The House 1937

The House 1937
9. Siapa Di Atas?


__ADS_3

Sudah seharian ini bibi berbaring lemah di ranjang kamarnya dengan sesekali terbatuk-batuk yang cukup keras terdengar. Melihat bibi yang sampai seperti itu akhirnya nenek menyuruh bibi istirahat di kamarnya dan juga menyuruh papa membeli obat batuk untuk bibi. Mungkin karena ia terlalu lelah dan karena usianya juga yang memang sudah mencapai kepala enam, membuatnya tidak lagi bisa melakukan banyak pekerjaan rumah seperti biasanya. Bisa dibilang bibi ini sudah begitu lama bekerja di rumah ini sejak nenek baru menikah dengan kakek. Dan bibi juga yang membantu nenek mengurus empat anak nenek yang terdiri dari dua anak laki-laki, dimana papa merupakan anak laki-laki kedua, lalu dua anak perempuan, anak perempuan pertama nenek kini sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, dan anak perempuan kedua adalah tanteku yang masih tinggal di rumah ini.


Bibi meraih gelas berisi air putih miliknya, gelas yang terbuat dari kaleng dengan motif berwarna hijau dan putih lalu minum dengan perlahan. Ia memegangi dadanya sejenak untuk menstabilkan napasnya. Batuknya ini memang sangat menyiksa dan membuat tenggorokannya sakit, pada mulanya memang hanya batuk ringan saja dan ia hanya minum obat biasa. Namun semakin bertambah usianya ia merasa batuknya ini semakin parah dan semakin membuatnya tidak nyaman. Dan yang hari ini merupakan yang paling parah ketika batuknya terasa kembali, ia sampai terengah dan tenggorokannya sakit. Besok pagi nenek berencana akan membawa bibi ke dokter dibantu papa dan tante untuk menemaninya.



"Ga usah Nah, ga usah ke dokter. Jadi repot...", Jawab bibi ketika nenek bilang padanya akan membawa bibi ke dokter.


"Ga apa-apa bi, besok di anterin Jun sama Alin pake mobil. Ga usah bilang repot bi, bibi kan udah kerja lama disini...", Jawab Nenekku yang sudah menganggap bibi sebagai bagian dari anggota keluarga. Jun dan Alin yang tadi di sebutkan Nenekku adalah nama panggilan dari papa dan tanteku.

__ADS_1


"I..iya Nah, makasih saya sampe mau dibawa ke dokter...", Bibi merasa terharu dengan nenekku dan keluarganya, ia sudah dianggap keluarga dan diperlakukan dengan sangat baik selama ini. Sebenarnya bibi memiliki satu anak perempuan yang seumuran dengan tante bungsuku itu, namun kini ia sudah menikah dan tinggal di Sumedang bersama suaminya kurang lebih satu tahun setelah kematian suaminya. Ketika anaknya mengajak dirinya untuk ikut tinggal bersamanya, bibi menolak dan tetap ingin tinggal disini mengabdikan diri dengan keluarga kakek yang ternyata memang sudah bekerja sejak kakek buyutku masih hidup. Dahulu suaminya pun bekerja dengan keluarga kakek sebagai petani dan buruh angkut padi, beliau meninggal karena sakit paru-paru yang sudah lama dideritanya. Melihat bibi yang memang begitu loyal pada keluarganya, tentu saja nenek pun sangat perhatian padanya apalagi sekarang bibi hanya seorang diri disini.


Pada malam harinya setelah mandi dan makan malam, bibi kembali istirahat di kamarnya di samping dapur yang hanya di sekat oleh bilik bambu tanpa ada atap penutupnya. kamarnya cukup sederhana dengan ranjang tua dengan kelambu yang menutupi ranjangnya dan sebuah lemari dengan desain lama.



setelah meminum obat pemberian papa dan duduk hampir satu jam di ranjangnya, akhirnya bibi memutuskan untuk langsung tidur saja dan menutup kelambu ranjangnya agar tidak ada nyamuk yang masuk. Rasa kantuk memang sudah ia rasakan setelah beberapa lama minim obat pemberian papa yang mungkin saja memang efek dari obat itu sendiri.


******

__ADS_1


"Bu, ada apa bi?, ini kenapa ada tutup cangkir si luar bi?", tanya papa yang setengah panik namun juga menahan kantuknya.


"Saya gapapa Koh..., cuma kaget aja tadi",


Akhirnya bibi membuka pintu biliknya dengan wajah yang masih terlihat ketakutan.


"Kenapa bi?", papa bertanya dengan raut wajah khawatir takut terjadi sesuatu dengan asisten rumah tangga yang juga mengasuhnya sejak kecil itu.


Bibi memberi isyarat pada papa untuk membisikkan sesuatu, dan papa langsung mengerti lalu mendekatkan telinganya pada bibi.

__ADS_1


"Tadi ada kepala yang ngintipin saya dari atas bilik Koh...."


******


__ADS_2