The House 1937

The House 1937
62. "Penglihatan"


__ADS_3

"In...", Babah Hwan menatap putranya itu dengan cukup serius. Sementara putranya itu menatapnya balik dengan tatapan seksama, menunggu ucapan selanjutnya dari orang tuanya itu.k


"Lihat..", Babah Hwan menunjukkan salah satu potret berukuran sedang, dan terlihat dalam potret hitam putih yang sudah mulai usang itu keluarga yang sedang berfoto dengan latar belakang rumah mereka yang berukuran cukup besar.


"Ini foto siapa Bah?,", Chun In muda bertanya kepada Babah Hwan sambil menatap potret itu dengan seksama, lalu ia kembali melihat beberapa potret lainnya dari keluarga itu. Sepertinya Babahnya mengenal baik keluarga yang ada di dalam potret ini.


"Ini keluarga Babah An, temen gua yang dulu pernah jadi pengurus di Klenteng...", Babah Hwan memegang salah satu potret yang berserakan itu. Potret dari almarhum Kakek yang belum lama meninggal dunia kala itu.


"Lalu kenapa dengan keluarganya Babah ini, Bah?, apa ada masalah?", Chun In muda tahu jika Babahnya sudah mulai mengajaknya bicara seperti ini, pasti mengenai hak yang sangat serius.


Babah Hwan pun mulai bercerita mengenai Kakek yang pernah ia nasihati agar jangan lagi menempati rumah yang menjadi latar belakang dari potret mereka itu, rumah yang kini kakek tempati saat ini, karena menurut "penglihatannya", tanah dan rumah itu memiliki masa lalu yang kurang baik, yang kemungkinan besar itu adalah akibat dari pemilik sebelumnya yang"bermasalah". Namun Kakek menolak nasihat darinya karena ia berkata bahwa rumah dan tanah yang di tempati, mengenai "masalah" yang dimaksud dirinya, Kakek memang suka merasakan "gangguan" di rumah itu. Hanya saja tidak sampai menyentuh dan melukai secara fisik. Akhirnya, melihat Kakek yang tetap berpendirian teguh pada keputusannya sejak awal, Babah Hwan hanya memberi tahunya untuk lebih berhati-hati dan lebih banyak berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Memang Sampai separah itu Bah?", Chun In muda mulai menunjukkan mimik wajah khawatir. Memang, ia sendiri belum pernah bertemu dengan keluarga dari sahabat Babahnya itu, namun ia merasa simpati kepada keluarga Kakek dari apa yang di ceritakan Babah Hwan. Bertahan untuk tetap tinggal di rumah dengan kondisi seperti itu?, yang benar saja?.


"Gua melihatnya begitu, cuma gua sudah tidak bisa berkata banyak. Dia tidak mau keluar dari rumah itu...", Babah Hwan menghela napas, dan menyeruput teh hangat tawarnya, untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Lalu, untuk Apa Babah Cerita soal ini?, apa Babah Mau mengunjungi rumah Babah An?",


"Bukan, gua cuma mau pesan ke lu, jika suatu saat nanti, keluarga dari An datang menemui kita, entah anaknya atau siapa, gua mau lu bantu mereka, In. Gua yakin mereka nanti bisa datang kemari perihal rumah itu...",


********


Chun In meminum teh tawar hangat yang tadi di sajikan Bi Inah. Ia sekilas teringat dari nasihat almarhum Babahnya itu. Apa yang di katakan oleh Babah Hwan persis terjadi saat ini, keluarga dari sahabat Babahnya itu membutuhkan bantuannya saat ini. Ia memperhatikan cangkirnya sejenak sambil memperhatikan sekilas Papa dan Tante Alin yang terlihat berdiskusi mengenai acara televisi yang mereka tonton, ada lagi nenek yang fokus menonton acara televisi yang juga dengan secangkir teh di tangannya. Ia menghela napas sejenak, mereka terlihat keluarga yang baik dan tidak terlihat "macam-macam", namun dalam hatinya ia merasa sedikit miris melihat mereka semua masih bertahan tinggal di rumah ini.


"Kenapa In?, tehnya tidak enak?", Nenek bertanya kepada laki-laki yang terlihat seusia dengan Papa itu. Memang teh yang selama ini di sajikan oleh almarhumah Bibi dan Bi Inah merupakan teh melati bubuk yang menyisakan sedikit ampas teh di cangkir, mungkin saja Putra dari Sahabat almarhum kakek itu tidak begitu menyukai teh sejenis ini.


"Tidak Nah, bukan begitu. Tehnya enak, Nah...", Chun In sedikit gugup karena Tuan rumah ini mengira ia tidak suka dengan sajian yang ia suguhkan padanya.


Chun In hanya mengangguk sopan dan mengucapkan terima kasih. Tante Alin hanya menggeleng kepala pelan, putra dari sahabat almarhum kakek ini walaupun menurut dirinya usianya tidak begitu jauh dengan Papa, Chun In terlihat sangat ramah dan sopan, berkebalikan dengan Papa yang Kaku dan introvert.


Mereka yang fokus dengan acara televisi, tidak menyadari langkah Bi Inah yang datang dari dapur dengan tetoples kue semprong dan beberapa bungkus sagon. Sagon bubuk adalah cemilan khas betawi yang unik namun lezat dengan rasa manis yang terasa gulanya dan gurih terasa dari kelapanya. Sagon bubuk yang terbilang unik ini dikarenakan bentuknya yang serbuk dengan warna putih seperti butiran pasir putih.

__ADS_1




"Nah, untuk perencanaan renovasi itu apa akan dilakukan dalam waktu dekat ini?", Chun In mencicipi satu kue semprong yang terasa renyah di mulutnya itu.


"Sementara di tunda dulu In, sampe lu selesai meriksanya...",


Chun In hanya mengangguk mengerti, ia benar-benar harus mempersiapkan dirinya untuk pemeriksaan yang akan ia lakukan. Ia begitu penasaran dengan gudang tua yang akan menjadi objek "pemeriksaan"nya esok hari.


*******


Setelah selesai makan siang, Chun In kini berada di bagian belakang rumah menuju gudang tua tersebut bersama Bi Inah dan Nenek yang membawa kunci gudang. Bahkan hari ini Nenek sampai menutup warungnya segala hanya untuk memantau pemeriksaan yang akan dilakukan, ia juga penasaran ingin melihat secara langsung dan apa hasil dari pemeriksaan itu. Seandainya saja papa hari ini tidak berdagang seperti biasanya di Pasar, sudah tentu Papa yang akan menemani Chun In menuju gudang tua ini.


"Apa Enah tidak apa-apa menemani saya disini?", Chun In merasa tidak enak hati melihat Nenek yang emang susah berusia sepuh itu berjalan mengikutinya ke area belakang rumah yang cukup berbahaya ini. Ia sendiri sedari tadi harus melihat dengan seksama ke arah tanah berumput tebal yang diinjaknya ini, takut-takut apa ular yang bersembunyi disana. Namun nenek menolak dan berdalih bahwa ia akan baik-baik saja dan tidak akan mengganggu. Ia melirik Bi Inah yang hanya berdiri di atap bagian samping dapur dengan kursi kayu yang sudah ia siapkan untuk nenek. Ia tidak lagi berani mendekati gudang tua itu dan memilih untuk berdiri dan berjaga disini. Ia akan datang menghampiri Nenek juga nenek membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lu kalau mau masuk ke dalam, masuk saja..., tidak apa-apa, gua tunggu di luar, kalau ada apa-apa..,bilang atau teriak saja ....", Nenekku menggenggamkan sebuah senter berukuran besar ke tangan Chun In. Setelah gembok pintu gudang di buka. Ia perlahan membuka pintu gudang itu dengan suara pintu yang berderit yang menyambut pendengarannya.


********


__ADS_2