The House 1937

The House 1937
50. Mencari Kebenaran (4)


__ADS_3

Mata papa melebar mendengar penjelasan Ncek Afung, perasaanya kini seperti mendapatkan hembusan angin segar setelah kekecewaan berputar-putar di benaknya beberapa saat tadi. Kedatangannya ke tempat ini yang tadinya ia pikir sia-sia, sekarang berganti menjadi harapan baru yang membuatnya mampu menarik napas dengan lega.


"Benar Ncek??", Papa sampai bertanya kembali kepada Ncek Afung, rasa gembira dihatinya seperti menumpulkan pendengarannya sampai-sampai ia bertanya kembali kepada laki-laki di hadapannya itu.


"Benar Jun, namanya Chun In, dia tinggal di rumah Babah Hwan yang ada di daerah belakang Klenteng ini..",


"Apakah hari ini saya bisa menemuinya Ncek?, karena..., ya saya tahu ini mendadak..", Papa sedikit menghela napas.


"Tadi gua nanya ke penjaga Klenteng yang ada di bagian belakang, Chun In hari ini ada di rumah. Nanti gua mau ke rumahnya dulu..., lu berdua tunggu disini saja dulu...",


"Tapi..., benar bisa hari ini Ncek?,",


"Gua sebut lu sama Babah lu pasti dia ga keberatan Jun, lu Dateng kemari jauh-jauh kan pasti ada urusan penting, dia pasti mengerti..", Ncek Afung sekali lagi mohon diri untuk meninggalkan mereka berdua demi menemui Chun In, orang yang kini akan mereka temui nanti.


Setelah Ncek Afung meninggalkan mereka berdua, Papa mengusap matanya perlahan, dan menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yang sedikit lebih cerah.


"Ga sia-sia juga Man gua datang kemari..", Papa sampai mengguncang pelan bahu Om Herman yang tengah menikmati potongan kue bulan rasa coklat kacang yang tersaji di meja.


"Lu boleh senang Jun, tapi lihat?, gua lagi makan..", Jika saja Om Herman tidak menepis tangan Papa yang masih terus mengguncangnya, mungkin bisa saja ia tersedak dengan kue bulan di mulutnya. Papa hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Om Herman yang kesal sambil terus mengunyah kue bulannya. Jika dilihat sekilas, kadang mereka berdua seperti anak-anak yang terjebak dalam tubuh tubuh orang dewasa.

__ADS_1


"Dari pada lu ganggu gua terus, mendingan lu minum teh lu tuh. Sama sekalian lu mau nanya apa lagi selain soal itu...",


Pandangan papa langsung teralih dari gelas teh hangat yang kini ada di tangannya, ke arah wajah Om Herman dengan tatapan sedikit terkejut. Papa berpikir sejenak, benar juga, ia sudah sejauh ini datang ke Klenteng ini, terlalu singkat jika ia hanya menanyakan perihal pengalaman menyeramkan yang juga dialami oleh Tante Alin itu.


"Jangan bilang lu ga kepikiran sama sekali?", Melihat ekspresi papa yang menatapnya seperti itu, Om Herman hanya menggelengkan kepalanya, dengan sedikit memijat pelipisnya. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya ini bisa selurus itu, sama sekali tidak ada prinsip 'sambil menyelam minum air'.


"Jun, sambil menyelam minum air...", Om Herman berkata cukup keras kepada papa sampai-sampai papa memalingkan wajah dan kembali menaruh gelas tehnya di meja.


"Hujan lokal Man..", Papa memperingatkan Om Herman yang sepertinya air liurnya sedikit keluar ketika berbicara.


"Jun..., kita sudah sejauh ini datang kemari. Tidak mungkin kan hanya bertanya mengenai satu hal saja. Ya, gua tahu itu hal yang genting, tapi tidak ada salahnya untuk bertanya hal yang lainnya juga kan?,"


"Memang lu mau tanya apa nanti?,",


Papa langsung memukul pelan lengan Om Herman yang malah tersenyum jahil dengan tertawa terbahak. Papa tahu persis, jodoh yang di maksud itu adalah Tante Alin, adik perempuannya sendiri.


"Kalo Chun In itu bilang lu ga bagus buat Alin, ga akan gua ijinin lu sama si Alin...",


Jawaban papa yang tegas dengan nada mengejek itu membuat Om Herman membalas memukul pelan lengan papa. Mereka yang malah tengah asyik bercanda tiba-tiba dikejutkan dengan pintu ruang tamu yang mendadak terbuka. Terlihat Ncek Afung yang malah kebingungan melihat dua orang pemuda di hadapannya ini malah tengah saling memukul dengan bantal sofa. Mereka akhirnya berhenti bercanda setelah laki-laki penjaga Klenteng ini berdeham sejenak.

__ADS_1


"Chun In bilang, dia bisa ditemui malam ini...",


********


Warna langit perlahan berubah, dari warna biru muda yang dihiasi awan putih perlahan menjadi berwana oranye. Hari ini sudah beranjak sore dan kini dua sahabat itu tengah menunggu orang yang akan mereka temui itu di ruang depan yang cukup luas, di dalam sebuah rumah berarsitektur Tionghoa yang jika dilihat sekilas mirip dengan arsitektur rumah nenek. Mereka tengah diam, tidak berbicara apalagi bercanda seperti yang tadi mereka lakukan di ruang tunggu. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak, sesekali terdengar suara tokek yang entah ada dimana, namun suara dari makhluk yang mirip seperti cicak raksasa itu terdengar jelas berbarengan dengan suara jam dinding yang berdetak.


"Jun..., masih lama ga sih?", Om Herman bertanya dengan setengah berbisik ke arah Papa yang hanya bergeming di sebelahnya.


Om Herman yang mengerti bahwa jika papa seperti itu secara tidak langsung Papa tidak ingin di ajak bicara dulu. Ia hanya mendekus pelan dan pandangannya kini beralih ke majalah yang ada di bawah meja ruang tamu itu. Itu adalah majalah bulanan yang di diterbitkan oleh pihak Klenteng untuk diberikan kepada umat setiap bulannya. Majalah itu berisi mengenai berbagai artikel menarik, kegiatan yang di adakan Klenteng, dan laporan donasi umat untuk biaya pembuatan majalah bulanan ini.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya orang yang mereka tunggu telah tiba. Laki-laki yang Ncek Afung bilang bernama Chun In ini melangkahkan kaki ke ruang depan ini dari dalam rumah. Papa memperhatikan sekilas putra dari Babah Hwan ini. Jika dilihat-lihat, mungkin Chun In ini memiliki umur yang sama dengan Papa dan Om Herman, jika berbeda sekalipun, mungkin tidak terpaut jauh jaraknya. Laki-laki bernama Chun In itu menyapa ramah dan menyalami mereka berdua. Si pemilik rumah melirik sekilas ke arah meja ruang depan ini, terlihat suguhan yang di berikan kepada dua orang tamunya itu yang berupa teh hangat, kue nastar dan dodol itu masih tetap utuh, tidak tersentuh sedikitpun. Raut wajah dari kedua tamunya, terutama Papa, terlihat tidak tenang, dan gelisah. Ncek Afung yang beberapa saat tadi datang kerumahnya memberitahukan bahwa putra dari teman almarhum papanya itu datang kesini untuk menemuinya, walaupun sebenarnya tujuan awal mereka adalah bertemu dari Babah Hwan sendiri. Chun In pun mengerti dengan kedatangan kedua tamunya ini yang secara mendadak, dalam penglihatannya, ia melihat memang Papa seperti ingin menanyakan sesuatu yang tidak hanya penting, namun juga genting. Ia sejenak menarik napas, menetralkan perasaanya, agar rasa gelisah yang dirasakan dari tamunya itu tidak 'menular' kepada dirinya.


PS : Panggilan 'Ncek' biasanya dipergunakan untuk memanggil adik laki-laki Papa. Atau bisa juga untuk memanggil laki-laki yang lebih tua, dengan terkesan akrab dan dekat. Bisa di sandingkan dengan "Paman" atau "Om", namun lebih terlihat jelas posisinya di keluarga secara tidak langsung.


*******


Hai..Hai....


Terima Kasih untuk kalian yang sudah mampir dan terus mengikuti karya author.

__ADS_1


Jangan Lupa like, favorit dan Komennya ya.


Mazukashina.


__ADS_2