
Setelah peristiwa ganjil dan aneh yang menimpanya kemarin malam, Bi Inah hanya terdiam, ia tidak berani menceritakan peristiwa yang cukup mengerikan itu kepada penghuni rumah ini yang merupakan majikan barunya. Dengan beberapa kali menarik napas, ia berusaha membuat semuanya biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apapun, walau di dalam hatinya ia merasa khawatir sekaligus takut. Tentu saja ia takut jika kejadian itu terulang kembali di malam berikutnya...., atau mungkin saja ia akan mengalami kejadian yang lebih mengerikan lagi. Bi Inah menggelengkan kepalanya pelan dan kembali fokus dengan kegiatan menjemur pakaian. Tadi setelah menyiapkan sarapan pagi untuk Nenek, Papa, dan Tante Alin, Bi Inah juga menghabiskan sarapan paginya dan membereskan serta mencuci peralatan makan yang tadi digunakan untuk sarapan pagi, dan lanjut dengan mencuci pakaian. Ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya sebagai upaya dirinya untuk tidak mengingat kembali kejadian semalam. Selesai menjemur semua pakaian, Bi Inah kembali ke bak besar tempat mencuci piring dan pakaian, membilas ember plastik dan kakinya dengan air lalu mengambil segelas air putih dari kendi tanah liat yang ada di dapur. Tidak terasa waktu sudah hampir mencapai tengah hari, dan ia berencana beristirahat sejenak dengan duduk di bangku kayu panjang yang ada di sana.
Mengingat kejadian semalam, ia jadi teringat tetangganya yang berceloteh mengenai keangkeran rumah ini. Namun jika Bi Inah pikir kembali, wajar saja jika rumah ini "angker" menurut sebagian orang. Secara memang rumah ini sudah berdiri sejak lama, sejak sebelum jaman kemerdekaan. Almarhum kakek Pak Tani lah saksi dari proses berdirinya rumah ini, yang dulu katanya sebelum rumah ini berdiri, rumah yang berdiri sebelumnya adalah rumah dengan desain Tionghoa tradisional yang hampir semua dindingnya terbuat dari kayu jati. Lalu Papa dari Kakekku mulai menggantinya dengan desain rumah yang sekarang ini. Bi Inah cukup kagum mendengar penuturan dari Najim itu karena menurutnya, memiliki rumah dengan ukuran sebesar ini di jaman pra-kemeedekaan merupakan hal yang sangat membanggakan. Dan sudah bisa dibilang bahwa keluarga Nenekku ini memang keluarga yang amat berkecukupan, bahkan berlebih.
Ia benar-benar berharap bisa merasa kerasan bekerja dan tinggal di rumah nenek. Mungkin mengenai kejadian semalam, ia bisa menceritakannya nanti kepada nenek jika ia sudah cukup lama bekerja disini. Bi Inah bangkit dari duduknya, mengambil sapu dan kain lap yang akan digunakannya untuk membersihkan ruang tamu dah ruang keluarga. Ia berjalan melewati kamarnya dan ia berpapasan dengan beberapa foto anggota keluarga yang di gantung disana. Terlihat beberapa foto hitam putih yang terlihat sudah menguning di beberapa bagian yang menunjukkan bahwa foto itu sudah berusia lama dibandingkan dengan foto yang lainnya. Terlihat foto potret hitam putih sepasang wanita muda berkebaya dan laki-laki yang mengenakan jas lengkap. Bi Inah pikir mungkin wanita muda di foto itu adalah nenekku karena memang terlihat mirip hanya saja jauh lebih muda, dan pria di sampingnya tentu saja adalah kakek yang juga terlihat masih muda. Ada potret empat anak berdiri sejajar, terdiri dari dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang merupakan Papa, Om serta Tanteku di masa kanak-kanak mereka. Foto mereka sekeluarga yang di ambil dengan latar depan rumah ini. Ada juga foto pernikahan dari Tante Dewi dan Om Toni, melihat busana pernikahan mereka, terlihat bahwa mereka menikah di waktu yang berbeda dengan rentang waktu yang cukup jauh. Bibi mengernyit melihat kedua foto pernikahan itu karena bibi memang belum bertemu dengan Om Toni dan Tante Dewi, dua anak nenekku yang memang sudah tidak tinggal di rumah ini. Hanya tersisa Papa dan Tante Alin yang memang belum menikah. Najim memang sempat membicarakan sedikit perihal Nenek yang menyuruh Papa untuk segera menikah, hanya saja sifat Papa yang sedikit kaku membuatnya kesulitan untuk mencari calon pasangan. Bibi mengingat sekilas wajah papa, yang jika diperhatikan salah satu putra nenek itu memiliki wajah yang cukup tampan. Menurutnya mirip seperti aktor di film Mandarin yang pernah ia saksikan di layar televisi di rumah majikannya yang lama. Sayangnya ia setuju dengan Najim karena putra majikannya itu selalu memasang ekspresi berkerut yang memang terkesan kurang ramah. Bi Inah jadi merasa geli sendiri, bukannya bekerja malah memikirkan cerita Najim mengenai papa yang sudah pasti bukan bagian dari pekerjaannya di rumah ini.
*****
__ADS_1
Selesai membersihkan sesi makan malam di dapur tadi, Bibi langsung melaksanakan shalat isya dan setelah selesai ia merapikan mukena dan sajadahnya. Ia menghela napas pelan dan duduk di tepi ranjangnya, sudah dua hari ia tinggal di rumah ini dah ia entah mengapa merasakan rumah ini.... sedikit sepi. Berbeda dengan keadaan keluarga majikan lamanya yang memang jauh lebih ramai. Mungkin karena jumlah penghuni rumah ini hanya sedikit, di tambah lagi tidak adanya anak kecil yang tinggal disini. Bibi keluar dari kamarnya dan berjalan perlahan ke arah ruangan bagian depan, tepatnya ruang keluarga. Di ruang keluarga, terlihat Nenek, Papa dan Tante Alin tengah menonton siaran televisi serial misteri yang selalu tayang setiap minggunya. Melihat Bi Inah tiba di ruang keluarga Nenek langsung mempersilahkannya untuk menonton televisi bersama.
"Iya duduk aja Bi, nonton disini jangan dibelakang terus...", Tante Alin setengah tertawa lalu kemudian menyikut papa yang ternyata emosi dengan jalan cerita dari serial televisi yang sedang berlangsung itu.
"Ga usah serius begitu ko, ini kan cuma serial...", Tante Alin menggelengkan kepala.
"Dulu di rumah lama tempat Bibi kerja, suka nonton bareng Bi?", Tante Alin memelankan suaranya ketika bertanya pada Bi Inah.
__ADS_1
"Kalo di rumah lama, nonton televisinya di belakang, Ci. Ada televisi khusus buat asisten rumah tangga. Jadi, ga bareng nontonnya...", Jelas Bi Inah singkat lalu mereka semua kembali fokus menonton serial televisi di depan mereka.
******
Bi Inah kembali ke kamarnya setelah selesai menonton serial televisi di ruang keluarga diikuti dengan Nenek, Papa dan Tante yang juga telah kembali ke kamarnya masing-masing. Sesi menonton televisi bersama tadi cukup menyenangkan baginya karena selain tegangan yang terasa karena alur cerita dari serial itu, sesekali terdengar obrolan dari kedua anak Nenek yang cukup membuatnya menahan tawa. Sementara Bibi hanya melihat Nenek yang mengayunkan tangannya menyuruh kedua anaknya itu untuk tenang. Bibi meregangkan sedikit tubuhnya kemudian membuka kelambu ranjangnya dan sudah bersiap untuk tidur. Ia baru saja merebahkan dirinya di ranjang, tiba-tiba ia merasakan panggilan alam yang harus dituntaskan dan mau tidak mau ia harus bangun dari tidurnya di ranjang dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Bi Inah membuka perlahan selot kayu pintu dapur, entah mengapa dari dapur yang pintunya masih tertutup itu ia mendengar suara air, air yang sengaja di gerakkan oleh sesuatu. Bi Inah yang tanpa aba-aba langsung membuka pintu dapur dan melihat ke sumber suara itu yang membuatnya terkejut sampai ia menutup mulutnya agar tidak berteriak. Makhluk apa itu?, makhluk bertubuh kurus kering, hampir legam, dan berambut tak karuan tengah menggerak-gerakkan sebelah tangannya di air di bak besar untuk mencuci piring dan pakaian. Terlihat juga tubuhnya yang tak terlalu tinggi, wajahnya tidak terlihat jelas karena rambutnya yang berantakan dan ia tak berpakaian !!. Melihat Bi Inah mengetahui keberadaannya,, makhluk menyeramkan itu langsung pergi..., ia berlari dan hilang menembus dinding yang ada di belakangnya.......
*******
__ADS_1