The House 1937

The House 1937
60. Berkata Jujur (2)


__ADS_3

Nenek hanya terdiam sejenak, ia tidak hati apa yang harus dikatakannya untuk hal ini.


"Saya mengerti Bi Inah..., Bi Inah sudah mau jujur untuk menjelaskan semuanya...",


Mau bagaimanapun ia tidak bisa kesal atau marah karena asisten rumah tangganya ini memiliki alasan atas apa yang dilakukannya. Nenek melirik Papa yang terlihat dengan ekspresi serius, membalas menatap Nenek yang seolah-olah bertanya apa yang harus dilakukan untuk hal ini. Papa mengangguk pelan dan kembali memulai pembicaraan.


"Apa lebamnya sakit Bi?", Papa melirik ke arah lebam di pergelangan tangan Bi Inah dengan ekspresi ngeri.


"Iya Koh, rasanya nyeri dan sakit kalau di pegang...", Tante Alin mengusap bahu Bi Inah yang masih menunjukkan ekspresi bersalah. Dan Tante Alin tidak menyangka bahwa gudang tua itu sangat "mengganggu".


"Baik Bi, besok saya akan belikan obat untuk Bi Inah, karena lebamnya sampai seperti itu.., Bi Inah tidak perlu khawatir..", Papa berdeham dan meminum air dari gelas belimbing yang ada di meja makan.


"Iya Koh, terima kasih...", Sesekali ia mengelus pergelangan tangannya yang terlihat menyedihkan itu.


*******


Setelah sesi makan malam tadi, tidak ada yang menonton acara televisi di ruang keluarga seperti biasanya. Tante Alin sudah berada di dalam kamarnya dan melanjutkan kegiatannya membaca novel miliknya. Sementara Nenek kini juga sudah berada di dalam kamarnya dengan Papa untuk membahas apa yang tadi di sampaikan Bi Inah di sesi makan malam tadi. Keduanya nampak terlihat tegang dan hanya berdiam diri, belum ada percakapan apapun, dan terlihat keduanya belum ingin memulai terlebih dahulu. Papa yang terlihat mengambil napas pendek-pendek, akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Nenek.


"Nah..., kalau boleh Jun tahu, apakah gudang tua itu memang seperti yang di ceritakan Bi Inah?", Papa memang selama ini tidak begitu mengetahui kondisi gudang tersebut karena biasanya hanya Nenek atau almarhum Bibi saja yang membuka pintu gudang itu. Itupun jarang sekali dilakukan.

__ADS_1


Nenek hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan dari putranya itu, memang selama ini ia yang selalu membuka pintu gudang tua itu. Tetapi itupun sangat jarang dan hanya seperlunya saja, seperti mengambil piring atau peralatan makan baru.


"Pintu gudang itu jarang sekali dibuka, Jun. Paling-paling di buka kalau mau ambil piring baru saja..", Jawab Nenek sekenanya.


"Begitu ya, mungkin karena memang gudang itu jarang di akses, jadinya...", Papa tidak melanjutkan kalimatnya itu, ia hanya mendekus pelan sambil menggelengkan kepalanya. Jika sudah seperti ini, mungkin ia berpikir rencananya untuk merenovasi gudang tua itu harus di tunda.


"Tadi Mandor dan tukang sudah datang,Jun?, Apa kata mandor untuk renovasi itu?", Tadi siang memang Nenek yang sedang menunggui warungnya melihat mereka semua datang dan langsung ke bagian belakang rumah untuk pekerjaannya.


"Iya Nah, Jun sudah bicara dengan Mandornya. Katanya harus di lihat dulu kondisi dari gudangnya. Dan nanti barang-barang yang ada di gudang harus di keluarkan dulu...", Nenek mengangguk mengerti mendengar penjelasan Papa.


"Apa sebaiknya memang kita tunda dulu untuk renovasinya Nah?",


"Karena cerita Bi Inah tadi, Jun jadi kepikiran ingin melakukan pemeriksaan dulu ke gudang tua itu, karena...., Enah pasti tahu selama ini Jun cuma ngurus masalah gudang padi yang disini sama yang di dekat sawah...",


"Tidak apa-apa kalau lu mau periksa dulu, tapi di periksa bagaimana?,


Papa menjelaskan kepada nenek bahwa pemeriksaan yang ia maksud adalah pemeriksaan secara supranatural. Papa menyampaikan bahwa sepertinya memang hal ini harus dilakukan untuk terlebih dahulu sebelum renovasi gudang yang sesungguhnya akan dilaksanakan. Dengan tujuan untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Dan mengenai hal ini, papa langsung teringan oleh Chun In, putra dari Almarhum Babah Hwan. Ia berencana untuk mengundang Chun In ke rumah ini perihal pemeriksaan itu. Mungkin saja dengan adanya Chun In yang datang kemari, ada 'sesuatu' yang bisa mereka ketahui.


"Jun mau mengundang Chun In kemarin Nah...", Papa kembali memulai percakapan.

__ADS_1


"Chun In?, siapa dia?", Nenek berusaha mengingat-ingat. Sepertinya dirinya tidak memiliki kenalan bernama Chun In.


"Itu anaknya Babah Hwan Nah, Temennya Babah yang katanya pernah datang kesini?", Papa mengingatkan Nenek akan sahabat dari Almarhum Kakek itu.


"Kalau di Hwan, gua tau. Cuma kenapa lu mau mengundang anaknya ke rumah?", Nenek memang belum tahu jika Chun In juga sama seperti Babah Hwan.


"Untuk pemeriksaan Nah. Emang ingat kan waktu Jun pergi beberapa hari dengan Herman untuk berlibur. Jun dan Herman sekalian mampir ke Klenteng tempat Babah jadi pengurus disitu. Jun dengar kalau Babah Hwan sudah lama meninggal dunia dan kegiatannya di Klenteng itu dilanjutkan oleh anaknya yang juga 'bisa' Nah..", Papa menjelaskan panjang lebar ke nenek mengenai Chun In.


"Oh begitu, Apa bisa dia kita undang kemari?, lu ada nomor telponnya?",


"Bisa Nah..", Papa menjawab dengan sungguh-sungguh karena sebelumnya ia sudah meminta nomor kontak Klenteng itu dan nomor kontak Chun In sendiri. Memiliki pesawat telpon sendiri di rumah pada waktu itu merupakan salah satu hal yang tergolong mewah. Pada masa itu, masih jarang orang yang memasang pesawat telpon atau televisi sendiri dirumah. Keluarga Papaku dan kelurga Chun In merupakan salah satu keluarga yang cukup beruntung karena dapat mengakses kedua hal itu dengan mudah.


"Kalau memang bisa, coba saja lu telpon dia Jun, tanya kapan bisa datang kemari?, Nanti Bi Inah gua suruh beresin kamarnya Toni untuk dia bermalam disini...", Dalam benaknya, Nenek sungguh penasaran dengan Chun In. Apakah ia memiliki kemampuan yang sama persisi dengan Babah Hwan?.


"Iya Nah, nanti Jun telpon orangnya...", Papa menguap untuk yang kedua kalinya, dan melirik jam dinding yang ada di kamar Nenek. Jam 10 tepat. Ia memang sudah mengantuk sedari tadi dan akhirnya memohon ijin pada nenek untuk kembali ke kamarnya.Dan akan melanjutkan pembicaraan ini di lain waktu.


********


Papa tengah sibuk dengan percakapan yang ia lakukan melalui pesawat telpon dan memberitahukan kepada pihak di seberang sana bahwa untuk proses renovasi gudang itu untuk sementara waktu di tunda sampai ada pemberitahuan kembali dari Papa. Papa sedikit merasa lega karena untung saja bulan-bulan ini bukan merupakan musim penghujan, sehingga ia tidak perlu khawatir bahan bangunan yang sebagian sudah ada disini menjadi rusak karena air hujan. Paling-paling papa harus berhati-hati agar semua bahan bangunan itu tidak rusak atau hilang karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Setelah selesai dengan pembicaraannya tadi, papa telah menutup telponnya dan mengecek kartu-kartu nama yang ada di selipan buku telpon, kartu yang tengah ia cari adalah kartu nama yang diberikan oleh Ncek Afung selaku pengurus Klenteng, dan di kartu itu juga terlukis nomor telpon milik Chun In. Setelah menemukan kartu yang ia cari, papa langsung menekan nomor telpon tujuannya dan menunggu panggilan itu tersambung.

__ADS_1


*******


__ADS_2