
"Nanti, selanjutnya mau bagaimana Koh?", Papa kembali bertanya kepada Chun In mengenai langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah proses penggalian ini selesai.
"Yang paling penting proses penggalian ini dulu Koh...", Jawab Chun In meyakinkan papa dengan tenang.
Proses penggalian itu terus berjalan dan sudah memakan waktu hampir lima belas menit lamanya. Posisi tubuh mereka sudah setengah badan berada di dalam tanah yang mereka gali, walau tanah ini terasa lembab dan basah namun ternyata mereka harus berusaha cukup keras untuk melakukan proses penggalian ini. Belulang yang dimaksud dari pemilik rumah ini belum jika mereka temukan sampai salah satu cangkul milik mereka terdengar seperti menghantam sesuatu yang keras di dalam tanah.
*******
Tukang bangunan itu sedikit terheran, benda keras apa yang menghantam cangkulnya itu. Ia mendongkakkan kepala, kini ia dan salah satu rekan kerja yang membantunya sudah berada di dalam lubang galian tanah yang mereka buat dengan cangkul tadi. Lubang galian yang mereka buat kini sudah melebihi dari tinggi badan mereka, sewaktu mereka berdua bertanya mau seberapa dalam mereka harus menggali tanah itu, Papa memerintahkan mereka berdua untuk terus menggali sedalam apapun sampai mereka berdua menemukan sesuatu dari galian tanah yang telah mereka buat. Ia mulai meraba galian tanah itu dengan kakinya. Kakinya juga merasakan seperti ada sesuatu yang keras yang masih terkubur oleh tanah, hanya saja ia tidak bisa melihat dengan jelas benda apa itu karena terlihat menyaru dengan gelapnya warna tanah. Kalau ia berinisiatif dengan berjongkok dan menggali tanah dengan tangannya untuk mendapatkan temuannya itu. Ia sangat terkejut bercampur takut begitu melihat temuannya di galian tanah itu, ia sampai setengah berteriak saking kagetnya dan suaranya yang cukup keras itu tentu saja mengundang Papa dan Chun In untuk menghampirinya. Si tukang bangunan itu masih terlihat takut dengan wajah yang sudah memucat, ia sangat terkejut karena baru pertama kali dalam hidupnya ia memegang terngkorak kepala manusia yang masih utuh. Papa dan Chun In sendiri berlutut sambil melihat ke arah tukang yang masih berada di lubang itu, dan ia menyadari keberadaan Papa dan Chun In yang ada di atas lubang galian ini.
"Bagaimana Pak?, apa Bapak menemukan sesuatu?", Chun In menduga kuat tukang ini terlihat ketakutan karena menemukan salah satu belulang itu.
"I..iya Koh..., itu...ada tengkorak kepala orang..", Suara si tukang bangunan itu sedikit gemetar ketika menyebutkan benda temuan dari hasil galiannya itu, bahkan rekannya juga merasa sangat kaget, tidak menduga bahwa di lubang galian yang mereka buat ini ada sesuatu yang sangat tidak terduga keberadaannya berupa tengkorak kepala manusia.
__ADS_1
Papa yang mendengar suara tukang bangunan yang ketakutan itu sangat terkejut, ia sempat melirik Chun In, lalu kembali memandang ke lubang galian yang berukuran cukup dalam itu. Papa menyuruh tukang bangunan itu untuk menunjukkan tengkorak kepala yang ia temukan, ia menahan debaran jantungnya, Papa juga tidak bisa menampik bahwa dirinya juga merasa takut, namun ia juga merasa penasaran karena sebelumnya ia belum pernah melihat tengkorak kepala manusia secara langsung.
"Pak, coba tolong diangkat tengkoraknya, saya mau lihat...", Papa menghela napas pendek-pendek karena aroma tanah yang masih tercium menyengat.
"Benar Engkoh mau lihat?", Tukang bangunan yang malang itu malah langsung dipelototi oleh papa. Ia yang ketakutan di tatap papa seperti itu akhirnya dengan terpaksa berjongkok kembali untuk mengambil tengkorak kepala itu. Papa yang sudah melihat sendiri tengkorak kepala itu hanya bisa tertegun dengan melemparkan pandangannya ke Chun In yang ada di sebelahnya.
"Ini langsung di angkat semua Koh?, baru tengkoraknya saja yang sudah ketemu...", Papa menahan ekspresi ketakutannya.
"Ya Koh, coba gali lagi saja, mungkin masih ada yang lain yang masih terkubur...",
Beberapa saat mereka berdua masih menunggu, Papa dan Chun In masih terlihat berlutut di pinggir lubang galian itu untuk melihat penemuan potongan tulang belulang yang lain.
"Koh..., ini saya liat..., ada potongan tulang kaki...", Tukang bangunan yang satu lagi menunjuk area dasar lubang yang langsung menarik perhatiannya. Sayang sekali ia tidak membawa senter, walaupun penggalian ini dilakukan di siang hari, bagian dasar dari galian itu tidak terlalu jelas karena galian yang cukup dalam.
__ADS_1
"Koh, saya mau ke dalam rumah dulu ya, saya mau ambil senter..."Papa langsung bergegas berlari ke arah pintu belakang rumah. Sementara Chun In terus mengawasi proses penggalian itu dan memperingatkan kedua tukang itu agar berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya. Kedua tukang itu telah memberi tahu Chun In bahwa mereka telah menemukan sisa tulang belulang itu dan kini penampakannya dari dasar tanah galian itu terlihat jelas karena sinar dari lampu senter yang papa bawa dari dalam rumah. Terlihat tulang belulang itu masih berbalut pakaian yang warnanya sudah sangat usang dan kotor karena menyaru dengan tanah. Papa hanya bisa mengelus dada, dan beberapa saat akhirnya memutuskan untuk memanggil ketua RT untuk membantu dirinya mengurus proses pengangkatan tulang belulang itu.
"Koh, saya mau memanggil Pak RT buat bantu mengurus ini, bisa ya Koh?", Papa merasa lebih tepat jika ia memanggil Pak RT dan warga setempat untuk membantunya mengurus hal ini.
"Iya Koh, bisa,...", Chun In mengangguk, dan menganggap keputusan papa adalah keputusan yang tepat.
Papa meminta Chun In dan semua orang yang ada disana untuk menunggu dirinya yang akan mendatangi rumah Pak RT untuk meminta bantuan.
"Saya mau ke rumah Pak RT dulu Koh.., tunggu dulu ya Koh...", Papa bergerak cepat ke arah teras depan rumah dan berpesan kepada tukang yang masih menunggu disana bahwa Papa akan memanggil Pak RT untuk membantu dirinya membereskan masalah ini dan mereka juga harus membantu kedua rekannya yang tadi menggali.
Setibanya Papa si bagian teras depan, papa mengambil kunci motor tua dan menstarter motornya untuk berangkat ke rumah Pak RT. Papa mengenal baik ketua RT setempat yang ternyata juga mengenal baik Pak Tani, Giman dan Najim. Papa yang sudah bersiap meninggalkan halaman depan rumah dengan motornya itu sempat di panggil oleh Nenek yang tengah duduk di depan warungnya seperti biasa.
"Jun, lu mau kemana?", Nenek berjalan menghampiri Papa yang membuatnya menghentikan laju motornya.
__ADS_1
"Jun mau ke Rumah Pak RT Nah...", Setelah jawaban singkatnya itu, Papa mulai melajukan motornya kembali dan meninggalkan halaman depan rumah dengan berbagai perasaan yang berkecamuk.
**********