The House 1937

The House 1937
56. Berdialog


__ADS_3

Beberapa hari setelah perjalanannya itu, akhirnya Papa memiliki kesempatan untuk berbicara kembali dengan Tante Alin. Malam Ini, setelah mereka selesai bersembahyang, kini mereka berdua tengah duduk di bangku ruang tamu. Beberapa hari yang lalu, mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, dengan papa yang berdagang di pasar dan Tante dengan pekerjaannya.


"Bagaimana, Koh?, Babah Hwannya ada?,", Tante Alin memulai pembicaraan dengan ekspresi penasaran, sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini kepada Om Herman. Namun, di urungkannya karena prioritasnya adalah mendengar langsung semuanya dari Papa sendiri.


"Gua ngga ketemu Babah Hwan, Lin. Tapi ketemu sama anaknya, Babah Hwan sudah meninggal...", Papa menarik napas pendek-pendek di prolognya ini.


"Loh?, kok anaknya Koh?, memang dia juga seperti Babah Hwan?",


"Kalau memang tidak, gua langsung pulang ke rumah Lin. Gua juga baru tahu kalau salah satu anaknya ada yang seperti Babah Hwan, namanya Chun In...", Papa menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Oh begitu, untung saja tidak sia-sia Koko pergi kesana...", Tante Alin menarik napas lega.


"Iya Lin..", Jawab Papa singkat sambil menganggukkan satu buah botol kaca bening yang berisi air ke adiknya itu.


"Ini apa Koh?,", Tante nampak bingung menatap botol dengan model yang sedikit ketinggalan jaman itu.


Papa pun akhirnya menceritakan bahwa botol kaca berisi air itu adalah pemberian Chun In, masing-masing dari mereka mendapatkan jatah satu botol air. Papa juga memperingatkan Tante Alin agar Nenek jangan sampai tahu akan hal ini. Karena kemarin, ketika Papa ijin ke Nenek untuk pergi, ia bilang bahwa ia ingin pergi berlibur bersama Om Herman ke Kota dimana lokasi dari Klenteng itu berada, hanya saja Papa tidak cerita bahwa ia pergi ke Klenteng itu.


"Iya Koh, Alin tau, Kalau sampai Enah tau, pasti tanya macam-macam kan?, punya Kokoh botolnya di taruh dimana?",


"Punya gua sudah ada di kamar, jangan sampai ketahuan Enah Pokoknya...", Papa sampai membungkus botol kaca itu dengan kantung plastik hitam yang sengaja ia bahwa dari dapur.


Dan Tante Alin pun mengangguk mengerti.


Jika dipikir kembali, memang benar yang disampaikan oleh putra dari Babah Hwan itu, memang sebaiknya mereka tidak tinggal lagi di rumah ini. Tante Alin yakin dari hasil bisnis keluarga yang dijalankan oleh papa dan Nenek selama ini, pasti lebih dari cukup untuk melakukan pembelian rumah baru, tanpa menjual rumah ini.


"Iya..,Iya..., terus, Koko di sana selain tanya soal rumah ini,Koko tanya apa lagi?",


"Maksudnya?",


"Apa Koko ngga nanya soal jodoh gitu?",

__ADS_1


Mendengar pertanyaan adiknya itu, papa langsung terhenyak, tebakan Tante Alin sangat akurat itu seperti seolah-olah Tante membuntutinya pergi ke Klenteng itu.


"Jadi benar Koko bertanya mengenai jodoh?", Mata Tante Alin sedikit berbinar karena ia langsung tahu dengan melihat ekspresi papa yang terlihat terkejut itu.


"Terus?, lu mau tahu gitu?", Kini ekspresi papa malah terlihat geli dan setengah mengejek. Dia terlihat geli ketika melihat adiknya itu menekuk wajah, terlihat tidak puas dengan jawaban yang diberikannya.


"Memangnya Koko sudah punya calon sendiri?", Kembali Tante memastikan dan melirik ke pintu yang terhubung dengan ruang keluarga, suaranya harus dipelankan agar tidak menggangu Nenek yang tengah menonton acara televisi di ruang keluarga.


Papa hanya terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Tante Alin.


"Ko..., jawab dong, masa diam saja?, siapa?, sudah ada kan?", Tante Alin menggoyang-goyang lengan Papa cukup kencang.


"Semua bagus,ngga ada masalah...", Papa mengangguk mantap. Sengaja membuat Tante Alin penasaran.


"Hah,maksudnya?,", Tante Alin bingung dengan jawaban papa yang terdengar bias itu.


"Ya.., bagus Lin. Pokoknya baik dan ngga ada masalah...",


"Lin mau ke dapur dulu ambil teh sama kue, tadi Bi Inah beli banyak kue dipasar.., Pokoknya, habis ini Koko harus cerita...", Kata-kata Tante Alin barusan seperti sebuah ancaman, yang di ucapkan dengan bercanda menahan tawa, dan ia berjalan meninggalkan papa menuju dapur.


*******


Tante Alin tidak berhenti tertawa setelah mendengar cerita Papa, sedangkan Papa sendiri hanya menatap adiknya dengan ekspresi datar menahan ketawa dengan secangkir teh tawar hangat ditangannya. Mereka masih berada di ruang tamu, dengan di temani teh hangat tawar dan sepiring aneka kue jajanan pasar berwarna-warni.


"Terus tertawa Lin...", Papa terlihat tak acuh sambil meminum teh hangatnya, wajahnya sedikit memerah karena malu di tertawakan seperti itu.


"Kalo Yuli tahu, pasti dia kaget banget..", Tante berusaha untuk tidak tertawa kembali. Hanya senyum lebar ya g ia tampilkan saat ini, ia sama sekali tidak menyangka jika Papa, saudaranya yang kaku dan konservatif ini ternyata sudah lama menyukai Mama, sahabat karibnya itu. Tante tidak bisa membayangkan, ekspresi dari Malam ketika mengetahui kalau Papa ternyata sudah lama suka padanya.


"Jangan...", Papa langsung memegang pergelangan tangan Tante Alin dengan cepat. Raut wajahnya terlihat tegang dan serius.


"Loh, Kok gitu?", Bukannya malah senang, Papa malah terlihat tidak nyaman dan tidak ingin hal ini di ketahui oleh Mama. Terkadang, sifat dari Papa memang tidak bisa di tebak, cenderung aneh. Om Herman pun menyetujui

__ADS_1


"Maksudnya, jangan dulu. Biar Enah tau dulu, Lin. Lu juga jangan cerita ke Enah dulu...",


"Kenapa baru sekarang Koko cerita?",


".....", Papa malah terdiam ketika di tanya kembali oleh Tante. Malah sibuk memakan dua potong kue putu ayu yang ada di atas meja.


"Koh..., cerita dong, kalau Koko tidak mau cerita. Habis ini Alin bilang sama Enah...",


"Jangan sengaja bikin Koko kesal, Lin...",


"Ya cerita dongg...", Tante Alin mulai merajuk seperti anak-anak yang dilarang orang tuanya untuk bermain keluar rumah.


"Ya..,gua ngga mau kalau ini bocor duluan. Intinya ya..., gua ngga mau main-main, Lin...",


"Maksud Koko, Lin bakal ember gitu cerita ke Yuli..?",


"Ke Herman juga pasti lu cerita...",


Tante Alin hanya tertawa kecil dan menyeruput tehnya yang ternyata sudah mulai terasa dingin. Ia benar-benar merasa senang bahwa sahabatnya itu nanti akan menjadi saudara iparnya juga. Ia menghela napas sejenak dan berpikir, ternyata dunia memang sesempit itu.


"Kalo Ko Herman gimana Ko, nanya juga ngga...?", Tante Alin mengigit risoles mini dengan cabai rawit.


"Kalo itu, lu tanya saja sendiri...", Hanya menggelengkan kepala dengan intonasi bicara yang setengah menahan geli.


"Tapi Koko sendiri ngga keberatan kan kalau Alin sama Ko Herman?",


"Kalo dari awal gua ngga setuju. Si Herman ngga akan gua kasih sama Lu...",


"Sarkas Ih...", Tante Alin mendorong Papa setengah bercanda yang memicu keributan yang terdengar cukup keras sampai-sampai membuat nenek menyentak mereka berdua karena keberhasilan mereka mengganggu nenek yang tengah menonton acara televisi.


********

__ADS_1


__ADS_2