
Sinar matahari di siang ini cukup terik, berdiri tepat di bawah pohon jambu air yang lebat ini cukup membantu Akiong untuk melindungi dirinya dari teriknya sinar matahari. Akiong cukup bersemangat dengan galah yang ia pegang sambil memperhatikan dengan seksama buah-buah jambu air putih yang tumbuh dengan lebat dan subur yang ada persis di atasnya. Ia juga melirik pohon jambu air merah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri dengan buah-buahnya yabg tak kalah lebat dengan pohon jambu air putih ini. Sebelumnya ketika ia mampir di warung nenekku siang ini, nenek berkata padanya bahwa kedua pohon jambu air yang ada di samping rumah yang dekat dengan kandang ayam tengah berbuah lebat dan nenekku memperbolehkannya untuk memetik beberapa jambu air disana setelah menyerahkan kantung plastik hitam ukuran besar dan memberikan sebuah galah bambu yang selalu ditaruh nenekku tepat di belakang warungnya.
"Gapapa Mak kalo Akiong metik jambulnya?", Tanya Akiong sedikit ragu.
"Gapapa ambil aja, mumpung lagi berbuah banyak...", Jawab nenekku setengah tertawa.
"Jim kapan Mak Dateng kemari lagi?", Nenekku memberikan tatapan mengerti mungkin Akiong merasa bosan bila ia memetik buahnya seorang diri.
"Emak belum tahu lagi kapan Jim Dateng kemarin lagi, mungkin nanti lagi karena belum libur sekolah...", Jawab nenekku sekenanya.
"Kalo mau ajak yang lain gapapa Akiong...",
"Mereka lagi pergi Mak jadinya ga bisa...", Akiong yang memang sudah jarang sekali bermain ke gang belakang pintu air kini lebih sering bermain dengan Ucok dan Chi Kian yang jarak rumah mereka hanya beberapa rumah dari sini. Namun karena mereka berdua sedang ada urusan keluarga masing-masing, Akiong memilih mampir ke warung milik nenekku.
__ADS_1
"Oh ya udah, metik sendiri gapapa ya?, ntar jambunya bawa pulang aja ya..",
"Iya, makasih Mak..", Jawab Akiong sambil membawa galah bambu dan kantung kreseknya kemudian berjalan melewati rumah dan halaman samping yang luas itu untuk menuju pohon jambu airnya.
Ia memegang lurus galahnya dan mulai mengait satu persatu jambu air putih yang sangat menggiurkan itu lalu mulai menaruhnya di kantung kresek setelah memastikan buah jambunya bagus dan tidak busuk. Cukup banyak jambu air putih yang ia ambil, kemudian pandangannya beralih ke pohon jambu air merah yang letaknya tidak jauh dari sana lalu ia menenteng kembali galah dan kresek yang sudah setengah penuh dengan buah jambu air putih yang ia ambil tadi. Di bawah pohon itu, ia mengambil satu buah jambu air putih dan mulai menggigitnya, rasa manis dan asam dan kandungan air yang cukup banyak dari jambu air itu yang langsung membaur di dalam mulutnya. Sambil mengunyah jambu ia kemudian mengangkat lagi galahnya dan mulai mengait buah-buah jambu air merah itu, Akiong perlu berusaha sedikit keras karena pohon jambu air merah itu sedikit lebih tinggi dari pohon jambu air putih tadi. Ia mendapatkan beberapa butir yang jika di lihat kembali jauh lebih banyak buah jambu air putih di bandingkan dengan yang merah, namun baginya itu tidak masalah karena rasa dari kedua buah itu sangat mirip, hanya berbeda warna kulitnya saja. Ia melihat sekilas isi dari kantong kresek itu yang menurutnya sudah cukup penuh, akhirnya Akiong berinisiatif untuk mengembalikan galah itu ke warung nenekku sambil menenteng kresek berisi buah jambu air itu.
*****
"BUDAAKKK KASEEPP.......,KADIEU ATUHHH.....", (Kemari anak ganteng...)
Akiong akhirnya mampu berteriak dengan kencang dan akhirnya mampu menggerakkan seluruh badannya untuk mengambil langkah seribu, bersamaan dengan langkah seribu yang ia ambil, ia langsung merasakan tubuhnya sakit dan terdengar teriakkan Nenek dan mamanya memanggil namanya.
"Akiong..., Akiong...,bangun..., lu kenapa??", Mamanya terlihat mengguncangkan tubuh putranya itu yang sudah terasa dingin dan dengan wajah pucat penuh keringat. Sedang Neneknya tengah ada di dapur tengah mengambilkan air hangat untuk cucunya itu.
__ADS_1
Akiong akhirnya membuka perlahan matanya dan melihat bayangan mamanya yang semakin lama semakin terlihat bersamaan dengan kesadarannya yang mulai terkumpul. Melihat mamanya yang terlihat khawatir, Akiong langsung refleks memeluk mamanya itu sambil menangis. Ia tak menyangka kejadian mengerikan itu adalah mimpi yang menurutnya terlalu nyata untuk ukuran sebuah mimpi.
"Mama...,Akiong takut Ma...", Akiong masih terisak, pelukannya tak melonggar sekalipun dengan tubuhnya yang masih terasa dingin.
"Lu tadi tidur sambil teriak-teriak ketakutan, lu mimpi apa sampe kaya gitu?", Mama Akiong mentetal dahi putranya yang masih berkeringat dingin itu dengan sapu tangan.
Akiong hanya diam, ia takut jika bercerita yang sebenarnya, baik mamanya maupun neneknya tidak akan mengijinkannya lagi untuk datang berkunjung ke rumah nenekku. Ia menghela napas sejenak untuk menjawab pertanyaan mamanya tadi.
"Ada Setan mau ngejar Akiong Ma...",
********
__ADS_1