
Setelah sesi perkenalan yang tadi ia lakukan di depan Papaku dan Tante Alin, Nenek langsung memanggil Bi Inah untuk menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Ketika tengah menyiapkan makan malam, Nenek ikut mengawasi asisten rumah tangga barunya itu untuk menilai masakannya nanti. Bi Inah mendengarkan setiap perintah nenek apa saja menu makanan yang harus di buatnya malam ini. Melihat Nenek dan Bi Inah yang tengah sibuk di dapur, Tante pun ikut membantu dengan menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya di meja makan sementara Papa kembali ke kamarnya dan akan kembali lagi ketika makan malam sudah selesai.
Setelah sajian makan malam selesai dibuat, Nenek cukup puas dengan hasil masakan Bi Inah, begitu juga dengan Papa dan Tante Alin. Bi Inah cukup senang karena di hari pertamanya ini ia bekerja dengan baik dan mampu membuat majikan barunya ini senang dengan hasil kerjanya. Setelah semuanya menyelesaikan makan malamnya termasuk Bi Inah sendiri, ia langsung membereskan semua peralatan makan dan menata kembali peralatan makan yang sudah di cuci bersih ke rak piring. Semuanya telah meninggalkan dapur dan sepertinya telah kembali menjalan aktivitasnya masing masing. Bi Inah pun melangkah pelan menuju kamarnya untuk kembali merapikan kamarnya yang belum tuntas ia lakukan.
Kini Bi Inah tengah merapikan tempat tidur berikut mengganti kelambu yang mengelilingi ranjang itu. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengganti kelambu itu seorang diri, karena baru pertama kali ini dirinya mengganti kelambu tempat tidur dengan desain yang cukup antik itu. Ia mengganti kelambu dengan sangat hati-hati karena tidak mau sampai berbuat kesalahan dengan tidak sengaja merusak kelambu itu karena dirinya yang ceroboh dan tentu itu akan sangat mengganggunya di hari pertamanya bekerja. Setelah kelambu itu terpasang rapi, ia duduk di pinggir ranjang sambil mengingat sekeliling bentuk dapur rumah ini, yang menurutnya memang masih terlihat tradisional sama seperti desain rumah ini.
Sebenarnya, jauh sebelum Najim memberitahukan tentang pemilik rumah ini yang membutuhkan tenaga asisten rumah tangga, ia sudah mengetahui keberadaan rumah ini dan sekelebat pernah mendengar dari orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya tentang pemilik rumah ini. Bahwa pemilik dari rumah ini merupakan seorang tuan tanah keturunan Tionghoa yang akrab disapa "Babah" oleh penduduk sekitar yang memiliki beberapa hektar sawah dan juga pemilik dari lahan peternakan Babi yang lokasinya tak jauh dari lahan persawahan miliknya. Tuan Tanah ini juga memiliki gudang padi yang cukup luas untuk menampung padi-padi hasil panennya yang juga berada di dekat area persawahannya dan di belakang rumah ini.
Ia juga teringat ketika ia mengutarakan niatnya untuk mengambil pekerjaan di rumah Nenek ini sebagai tenaga asisten rumah tangga kepada salah satu tetangganya, tetangganya itu langsung memperingatkannya dengan nada yang sangat serius.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Bu kalau saya ambil pekerjaan di rumah itu?, Najim bilang yang punya rumahnya baik kok orangnya...", Bi Inah memandang wajah tetangganya itu dengan sedikit heran, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang terlihat sudah hampir memutih seluruhnya.
"Saran saya sih jangan Bi Inah, soalnya yang pernah saya dengar rumah itu angker, menakutkan...", Wanita paruh baya itu kembali menunjukkan wajah yang serius.
"Masa sih Bu?, seseram itu ya?", Bi Inah bertanya dengan nada ragu, walaupun sebenarnya ia tidak memiliki niat mengundurkan diri untuk mengambil pekerjaan di rumah Nenek.
"Emang Bi Inah tidak tahu ya?, pernah ada yang meninggal bunuh diri di lahan kosong di belakang rumah itu, dan katanya orang yang suka lewat di depan rumah itu kadang suka liat yang aneh-aneh...,seram pokoknya..., yang saya dengar juga katanya rumah itu seram dan angker karena pemiliknya itu pesugihan Bi...",, Wanita paruh baya itu berintonasi cukup meyakinkan ketika menyampaikan ceritanya kepada Bi Inah
Sementara Bi Inah hanya menggeleng pelan dengan raut wajah yang sedikit terganggu mendengar cerita salah satu tetangganya ini yang memang sudah dikenal oleh penduduk sekitar tempat tinggalnya sebagai seorang wanita paruh baya cerewet yang suka sekali bergosip. Karena mau bagaimanapun ia jauh lebih mempercayai Najim yang memang sudah lebih dulu bekerja dengan keluarga ini, terlebih Pak Tani yang telah bekerja selama puluhan tahun.
__ADS_1
Najim pernah bercerita kepadanya bahwa keluarga ini adalah keluarga yang baik dan dermawan karena setiap satu tahun sekali biasanya suka membagikan beras gratis hasil panen sawah mereka sendiri kepada orang-orang yang kurang mampu. Ditambah lagi mereka juga religius melaksanakan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka. Setelah ia diterima bekerja disini dan ia melihatnya sendiri, memang keluarga ini keluarga yang baik, tidak seperti apa yang dikatakan kabar burung diluar sana. Najim terlihat jengkel ketika Bi Inah menyampaikan kabar yang tidak-tidak mengenai rumah itu kepadanya,
"Ah itu sih mereka banyak yang iri sama keluarga si Engkoh..., ga usah bibi dengerin...", Najim sampai mendekus kesal ketika mendengar omongan yang tidak-tidak mengenai keluarga nenekku.
Mungkin benar juga apa yang di katakan Najim, keluarga tempatnya bekerja sekarang ini mungkin bisa di bilang memiliki kondisi finansial yang sangat baik, karena selain memiliki lahan pertanian dan peternakan babi, empat anak dari keluarga ini semuanya memiliki penghasilan sendiri, tidak menggantungkan dirinya kepada usah keluarga semata. Mengenai rumah ini yang konon katanya seram dan angker, ia tidak bisa menerka apakah suatu saat nanti ia akan mengalami suatu kejadian aneh yang tidak pernah di sangkanya, atau mungkin saja itu hanya perasaannya semata. Semoga saja seperti itu.
*******
Bi Inah berusaha untuk membuka kedua matanya yang masih terasa berat, di tengah kesadarannya yang masih belum terkumpul sepenuhnya, entah kenapa ia merasakan ada yang aneh dengan ranjang tempat tidurnya ini. Bi Ina mengusap perlahan matanya dan setelah kesadarannya susah hampir memenuhi dirinya, benar saja dugaannya, ranjangnya ini seperti ada yang menggerak-gerakkan dan juga mengeluarkan suara aneh, seperti suara berdencit kecil. Ia tersentak dengan mata terbuka, ranjangnya memang bergoyang-goyang seperti ada yang menggerakkannya dengan sengaja. Ia tentu ingat bahwa ia hanya tidur seorang diri di kamar kecil ini. Tubuhnya langsung terasa kaku dan sedikit terasa dingin, tidak mungkin ada penghuni rumah ini yang sampai sejahil itu melakukan ini semua kepadanya bukan?. Bi Inah mengerutkan kening dan mengangkat kepalanya untuk melihat sekeliling ranjangnya yang terlapisi oleh kelambu, lalu ia terkejut melihat bagian pojok ranjangnya ini. Ia melihat seperti ada seseorang yang berdiri di sana, namun ia tidak bisa melihat dengan jelas karena sosok aneh itu hanya berupa bayangan hitam saja. Bibi langsung bangkit dari ranjangnya, menyibakkan kelambu ranjang dengan cepat dan dan menghampiri bagian pojok ranjang yang ternyata..... tidak ada apa-apa disana!!. Padahal tadi ketika ia masih di dalam ranjang, ada yang berdiri di pojok sana....
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*