
Suara gerimis terdengar dari luar jendela kamar tanteku yang kini masih menggeliat di atas ranjangnya, ia melirik jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun ia masih saja belum bisa terlelap. Mungkin karena tadi siang ia tertidur cukup lama sehingga malam ini ia tidak merasakan kantuk sama sekali.
__ADS_1
Ia menyibakkan kelambu ranjang lalu bangkit dari ranjangnya dan duduk di depan meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan buku dan kertas. Tanteku ini memang suka membaca buku di kala waktu senggangnya, biasanya ia membaca majalah atau novel dengan berbagai genre, mulai dari genre romantis sampai horor. Tanteku juga memiliki toko buku bekas langganannya di pasar untuk membeli buku untuk koleksi terbarunya. Ia lebih suka membeli buku-buku bekas karena harganya jauh lebih murah jika dibandingkan ia harus membeli buku dalam kondisi baru. Tanteku mulai menyalakan lampu kamarnya dan melanjutkan membaca buku novel horor yang baru ia baca beberapa halaman saja, mungkin dengan membaca bisa membuatnya sedikit mengantuk. Beberapa halaman buku sudah ia lewati dan ia sudah sedikit menguap. Namun tiba-tiba di sekelilingnya langsung gelap gulita seketika dan ia langsung mendekus kesal, mati listrik adalah salah satu hal yang tidak disukainya karena membuat keadaan kamar menjadi sedikit pengap karena kipas angin yang menjadi tidak berfungsi. Itu berarti ia harus rela kegerahan untuk malam ini. Gerimis di luar rumah sama sekali tidak membantu dirinya untuk meredakan rasa gerahnya malam ini. Akhirnya Tante mencari lampu senter dan korek api kayu yang biasa ia simpan di laci meja belajarnya untuk sumber penerangannya di kamar itu. Lalu ia meraih lampu klenting berukuran kecil yang ia gantung dekat meja belajarnya dan mulai menyalakannya dengan korek api kayu tadi. Setelah lampu itu menyala Tante mematikan lampu senternya dan sedikit menaikkan sumbu lampu klenting itu agar cahaya api lampu itu berpedar sedikit lebih terang. Ia masih termanggu di kursi belajarnya dan pandangannya terarah memperhatikan lampu dengan cahaya api yang bergoyang-goyang pelan berwarna oranye itu. Di tengah temaram cahaya lampu minyak itu pandangannya sekilas mengarah ke surat yang diberikan oleh Herman beberapa waktu lalu, Tante tersenyum kecil lalu meraih surat itu. Ia tak menyangka bahwa orang yang sama kakunya seperti Papa itu mampu merangkai kata menjadi sebuah puisi yang menurutnya cukup bagus dan romantis. Ditengah lamunannya itu tiba-tiba cahaya dari lampu minyak itu kian meredup dan Tante kembali menaikkan sumbu lampunya dengan memutar tuas kecil yang ada di bagian depan lampu. Ia mulai merasa bosan karena listrik yang belum juga menyala di tambah lagi dengan dirinya yang belum mengantuk sama sekali. Akhirnya tanteku bermaksud untuk kembali merebahkan dirinya di ranjang dan ketika ia bangkit dari kursi belajarnya, ia terkejut dengan pantulan bayangan dari cermin yang menempel menjadi satu dengan pintu lemari pakaiannya, sesosok bayangan hitam aneh yang tengah berdiri kaku. Dalam temaramnya cahaya lampu minyak terlihat jelas ia ada dan berdiri tanpa bisa di ketahui apakah ia laki-laki atau perempuan dan wajahnya pun sama sekali tidak terlihat. Bayangan itu seperti pekatnya malam yang mencekam yang membuat tanteku sangat terkejut sampai-sampai ia hampir menjatuhkan lampu minyaknya ke lantai, dengan sigap sebelah tangannya memegang lampu itu dan menaruhnya agak ketengah meja belajarnya walaupun ia sedikit meringis karena panasnya wadah lampu minyak itu sampai membuat tangannya memerah dan sedikit menghitam. Tanteku meraih lampu senter yang ada di laci meja belajarnya dan langsung mengarahkan cahaya lampu senter itu ke arah sosok bayangan misterius itu. Napasnya terdengar pendek-pendek karena ia berusaha memenangkan dirinya, tidak ingin membuat keributan sampai membuat semua orang di rumah ini terganggu. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada apapun, cahaya dari lampu senternya hanya menyinari beberapa barang yang ada di kamarnya saja. Tanteku sangat ketakutan sampai telapak tangannya dingin berkeringat, dan terasa tubuhnya menggigil apakah yang tadi ia lihat itu benar sungguhan atau bukan?. Tanteku langsung menghamburkan diri ke ranjang tidurnya, menutup kembali kelambu ranjangnya dan menyelimuti diri rapat-rapat dengan selimutnya. Ia sungguh berharap pagi hari segera tiba dan ia memejamkan mata rapat-rapat.
******
__ADS_1
*********
__ADS_1