
Sore itu usai makan malam papa dan tanteku masih berada di meja makan sambil memakan sisa tempe goreng yang masih tersaji disana dengan sambal terasi buatan nenek kesukaan mereka. Selain mereka berdua, ada bibi pembantu yang tengah membereskan peralatan makan kotor dan tengah mencucinya di tempat cuci piring di belakang mereka. Nenek melangkah untuk menuju kamarnya dan meninggalkan mereka yang masih tengah asik bercakap-cakap.
"Beneran ko kemaren liat yang kaya begituan di gudang padi?", Tanteku melihat papa dengan mata yang terperangah setelah mendengar cerita papa mengenai hal mengerikan yang papa alami di gudang padi bersama pak petani tempo hari.
"Beneran neng, ngeri banget, kata Enah dulu pas Babah yang ngurus sawah juga pernah liat..", Papa menunjukkan mimik waja serius seolah tak ingin dibilang berbohong oleh adik bungsunya itu.
"Nanti kalo panen tahun depan gimana?, Koko kan nanti bakal ke gudang itu lagi..", Tanteku terlihat takut membayangkan jika seandainya ia sendiri yang melihat makhluk mengerikan itu.
"Ya diselesain sebelum sore neng..., kalo bisa", papa memakan kembali tempe gorengnya dengan wajah yang sedikit pasrah sambil berpikir, kakek sudah lama mengurus dan mengelola sawah milik keluarga yang otomatis akan selalu ke gudang itu untuk proses penyimpanan karung-karung padi. Kira-kira sudah berapa kali kakek melihat makhluk mengerikan itu?, ia malah tahu soal ini dari nenek.
"Tapi Koko pernah denger yang ga kalah serem loh neng..", papa kembali memasang mimik yang serius, sedikit geli melihat adiknya itu terlihat ketakutan. Kalau ada nenek mungkin ia sudah dimarahi karena dianggap tega menakut-nakuti adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Apaan lagi ko?,", Tanteku kembali terlihat penasaran, sambil sesekali mengusap pipinya karena gatal, memang jika sudah sore beranjak malam begitu banyak nyamuk yang berterbangan kesana-kemari yang berasal dari lahan kosong belakang dapur ini.
"Pak Tani sendiri yang cerita ke Koko, waktu itu pak tani ijin sama Enah ambil rumput di belakang buat kerbaunya.....",
******
Sore itu Pak Tani datang ke rumah nenek untuk meminta ijin pergi ke bagian belakang rumah mengarit rumput-rumput liar untuk pakan kerbau-kerbaunya. Biasanya ia memerintahkan salah satu anak laki-lakinya untuk datang di siang hari meminta ijin ke nenek untuk ke halaman belakang mengarit rumput-rumput liar itu. Namun karena putranya sedang berhalangan untuk datang dan ia sibuk di sawah sedari pagi sampai sore hari, akhirnya setelah selesai pekerjaannya di sawah ia langsung membawa celuritnya, sejenis senjata tajam berbentuk bulan sabit dan pergi ke rumah nenek.
"Permisi Nah...", Pak Tani mengetuk-ngetuk pintu depan cukup keras sambil memanggil nenekku. Karena rumah yang cukup luas, Pak Tani harus mengetuknya sedikit keras agar terdengar oleh orang di dalam rumah.
"Oh iya pak, ada apa ya sore-sore kemari?", Nenek pikir mungkin ingin bertemu papa, namun ia ingat tidak biasanya di sore hari begini.
__ADS_1
"Aduh Nah maaf ganggu, saya mau numpang ke belakang Nah biasa ambil rumput. Anak saya yang biasa ngambil lagi ga bisa kesini. Saya kan di sawah sampe sore, makanya saya sempet ya sekarang..", Nenek melihat celurit yang dibawa Pak Tani, nenekku tahu bahwa Pak Tani ini sudah lama mengabdi pada keluarganya untuk kepengurusan sawah keluarga sejak kakek buyutku masih hidup yang pada waktu itu masih Ayah dari Pak Tani yang membantu kepengurusannya, selepas ayahnya meninggal, barulah ia yang menggantikannya, namun tetap saja melihat orang datang di sore hari begini dan membawa senjata membuat nenekku sedikit takut.
"Oh iya pak, gapapa ngarit aja dibelakang. Itung-itung biar kebon belakang gak bala* banget.., cuma hati-hati aja pak takut ada uler..", Jawab nenekku.
"Iya makasih Enah.., si Engkoh dimana Nah?, lagi keluar ya?", Pak Tani sedikit berbasa-basi menanyakan keberadaan papaku.
"Iya lagi keluar dia, maklum anak muda..", Jawab Nenekku santai yang disambut tawa oleh Pak Tani. Ia paham betul dengan bayangan papa yang terbesit di dalam benaknya memang masih tergolong muda, 25 tahun. Namun sudah disibukkan dengan dagangannya di Pasar dan juga mengurus sawah keluarga.
"Ya udah kalo gitu saya permisi Nah...", pak tani mohon diri untuk langsung kebelakang rumah dan nenekku hanya mengangguk singkat.
Ketika sudah di dekat kandang ayam nenek yang berbentuk seperti rumah gubuk yang reyot, Pak Tani berhenti sejenak untuk menggunakan lotion anti nyamuk yang sudah ia siapkan sebelumnya. Lahan kosong dengan tumbuhan liar seperti ini merupakan tempat favorit nyamuk dan serangga lainnya. Jika tidak melakukan "persiapan" seperti ini, bisa-bisa ia digigit oleh nyamuk demam berdarah atau nyamuk malaria. Setelah selesai, ia kembali mengenakan sarung tangan dan menggenggam celuritnya kembali kemudian berjalan ke bagian yang banyak ditumbuhi oleh rumput liat lalu mengarit ya dengan hati-hati. Ia memperhatikan di sekitar rumput-rumput liar itu takut-takut ada seekor ular yang bersembunyi di antara rerumputan. Ia mengarit cukup banyak rumput dan menurut estimasinya rumput yang telah diaritnya itu cukup untuk pakan kerbaunya selama empat hari. Setelah selesai mengarit, ia kemudian membereskan rumput-rumput itu dengan memasukkannya ke dalam karung yang telah disiapkannya, mengikatnya, dan membentuk tali yang diikatkan ke karung itu menjadi seperti sebuah tas punggung besar berwarna putih dengan warna hijau diatasnya. Ia mengambil aritnya yang ada di tanah namun di dekat gudang peralatan yang tepat bersebelahan dengan gudang padi sekelebat ia seperti melihat sesuatu, sesuatu berwarna hitam yang aneh. Jika itu ular, pasti tidak akan terlihat seperti itu. Pak Tani diam sejenak dengan menggenggam erat celurit di tangan kanannya. Ia takut ada binatang berbahaya atau ada orang asing yang akan berniat buruk masuk tanpa ijin ke lahan ini. Tak lama berselang suara aneh mulai terdengar,, seperti suara babi yang sedang mengguik hanya saja suaranya terdengar pendek, namun keras dan menakutkan. Ia tersentak dan dengan waspada mencari dimana sumber suara itu. Dan dengan mata kepalanya sendiri tak jauh di hadapannya terlihat seekor babi berwarna hitam pekat dengan ukuran yang tidak biasa, terlalu besar untuk ukuran seekor babi. Babi besar itu terlihat cukup menakutkan ditambah lagi dengan tatapannya yang tajam menusuk dan kembali mengeluarkan suara mengguik yang cukup mengganggu itu. Tatapan makhluk babi yang tak biasa itu pada Pak Tani yang berusaha setenang mungkin langsung menengadahkan telapak tangannya, memejamkan mata dan berdoa membacakan ayat-ayat suci. Dan sontak makhluk Babi itu seperti mengguik-guik kesakitan, tak tahan dan kepanasan dengan apa yang Pak Tani lakukan dan makhluk itu perlahan lenyap, benar-benar lenyap begitu saja dan pak tani pun mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya perlahan tanda ia sudah selesai berdoa dan tidak mendengar lagi suara mengganggu dari makhluk itu. Ia menaruh celuritnya di ikatan tali karung di bagian atas, membawa karung itu seperti tas ransel besar, kemudian menjauh meninggalkan lahan itu dengan langkah yang semakin cepat hampir setengah berlari. Ketika melewati teras depan rumah, terlihat papa yang baru saja sampai dan terheran-heran melihat Pak Tani dengan karung rumputnya dengan mimik wajah tegang cenderung pucat berjalan setengah berlari meninggalkan rumah. Papaku hanya mendekus melihat ekspresi Pak Tani tadi.
__ADS_1
Kira-kira liat apa lagi ya?
*****