The House 1937

The House 1937
59. Berkata Jujur


__ADS_3

Bi Inah tengah duduk bersantai di bangku kayu panjang di dapur dengan ditemani secangkir kopi hitam hangat dan sepiring kecil singkong rebus. Ia masih mengusap pergelangan tangannya yang memar dan terasa sakit ketika ia menyentuh bagian yang memar itu. Setelah ini, Bi Inah akan menyiapkan bahan makanan untuk memasak hidangan makan malam. Sambil menyeruput kopi hitamnya, Bi Inah teringat tentang kejadian di siang hari tadi ketika sehabis mengalami kejadian mengerikan di dalam gudang tua itu. Bi Inah terduduk lemas dengan merasakan nyeri di bagian pergelangan tangannya yang lebam itu. Setelah menenangkan diri dengan meminum segelas air putih, Bi Inah tidak sengaja mendengarkan percakapan para tukang bangunan dan mandor di tengah makan siang mereka yang ada persis di sebelah dapur ini.


Bi Inah mendengar bahwa ternyata hari ini mereka datang hanya untuk melihat terlebih dahulu keadaan dari gudang tua itu, tidak langsung melakukan proses renovasi. Karena sebelumnya, sang mandor bangunan sudah membicarakan hal ini kepada papa bahwa ia beserta anak buahnya akan melihat terlebih dahulu kondisi gudang tua itu, selain karena gudang itu jarang sekali di akses, bermacam-macam barang yang tersimpan di dalam sana pun harus di keluarkan satu persatu dengan sangat hati-hati. Karena mereka semua paham bahwa barang yang tersimpan di dalam sana juga merupakan barang-barang lama yang rentan lapuk atau rusak.


Bi Inah menghela napas sejenak dengan memandangi tanda lebam yang terlihat cukup mengerikan itu, dengan warna biru keunguan dan sebagian terlihat hampir menggelap. Ia tengah menimbang-nimbang, apakah ia harus membicarakan mengenai kejadian barusan?. Ia tahu tentu itu beresiko, karena dengan secara sengaja ia telah merusak salah satu berabot yang disimpan disana, cermin meja rias tua itu. Tapi mau bagaimana lagi, Bi Inah tidak punya pilihan lain,ia terpaksa harus melakukan itu.


Para tukang bangunan dan mandornya itu kini sudah kembali pulang sejak tadi sore setelah mohon pamit kepada Bi Inah sekaligus mengucapkan terima kasih atas hidangan makan siang yang Bi Inah buatkan. Bi Inah menaruh gelas kopinya yang kini hanya tinggal ampas kopinya saja di bak tempat piring dan gelas kotor. Lalu mulai membuka lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan makanan untuk makan malam. Bi Inah mengambil Tiga buah terong yang Bi Inah beli di pasar kemarin, ia akan membuat hidangan tumis terong pedas.


Bi Inah berencana nanti setelah makan malam selesai. Ia akan mencoba untuk membicarakan hal ini dengan Nenek. Ia berharap Nenekku tidak akan menegur atau memarahinya karena telah memecahkan kaca meja rias itu.


******


Di jam makan malam, Nenek, Papa dan Tante Alin sudah berkumpul di meja makan. Mereka menikmati hidangan makan malam ini yaitu nasi putih hangat seperti biasa, tumis terong pedas, tahu dan tempe goreng, lalapan, dan sambal korek. Sementara Nenek, Papa, dan Tante makan malam di dapur, Bi Inah kini tengah disibukan dengan dirinya yang sedang menyapu dan mengepel bagian depan rumah, di mulai dari ruang tamu, ruang keluarga dan bagian belakang yang memisahkan antara bagian depan rumah dan pintu dapur. Karena hanya sampai area ini saja lantai rumahnya menggunakan keramik. Sedangkan bagian dapur hanya disapu menggunakan sapu biasa aja, dan jarang sekali di pell karena lantainya hanya berupa ubin semen biasa.

__ADS_1


Setelah Bi Inah Selesai, ia bergegas ke bagian tempat serbaguna yang terdapat bak mandi besar untuk membersihkan kain pel beserta embernya. Sesekali terdengar percakapan antara Tante dan Papa yang cukup absurd dan mengundang tawa. Dalam percakapan itu, beberapa kali Tante Alin meledek Papa karena sebelumnya Papa meledek dirinya dengan Om Herman. Nenek yang duduk disana hanya bisa melerai dengan menggelengkan kepala karena perbuatan kedua anaknya itu.


Bi Inah menggantung kembali alat pel yang masih basah itu. dan bergegas mengambilkan gelas kaca bening untuk mengambil segelas air di teko tanah liat seperti biasa. Dan dirinya tidak sadar bahwa Tante Alin memperhatikan nya secara seksama di sela makan malamnya. Menurut penilaiannya selama ini, Bi Inah ini cukup pendiam di bandingkan dengan Almarhumah Ibu yang cenderung lebih banyak melakukan interaksi dengan orang rumah. Apakah mungkin karena asisten rumah tangga baru Nenek ini masih belum kerasan tinggal dan bekerja disini.


"Kenapa Ci?",


Tante sedikit terkejut ketika Bi menyapanya, dan menatapnya dengan tatapan sedikit bingung.


Bi Inah menyiapkan tiga gelas belimbing dan mengisinya dengan air, lalu membawa tiga gelas berisi air itu dengan nampan kaleng dan langsung menaruhnya di meja makan. Papa melirik sekilas ke gelas belimbing berisi air itu. Dan seketika matanya teralih ke pergelangan tangan Bibi yang di kelilingi oleh lebam yang terlihat mencolok dan menakutkan itu. Papa mengerutkan dahinya dan langsung menanyakan hal ini padanya.


"Loh?, tangan Bi Inah kenapa Bi?", Papa memperhatikan luka lebam itu dengan seksama.


"Iya Bi?, sampai seperti ini lebamnya?, apa terkilir Bi?", Tante Alin yang tadi tidak menyadari adanya tanda lebam itu, sekarang ia setengah terkejut melihat lebam itu dekat dengannya.

__ADS_1


"Bukan Ci, saya tidak jatuh ini juga tidak apa-apa...",


"Jangan seperti itu Bi, coba cerita ke kami semua. ada apa sebenarnya?,", Nenek sempat menahan Bi Inah yang juga penasaran. Ia tidak mau jika sampai hal ini bermuara kepada tidak kerasan ya BibI ah tinggal di rumah ini.


"Kalau ada apa-apa, Bibi bisa cerita apa saja Bi..,kami sekeluarga tidak keberatan...",


Mendengar Papa yang kini menatapnya dengan cukup serius. Bi Inah hanya bisa menundukkan kepala dan ia kemudian mulai menceritakan apa yang ia alami di gudang tua itu tadi siang. Sebenarnya, Bi Inah ingin membicarakan hal ini kepada Nenek secara empat mata saja ketika nanti susah selesai dengan makan malam ini. Namun karena terlanjur semuanya telah mengetahui lebam di tangannya itu. Akhirnya ia menceritakan semuanya, tidak hanya kepada Nenek, tetapi juga kepada Papa dan Tante Alin yang juga terkejut mendengarnya.


Papa mengatur napasnya begitu Bi inah menceritakan semuanya, Sebenarnya antara dirinya, Nenek,, dan Tante Alin sendiri itu tahu bahwa gudang tua itu sangat jarang di akses. Namun ia tidak menyangka bahwa akan sampai seperti ini jadinya. Walaupun ia juga terkejut dengan tindakan impulsif dari asisten rumah tangganya ini yang penasaran akan gudang tua itu sampai mengalami hal ini.


"Sekali lagi saya minta maaf Nah, sudah merusak barang milik Enah. Saya terpaksa Nah harus memecahkan kaca meja rias itu...", Bi Inah terlihat menyesal dengan perbuatannya.


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2