
Bibi membawakan dua gelas teh hangat dan dua piring kecil yang berisi aneka kue basah tradisional untuk ia antar ke ruang tamu. Hari ini Tanteku, Alin sedang duduk di ruang tamu dan ia tidak sendirian disana, ada seorang laki-laki muda yang mungkin seumuran dengannya sedang tengah asyik mengobrol dengannya dan mereka berdua menoleh ke arah bibi yang dengan sopan memberitahukan kehadirannya dan menaruh gelas teh hangat serta piring kue itu dengan sopan lalu mohon diri untuk kembali lagi ke warung nenek. Tanteku kini kembali melanjutkan obrolannya dengan laki-laki muda itu sambil sesekali diselingi suara tawa kecil. Laki-laki muda itu adalah Herman, pacar tanteku. Mereka sudah saling mengenal dan dekat sejak satu setengah tahun yang lalu. Herman adalah seorang pemilik toko plastik dan juga bahan-bahan kue yang ada di pasar yang lokasi tokonya berseberangan dengan toko milik papa. Ketika itu, Tante yang sedang berbelanja sayur-mayur di Pasar sengaja mengunjungi papa di tokonya dan papa menitipkan kepada tanteku satu ikat sumbu kompor minyak untuk dibawa pulang kembali ke rumah dan akan diberikan kepada nenek. Ketika itulah, Herman melihat dan memperhatikan keberadaan tanteku di toko papa dan setelah tanteku pamit dari toko papa, Herman langsung menghampiri papa dan menanyakan tentang tanteku itu.
"Jun...., itu tadi siapa yang belanja di toko lu?, kayanya deket sama lu?", Herman yang memang tidak pandai berbasa-basi ketika membuka percakapan akhirnya memutuskan untuk langsung menanyakan soal Tante kepadanya. Mungkin karena mereka berdua sama-sama kaku dan tidak pandai berbasa-basi, mereka cukup akrab dan sering mengobrol jika keadaan toko mereka sedang lengang pembeli.
"Yang tadi?, itu ade gue Man, ga tau tuh abis belanja tiba-tiba aja dateng kemari. Gue nitipin sumbu tadi ke dia buat Enah di rumah...", Jawab papaku sekenanya.
"Jadi yang tadi itu ade lu?, lu punya ade cakep ga bilang-bilang...", Herman menepuk bahu papa sedikit keras dan papa tertawa mendengar perkataan sahabat satu profesinya itu. Ia tidak menyangka Herman yang memang terlihat kaku dan pendiam seperti dirinya itu, langsung mengutarakan kepadanya tentang dirinya yang sepertinya tertarik kepada tanteku itu.
__ADS_1
"Kenapa lu nanyain dia?, jangan bilang lu mau ya sama ade gue..?", Tanya papa sangsi.
"Kalo iye emang kenapa?", Herman sedikit menantang papa yang ia tahu papa hanya berkelakar saja padanya.
"Kalo gue ga ngasih gimana?", Tanya papa setengah meledek sahabatnya itu.
"Gue maunya ama ade lu, bukan ama lu...", Jawab Herman yang pura-pura kesal dan akhirnya mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Ko, ngapain Koko masuk ke kamar bibi?", Tanteku kebingungan melihat Herman yang terlihat pucat.
"Tadi Koko liat lu masuk lari Lin...", Tanyanya dengan nada bergetar dan setengah tak percaya.
"Alin dari tadi ada didepan, masih di ruang tamu. Koko lama banget jadi Alin susul kemari...",
Herman semakin memucat mendengar keterangan Tante Alin. Jika dari tadi Tante sedang menunggunya di ruang tamu depan, lalu yang tadi masuk ke kamar ini siapa????.
__ADS_1
*******