The House 1937

The House 1937
58. Gudang (2)


__ADS_3

Kegelapan dari balik pintu itu begitu menariknya, kegelapan yang begitu kontras dengan cahaya sang Surya matahari yang begitu terang-benderang, di area yang dipijaknya saat ini. Bi Inah masih berada di luar pintu gudang itu dan memicingkan matanya ke bagian dalam gudang. Ia tak menyangka di siang bolong seperti ini gudang ini terlihat tampak begitu gelap. hanya terlihat sedikit cahaya yang menembus dari lubang yang ada di bagian atap gudang ini.Bi Inah juga sempat menutup hidungnya, karena bau aneh yang membuat dari dalam gudang. Langkah keluarga Nenek untuk melakukan renovasi gudang ini menurutnya adalah langkah yang tepat. Karena, jika dipikir-pikir, percuma saja menyimpan barang di gudang dengan kondisi seperti itu.


Bi Inah dengan hati-hati melangkahkan kakinya masuk. Aroma gudang yang mengganggu itu semakin menusuk penciuman Bi Inah, walaupun ia sudah menutup hidungnya. Tidak hanya aroma yang menyengat, gudang ini juga terasa lembap dan pengap karena tidak adanya ventilasi untuk sirkulasi udara. Sesekali ia mengibaskan tangannya karena aroma dari gudang yang sangat menusuk ini. Kembali ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati, tak ia sangka tanah yaang ia injak itu terasa sedikit licin, seperti basah tersiram air dan tidak pernah kering. Dengan masih menutup hidungnya. Kini, Bi Inah bisa melihat barang-barang yang tersimpan di tempat ini.


Ia melihat berbagai macam perabotan rumah tangga yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukuran, diantaranya ada lemari kayu besar dengan pintu yang terbuat dari kaca, lemari besar yang terlihat antik itu berisi aneka piring dan mangkok berbagai ukuran, dengan lukisan bunga aneka warna di bagian pinggirnya, ada juga yang bergaris emas di bagian pinggirnya, gelas kaca berbagai ukuran dan bentuk yang terlihat cantik yang juga dengan lukisan bunga aneka warna, bermacam-macam set keramik poci teh yang terlihat sangat klasik dan mahal. Berbagai macam sendok dan garpu yang tersusun rapi dengan ukiran-ukiran bermotif tak biasa yang ada di bagian gagangnya.


Semua alat-alat makan yang tersimpan itu masih dalam kondisi baik, dan sepertinya masih bisa digunakan. Hanya saja, terlihat kotor dan usang karena debu, karena memang sudah lama di simpan di lemari ini. Selain lemari besar yang berisi aneka peralatan makan itu, ada juga satu kemari lainnya, yang sepertinya itu adalah lemari untuk pajangan berukuran sedang berwarna coklat tua yang sudah sangat berdebu.

__ADS_1


Perabotan yang tersimpan disini cukup banyak, sampai membuat Bi Inah sulit untuk melangkah, karena pencahayaan gudang yang sangat buruk. Bi Inah tidak ingin sampai dirinya ceroboh dan secara tidak sengaja malah merusak barang-barang yang ada disini. Namun entah bagaimana, dari semua perabotan yang tersimpan di tempat ini, ada satu dari perabot itu yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah meja ruas tua dengan desain yang begitu lawas yang juga berwarna coklat tua, meja rias yang juga pernah di lihat oleh Jim, anak dari Om Toni ketika ia memasuki area gudang ini.


Cermin itu cukup antik dengan pigura kacanya yang memiliki ukiran bunga dan tumbuhan merambat yang terlihat rumit. Menurutnya, model dari meja rias ini benar-benar sangat antik, cenderung menyeramkan. Mungkin karena susah terlihat berdebu dan usang, jadi kelihatan seperti itu. Sesekali Bi Inah mengusap keringat yang kini mulai membasahi sebagian wajahnya. Wajar saja, suasana yang amat pengap ini perlahan-lahan membuatnya merasa gerah.


Ia masih memandangi cermin tua itu, tangan Bi Inah secara impulsif mulai menggosok debu yang menempel di cermin itu. Entah bagaimana, ketika tangan Bi Inah menyentuh kaca dari cermin rias itu, Bi Inah merasakan hal yang sangat aneh. Pergelangan tangannya seperti de pegang dan di cengkram oleh sesuatu, lebih tepatnya di cengkram oleh satu tangan lain yang entah siapa, namun cengkraman itu begitu kuat. Bi Inah sempat memberontak cukup keras. Namun tangan aneh nan misterius itu tidak juga terlepas dari pergelangan tangannya, yang semakin lama semakin keras mencengkram, dan terasa dingin.


Bi Inah yang sudah merasa tidak nyaman dengan semua itu, ia menarik napas sejenak bersamaan dengan bau menyengat yang juga menyeruak memenuhi penciumannya. Dengan sekuat tenaga mengumpulkan keberanian dalam dirinya, ia meraih pajangan kecil berdebu yang berada di meja kayu tepat di sebelah meja rias itu dan langsung melemparkan pajangan itu ke arah cermin sampai cermin itu hancur berkeping-keping, ia tidak lagi memikirkan akan dimarahi oleh Nenek atau Papa karena telah sengaja merusak salah satu barang milik mereka. Tangan misterius yang menggenggam. tangannya itu pun menghilang bersamaan dengan pecahnya kaca meja rias tua itu.

__ADS_1


Bi Inah langsung memegang pergelangan tangannya yang masih terasa sakit dan dingin itu dengan berkali-kali mengucapkan kalimat bersyukur di dalam hatinya. Akhirnya, dengan langkah yang sedikit terburu-buru dan napas yang terengah, ia berusaha keluar dari gudang tua itu. Dengan langkah yang sedikit terhuyung, akhirnya ia sampai di depan pintu gudang dan memegangi daun pintunya. Ia tak menyangka akan sampai seperti ini, padahal ia hanya masuk sebentar saja ke dalam gudang ini.


Bi Inah akhirnya berhasil melangkah keluar dari gudang itu lalu langsung menutup pintu gudang dan melilitkan rantai pintu gudang kembali. Bi Inah mengatur napasnya, dan udara segar di area belakang rumah ini kembali mengisi rongga paru-parunya. Ia melirik pergelangan tangannya yang tadi di "cengkram" dan ia kaget karena di sekeliling pergelangan tangannya itu tampak lebam, biru keunguan dan ia merasa sakit jika bagian yang lebam itu di sentuh. Ia tak menyangka hanya beberapa menit saja di dalam gudang ini, malah membuatnya "terluka".


Bi Inah yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari bahwa tukang dan para mandor itu sudah berkumpul dan tengah menikmati makan siang yang sudah ia hidangkan. Bi Inah tersentak ketika salah satu dari tukang bangunan itu memanggilnya. Mereka semua sudah tahu bahwa Bi Inah adakah asisten rumah tangga yang baru, menggantikan Almarhumah Bibi. Bi Inah menghampiri mereka dan berbasa-basi menawarkan makan siang yang di sambut terima kasih oleh Bi Inah yang segera masuk ke pintu belakang dapur tanpa berkata apa-apa lagi.


Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dialami oleh mereka semua ketika akan merenovasi gudang angker itu?.

__ADS_1


__ADS_2