
Hari telah menjelang siang dengan sinar matahari yang terus menanjak menuju puncak langit, membuat kepala terasa panas terbakar jika berdiri terlalu lama di luar ruang. Keadaan sekitar rumah nenek masih seperti biasanya yang lengang dan sepi ketika di siang hari. Papa berjaga di tokonya yang ada di pasar, Tante Alin bekerja seperti biasanya, Nenek yang sibuk berjaga di warung miliknya, dengan sesekali kembali ke rumah untuk keperluan pribadinya, dan Bi Inah sendiri sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan keperluan makan siang untuk nenek dan para pekerja yang ada di bagian samping dapur. Setelah semuanya sudah siap, Bi Inah membawa satu bakul dengan ukuran cukup besar berisi nasi putih yang masih hangat dan sedikit berasap yang ditutupi oleh daun pisang.
Bi Inah sedikit berusaha untuk mengimbangi jalannya agar jangan sampai langkahnya oleng dan membuat bakul nasi yang ada di tangannya. Pak Tani melihat Bi Inah yang nampak kesulitan membawa bakul nasi itu langsung berinisiatif menghampirinya dan langsung membawa bakul itu ke meja yang biasa digunakan Bi Inah menaruh bakul nasi dan Wadan makan siang lainnya.
"Harusnya tadi Bi Inah panggil saya saja jika kerepotan bawa bakulnya...", Pak Tani sudah meletakkan bakul nasi itu dan membuka sedikit daun pisang yang sudah terlihat berembun karena nasi yang masih mengepul itu.
"Biasanya saya bisa pak, memang saya hari ini masak nasinya dilebihkan dari biasanya ..", Bi Inah melirik sebentar ke arah para tukang yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Loh, memangnya kenapa Bi, kurang porsinya ya?", Pak Tani memang tidak menyadari bahwa bakul nasi yang dipakai hari memang lebih besar.
"Kemarin mandor bilang ke saya untuk menambahkan porsi makan siangnya Pak, katanya ada tukang tambahan yang datang...",
"Iya Bi, untuk hari ini memang ada orang tambahan...", Beberapa hari yang lalu, ketika Pak Tani mendapat giliran bertugas, malamnya ketika Pak Tani menemui Papa, papa memberitahukan bahwa ia ingin proses pembangunan dari gudang itu dapat lebih cepat dari yang telah di perkirakan oleh mandor bangunan, maka ia berinisiatif ingin menambah jumlah pekerja yang ada disana. Gudang yang kini tengah dibangun mengalami perluasan ukuran dari gudang yang sebelumnya, di tambah lagi papa juga ingin membangun dua kandang baru untuk ayam dan entok milik nenek dengan bangunan yang jauh lebih baik dilengkapi dengan kunci agar peristiwa kehilangan yang lalu tidak terulang lagi.
"Wah Engkoh borongan ya Pak...", Bi Inah setengah tertawa mendengar penjelasan Pak Tani.
"Ya maklum Bi, orang gede kalau mau bangun apa aja di tanahnya ya terserah yang punya kan?", Pak Tani juga setengah tertawa.
"Bagaimana Bi, aman selama Bibi disini?", Pertanyaan Pak Tani yang tiba-tiba itu membuat Bi Inah terheran-heran.
__ADS_1
"Maksud Bapak?", Bi Inah benar-benar tak mengerti dengan pertanyaan Pak Tani, jelas selama ini ia merasa aman-aman saja selama ia tinggal di rumah ini.
"Maksud saya gangguan Bi, apa Bi Inah masih di ganggu?, Giman bercerita kepada saya mengenai Bi Inah...",
Bi Inah nampak terkejut mendengar itu, ternyata Giman telah menceritakan sesi bercerita antara dirinya dan pemuda itu pada waktu penjemuran padi beberapa waktu yang lalu. Pak Tani yang menangkap ekspresi dari Bi Inah segera menenangkannya dan berkata bahwa Bi Inah tidak perlu menghawatirkan apapun.
"Bi Inah tidak perlu khawatir, Giman tidak bermaksud membocorkan cerita Bi Inah kepada saya, dia cuma khawatir saja sama Bi Inah...", Bi Inah hanya mengangguk mengerti dan menghela napas pelan.
"Untuk gangguan yang Pak Tani maksud...,,, hanya gangguan kecil saja Pak..., tidak perlu khawatir...", Lalu Bi Inah pamit kembali ke dapur untuk membawa kembali piring lauk dan peralatan makan lainnya untuk makan siang. Ia jadi ingat ketika terakhir kali ia tengah belanja sayur di tukang sayur yang biasa lewat setiap pagi di depan rumah nenek. Ada saja pembicaraan yang menurutnya tidak pantas di lontarkan oleh orang lain yang tidak mengetahui apapun mengenai hal yang mereka dengar secara sekilas saja.
"Baguslah jika Bi Inah merasa tidak masalah untuk tetap disini. Jika Bi Inah butuh bantuan, Bi Inah bisa ke saya atau ke Giman atau Najim...",
"Terima kasih Pak, anaknya Pak Tani sudah cukup membantu saya sehingga saya akhirnya bisa kerja disini sama Enah, sama Engkoh. Jika ditanya saya bertahan atau pergi..., jelas saya memilih bertahan Pak...",
******
Tante Alin terlihat khawatir dengan Bi Inah yang terlihat lemas.
"Bibi ngga sakit Ci, Bi Inah cuma cape aja...", Bi Inah menggeleng pelan lalu meminum segelas air yang tadi ia ambil dari kendi air.
__ADS_1
"Jangan terlalu memaksakan diri kalau Bi Inah cape, Bi Inah bisa istirahat duluan, pekerjaan rumah bisa dilanjut besok...", Jika dipikir-pikir kembali oleh Papa, Bi Inah memang jauh lebih sibuk semenjak proses pembangunan dari gudang belakang ini dilakukan. Setiap hari harus memasak dalam porsi yang cukup besar seorang diri, di tambah melakukan pekerjaan lainnya. Tentu saja itu sangat melelahkan bisa dilakukan rutin setiap hari.
"Bi Inah Cape ya Bi masak banyak untuk tukang setiap hari?, Istirahat saja bi.." Nenek menambahkan dan ia tidak ingin asisten rumah tangganya itu sampai sakit karena dirinya yang sudah tua ini Aisha tidak bisa melakukan banyak hal seorang diri.
Bi Inah pun mengucapkan terima kasih dan setelah makan malam selesai, Bi Inah mohon pamit untuk pergi ke kamarnya, memang ada baiknya ia beristirahat dan melanjutkan pekerjaan rumah esok hari. Papa sempat menawarkan kepada Bi Inah bisa besok keadaanya belum membaik juga, Bi Inah bisa pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Bi Inah yang merasa tidak enak hati hanya menolak halus dan berkata bahwa ia hanya perlu istirahat saja.
Papa, Tante Alin dan Nenek seperti biasanya setelah makan malam selesai, mereka semua sudah duduk di ruang keluarga untuk menonton acara televisi seperti biasa. Hari ini pak Tani tidak bisa datang ke rumah seperti sebelumnya karena ia harus mengantarkan istrinya untuk berobat dengan di temani Giman. Ketika sore tadi sebelum pulang ke rumah, Pak Tani sudah memberitahukan kepada Nenek mengenai ketidakhadirannya. Papa sudah berencana ketika lelaki tua itu datang kembali untuk bertugas, ia akan memberikan uang santunan kepada Pak tani dan nanti ia akan membicarakan hal ini dengan Nenek.
******
Halo semua
Kembali dengan Author disini
Maaf jika Author lama untuk update karena Author sedang tidak Fit...
Tapi tetap diusahakan update kok untuk Readers...
Terima kasih dan tetap jaga kesehatan ya...
__ADS_1
Mazukashina
Author