
Papa baru saja membeli satu unit sepeda motor bebek berwarna merah yang memang ia beli 'second' dari salah satu kawannya yang pada waktu itu memang ingin menjual motornya ini. Setelah sepakat dengan harga yang sudah disetujui, papa melakukan test drive di halaman rumah kawannya yang luas itu dan akhirnya papa membawa pulang motor ini ke rumah dan disambut dengan sukacita oleh nenek dan tante. Papa benar-benar terlihat bangga dengan motor barunya ini, karena pada waktu itu sepeda motor masih dianggap barang mewah dan memang jarang sekali ada orang yang memiliki sepeda motor.
"Wah kita punya motor baru Koh...", Tanteku setengah berjingkat melihat motor yang terparkir di teras depan rumah.
"Iya dong Neng, jadi kalo kemana-mana gua kan ga repot lagi...", Jawab papa dengan bangga di depan adik perempuannya itu.
"Jun, nanti lu anterin Enah ke pasar pake motor aja ya, biar cepet...", Nenek muncul dari pintu depan rumah dan mengamati motor baru papa. Ia cukup senang karena salah satu putranya ini bisa mengelola keuangannya sendiri dengan baik sehingga mampu membeli sepeda motor yang memang pada saat itu sangat jarang orang memilikinya.
"Iya Nah, gapapa nanti naik motor aja ya", Jawab papa sambil melipat kain usang yang tadi ia pergunakan untuk mengelap motornya itu.
Nenek masih mengamati motor baru papa dan teringat kalau hari ini ia harus mengambil pesanan bacang miliknya di warung Babah Acek di pasar. Bacang atau Bakcang merupakan makanan tradisional keturunan Tionghoa berupa nasi yang dibungkus dengan daun bambu berbentuk segitiga dengan isian yang bervariasi, isiannya bisa berupa daging ayam, daging babi atau oncom. Sekilas mirip dengan lontong hanya saja lontong berbentuk panjang, dibungkus dengan daun pisang dan untuk isian biasanya berisi sayuran atau oncom. Dan Babah Acek yang dimaksud oleh nenekku tadi adalah seorang pembuat Bakcang yang memang cukup terkenal dikalangan orang keturunan seperti kami karena bakcang buatannya benar-benar sangat enak.
"Jun...Enah baru keingetan, kalo hari ini Enah harus ambil pesenan bacang ke Babah Acek di pasar. Lu bisa ke pasar ga buat ngambilnya?, Lu kan sekarang ada motor jadi cepet ngambilnya. Ntar Enah kasih duitnya...",
"Oh bisa Nah bisa.., Jun yang kesana deh..", Papaku mendekat kearah nenek. Dan nenekku mengeluarkan dompetnya dari lipatan kebayanya lalu memberikan sejumlah uang pada papa untuk membayar Bacang pesanannya. Tanteku yang berdiri di belakang papa sebenarnya sempat merengek pada nenekku untuk ikut juga ke pasar. Tapi nenek tidak mengijinkannya karena papa ke pasar hanya sebentar saja untuk mengambil pesanannya. Nenek kemudian masuk ke dalam rumah, sementara papa dan Tante masih sibuk melanjutkan obrolannya di teras depan ini.
"Koh..., tadi kan pas Koko pergi, di depan rumah ada kecelakaan...", Alin, tanteku membuka obrolan dengan menceritakan kecelakaan truk kuning yang memang terjadi di depan rumah beberapa jam yang lalu sebelum papa sampai dengan motornya ini.
__ADS_1
"Kecelakaan apaan Neng?", papa reflek menengok ke arah depan rumah.
"Koko liat deh pohon yang didepan itu, abis ditebang soalnya di ditabrak Ama truk kuning ko. Kenceng banget ko nabraknya, truknya aja hampir kebalik.., supirnya langsung meninggal ko, darahnya banyak banget. Lin takut...", tanteku memegang lengan papa.
"Oh gitu.., iya juga ya. Tadi Koko ngga ngeh kalo pohonnya udah di tebang...", Melihat pohon yang di tebang itu, papa langsung bergidik ngeri membayangkan betapa fatalnya kecelakaan yang telah terjadi, bahkan sampai menelan korban jiwa.
"Ya Udah Lin. Koko mau ke pasar dulu ambil pesanan bacangnya. Sekarang udah sore, jangan lupa nanti kalo udah mau Maghrib kunci Jendela ama pintu..", pesan papa pada tanteku sambil menstarter motornya.
"Iya Koko juga hati-hati, jangan ngebut-ngebut mentang-mentang motor baru..", mereka berdua tertawa bersama kemudian papaku pamit dan mulai melajukan motornya meninggalkan teras depan rumah.
*****
"Enah...Alin..., buka pintunya..." papa terus mengetuk-ngetuk pintu dengan tangan yang sudah terasa dingin.
Dari dalam tanteku membuka pintu dengan wajah bingung karena melihat papa yang berkeringat dan terlihat ketakutan.
"Kenapa ko Ampe teriak-teriak begitu?",
"Itu di seberang...", papaku hampir kehabisan napas.
__ADS_1
"Yang tadi kecelakaan masih berdiri di seberang rumah....",
*****
Jun (Papa)
Alin (Tante)
Terima kasih Readers yang sudah mampir di novel aku, tunggu terus up-date selanjutnya ya
Regards
Author
__ADS_1