The House 1937

The House 1937
35. Berbagi Cerita (3) : Giman


__ADS_3

Perjalanan dari lahan persawahan menuju rumah ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja karena jarak yang cukup dekat. Setelah Pak Tani mematikan mobil, ia dan Giman segera turun bersama petani lainnya untuk bersiap menurunkan karung-karung padi itu dari mobil ke gudang padi. Dari balik jendela rumah, papa melihat dua mobil pick up tua itu sudah di halaman rumah dan langsung melangkah keluar menuju kedua mobil pick up itu dengan kunci gudang padi yang sudah ada di tangannya.


"Pak..., gudang yang di dekat sawah sudah beres semua ya?", Tanya Papa ke pada Pak Tani yang tengah mengatur yang lainnya untuk menurunkan karung-karung padi itu. Papa langsung melangkah kebelakang untuk membuka kunci pintu gudang, Pak Tani mengikuti papa dibelakangnya.


" Iya Koh, semua sudah beres, untuk proses penjemuran gabah akan dilakukan bergiliran seperti biasa...", Papa hanya mengangguk singkat dengan penjelasan Pak Tani tadi. proses penjemuran gabah setelah panen dilaksanakan secara bergiliran, karena gabah-gabah itu disimpan di dua gudang padi yang berbeda.


Papa mulai berjalan perlahan menelusuri jalan setapak kecil menuju gudang padi beserta dengan yang lain. Jalan setapak ini sebelumnya sudah dibersihkan dulu dari rumput-rumput liar yang tumbuh hampir menutupi jalan setapak ini sebelumnya. Karena lebih aman dan lebih mudah terlihat apabila ada ular yang tidak sengaja lewat di jalan setapak ini. Papa yang sudah berdiri di depan pintu gudang langsung membuka pintunya di bantu pak Tani. Pintu gudang itu memang cukup berat jadi tidak bisa dibuka seorang diri. Setelah pintu gudang di buka lebar, para petani akhirnya masuk satu persatu membawa karung padi itu masuk ke gudang. Karung padi itu di bawa oleh dua orang dan papa mengingatkan mereka semua agar berhati-hati membawa karung padi itu masuk ke gudang. Selagi mereka semua sibuk membawa karung padi ke gudang, papa juga memberitahukan mereka bahwa setelah semuanya selesai, mereka bisa bersantai dahulu di bagian samping halaman rumah dengan hidangan hangat buatan Bibi untuk mereka bersantap.


Selagi Pak Tani dan Papa tengah sibuk membicarakan penjualan dari hasil panen. Terlihat dua orang petani yang sedang mengangkut karung sambil bercakap-cakap dengan suara perlahan. Seolah mereka tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka.


"Kamu tahu tidak, sebelumnya saya pernah lihat adik perempuan si Engkoh, waktu itu saya lagi lewat di depan warungnya Enah. Orangnya cantik, mirip putri Huan Zhu..",


"Putri Huan Zhu, maksud kamu Putri Huan Zhu yang ada di televisi itu?",


"Iya, memang kamu kira siapa lagi?,",


"Saya malah baru tahu kalau si Engkoh punya adik perempuan..,si Engkoh juga lumayan sih mukanya, cuma ya gitu, galak. Kamu tahu siapa nama asiknya si Engkoh itu?,",


"Kalau tidak salah, namanya Alin. Cantik deh orangnya..",

__ADS_1


"Dari omongan kamu kayanya kamu suka ya sama adiknya si Engkoh, hati-hati kamu nanti bisa kena sama si Engkoh...",


Mereka berdua tidak menyadari jika percakapan mereka yang cenderung kurang pantas itu telah di dengar Giman yang menahan geram sejak tadi. Ia tidak bisa membayangkan jika percakapan dua orang ini akan di dengar oleh Engkoh Jun. Giman sendiri pernah bertemu sekali dengan adik papa itu, dan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua itu memang benar, Jika dilihat sekilas Tante Alin memang mirip dengan Vicky Zhao, pemeran utama di serial My Fairy Princess atau lebih di kenal dengan Putri Huan Zhu. Namun, tidak terlintas dipikirannya sekalipun untuk memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai adik majikannya itu. Ia juga mengormati Tante Alin sebagaimana juga ke Papa dan ke Nenek. Ia hanya bisa menunduk menahan geram karena percakapan itu.


Berani betul mereka membicarakan Non Alin, belum aja kalo si Engkoh dengar, habis mereka.


Setelah satu jam berlalu akhirnya semua karung padi telah selesai masuk ke dalam gudang padi. Papa dengan pak Tani masuk sebentar ke dalam gudang untuk mengecek karung-karung padi itu. Untuk melangkah masuk papa harus berhati-hati karena entah kenapa banyak sekali kecoa muda yang berjalan-jalan diantara kulit-kulit gabah yang berserakan. Entah sudah berapa kali lantai gudang itu dibersihkan, namun tetap saja sama seperri apa yang dilihatnya kini. Papa mengamati karung-karung itu sejenak, terlihat susunan karung susah rapi, tidak ada karung yang berlubang atau gabah yang berceceran. semua susah sesuai dan ia memberitahukan kepada semuanya untuk segera ke bagian samping rumah untuk beristirahat dan menunggu hidangan yang dibuat oleh Bibi. Mereka semua akhirnya berjalan menjauh dari gudang itu untuk duduk-duduk di teras samping rumah. Kini yang tersisa hanya Papa, Pak Tani dan Giman yang ada di depan gudang padi.


"Loh Man, kok masih disini?, ga ikut yang lain ke teras samping?", Papa mengusap tengkuknya yang sedikit gatal karena ada kulit padi yang menempel disana.


"Anu Koh, buat kunci gudangnya,, biar saya dan Bapak saja yang menguncinya Koh, soalnya handuk kecil saya sepertinya jatuh di dalam gudang..", mendengar jawaban dari putranya itu, pak Tani langsung menatap Giman dengan tatapan memperingatkan. Giman yang melihat tatapan ayahnya itu malah hanya kebingungan.


"Lain kali kamu bilang ke Bapak dulu, Man. Bapak tahu niat kamu baik, hanya saja yang biasanya mengunci gudang ini si Engkoh sama Bapak saja. Kamu kan juga masih baru...", Pak Tani menggelengkan kepala melihat sikap putranya itu yang menurutnya cukup berani untuk ukuran orang baru seperti dirinya. Karena sebelumnya belum pernah ada orang lain yang mengunci gudang ini selain Papa dan Pak Tani sendiri. Pak Tani hanya tidak ingin karena Giman adalah putranya, Giman jadi merasa besar kepala bisa melakukan lebih dari yang lainnya.


"Iya Pak, maaf. Soalnya saya ga mau kalau si Engkoh nungguin saya karena kelamaan di dalam...",


"Kamu yakin handuk kamu jatuh di dalam?", Pak Tani membuka sedikit pintu gudang, instruksi tidak langsung darinya agar Giman masuk ke dalam.


"Iya Pak sepertinya di dalam gudang jatuhnya. Saya cari-cari di sekitar sini tidak ada...", Giman menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena serpihan kulit gabah.

__ADS_1


"Ya sudah, sana cepat masuk, jangan lama-lama ya..", Giman hanya mengangguk pelan lalu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang padi itu, yang pekat dengan aroma karung dan kulit padi yang cukup menusuk. Ia sampai menutup hidungnya karena entah mengapa, bau dari karung dan kulit padi yang ada di gudang ini menggelitik ujung hidungnya yang membuatnya terasa gatal. Dan ia tidak menyangka jika di dalam gudang ini cukup gelap padahal hari belum beranjak sore. Ia masih mengamati lantai gudang itu dan terlihat handuk kecilnya yang ternyata memang ada di lantai gudang ini. Ia langsung mengambilnya dan sedikit bernapas lega karena ia ingin segera keluar dari gudang yang pengap ini. Namun, entah kenapa pandangannya tidak sengaja menatap ke arah bagian pojok gudang yang memang tidak terkena cahaya sama sekali. Sekilas terdengar seperti ada suara kulit-kulit padi yang bergesekan dengan lantai gudang dan membuatnya tersentak. Giman menarik napas dan memandang sumber asal suara itu yang ternyata dari bagian pojok gudang yang gelap itu. Suara itu masih terdengar dan tiba-tiba muncul dua titik merah yang terlihat menakutkan dari kegelapan itu. Giman memegangi handuk kecilnya itu dengan sangat kencang, titik merah itu seperti sepasang mata yang kini memperhatikannya dengan seksama, yang dalam pandangan Giman tentu saja itu hal yang menakutkan. Terdengar suara langkah kaki disana membuat Giman refleks lari menuju pintu gudang padi dan ia keluar dengan sangat tergesa-gesa. Pak Tani yang melihat putranya keluar dari gudang itu dengan wajah pucat langsung menghampiri putranya itu, dan ia terkejut karena kaki kanan Giman mengeluarkan sedikit darah segar.


"Kenapa kamu, Man?, kaki kamu berdarah..", Pak Tani berinisiatif akan meminta sedikit kapur sirih kepada Bibi nanti di dapur rumah.


"Di dalam gudang pak....", Giman memberitahukan ayahnya itu dengan suara tercekat, ia susah tidak mempedulikan lagi kakinya yang terus mengeluarkan darah segar yang cukup banyak itu. Pak Tani, hanya menghela napas, lalu menarik tangan putranya itu untuk segera mengunci pintu gudang itu.


Setelah pintu terkunci, mereka berdua langsung berjalan menuju bagian samping rumah nenek dengan langkah Giman yang sedikit tertatih karena lukanya itu.


"Pak tadi saya di dalam....",


"Apa?, kamu lihat sesuatu ya?", Pak Tani keburu memotong kalimat Giman.


"I..Iya Pak. Bapak Tahu?", Giman setengah kaget, pertanyaan ayahnya tadi seolah mengisyaratkan kalau ia tahu sesuatu akan gudang tua itu.


"Gudang itu memang sudah ada sebelum rumah si Engkoh di bangun. Yah.., sudah Man, kamu jangan ribut-ribut sama yang lain...",


"Tapi Pak, yang tadi saya lihat.....",


"Mata merah sepasang ya?",

__ADS_1


********


__ADS_2