The House 1937

The House 1937
77. Hilang


__ADS_3

Pak Tani menyalakan satu batang korek api untuk membakar bako miliknya, rokok tradisional yang terbuat dari daun yang dikeringkan. Walaupun kini banyak rokok kretek kemasan modern dan dengan berbagai merek di pasaran, Pak Tani sampai saat ini masih saja setia dengan batang tembakau tradisional itu. Asap yang keluar dari Bako itu bercampur dengan udara yang ada di sekitarnya. Di meja yang ada di kursi yang ia duduki saat ini terdapat satu gelas teh hangat yang sudah habis setengah gelas dan ada bekas daun pisang sisa dari lontong yang tadi disajikan oleh Bi Inah untuknya. Hari ini Pak Tani berganti giliran dengan Giman untuk mengawasi para tukang bangunan melakukan pekerjaan mereka.


Mereka bertiga, ia dan kedua putranya sudah sepakat dengan Papa bahwa mereka akan bergiliran untuk mengawasi jalannya pembangunan gudang belakang ini. Karena Papa harus ke tokonya di pasar seperti biasa, Nenek sendiri pun sudah mengetahui bahwa hari ini Pak Tani lah yang hari ini mengawasi pembangunan di belakang. Pak Tani yang masih duduk di kursinya kini mengalihkan pandangannya ke arah seorang laki-laki yang terlihat jauh lebih tinggi dari dirinya. Yang ia tahu bahwa laki-laki dihadapannya ini adalah mandor atau atasan dari para tukang bangunan yang sedang bekerja saat ini.


Sebenarnya Pak Tani sedikit merasa heran ketika Papa meminta tolong kepada dirinya beserta kedua putranya untuk mengawasi jalannya pembangunan gudang ini. Padahal sudah ada mandor bangunan yang bisa papa tanyai kapan saja untuk perkembangan hal ini. Pak Tani yang memang sudah mengenal papa sejak lama memperkirakan mungkin Papa memang lebih percaya kepada orang yang dikenalnya untuk mengawasi langsung pembangunan ini. Selama keluarga Pak Tani bekerja dengan Keluarga Nenek. Kadang mereka memang di mintai tolong untuk hal-hal diluar kepengurusan sawah keluarga. Dan itu sama sekali bukan masalah bagi dirinya dan kedua putranya.


"Belum makan siang Pak?", Seorang yang bertubuh lebih tinggi yang tak lain adalah mandor itu menyapa Pak Tani dengan sopan.


"Mungkin nanti Pak, tadi Bi Inah bilang makan siangnya belum siap..", Pak Tani berbasa-basi dan memang itu tidak sepenuhnya salah, tadi ketika Bi Inah mengantarkan teh dan lontong untuknya, ia mengatakan bahwa Kana siang akan siap ia antarkan untuk dirinya dan para tukang bangunan itu siang ini sekitar tak setengah satu siang.


"Bapak sudah lama bekerja dengan Koh Jun ya Pak?," Mandor bangunan itu melihat kemiripan yang cukup berarti antara laki-laki tua dihadapannya dengan pemuda yang kemarin ada disini melakukan tugas yang sama dengan lawan bicaranya ini


"Iya Pak, susah lama semenjak bapak saya masih ada, yang kemarin disini itu anak saya, Giman...", Pak Tani menjawab singkat. Lalu mereka mulai terlibat beberapa percakapan dan saling mengakrabkan diri karena memang baru pertama kali kedua orang ini saling bertemu.


"Oh jadi bapak sebelumnya pernah dimintai tolong Engkoh Jun juga?", Pak Tani mengeluarkan plastik Bako miliknya, namun mandor itu mengeluarkan bungkus rokok kretek miliknya, secara tidak langsung berbicara bahwa ia memiliki rokoknya sendiri.

__ADS_1


"Iya Pak, waktu itu Engkoh minta tolong saya dan anak buahnya untuk perbaikan genteng yang rusak di dapur..", Mereka mengobrol sebentar lalu sang mandor itu kembali ke bagian pembangunan gudang yang penuh dengan bahan bangunan dan para tukang yang bekerja.


********


"Bagaimana tadi di belakang Pak?",


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Papa dan Pak Tani kini tengah duduk di rumah tamu yang lampunya sudah dinyalakan. Karena biasanya jika sudah memasuki waktu malam hari, lampu dari ruang tamu dimatikan karena jarang sekali nenek atau papa menerima tamu di malam hari. Kecuali untuk kemarin dan hari ini. Pak Tani yang tadi sore sudah pulang ke rumah dan ia kembali lagi datang ke rumah malam ini karena memang sudah instruksi dari papa, demikian juga yang dilakukan oleh Giman kemarin.


"Untuk hari ini semua lancar Koh...", Pak Tani meminum teh hangat tawar. Padahal Pak Tani tidak akan bertamu lama malam ini, tapi Bi Inah sampai repot-repot untuk menyediakan sepiring kecil cemilan seperti lemper dan pastel berisi sayuran.


"Tidak ada yang kurang?", Papa menyeruput teh hangatnya sambil menatap Pak Tani dengan tatapan serius.


"Kenapa Pak?", Papa melihat raut kekhawatiran di wajah laki-laki tua di hadapannya ini. Kulitnya yang sudah terlihat berkerut disana-sini terlihat menjadi semakin berkerut di bagian alis dan matanya.


"Apa tidak apa-apa Koh?, Jika saya, Giman atau Najim rutin bergiliran untuk mengawasi pembangunan gudang itu?, karena saya lihat tukang-tukang itu ada mandornya......,"

__ADS_1


"Jelas tidak apa-apa Pak, karena memang itu dari saya sendiri.., karena bapak, Giman atau Najim saya anggap perwakilan saya untuk mengawasi pembangunan gudang itu, jangan merasa tidak enak dengan siapapun pak, karena saya yang menyuruh...", Berbeda dengan Giman atau Najim yang langsung melaksanakan apa yang di instruksikan oleh Papa tanpa ada embel-embel apapun, sekalipun itu diluar dari kepengurusan sawah laki-laki tua di hadapan yang merupakan ayah dari kedua saudara itu terkadang merasa 'tidak enak hati' bila melakukan pekerjaan diluar kepengurusan sawah. Tentu saja Papa tidak akan membiarkan ayah dan anak itu pergi dengan tangan kosong setelah melakukan tugas yang Papa berikan. Papa tetap memberikan mereka upah yang sepadan jika mereka telah selesai menjalankan tugas yang papa berikan kepada mereka, dan itu juga sudah mendapatkan izin dari Nenek.


"I..iya Koh, terima kasih.., Koh, saya mau ijin ke belakang untuk ke kamar mandi Koh...", Pak Tani menunjuk pintu yang mengarah ke ruang keluarga dengan ibu jari kanannya.


"Silahkan Pak...", Papa mempersilahkan Pak Tani untuk menggunakan kamar mandi. Ia malah terlihat santai sambil membuka satu bungkus lemper di tangannya.


******


"Permisi Nah, Ci, Bi Inah.., saya mau ijin ke belakang untuk ke kamar mandi...", Pak Tani kini sudah di depan pintu ruang keluarga dan melihat Nenek, Tante Alin dan Bi Inah yang memijit kaki Nenek. Terlihat mereka bertiga tengah menikmati acara televisi.


"Iya Pak silahkan..., susah selesai sama Jun Pak?", Tanya Nenek yang terlihat duduk di kursi kebesarannya.


"Iya Pak, tidak apa-apa, silahkan...", Tante Alin membalas sapaan Pak Tani dengan sopan.


"Sudah Nah, mari...", Pak Tani berjalan pelan menuju bagian belakang rumah dengan berhati-hati, padahal suara langkahnya terdengar tidak berisik sama sekali.

__ADS_1


Pak Tani membuka pintu dapur yang ditutup sebelah pintu saja, mungkin karena para penghuni rumah ini belum beranjak tidur, jadi pintu dapur ini belum si kunci selot kayunya. Pak Tani kembali berjalan perlahan memasuki area dapur dengan cahaya dari bola lampu yang berpendar berwarna kekuningan yang temaram. Apa mungkin ini hanya perasaannya saja, ia merasakan bahwa area dapur ini tetap sama saja sedari dulu, terasa mencekam dan membuatnya merinding. Ia ingat beberapa waktu yang lalu juga pernah ijin menumpang ke kamar mandi rumah ketika bertamu di malam hari ke rumah ini. Tapi entah kenapa malam ini terasa sangat aneh, ia harap ini hanya perasaanya saja. Setelah selesai menggunakan kamar mandi, ia menutup pintunya dan sempat terkejut dengan apa yang ia lihat. Di salah satu palang kayu yang ada di bagian atap dapur, terlihat sangat jelas si penglihatannya, ada sesosok kuntilanak dengan pakaian putih kusam yang sangat panjang hampir menjuntai ke bawah, tengah duduk di palang kayu bagian atap yang melintang secara horizontal itu sambil menunjukkan wajahnya yang mengerikan. Entah apa maksudnya, lalu makhluk berwujud wanita yang menyeramkan itu seketika melayang ke atas atap dan menghilang begitu saja.


"Rumah ini memang tidak berubah..",


__ADS_2