
Hari ini di rumah nenek sedikit lebih ramai dari biasanya karena omku yang merupakan kakak laki-laki papaku datang berkunjung bersama dengan istri dan satu anak laki-lakinya yang kurang lebih seumuran dengan anak tetangganya yang sebelumnya pernah datang, atau lebih tepatnya disembunyikan oleh nenek ke rumah ini. Keponakan papaku itu sangat senang bisa bertemu dengan nenekku dan yang lainnya. Papaku menyapa Om dan istrinya begitu juga dengan tanteku yang sangat senang dengan kedatangan mereka. Papa juga menyapa anak omku itu, namun keponakannya itu hanya diam dan menganggukkan kepala saja. Tante sampai mengikut lengan papa agar tidak memasang mimik wajah yang kaku dan serius seperti itu. Walaupun papaku terlihat kaku dan serius, sesungguhnya ia sangat menyukai anak-anak, apalagi terakhir ia bertemu dengan keponakannya itu ketika ia masih berusia satu tahun. Nenekku tidak ikut mengobrol bersama mereka di dalam rumah karena sedang menjaga warungnya.
Melihat orangtuanya sedang asyik bercakap-cakap dengan saudaranya setelah sekian lama tidak bertemu, membuat keponakan papaku itu merasa bosan dan akhirnya ia memutuskan untuk melangkah keluar menuju teras rumah. Ia sempat memandangi pemandangan di sekitar teras dan bagian luar rumah, karena baru pertama kali ini ia datang ke rumah ini. Lalu ia melihat bangunan kecil yang ada di samping rumah yang merupakan warung nenek dan ia berjalan perlahan menghampiri nenek yang ada disana.
("Emak..."), panggilnya kepada nenek yang sedang minum teh tawar hangatnya.
("Jim.."), Nenek memanggil nama pendek cucunya itu sambil mengelus pelan kepalanya. Nenekku sedikit takjub melihat cucunya ini karena memang mirip dengan putra pertamanya itu sewaktu kecil.
("Mak, itu siapa?"), Jim menunjuk anak laki-laki yang duduk di bale warung nenek, si anak laki-laki yang tempo hari disembunyikan nenek si rumahnya.
("Ini Akiong, cucu yang punya rumah sebelah..., kadang-kadang dia suka maen kesini...,Akiong, ini Jim..,cucu emak.."), Nenekku memperkenalkan anak laki-laki itu pada Jim dan sebaliknya. mereka berdua saling bertatapan sejenak dan Jim agak terheran melihat Akiong yang kulitnya terlihat begitu putih bersih.
("Mak..,kok dia bersih banget ya?"), Tanya Jim pada nenekku yang membuat Akiong memandangnya dengan berkerut heran.
("Papanya asli orang Tiongkok Jim, makanya keliatan beda sama kita..."), jawab nenek memelankan suaranya yang langsung dibalas singkat dengan anggukan kepala oleh Jim.
Nenek akhirnya menyuruh cucunya itu untuk duduk di bale bersama dengan Akiong, agar mereka bisa bercakap-cakap lebih akrab satu sama lain. Nenek juga menyuguhkan teh hangat tawar dan sepiring biskuit gem rose untuk kudapan dan dibalas terima kasih oleh Akiong, nenek hanya mengelus sebelah telinganya dan menyuruh mereka untuk kembali bercakap-cakap.
("Lu udah lama tinggal disebelah?, kata emak papa lu asli Tiongkok ya..."), Jim memulai pembicaraan sambil mengunyah satu butir biskuit. Jim memang anak yang aktif cukup pandai untuk membuka obrolan dengan teman sebayanya, berbeda dengan Akiong yang memang cenderung pendiam.
("Iya udah dari kecil di rumah Engkong.."), Akiong menunjuk rumah Kakeknya, dan meminum teh hangat itu dengan perlahan.
__ADS_1
("Lu kalo maen biasanya Ama siapa aja?, sering kesini juga ya?"), Jim memang penasaran dengan lingkungan tempat neneknya tinggal ini. Dengan lingkungan yang masih cenderung sepi seperti ini, ia sebelumnya berpikir tidak akan ada teman sebaya dirinya yang tinggal di sekitar sini, kehadiran Akiong disini sungguh tak terduga untuknya, setidaknya ia ada teman untuk bercakap-cakap dan tidak merasa bosan melihat orang tuanya yang masih sibuk dengan urusannya di dalam rumah.
("Kadang-kadang aja maen sama anak-anak yang lain, mereka tinggal di gang Deket irigasi sawah..."), Akiong menjelaskan sekenanya.
("Hmm...,gitu ya. Gue baru pertama kali kemari. Lu udah pernah masuk ke rumah emak belum?",), kali ini Jim mengunyah tiga butir biskuitnya sekaligus.
("Pernah Sekali.."), Akiong ikut mengunyah sebutir biskuit. Ia memang tak banyak bicara dan merasa canggung jika terlalu banyak bicara.
("Hari ini gue Ama papa dan mama mau nginep di rumah ini. Cuma semaleman aja sih. Abis ini masuk ke dalem yuk, jangan main disini..."), Ajak Jim penuh semangat. Namun tidak dengan Akiong yang wajahnya langsung berubah pucat ketika mendengar Jim mengajaknya masuk ke rumah.
("Kenapa?, kok diem aja?"), Jim terheran dengan reaksi Akiong yang diam saja dan terlihat takut.
("Gapapa, mendingan kita disini aja mainnya, ga usah ke dalem..."), Akiong langsung teringat peristiwa mengerikan yang ia alami ketika masuk ke dalam rumah tempo hari. Ia takut akan mengalami kejadian serupa, namun merasa segan untuk bercerita kepada Jim lebih jauh terlebih lagi ada nenekku juga disana, ia merasa tak enak hati.
("Buat apa main diluar kan ga ada apa-apa Akiong..."), Jim sedikit kecewa dengan reaksi Akiong yang menolak untuk main di dalam rumah nenek.
*******
Jim merebahkan diri di kasur yang sudah dirapikan oleh omku dan istrinya beberapa jam yang lalu. Sarung bantal bersih pun sudah di pasang baik di bantal guling maupun bantal kepala yang siap untuk menemani istirahat mereka. Kamar yang mereka tempati adalah kamar omku dulu ketika ia belum menikah dan untuk acara menginap ini kamar itu kembali di tempati oleh mereka. Mereka memang sudah berniat untuk menginap dirumah nenekku ini walaupun hanya semalaman saja. Omku sempat mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah nenek, dan berencana untuk pulang di sore harinya setelah berkunjung. Namun karena permintaan Jim yang kuat ingin menginap disini semalaman saja, akhirnya mau tidak mau ia menyetujui juga untuk acara menginap di rumah nenek. Jim tengah menatap langit-langit kamar yang sudah menguning di banyak bagian dan kini pandangannya beralih ke mobil mainannya yang sengaja ia bawa menginap kemari. Ia sebenarnya cukup senang datang kemari karena ada Akiong yang sebaya dengan dirinya yang bisa diajaknya bermain atau bicara. Mungkin suatu saat ketika ia kembali berkunjung kesini, ia bisa kembali bertemu dengan Akiong.
("Kamu tadi seru banget ngobrol sama anak tetangga itu.."), Istri omku masuk ke dalam kamar dan memperhatikan anak laki-lakinya itu tengah asyik dengan mobil mainannya.
("Iya ma, tapi Jim ga suka mama bilang dia ganteng, cuma karena dia lebih putih kulitnya dari pada Jim. Lebih ganteng Jim Tau..."), Jim langsung terduduk di kasurnya begitu melihat mamanya dan menyalangkan protes atas kejadian tadi siang. Ketika itu istri omku menyapa nenek yang ada di warungnya yang memang sedang sibuk membereskan dagangannya yang baru datang dari pasar bersama bibi. Lama bercakap-cakap istri omku itu mengalihkan pandangannya pada Akiong yang tengah asyik mengobrol dengan Jim. Dan ia refleks menyebut Akiong dengan sebutan 'anak ganteng' dihadapan nenek dan Jim yang sudah tentu membuat Jim cemburu.
("Kamu tuh ya.., ga usah kesel gitu Jim, iya kamu juga ganteng kok. Kan mama sering bilang begitu.."), Walau tadi istri omku ini hanya berbasa basi saja, namun ia memang tidak menampik panggilan 'anak ganteng' itu memang sesuai dengan diri Akiong. Wajah dan kulitnya begitu mencolok dan ia juga sudah tau dari nenek kalau papanya itu orang RRT dan sudah almarhum. Ia juga merasa kasihan anak itu tinggal dan satu rumah dengan wanita tua cerewet yang tinggal persis di sebelah rumah ini.
__ADS_1
("Tapi kamu seneng kan disini ada temen main?, kalo nanti kemari lagi bisa main sama Akiong Jim..."), Omku muncul di ambang pintu sambil menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah sehabis mandi.
("Iya pa.."), Jawab Jim yang kini perhatiannya teralih kembali ke mobil mainannya.
("Ko, kenapa sih kita nginepnya kenapa ga sehari atau dua hari aja?, aku kan masih pengen ngobrol sama Alin, Jarang-jarang juga kan kita liat Enah..."), Istri omku yang biasa aku panggil 'akim' itu memegang lengan om yang masih mengeringkan rambut dengan handuk.
("Bukannya Koko ga mau lama-lama disini, tapi..."), omku bingung harus menceritakan darimana tentang keadaan rumah ini pada istrinya itu, karena sebelumnya ia tak pernah menceritakan apapun pada istrinya mengenai keadaan dari rumah nenek ini.
("Kenapa?"), Akimku mengerutkan kening, apa salahnya jika ia menginap di rumah keluarga suaminya?, apalagi jarang-karang juga mereka punya waktu untuk datang ke rumah ini.
("Lusa nanti kita jalan-jalan ke Puncak ya..."), Jawab singkat omku mengakhiri percakapan malam itu.
******
Akim sedikit menggeliat dan perlahan membuka matanya, ia tidak tahu ini jam berapa karena keadaan kamar yang gelap dan melirik suami dan anaknya yang masih tertidur pulas. Tidak biasanya ia bangun tengah malam seperti ini tanpa merasakan adanya panggilan alam. Ia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan dan merasakan tenggorokannya sedikit haus dan berjalan ke meja kecil di pojok ruangan di seberang kasur untuk meminum air yang sudah ia siapkan sebelumnya. Beberapa teguk air ia tandaskan, ia tiba-tiba mendengar suara ketukan pelan dari arah jendela kamar. Akim langsung menutup kembali cangkir kalengnya dan menaruhnya kembali dimeja. Malam hari begini siapa orang yang kurang kerjaan mengetuk-ngetuk jendela kamar seperti itu?. Ia sebenarnya merasa takut sekaligus khawatir, takut-takut itu adalah maling atau orang jahat yang ingin memasuki rumah ini. Akhirnya ia memutuskan untuk berjinjit pelan ke arah jendela kamar dengan memandang sekilas ke omku dan Jim yang tertidur pulas di kasur. Suara ketukan aneh itu masih terdengar ketika akimku itu berdiri di depan jendela. Ia ingin membuka sedikit jendela kamar itu, namun ia terlalu takut untuk melakukannya. Suara yang mengganggu itu masih saja terdengar dan akhirnya ia memutuskan mendekatkan telinganya di jendela yang tertutup itu. Dan sontak saja....
"HIIIIIEEEE...HIIIEEE.....HEHEHEEEE.....HIHIHIHIHi....."
"HEHEHEHE....HIHIHIIIIII......",
Suara tawa serak yang menakutkan langsung terdengar dan reflek Akim menjauhkan diri dari arah jendela lalu berteriak cukup kencang, histeris dan ketakutan mendengar suara menakutkan itu. Lalu lampu kamar tiba-tiba menyala dan omku langsung menghampiri Akim yang masih terlihat ketakutan.
("Kenapa Yah teriak-teriak malem-malem gini...").
("I... itu ada yang ketawa di luar...")
__ADS_1