The House 1937

The House 1937
61. Undangan datang ke Rumah


__ADS_3

Papa kembali menekan tombol di pesawat telpon dengan nomor yang sama di waktu lusa. Lula lalu, ia sempat mencoba menghubungi Chun In, namun ia sudah tiga kali menekan nomor yang sama, panggilan telepon itu tak kunjung di angkat. Karena Chun In tidak mengangkat telponnya, akhirnya papa menghubungi nomor telpon milik pihak Klenteng dan papa tersambung dengan Ncek Afung yang mengangkat telponnya. Papa yang mengkonfirmasi mengenai telponnya yang tak kunjung di jawab Chun In, Ncek Afung pun menjelaskan bahwa pada hari papa menelpon, Chun In sedang tidak ada di rumah.


Ketika papa ditanya ada keperluan apa sampai sekiranya papa sampai menelpon ke Klenteng, Papa beralasan bahwa Nenek yang ada urusan dengan almarhum Babah Hwan itu dan papa hanya sebagai perwakilan dari Nenek saja. Papa kemudian mengakhiri percakapan itu dengan sesopan mungkin dan langsung menutup sambungan telpon. Mengingat sebelumnya ia terlibat pembicaraan yang rumit dengan salah satu penjaga Klenteng itu, ia tidak ingin ada pembicaraan yang tidak perlu.


Papa menunggu dengan harap-harap cemas, suara sambungan telepon masih berbunyi, pertanda telepon itu belum di angkat. Papa menghela napas, apakah teleponnya kali ini juga tidak diangkat seperti kemarin?. Namun, dugaannya salah karena sambungan telpon papa telah tersambung.


"Halo?", suara sambungan telepon itu menyapa Papa, suara yang terdengar tidak asing, Chun In yang mengangkat panggilan telpon ini.


"Halo?, Koh Chun In?, Ini saya Koh, Jun...", Papa langsung menyebutkan namanya dengan perasaan lega dihatinya, akhirnya sambungan telponnya di angkat juga.


"Oh, Koh Jun ya?, Iya Koh ini saya Chun In, lusa kemarin Ncek Afung bilang ke saya kalau Engkoh telpon ke rumah saya, maaf ya Koh kemarin saya sedang tidak di rumah..", Intonasi bicara Chun In terdengar sedikit gemetar,seperti merasa tidak enak hati kepada Papa.


"Iya Koh tidak apa-apa, saya maklum...", Papa menatap jam dinding di ruang tamu. Dengan menghela napas sejenak, ia mulai menceritakan peristiwa menyeramkan yang di alami oleh Bi Inah. Papa menceritakan semuanya lewat sambungan telpon itu dengan wajah Chun In yang mendengarkan dengan seksama dan mimik wajah serius. Mendengar cerita dari Papa ini, ia menduga bahwa sepertinya masalah mengenai rumah Nenek beserta sekelilingnya itu memang tidak sesederhana itu. Mengingat berdasarkan "penglihatannya", rumah dan tanah itu memang bermasalah sejak awal mereka menempatinya.


"Apa di waktu dekat ini Engkoh sedang tidak sibuk?, karena Enah saya mau mengundang Engkoh untuk datang ke rumah, untuk melakukan pengecekan disini Koh..., apa Engkoh bisa?", Papa mengambil napas pendek-pendek, menunggu jawaban dari Chun In di seberang sana.


"Terima kasih Sebelumnya, Koh, mau mengundang saya ke rumah Engkoh. Kebetulan saya tidak ada kegiatan di tiga hari ke depan, mungkin saya bisa nanti datang berkunjung. Nanti akan saya infokan kembali...",


Dalam hatinya, Chun In sempat ingin menanyakan perihal Koh Afung yang menaruh minat kepada papa yang ingin menjodohkan papa dengan anak perempuannya. Namun hal itu ia urungkan, karena ia merasakan Papa sama sekali tidak tertarik dengan itu. Ditambah lagi papa memang sudah memiliki calon pasangannya sendiri.

__ADS_1


Setelah mengobrol sebentar sekedar untuk berbasa-basi dan kesopanan, akhirnya papa mengakhiri percakapannya di telepon dengan Chun In setelah mengucapkan terima kasih. Papa menutup gagang telepon itu dan tampak Nenek yang memasuki ruang tamu dari bagian depan dengan mimik wajah penasaran.


"Bagaimana Jun?", Nenek tahu betul papa habis menelpon Chun In dan di balas papa dengan anggukan pelan.


"Katanya tiga hari lagi dia baru bisa datang kemari, Nah. Nanti Chun In akan telpon lagi..", Nenek langsung memasang ekspresi wajah lega.


"Ya sudah Jun, nanti bilang ke BI Inah minta tolong buat beres-beres kamarnya Toni buat Chun In menginap disini...", Kamar Tante Dewi dan Om Toni yang kosong memang hanya sesekali saja dibersihkan.


"Iya Nah, nanti Jun bilang ke BI Inah...",


********


"Iya Chun In, jangan merasa tidak enak hati. Saya malah merasa senang, jangan sungkan-sungkan, ayo di makan...",


Hari ini Bi Inah memasak lebih banyak dari biasanya, di meja makan juga sudah berkumpul Papa dan Tante Alin yang mulai menikmati makan malam itu. Chun In pun merasa terkejut, karena ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Chun In pernah melihat potret lama dari rumah ini yang pernah diambil oleh Babah Hwan, keadaan rumah ini tidak tampak banyak yang berubah. Hanya terlihat sedikit lusuh dibandingkan dengan potret lama yang di lihatnya itu. Nenek pun yang ia lihat di dalam potret milik Babah Hwan, sudah banyak berubah. Dengan kebaya yang menjadi pakaian kebesarannya, namun rambutnya yang sudah banyak memutih di sana sini. Dulu, Babah Hwan memang pernah bercerita kepadanya bahwa ia pernah menangani kasus dari sahabatnya. Anaknya mendapat 'gangguan' yang sengaja dikirimkan oleh orang lain sehingga membuat anak itu sakit sampai kepayahan. Yang ia tahu kini anak itu yang tak lain adalah Tante Dewi, sekarang tinggal dan bekerja di Singapura dengan suaminya.


Selain ia berkenalan dengan Nenek dan Tante Alin, ia juga sudah berbicara sebentar dengan Bi Inah yang mungkin setelah makan malam ini atau esok hari ia akan menanyakan perihal peristiwa itu lebih lanjut. Sejujurnya, sebagai orang yang 'peka', begitu ia menginjakkan kakinya ke dalam rumah ini, ia merasakan energi yang kurang baik, yang terasa sekali memang susah ada sejak zaman dahulu kala, sebelum keluarga Papa menempati tanah dan rumah ini.


"Chun In, bagaimana keadaan Klenteng?, susah lama sekali tidak berkunjung kesana...", Nenek kembali membuka percakapan dengan Chun In, sementara Papa dan Tante Alin hanya sebagai pendengar saja, berusaha fokus menikmati makan malam mereka. Papa dan Tante Alin mengerti untuk memberikan waktu kepada Nenek untuk berbicara dengan putra dari sahabat almarhum Kakek itu.

__ADS_1


"Iya Nah, Klenteng ramai kalau akhir pekan Nah. Perayaan Klenteng tinggal beberapa bulan lagi...", Chun In memperhatikan sejenak anggota keluarga ini, dan ia sempat berbasa basi mengenai Tante Dewi yang dulu pernah ditangani oleh Papanya.


*******


Hai - Hai - Hai


Kembali lagi bersama author disini


Author Ucapkan


Terima kasih kepada para Readers yang terus setia mengikuti karya author ya.


Author juga mengucapkan selamat datang untuk Readers yang baru mampir ke karya ini.


Jangan lupa Like, Klik Favorit, dan Comment juga ya (Vote dan Hadian jangan lupa juga ya..., *Uhuk* ).


Agar author makin semangat untuk update karya ini.


🌸🌸Terima Kasih 🌸🌸

__ADS_1


🏵️🏵️ Mazukashina 🏵️🏵️


__ADS_2