati Chun In dengan tatapan penuh antisipasi, sambil mengunyah sisa linting di tangannya.
"Untuk pembangunan gudang ini, sudah aman Koh...", Tadi Pagi salah satu tukang bangunan yang bekerja untuk gudang ini melapor kepada Nenek bahwa kemarin malam sudah diadakan doa bersama untuk arwah Sukarsih ya g tukang belulangnya yang sudah di kebumikan itu. Doa bersama itu di adakan di Mushola yang bersebelahan dengan lahan pemakaman umum yang menjadi lokasi makam arwah perempuan itu. Si tukang bangunan mengetahui hal itu karena beberapa dari mereka ternyata mengikuti sesi doa bersama itu. Papa juga sudah mengetahui hal ini, dan ikut mengucapkan terima kasih karena mereka sudah turut berdoa untuk ketenangan arwah perempuan itu.
"Saya minta maaf Koh kalau saya menahan Engkoh untuk pulang...",
"Iya Koh Jun, saya paham, kebetulan juga saya sedang tidak ada urusan apapun di Klenteng. Saya juga sudah mengabari Ncek Afung...", Papa hanya mengangguk dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.
"Ada apa Koh?", Chun In secara tidak sadar malah bertanya seperti itu yang langsung membuatnya tersentak. Entah mengapa ketika tadi ia menyebutkan nama pria yang sudah lama menjadi pengurus Klenteng itu, ia merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ia merasakan Papa yang seperti risih dan sedikit tidak nyaman ketika dirinya menyebut Ncek Afung.
"Oh tidak apa-apa Koh..., tidak ada. Saya teringat soal gangguan yang waktu itu saya tanyakan,, apa makhluk itu sudah tidak ada lagi Koh?, maksud saya tidak akan mengganggu lagi..?", Papa mengalihkan pembicaraan dari Ncek Afung ke hal yang pernah ia konsultasikan kepada Chun In ketika ia datang kerumahnya waktu itu.
__ADS_1
"Selama Engkoh tidak merespon makhluk itu, dan selalu berdoa kepada Thien..., berangsur-angsur akan berkurang Koh, gangguannya...", Chun In menegaskan kata gangguan itu di akhir kalimatnya.
*******