
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, salah satu tanteku yang merupakan adik perempuan papa tengah memegangi perutnya yang sakit dan saat ini sedang terbaring di ranjang kamarnya. Sakit perutnya ini mengakibatkan ia tidak bisa tidur yang disebabkan karena ini adalah hari kedua masa menstruasinya. Setiap kali ia mengalami masa menstruasi seperti ini, rasa sakitnya memang tak tertahankan bahkan sampai membuatnya tak mampu untuk banyak bergerak. Seharusnya tadi ketika semua orang belum beranjak tidur dan masih ada yang lalu lalang ke dapur, ia harusnya menyiapkan kompres air hangat untuk perutnya yang memang sakitnya sudah terasa sedari siang tadi, hanya saja untuk malam ini sakitnya menjadi dua kali lipatnya. Ia menarik napas berat-berat dan menyeka keringatnya dengan saputangan yang ada di bawah bantalnya. Rasa Sakit ini benar-benar menusuk sampai membuatnya berkeringat cukup banyak. Ia beranjak dari ranjang tidurnya dan menatap dirinya di meja rias dengan desain yang masih tradisional itu dan memegangi kedua pipinya, ia rampak pucat dan terlihat sakit.
__ADS_1
Ia ingin ke kamar mandi mengganti kain yang digunakannya untuk menstruasi dengan kain yang baru. Pada waktu itu ketika sedang menstruasi, para wanita belum mengenal pembalut modern untuk "tamu bulanan" mereka. Ia membuka lemari pakaian dan mengambil salah satu kain bersih, ia taruh di saku roknya dan melangkah ke arah pintu kamar. Namun sebelum ia membuka selot kunci kamar, ia sempat ragu untuk keluar kamar dan melangkah menuju kamar mandi. Kamar mandi rumah nenek berada dekat dengan dapur dan cukup jauh dari kamarnya. Namun yang membuat ia ragu adalah kamar mandi itu cukup menyeramkan ketika malam hari, walaupun sudah ada lampu petromak sebagai sumber penerangan. Maklum saja, desain kamar mandi jaman dulu memang bisa dibilang masih sederhana dan ala kadarnya. Tapi jika ia tak ke kamar mandi mengganti kainnya, mungkin besok pagi ia akan melihat bagian belakang rok dan sprei ranjangnya akan ternoda oleh darah menstruasinya.
Akhirnya ia memberanikan diri juga untuk membuka selot pintu kamarnya. Dan melangkah menuju kamar mandi, ia harus melewati setidaknya dua pintu kamar dan satu pintu ruang serbaguna yang digunakan untuk menyimpan barang-barang untuk menuju kamar mandi. Ia sudah di depan pintu dapur yang masih di selot dan perlahan membuka selot pintu itu, kemudian berjalan pelan memasuki ruang dapur yang luas tanpa sekat dan juga tanpa plafon atap. Ia menatap ke sekeliling dapur dengan waspada dan terlihat beberapa peralatan dapur yang masih terlihat tradisional, kompor minyak tanah, kuali-kuali yang digantung dengan bagian bawahnya yang terlihat menghitam, kendi tanah liat untuk tempat air minum, tempayan yang juga terbuat dari tanah liat, lemari kayu tua dan sisa-sisa sumbu kompor minyak yang sudah pendek dan berwarna hitam ada di dekat lemari tua dengan di alasi oleh kertas koran. 'Enah abis ganti sumbu kompor ya?' batin tanteku itu melihat ke arah sisa sumbu itu. Namun ia teringat kembali akan tujuan awalnya dan cepat -cepat melangkah ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Tanteku itu langsung merinding ketakutan dan terheran-heran, siapa yang mengetuk dinding kamar mandi seperti itu? apalagi ini sudah tengah malam kan?. Ia tahu bahwa dibalik dinding kamar mandi ini adalah lahan kosong luas yang di tumbuhi oleh banyak pohon-pohon dan tanaman-tanaman liar yang memang dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Paling hanya sesekali saja nenekku ke bagian belakang rumah untuk mengambil tanaman-tanaman yang memang diperlukan yang tumbuh liar di belakang, seperti daun suji, daun pandan, daun saga, atau temu kunci untuk memasak. Tanteku hanya bisa diam menahan ketakutannya, suara ketukan yang keras itu masih terdengar persis didepannya. Ia menutup mulutnya takut-takut ia reflek berteriak. Dengan segenap keberanian yang masih tersisa ia membuka pintu kamar mandi, melempar kain basah yang sudah dicucinya tadi ke bak pakaian kotor dan cepat-cepat masuk ke kamarnya dan bahkan ia lupa mengunci kembali pintu dapur.
Pada pagi harinya, sebelum ke kamar mandi lagi untuk mandi, dengan wajah yang masih ketakutan ia bercerita kepada nenekku yang sekarang sedang duduk di jengkok, sejenis kursi berukuran kecil dan pendek yang terbuat dari kayu dan nenekku itu tengah memotong sayuran di dekat pintu dapur. Mendengar cerita anak perempuannya, nenekku hanya menghela napas dan mengingatkannya untuk lebih berhati-hati.
__ADS_1
"Yang kaya gituan emang resep bau darah neng, hati-hati aja lain kali....",,