The House 1937

The House 1937
70. Kenyataan yang mengerikan


__ADS_3

Begitu Ia mengalihkan kembali pandangannya ke area gudang yang sudah runtuh itu. Chun In terlihat terkejut karena....


Sukarsih ada di sana !


Ya, Chun In yakin, sosok perempuan yang berdiri di tanah bekas gudang tua itu, itulah dirinya. Ia berdiri di antara para tukang bangunan yang masih sibuk membereskan sisa-sisa material berupa kayu dan besi tua bekas gudang itu. Chun In seketika merasa gugup, jantungnya berdetak cepat, ia jadi ingat peristiwa kemarin siang di dalam gudang tua itu yang membuatnya 'tumbang'.


Papa yang melirik Chun In, dan melihat putra dari Babah Hwan itu menatap ke area tanah gudang itu dengan tatapan terkejut seperti itu, ia menduga, laki-laki ini pasti melihat sesuatu yang tidak ia lihat.


"Ada Apa Koh?, kok keliatan kaget begitu?", Papa mengikuti arah pandang Chun In, namun yang ia lihat hanya reruntuhan gudang dan para tukang bangunan yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Saya melihatnya Koh..., Sukarsih...",Jawab Chun In dengan nada tercekat.


******


"Apa?,Sukarsih??",


Papa yang terkejut sampai setengah berteriak sampai-sampai suaranya yang cukup kencang itu mengalihkan perhatian semua orang disana. Chun In pun sampai kaget karen ia yang memang berdiri tepat di sebelah papa, suaranya jadi terdengar sangat kencang.


"I..,iya Koh Jun...", Chun In terlihat gugup menahan ekspresi kagetnya, ia takut papa tersinggung jika menunjukkan ekspresi kaget karena suara papa tadi yang sangat keras.


"Dimana Koh?, dia ada dimana?", Papa langsung memperhatikan area tanah bekas gudang tua itu dengan seksama. Chun In yang beberapa menit lalu merasa kaget, kini malah merasa setengah geli, seolah Sukarsih sama persis seperti mereka berdua yang wujudnya dapat dilihat oleh siapa saja.


"Dia....dia berdiri di tanah bekas gudangnya Koh...", Chun In yang tadi berinteraksi dengan Papa, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke area tanah itu, Sukarsih hanya mengangguk pelan lalu menghilang begitu saja dari pandangan Chun In, apakah perempuan itu ingin memberi kode kepadanya bahwa penggalian tanah itu harus segera dilakukan?.


"Bagaimana Koh?", Papa kembali bertanya dengan ekspresi penasaran.

__ADS_1


"Dia..., sudah menghilang Koh..,saya juga tidak mengerti kenapa dia seperti itu..", Chun In sempat berpikir, mungkin saja dugaannya tadi benar.


"Koh Jun, sepertinya penggalian di area tanah gudangnya sudah bisa dilakukan...",


"Baik Koh, nanti saya akan bilang ke tukang-tukang itu untuk melakukan penggalian...", Papa setengah berlari menuju para tukang yang telah selesai membereskan semua material bangunan gudang dan memberi tahu mereka mengenai penggalian di tanah area gudang yang sudah bisa dilakukan.


Mereka mengangguk mengerti mendengar instruksi papa, mereka langsung membawa cangkul milik mereka sendiri yang sengaja dibawa untuk penggalian itu. Sebelumnya Papa memang sudah berkoordinasi dengan mandor bangunan untuk menginformasikan para tukang bangunan itu untuk masing-masing orang membawa cangkul.


"Kita mau menggali di sebelah mana, Koh?", salah satu dari tukang bangunan itu memberanikan diri bertanya kepada Papa.


"Di area tanah bekas gudang, Pak..", Jawab papa singkat.


Melihat Papa dan para tukang itu menuju tanah bekas area gudang, Chun In berinisiatif setengah berlari menghampiri semua orang.


Chun In terdiam dan mulai mengamati area sekitar tanah itu. Area tanah bekas gudang itu kini tidak lagi beraroma lembab dan menyengat seperti sebelumnya, mungkin karena telah terkena sinar matahari dan udara di sekitar area lahan kosong ini setelah beberapa lama bangunan gudang tua itu diruntuhkan. Chun In yang masih melangkahkan kaki kini menghentikan langkahnya, ia ingat beberapa saat yang lalu di tanah yang kini ia pijak adalah tempat tadi Sukarsih menampakkan diri, entah mengapa ia mulai merasakan bahwa di area ini lah jasad perempuan itu dikuburkan. Ia yakin, dugaanya benar.


Chun In memberikan kode kepada Papa agar papa mendekat menghampirinya. Setelah Papa berdiri tepat di sampingnya dengan ekspresi penuh tanya. Akhirnya Chun In memberikan jawaban yang diinginkan oleh papa.


"Sepertinya di area ini Koh yang harus digali suruh dua orang dari tukang itu untuk melakukan penggalian...", Chun In menunjukkan ekspresi yang begitu meyakinkan papa. Dan Papa sendiri langsung memanggil dua di antara tukang bangunan itu untuk melakukan proses penggalian di tempat kini mereka berdiri.


"Tolong gali di tanah bagian sebelah sini...., bilang kalau lu berdua melihat tulang belulang pas gali tanah...,",


Kedua tukang bangunan itu sempat terkejut begitu mendengar kata tukang yang si ucapkan oleh papa. Mereka seolah bingung, Tulang?, tulang apa yang dimaksud papa?. Namun mereka hanya bisa saling pandang satu sama lain dan langsung memulai pekerjaannya untuk menggali tanah, Mereka berdua tidak mau sampai terkena teguran Papa yang memang terkenal tegas, cenderung galak.


Sementara kedua tukang bangunan itu mulai sibuk menggali tanah dengan cangkulnya, Papa dan Chun In menatap proses penggalian itu dengan seksama. Harap-harap cemas mereka menunggu hasil dari penggalian itu. Sementara sisa dari beberapa orang tukang bangunan itu ada yang menepi di tempat tadi Papa dan Chun In berdiskusi, ada juga yang masih ada di area tanah itu, menunggu panggilan pekerjaan untuk mereka sendiri baik dari papa maupun dari Chun In.

__ADS_1


"Yakin ya Koh disitu tempatnya?", Papa menatap dengan pandangan setengah tidak percaya ke arah dua tukang bangunan yang tengah menggali itu.


"Iya Koh Jun, saya yakin tempatnya pas disitu...", Chun In meyakinkan papa yang tampak mulai gusar.Walau terlihat tenang, ia mulai merasakan perlahan-lahan jantungnya berdegup kencang. Harap-harap cemas mulai menunggu hasil dari proses penggalian ini.


"Nanti, selanjutnya mau bagaimana Koh?", Papa kembali bertanya kepada Chun In mengenai langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah proses penggalian ini selesai.


"Yang paling penting proses penggalian ini dulu Koh...", Jawab Chun In meyakinkan papa dengan tenang.


Proses penggalian itu terus berjalan dan sudah memakan waktu hampir lima belas menit lamanya. Posisi tubuh mereka sudah setengah badan berada di dalam tanah yang mereka gali, walau tanah ini terasa lembab dan basah namun ternyata mereka harus berusaha cukup keras untuk melakukan proses penggalian ini. Belulang yang dimaksud dari pemilik rumah ini belum jika mereka temukan sampai salah satu cangkul milik mereka terdengar seperti menghantam sesuatu yang keras di dalam tanah.


*******


Hai Hai Kembali


Dengan Author disini..


Terima Kasih untuk semua Readers yang sampai saat ini masih setia selalu mengunjungi laman author ya...


Jangan lupa like, favorit dan Komennya ya...


sebagai dukungan untuk author agar tetap semangat dan terus berkarya...


Terima kasih


Mazukashina

__ADS_1


__ADS_2