
Sukarsih hanya mengangguk mengerti, ibu dan anak itu kini kembali fokus pada pekerjaan mereka. Ibu Sukarsih sangat senang dengan undangan kali ini, karena si tuan rumah memberi bayaran lebih besar untuk rombongannya. Ia dan rombongannya juga kaget karena tuan rumah ini juga kedatangan tamu seorang pejabat Belanda yang namanya cukup terkenal di wilayah ini. Ia datang bersama istri dan satu orang anaknya.
"Pokoknya penampilan kamu dan yang lainnya harus bagus ya, Karsih. Apalagi orang penting di perayaan ini bukan cuma tuan rumah ini saja, ada Meneer datang juga kemari...",
"Maksud ibu?, Walanda?", Walanda adalah sebutan orang lokal untuk orang Belanda yang tinggal di daerah ini. Ibunya mengiyakan dengan sangat bersemangat. Setelah beberapa saat akhirnya mereka semua telah siap untuk tampil, dan mereka semua melangkah ke halaman utama untuk tampil.
*******
Sukarsih dan para penari lainnya memberikan senyuman terbaik mereka ketika penampilan mereka mendapatkan apresiasi berupa tepuk tangan dari tamu-tamu yang hadir. Bisa dibilang, Sukarsih sendiri memang tampak menonjol dibandingkan Bu penari yang lain karena kecantikannya dan ia juga sebagai penari utama. Tak hanya Sukarsih, ibunya pun merasa sangat senang ketika penampilan dari para penari binaannya mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah atas penampilan mereka. Ia sudah membayangkan berapa banyak pundi-pundi uang yang akan menjadi pemasukannya. Belum lagi dengan uang saweran yang diterima penari dari para tamu. Hari ini memang hari keberuntungannya, perasaaan ibu Sukarsih semakin membuncah bahagia dan memperkirakan bahwa rombongan tarinya ini akan semakin dikenal oleh banyak orang dan panggilan untuk menari pun semakin banyak.
__ADS_1
Setelah Sukarsih dan penari lainnya meninggalkan halaman utama tempat tadi mereka yg tampil, kini mereka semua sudah berkumpul kembali di tempat tadi mereka mempersiapkan diri. Ini Sukarsih yang masih terlihat senang itu berkata akan menaikkan pembayaran upah menari mereka karena penampilan mereka kali ini. Sukarsih yang telah berganti pakaian dengan baju kebaya baru, yang berbeda dengan yang tadi ia pakai sebelum menari memohon ijin kepada ibunya intim ke bagian sumur yang ada di belakang rumah untuk mengambil air. Sukarsih pun melangkah menuju sumur tujuannya tanpa mengetahui bahwa sedari tadi gerak geriknya telah di pantau secara sembunyi-sembunyi oleh anak buah Dayanti.
Sumur yang menjadi tujuannya adalah sebuah sumur tua yang ada di bagian belakang rumah yang banyak di tumbuhi oleh rumput ilalang tinggi. Belum langkah Sukarsih mencapai sumur itu, dirinya tiba-tiba kaget dengan banyaknya anak buah dari Dayanti yang langsung meringkusnya. Sukarsih berusaha melawan para laki-laki yang menyekapnya itu, namun usahanya sia-sia saja karena kekuatannya yang kalah besar dan seorang diri saja dibandingkan dengan segerombolan laki-laki yang terlihat seperti Centeng ini. Beberapa yang lainnya mengawasi keadaan sekitar dan mereka memberi kode bahwa keadaan disekitar mereka aman untuk melaksanakan eksekusi. Mereka tahu pasti, bahwa banyaknya para Centeng yang berkeliaran di sekitar rumah dayanti ini bukan merupakan hal yang mencurigakan karena sudah banyak yang tahu pasti, bahwa ayah dayanti memang memiliki banyak Centeng. Dan semua orang yang ada disana berpikir, bahwa keberadaan mereka disini untuk mengawal kelancaran acara yang di adakan tuannya hari ini.
Hanya Dayanti sendiri dan Salam yang tahu mengenai rencana ini. Orang tua Dayanti tidak tahu menahu apapun, karena Dayanti hanya ingin menyelesaikan ini semua dengan caranya sendiri. Setelah menyumpal mulut Sukarsih dan juga menutup bagian kepalanya dengan kain hitam. Para Centeng itu langsung menggiring Sukarsih yang masih terlihat memberontak ke arah lahan kosong yang cukup jauh dari area belakang rumah tuan mereka. Mereka terus berjalan membawa perempuan itu ke area tanah kosong yang diatasnya masih di tumbuhi banyak tanaman liar dan aneka pohon yang cukup rimbun. Sukarsih yang langkahnya terus di seret oleh para Centeng ini merasa kebingungan, mengapa ia diperlakukan seperti ini?, apa mau dari semua laki-laki yang menyeretnya secara paksa ini?.
Sukarsih di dorong ke bagian tengah kerumunan mereka. Tidak hanya mulut yang disumpal dan kepala yang ditutupi oleh kain hitam, kedua tangannya pun diikat dengan kuat dengan tali rami yang cukup tebal. Salam berjalan perlahan ke arah Sukarsih dan menarik kain hitam itu dengan cukup keras. Seketika, pandangan kedua mata manusia itu saling beradu, yang satu terlihat ketakutan sekaligus bingung. Sedangkan. yang satu lagi dengan tatapan bengis tajam menusuk. Surkarsih terhenyak sesaat, ia sendiri tahu bahwa laki-laki berjambang dengan wajah gahar ini adalah salah satu centeng dari si tuan rumah, ia melihat di sekeliling dirinya sudah banyak para Centeng yang berdiri mengitarinya. Dan ia sendiri tidak tahu berada dimana ia saat ini, Hanau sebuah lahan kosong dengan ditumbuhi banyak rumput liar dan pepohonan.
Kondisi Sukarsih yang terlihat lengah di manfaatkan oleh Sakam untuk menjalankan misinya. Ia memukul wajah Sukarsih dengan tenaga penuh, sampai perempuan malang itu jatuh tersungkur ke tanah dengan lebam biru keunguan yang langsung mewarnai wajahnya, tidak hanya itu, darah segar berwarna merah tampak mengalir keluar dari liang hidungnya.
__ADS_1
"Saya salah apa, Kang..??", Sukarsih bertanya dengan nada terisak dan menahan sakit yang terasa begitu nyeri di sisi wajahnya.
"Saya hanya menjalankan tugas...", Hanya itu jawaban yang Salam berikan. Dan tidak jauh dari mereka, terlihat sebuah lubang yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh anak buah ya sebelum ia menggiring Sukarsih kemari. Salam mengalihkan pandangannya dari lubang itu ke arah Sukarsih yang sudah terlihat tidak berdaya, ia mengeluarkan sebilah golok tajam yang selalu berada di pinggangnya dan tanpa ampun langsung menebaskan golok itu dengan sekuat tenaga ke leher Sukarsih. Cairan hangat berwarna merah terang langsung merembes membasahi tanah dan bagian betis Salam, namun itu tidak masalah baginya. Ia langsung segera memerintahkan anak buahnya untuk menguburkan perempuan malang yang sudah sekarat itu, dan juga menyuruh mereka untuk menutupi darah yang menetes di tanah itu dengan gundukan tanah.
"Bereskan semuanya..., jangan sampai ada darah yang masih terlihat..",
Terlihat para Centeng itu tanpa perasaan sama sekali langsung melempar tubuh Sukarsih ke dalam lubang itu yang kini telah menjadi liang lahatnya.
*******
__ADS_1