The House 1937

The House 1937
2. Ada Yang Lahir, Dia Tertawa


__ADS_3

Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi nenekku yang kemudian diceritakan kembali oleh papaku kepadaku. Papaku lahir di rumah itu sekitar tahun 1960an. Pada malam kelahirannya, hujan deras mengguyur bumi begitu deras dengan diselingi oleh suara kilat halilintar yang cukup kencang. Berkilat bersinar diatas langit malam yang gelap seolah ingin menakut-nakuti siapa saja yang masih terjaga dan belum memasuki alam mimpinya masing-masing. Kilat halilintar yang terlihat jelas dari dalam jendela rumah karena pada waktu itu sumber penerangan hanya mengandalkan lampu minyak tradisional atau lampu klenting, atau lampu petromak yang di gantung di tengah-tengah langit rumah. Suasana rumah sudah sangat sepi karena sudah beranjak tengah malam, hanya suara hujan dan kilat halilintar yang terdengar malam itu. Kakekku saat itu sedang tidak ada dirumah karena belum pulang, mungkin karena hujan yang begitu deras sedikit menjadi penghalang baginya untuk sampai cepat ke rumah. Maklum saja, pada tahun itu di daerah lokasi rumah itu bisa di bilang masih cenderung sepi, jalanan belum di aspal sama sekali, sumber listrik belum terpasang, masih jarangnya bangunan rumah atau bangunan yang lainnya, dan masih banyak lahan kosong yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tumbuhan liar. Maka dari itu ketika sore menjelang malam tiba, lokasi di sekitar rumah itu sudah sangat sepi cenderung mencekam dengan sumber penerangan yang seadanya.


Nenekku tengah mengatur napasnya yang terlihat naik turun dan terengah. Peluh keringat sudah memenuhi wajah dan tubuhnya dan sesekali di lap dengan kain oleh salah satu anak perempuan nenek sekaligus salah satu saudari papa yang tengah berjaga di samping nenek yang mau melahirkan dan menunggu dukun beranak yang sepertinya masih dalam perjalanan menuju ke rumah ini untuk membantu proses persalinan nenek. Beberapa jam yang lalu, nenek memang sudah mengalami beberapa kontraksi ringan diperutnya dan menyimpulkan bahwa sepertinya ia akan melahirkan dan memanggil salah satu anak perempuannya untuk datang ke rumah dukun beranak yang memang dikenal oleh nenek sering membantu proses persalinan di daerah itu. Pada tahun itu memanggil dukun beranak datang ke rumah untuk membantu proses persalinan adalah hal yang lazim dilakukan. Tanteku itupun dengan sigap langsung datang ke rumah dukun beranak itu dan memberitahukan bahwa sepertinya nenek akan melahirkan. Sang dukun pun akan menyiapkan beberapa keperluannya yang akan dibawanya nanti untuk datang ke rumah bilamana ternyata nenek memang benar akan melahirkan. Tanteku itu masih terlihat harap-harap cemas sambil mengipasi nenek dengan kipas tradisional yang terbuat dari bambu. Ia benar-benar berharap sang dukun segera tiba secepatnya karena ia benar-benar khawatir melihat konsisi nenek yang merasakan kontraksi hebat diperutnya yang rasa sakitnya berkali-kali lipat dibandingkan kontraksi beberapa jam yang lalu.


("Kok belum datang juga neng?" masih lama ya?"), Nenekku bertanya dengan napas yang sudah kepayahan menahan sakit.


("Sebentar lagi ya Nah, belom ada yang ketok-ketok pintu dari tadi, mungkin karena ujan jadi lama sampainya..."), jawab tanteku, papaku dan saudara saudarinya memang sedikit unik ketika memanggil orang tua mereka, bukan ayah dan ibu atau mama dan papa, melainkan memanggil nenekku dengan sebutan 'Enah' dan 'Babah' untuk memanggil kakekku. Ketika kutanya mengapa mereka memanggil kakek dan nenek dengan sebutan itu, papaku hanya bilang memang sudah kebiasaan mereka sejak kecil memanggil dengan sebutan itu. Aku juga begitu memanggil mereka dengan sebutan 'Emak' dan 'Engkong' kepada nenek dan kakekku. Baiklah,, orang generasi lama terkadang memiliki bahasanya sendiri untuk menyebutkan atau mengucapkan sesuatu.


Terdengar suara ketukan pintu yang cukup kencang dari luar rumah, tanteku pun langsung sigap melangkah cepat setengah berlari kearah pintu dan mengintip dari gorden jendela. Ia bernapas lega karena dukun beranak yang ia panggil dengan sebutan 'Emak' itu akhirnya datang juga dengan buntalan cukup besar yang dibawanya dan dua lembar daun pisang yang tergeletak di lantai depan rumah dalam keadaan basah kuyup. Terlihat emak yang juga badannya sedikit basah karena daun pisang yang ia gunakan sebagai payung tak cukup mampu untuk melindunginya dari hujan yang lebat malam ini.

__ADS_1


"Emak.., ayo cepetan Enah udah nungguin...", Tanteku membuka pintu dan memanggil sang Dukun dengan nada panik.


"Iya neng ayo...,ujan gede banget Emak jadi lama sampainya".


Tanteku langsung mengunci pintu kembali begitu sang dukun beranak sudah melangkah masuk ke dalam rumah dengan buntalan kainnya yang berisi beberapa peralatan persalinannya. Sang dukun tengah mempersiapkan peralatannya yang ia bawa dan tanteku pun ikut membantu menyiapkan baskom dan air hangat . Sang dukun beranak sudah mengambil posisi untuk membantu proses persalinan dan mulai memberikan instruksi pada nenek untuk menarik napas, memegang kepala ranjang dan memulai proses persalinannya. Suara teriakan dan napas yang terengah dari nenekku memenuhi ruangan itu, melengkapi suara hujan di luar sana yang masih turun dengan deras dan kilat halilintar masih menyala yang kontras dengan pekatnya malam.


Setelah beberapa lama akhirnya nenekku berhasil melahirkan sang bayi, yaitu papaku dengan kondisi sehat dan normal tanpa kurang satu apapun. Suara tangis bayi pun pecah dan terlihat kaki dan tangan mungilnya bergerak- gerak kaku.


"Udah disiapin neng buat ari-arinya?,", tanya sang dukun pada tanteku, tanteku berpikir sejenak dan langsung mengerti yang dimaksud sang dukun adalah peralatan yang akan di gunakan untuk proses penguburan ari-ari adiknya yang baru lahir itu.

__ADS_1


"Oh besok Mak paling, besok disiapin..", jawab tanteku yang tengah memperhatikan sang dukun beranak memotong ari-ari si bayi dan membersihkan tubuh bayi dengan air hangat yang telah disiapkan.


Namun, belum selesai sang dukun membersihkan tubuh si bayi, tiba tiba dukun beranak itu terdiam, seperti merasakan sesuatu. Dan mereka bertiga sontak kaget saat mendengar sesuatu di luar perkiraan mereka. Bukan suara hujan atau petir, melainkan suara tawa melengking yang begitu keras terdengar persis di atas atap rumah. Suara tawa itu terus terdengar dan menggema bersamaan dengan suara hujan yang masih turun dengan derasnya. Kerasnya suara tawa itu membuat tanteku langsung memeluk nenekku yang juga terlihat ketakutan, sang dukun pun langsung menyelesaikan tugasnya membersihkan tubuh sang bayi dan membedongnya dengan kain bersih lalu menyerahkannya dengan hati-hati kepada nenek.


"Mak, itu siapa yang ketawa?,", Nenekku memeluk papaku dengan hati-hati.


"Stt..., diem neng..", sang dukun beranak berkata pelan sambil membungkus ari-ari bayi dengan daun pisang yang telah disiapkannya.


"Saya takut mak..", tanteku yang pada saat itu baru beranjak remaja seperti menahan tangisnya, karena suara tawa itu memang terdengar kencang dan sangat menakutkan, apalagi terdengar di tengah malam seperti ini.

__ADS_1


"Jangan takut neng, suaranya deket,, berarti jauh..", jawab sang dukun.


******


__ADS_2