The House 1937

The House 1937
65. "Penglihatan" (4) : Penampilan Terakhir


__ADS_3

"Aku mau penari jalanan itu disingkirkan, aku tidak peduli bagaimana caranya, ia harus disingkirkan...", Perempuan itu menggores lehernya sendiri dengan ibu jarinya, mengisyaratkan bahwa ia ingin melenyapkan nyawa Sukarsih.


Namun ia mengerti, bahwa agar semua yang diinginkannya berjalan dengan berhasil. Ia sama sekali tidak boleh gegabah dan ceroboh. Karena apa yang akan dilakukannya adalah hal yang sangat beresiko tinggi, jika sampai gegabah, bisa-bisa ia ketahuan dan bisa kehilangan muka atas perbuatannya sendiri.


"Nyai susah memikirkan bagaimana caranya?", Sakam sebagai Centeng yang sudah bekerja lama dengan majikannya, ia cukup paham dengan sifat dari putri majikannya ini yang emang mirip dengan ayahnya, angkuh dan ingin mendapatkan apapun yang diinginkannya dengan cara apapun.


"Aku belum berpikir sampai kesana.., tunggu saja nanti perintah dariku...",


*****


Dayanti, demikian nama perempuan itu. Ia terkenal sebagai seorang putri dari tuan tanah yang termasyur di daerah itu. Paras cantiknya mampu banyak menarik perhatian para laki-laki yang antri ingin menjadi suaminya. Namun sayangnya, paras cantiknya itu tidak sebanding dengan watak buruknya. Ia sangat angkuh dan pemilih untuk dekat dengan siapapun, baik itu berteman ataupun jika ingin dekat dengan lawan jenis. Sebagai putri dari orang terpandang, ia sangat berambisi untuk memiliki pasangan yang sederajat dengannya. Tuan tanah atau pejabat, tidak masalah baginya, karena menurutnya itu sudah memenuhi kriteria dari pasangan idamannya. Begitu pertama kali melihat Sudarmo, dalam hatinya terpatri bahwa ia harus bisa memenangkan hati laki-laki yang juga putra dari tuan tanah, sama seperti ayahnya.


Mereka akhirnya saling mengenal setelah dikenalkan oleh kedua orang tua mereka di sebuah acara yang diadakan oleh pejabat daerah. Dayanti hanya tersipu malu ketika bertemu dan berkenalan dengan Sudarmo, ia terlihat sangat senang bisa berinteraksi dengan pemuda idamannya, sedangkan pemuda itu hanya mengangguk dan berbicara sebentar, hanya untuk kesopanan saja. Dayanti sempat merasa kecewa dengan reaksi Sudarmo yang seperti itu, namun bukan berarti itu menyurutkan niat gadis itu untuk mendekati Sudarmo.

__ADS_1


Sudarmo sendiri merasa biasa saja ketika bertemu dengan Dayanti. Ia akui gadis itu memang cantik, tapi entah mengapa itu tidak memberikan kesan apapun dihatinya. Gadis itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Mengenai gadis itu, sebelumnya juga ia sudah mengetahui bahwa kedua orangtuanya berniat untuk menjodohkan dirinya dengan Dayanti. Dalam hatinya, ia tidak terlalu setuju dengan perjodohan semacam ini. Namun, mau bagaimana lagi, Sudarmo tidak bisa menentang keinginan dari kedua orang tuanya itu, dan akhirnya ia pun mau menerima perjodohan dengan Dayanti. Walaupun jelas ia tidak sepenuh hati akan hal itu. Sudarmo melirik gadis itu yang duduk dihadapannya dengan wajah berbinar. Gadis itu tampak senang sekali akan perjodohan ini, dari sorot matanya Sudarmo menebak bahwa sejak awal gadis ini memang menaruh hati padanya. Dan Dayanti sendiri semakin yakin, semakin dekat langkahnya untuk menjadi istri Sudarmo.


Namun ternyata apa diharapkan Dayanti tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Perjodohan yang telah dilakukan kedua orang tua mereka nampaknya tidak begitu berarti untuk pemuda itu. Sudarmo kini tengah melirik Sukarsih, seorang penari yang menurut Dayanti hanyalah seorang perempuan dari kelas rendahan. Dayanti tidak terima, apapun yang terjadi, Sudarmo yang menjadi incarannya harus menjadi miliknya. Setelah mengetahui kejadian ini, Dayanti mulai mengatur rencana jahat untuk Sukarsih, dirinya tengah menunggu waktu yang tepat. Menunggu sampai semua rencana jahatnya siap untuk dilancarkan. Selama beberapa waktu ia mengerahkan anak buahnya yang di pimpin oleh Sakam untuk terus mengintai dan mengawasi Sukarsih, si penari. Mengawasi setiap ritme gerak-gerik Sukarsih, dan nanti mereka akan melaporkan hasil pengintaiannya kepada Dayanti.


Dayanti terus menahan amarah dalam dirinya, menahan diri dari amarah ketika memikirkan bahwa Sudarmo diam-diam sering memberikan berbagai hadiah kepada penari rendahan itu. Ia terus menunggu sampai mendengar kabar berita bahwa di acara panen sawah milik ayahnya kali ini, ia akan mengundang rombongan penari yang ternyata Sukarsih menjadi saah satu anggota rombongan itu. Ia berpikir. Mungkin ini merupakan kesempatan yang bagus untuk menjalankan aksinya.


Diam-diam, ia mulai mencari informasi mengenai pelaksanaan acara panen itu melalui anak buah ayahnya yang lain. Acara itu akan diadakan tiga hari lagi dan di adakan di pelataran utama rumahnya. Ia begitu penasaran dengan Sukarsih, karena selama ini ia hanya mendengar namanya saja. Sempat ia menampar salah satu anak buah ayahnya karena menuju kecantikan Sukarsih secara terang-terangan di hadapannya.


Di malam hari sebelum acara itu berlangsung, ia telah memanggil Sakam untuk memberitahukan rencana yang akan dijalankannya esok hari. Sakam memperhatikan dengan seksama semua yang diinstruksikan oleh Dayanti. Sebagai tangan kakan dari putri majikannya itu, tentu ia akan menjalankan itu semua sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Dayanti.


"Aku tidak mau rencanaku besok gagal, kau paham?", Dayanti menatap Salam dengan sangat serius.


"Baik Nyi, Nyai tenang saja..", hanya itu jawaban yang Salam berikan padanya.

__ADS_1


Akhirnya, hari perayaan panen pun tiba. Rombongan dari Sukarsih susah tiba tepat waktu, dan kini mereka semua tengah mempersiapkan diri di bagian belakang rumah yang telah disediakan ingin tempat mereka berdandan dan beristirahat. Sukarsih kini tengah berganti pakaian dengan kostum penari utama yang dibantu oleh ibunya untuk memakai kostum itu. Sementara untum para penari lainnya tengah dibantu oleh asisten ibunya.


"Bu, apa ibu sebelumnya pernah diundang ke rumah ini?", Rombongan Sukarsih kadang-kadang mendapatkan undangan untuk mengisi acara di rumah-rumah besar seperti ini, biasanya rumah sebesar ini milik pejabat atau tuan tanah.


"Sebelumnya sih belum pernah, waktu itu rombongan kita belum terkenal seperti sekarang.." Ibunya memang tidak pernah ingat kalau sebelumnya ia pernah si undang ke rumah ini.


Sukarsih hanya mengangguk mengerti, ibu dan anak itu kini kembali fokus pada pekerjaan mereka. Ibu Sukarsih sangat senang dengan undangan kali ini, karena si tuan rumah memberi bayaran lebih besar untuk rombongannya. Ia dan rombongannya juga kaget karena tuan rumah ini juga kedatangan tamu seorang pejabat Belanda yang namanya cukup terkenal di wilayah ini. Ia datang bersama istri dan satu orang anaknya.


"Pokoknya penampilan kamu dan yang lainnya harus bagus ya, Karsih. Apalagi orang penting di perayaan ini bukan cuma tuan rumah ini saja, ada Meneer datang juga kemari...",


"Maksud ibu?, Walanda?", Walanda adalah sebutan orang lokal untuk orang Belanda yang tinggal di daerah ini. Ibunya mengiyakan dengan sangat bersemangat. Setelah beberapa saat akhirnya mereka semua telah siap untuk tampil, dan mereka semua melangkah ke halaman utama untuk tampil.


*********

__ADS_1


__ADS_2