The House 1937

The House 1937
74. Penglihatan Chun In


__ADS_3

"Begitu ya Koh...", Terlihat sedikit kelegaan yang terlihat di wajah papa. Papa sampai menanyakan hal ini kembali kepada Chun In, karena....., tentu sebagai manusia Papa takut jika hal mengerikan tersebut terulang kembali ia alami. Ia juga yakin laki-laki di sebelahnya ini, pasti mengerti keadaannya saat ini.


Chun In hanya mengangguk singkat lalu ia mengarahkan pandangannya ke bagian samping rumah. Dari tempatnya berdiri saat ini, semuanya nampak terlihat jelas, hanya pintu samping dapur saja yang tidak terlihat. Kemarin malam, setelah prosesi penguburan dari Sukarsih telah dilaksanakan. Ia masih merasa sedikit kelelahan, mungkin karena peristiwa "penglihatan" yang ia lihat di gudang tua itu. Ia harus mengakui, penglihatannya pada waktu itu cukup jelas dan menguras energinya.


Tapi ternyata tak hanya sampai disitu saja, dirinya yang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, akhirnya mencoba memberanikan diri untuk "melihat" lebih jauh mengenai kondisi rumah ini. Pada waktu pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, ia merasakan bahwa, rumah ini memang "perpenghuni" dan sebagian yang ada memang cukup menggangu. Jika dipikirkan lagi, memang miris baginya karena Papa dengan keluarganya harus terbiasa dengan keadaan rumah yang seperti ini.


Setelah berdoa untuk memulai sesi "penglihatannya" lagi, lambat laun sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas. Apa yang ia sampaikan kepada papa waktu melihat foto-foto dari bagian rumah ini ketika papa datang kerumahnya pada waktu itu mulai terlihat lebih jelas. Dugaannya memang benar, Pemiliki tanah sebelumnya sebelum keluarga Papa menempati rumah ini memang bermasalah, dalam arti pemilik sebelumnya memang telah melakukan perjanjian ghaib yang sepertinya dimaksudkan untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Ia melihat di tanah ini, selama si pemilik itu tinggal disini, cukup memakan banyak korban selama perjanjian ghaib itu berlangsung. Dan benar, setelah melakukan perjanjian ghaib itu, si pemilik sebelumnya dari tanah kekayaannya semakin bertambah. Chun In hanya bisa menghela napas, atas penglihatan yang ia saksikan malam itu. Sebenarnya tanpa melakukan hal ini pun ia sudah cukup makmur sebagai tuan tanah dan tengkulak padi. Keserakahan yang meliputi dirinya telah menutup mata hatinya untuk melakukan hal yang terkutuk itu.


Seiring berjalannya waktu, dirinya yang tidak sengaja terlewat untuk memberikan tumbal, sebagai ganti dari semua kemakmuran yang ia miliki, akhirnya ia jatuh sakit berkepanjangan sampai-sampai banyak harta benda yang harus keluarganya keluarkan untuk kesembuhan dirinya. Salah satu putranya yang memang mengetahui dirinya memiliki perjanjian ghaib itu, akhirnya menawarkan tanah yang masih di tempati keluarganya itu ke seorang Tionghoa pemilik lahan persawahan dan peternak Babi, yang tak lain adalah kakekku sendiri. Dengan pandainya ia bersilat lidah membuat kakek percaya dan mau membeli tanah dan rumah ini padanya, tanpa peduli bahwa rumah dan lahan ini tempat ayahnya melakukan lah yang sangat dilaknati Tuhan. Yang paling penting saat ini adalah dirinya sudah bisa mendapatkan uang hasil dari penjualan lahan ini.


Kakekku yang akhirnya percaya dengan perkataannya akhirnya setuju untuk membeli tanah ini dan semua bangunan yang berdiri di atasnya. Kakekku pada saat itu memang tergiur dengan harga tanah yang di tawarkan memang cukup murah atau di bawah rata-rata harga tanah saat itu. Dan yah ...hal yang memang tidak terduga olehnya adalah...sekarang anak dan cucunya harus merasa ketakutan setiap hari karena tinggal di rumah ini.


"Koh..., koh Chun In...", Papa sedikit mengguncang Chun In yang terlihat fokus memandang ke arah rumah.

__ADS_1


"I..iya Koh?", Chun In merespon papa yang mengguncang bahunya dengan nada kikuk, ia sampai tak sadar papa memanggilnya.


Papa memperhatikan wajah laki-laki itu sejenak, terlihat bahwa Chun In masih belum terlihat baik dengan wajah yang sedikit terlihat kuyu itu. Papa yang ingin membuka pembicaraan kembali, namun salah satu dari tukang bangunan yang bekerja memanggil papa untuk menanyakan sesuatu.Papa yang melangkah menghampiri si tukang bangunan itu, sementara Chun In sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke rumah melalui pintu samping dapur.


*******


Sesi makan malam kali ini jauh lebih baik dibandingkan kemarin malam yang terasa sangat kaku dan senyap. Di waktu makan malam tadi, Nenek masih memberondong mengenai masalah kemarin dan kondisi Chun In sendiri, putra dari Babah Hwan itu mengatakan bahwa ia sudah lebih baik, dan untuk pembangunan gudang yang baru bisa di lanjutkan. Chun In juga memberitahukan kepada Nenek dan semua orang yang ada di meja makan bahwa esok ia harus kembali pulang ke rumahnya. Nenek dan Papa mengangguk mengerti, Papa sempat menawarkan untuk mengantar laki-laki itu dengan mobil truknya itu, namun Chun In menolak dengan halus bahwa ia bisa pulang sendiri.


"Sekarang sudah tidak sesepi dulu, Nah. Sekarang untuk akses kendaraan umum lebih banyak dan daerah sana sudah semakin ramai...", Chun In menjelaskan dengan nada tenang, walaupun untuk menuju rumahnya tetap harus dengan berjalan kaki, setidaknya kendaraan umum seperti bis atau angkutan kota sudah banyak melewati jalan-jalan yang ada di wilayah Klenteng itu.


"Kalau nanti lu ada apa-apa, lu telpon saja ya kesini...", Perkataan nenek itu di balas dengan Papa dan Tante Alin yang saling bertatapan kemudian mengangguk pelan. Mereka juga setuju untuk membantu putra Babah Hwan itu jika suatu saat ia membutuhkan bantuan.


"Iya Nah, Ko Jun, terima kasih...",

__ADS_1


Sesi makan malam pun telah berakhir, dan seperti biasa mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai menonton acara televisi. Entah mengapa, Papa yang biasanya menikmati acara televisi yang di tonton bersama-sama itu, kini ia terlihat tidak tertarik dan seketika papa beranjak dari tempat duduknya di samping Tante Alin.


"Kokoh mau kemana?", Tante Alin memperhatikan langkah papa yang ternyata menuju ke pintu ruang tamu.


"Mau liat pintu depan Lin, sepertinya belum di kunci...", Papa terus melangkah dan kini ia berada di ruang tamu yang lampunya sudah dimatikan itu, hanya terlihat cahaya remang berwarna merah yang sumbernya berasal dari lampu altar yang ada di sisi kanan dan sisi kiri meja altar doa.


Sebelum mengecek kunci pintu rumah, Papa menyibak kain gorden yang ada persisi di sebelah pintu untuk melihat pemandangan di luar rumah, itu merupakan kebiasaan papa sebelum mengunci pintu depan. Takut-takut ada orang mencurigakan berkeliaran di sekitar rumah. Begitu papa melihat bagian luar rumah, dari jendela, ia sempat terkaget karena melihat ada seseorang yang tengah berdiri di jalan kecil menuju teras depan rumah. Papa yang masih terkaget itu juga merasa kebingungan, karena orang tersebut terlihat gemulai dan seperti tengah menari disana. Tersampir selendang di lehernya dan ia terus menari yang tanpa diiringi alunan musik. Seketika papa refleks membuka pintu depan rumah, dan ternyata sosok itu masih ada disnana, bersembunyi di gelapnya temaram cahaya. Papa yang masih terhenyak melihat sosok itu yang akhirnya berhenti menari kemudian menghilang begitu saja. Sosok itu tiba-tiba menghilang tanpa bisa dijelaskan sedikitpun.


Sebuah tepukan di bahu Papa, yang membuat papa langsung refleks menoleh yang ternyata itu adalah Chun In dibelakangnya. Sejak kapan laki-laki ini berdiri di belakangnya?. Laki-laki itu sempat memandang ke arah depan rumah, lalu kembali memandang papa dengan tenang.


"Sukarsih mengucapkan terima kasih Koh, Engkoh sudah mau menguburkannya dengan layak....",


\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2