The House 1937

The House 1937
75. Bukan Akhir yang Sebenarnya


__ADS_3

Siang ini keadaan di Pasar cukup lengang, tidak terlalu banyak yang datang berbelanja dan orang yang berjalan berlalu lalang, mungkin karena hari ini belum memasuki akhir pekan. Papa tengah duduk di dalam tokonya sambil sesekali mengusap wajahnya yang terlihat sedikit lelah. Sampai-sampai papa tidak sadar dirinya telah menguap beberapa kali. Kejadian kemarin memang cukup banyak menguras energinya. Tadi pagi, Chun In pamit kepada Papa sekeluarga untuk kembali pulang ke rumahnya dan melakukan aktivitasnya kembali di Klenteng. Nenek sampai berkali-kali mengucapkan banyak terima kasih kepada laki-laki itu dan mempersilahkan dirinya kapan saja datang kemari untuk kembali berkunjung, dan tak lupa juga memberikan amplop tanda terima kasih yang cukup besar untuknya.


Chun In sendiri sempat merasa tak enak hati karena nenek yang sampai seperti itu, Papa sampai berpesan kepada laki-laki itu bahwa apa yang sudah ia lakukan di rumah ini jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan pemberian Nenek. Papa yang merasa bosan karena belum ada pelanggan yang datang, ia melirik ke arah toko Om Herman yang ada tepat di seberang tokonya. Akhirnya ia berinisiatif untuk datang berkunjung ke toko sahabatnya itu sambil membawa satu bungkus rokok yang hanya ia bakar satu batang saja dan tidak lupa korek api kayu sebagai pelengkapnya. Om Herman hanya terdiam dengan tatapan bingung ketika papa mengeluarkan rokok dan korek itu di hadapannya.


"Nih, Man..., buat lu...",


Papa menaruh sebungkus rokok yang masih utuh dengan korek api kayu yang ia ambil dari saku celananya. Papa hanya membakar satu batang rokok saja ketika kemarin tengah mengawasi pengerjaan renovasi gudang. Ia merasa sudah tidak membutuhkan rokok itu lagi, dah akhirnya memutuskan untuk memberikan rokok itu kepada Om Herman.


"Lu merokok lagi Jun?, Tumben..", Om Herman agak terheran dengan papa karena dirinya memang tahu jika Papa sudah lama tidak mengisap batang tembakau itu. Di raihnya sebatang rokok itu dari dalam bungkusnya, lalu ia menyalakan korek api kayunya untuk membakar rokok itu. Yah setidaknya bagi Om Herman rokok dari Papa ini membuatnya tidak mengeluarkan uang lagi untuk membeli batang tembakau itu.


"Iya, kemarin cuma satu batang aja gua bakar.., lagi pengen aja...", Papa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan sesekali melihat ke arah tokonya, sekarang ia tengah berada di dalam toko om Herman. Keadaan pasar yang cukup lengang membuatnya mampir sebentar ke toko sahabatnya itu.


"Kenapa lu kemaren ga Buka?, rumah lagi sibuk ya?, lu mau siap2 melamar temennya Alin itu?", Ternyata dugaannya jelas saja salah, melihat wajah papa yang tiba-tiba berubah melotot begitu.

__ADS_1


"Masih jauh Man, gua memang masih repot soal masalah di rumah...", Papa menghela napas, dan melihat tatapan heran dari Om Herman.


"Repot banget ya lu ngurusin masalah di rumah Jun, terus lu kemarin ga buka toko kenapa?",


Papa sekali lagi menengok ke arah tokonya, memastikan tidak ada pelanggan yang mampir. Ia memposisikan tempat duduknya menyamping di meja toko milik Herman agar memudahkan Papa mengamati tokonya dari seberang sini. Kemudian mulai menceritakan kejadian mengerikan beberapa hari yang lalu di rumah. Mendengar cerita Papa yang sampai seperti itu, Om Herman seperti merasa sedang mendengarkan kisah dari cerita-cerita horor di majalah misteri atau seperti mendengar alur cerita film saja. Ia berpikir mungkin Alin juga sudah mengetahui cerita ini, hanya saja Om Herman belum bertemu kembali dengan Tante Alin sejak kepulangannya dari Klenteng itu bersama Papa.


"Lu akhirnya cerita soal Chun In ke Enah, dan dia datang ke rumah lu??", Om Herman teringat bahwa papa ingin merahasiakan kepergiannya ke Klenteng itu untuk menemui Babah Hwan bersama dirinya, dan sekarang malah bercerita ke nenek kalau papa sebelumnya menemui laki-laki itu di Klenteng.


"Yah..., mau bagaimana lagi, Man. Darurat dan mendesak...", Papa menggelengkan kepala sambil menyeruput kopi hangat yang sengaja di pesan oleh om Herman.


"Begitulah..., gua sudah minta tolong Giman buat mengawasi kerjaan tukang hari ini...", Sengaja kemarin sore papa singgah ke rumah Giman, untuk menyampaikan pesan bahwa ia ingin salah satu putra dari Pak Tani itu membantu dirinya untuk mengawasi pekerjaan para tukang di gudang bagian belakang rumah.


"Giman?, oh karyawan lu di rumah ya?", Om Herman langsung menangkap mengerti maksud papa, pasti salah satu orang yang membantu papa mengurus sawah.

__ADS_1


"Iya Man, yang biasa bantu di sawah. Lagi ga ada kerjaan di sawah, jadi gua suruh dia mengawasi pembangunannya...",


Obrolan mereka terus berlanjut, dan papa sendiri langsung menyudahi obrolan itu dan kembali ke dalam tokonya sendiri ketika ada satu pelanggan yang menyambangi tokonya.


******


Papa mengendarai motor tuanya seperti biasa dalam perjalanan pulang seperti biasa. menyusuri jalan raya yang masih tampak tidak merata disana-sini dan terasa sangat berdebu. Malam sudah hampir tiba dengan di tandai langit yang mulai menggelap dan lampu-lampu rumah di sepanjang jalan sudah banyak yang menyala benderang. Papa yang sudah menyalakan lampu depan motornya untuk penerangan di jalan namun tetap saja pandangannya terbatas karena jalanan yang diakuinya tidak hanya dalam kondisi rusak, tapi juga minim penerangan.


Walaupun kejadian mengenai ditemukannya tulang-belulang milik arwah Sukarsih dan sudah diadakan pemakaman yang layak untuknya. Entah mengapa Papa merasa bahwa itu tidak akan mempengaruhi keadaan rumah tersebut yang memang sudah mencekam sejak lama. Sayang sekali pada waktu itu ia tidak menanyakan lebih lanjut mengenai pemilik dari lahan sebelumnya yang kemarin Chun In ceritakan kepadanya. Memang baginya tidak terlalu penting, tapi tetap saja karena ini merupakan hal yang berkaitan dengan tempat tinggalnya, karena almarhum kakek juga tidak banyak bercerita.


Tak terasa motor tua yang di kendarainya itu kini sudah memasuki bagian teras depan rumah. Setelah selesai memarkirkan motornya, papa berencana ia akan langsung menghambur ke mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya yang masih saja terasa lelah, begitu ia hendak berjalan menuju pintu, tiba-tiba pandangannya terlihat heran melihat sebuah benda yang ada di teras rumah, sebuah senter. Papa mengambil dan memperhatikan senter itu sejenak, ini adalah senter milik nenek yang biasanya ditaruh di atas meja riasnya. Papa menyalakan lampu senter itu dan masih berfungsi dengan baik. Papa sengaja menaruh senter itu di meja rias nenek agar memudahkan nenek jikalau situasi darurat terjadi, seperti mati listrik di malam hari. Hanya saja, nenek lebih suka menggunakan lampu minyak tradisional dibandingkan dengan senter.


Papa menyalakan senter dan mengarahkan sinar yang berpijar dari lampu secara sembarang. Lalu, dengan sengaja papa menyenterkan sinar dari lampu senter itu ke bagian belakang rumah, ke gudang rumah yang tengah di renovasi itu. Sinar senternya yang tengah berpijar kesana tidak sengaja mengarah ke sosok yang terlihat sangat aneh, berperawakan cukup tinggi dan hitam yang tengah terlihat duduk di salah satu tumpukan kayu yang tidak terpakai. Sosok itu langsung menghilang dalam gelap begitu lampu senter itu tak sengaja mengenai dirinya. Papa yang masih diliputi rasa kaget, lalu sempat berpikir.

__ADS_1


Sepertinya memang ini tidak akan pernah berakhir...



__ADS_2