The House 1937

The House 1937
18.Teguran Dari Atas Kandang


__ADS_3

Suasana pagi ini cukup serius dengan nenek dan papa yang tengah duduk di meja makan di dapur. Nenek mengeluh kepada papa soal beberapa ekor entoknya yang hilang. Tidak hanya entok saja yang hilang, bahkan telurnya pun yang sengaja di taruh di kandang juga raib tak tersisa.




Nenekku memang rajin menghitung jumlah entoknya setiap hari ketika memberi makan entok-entoknya itu di pagi hari, tidak lupa juga mengumpulkan telur-telurnya lalu ia simpan di tempat khusus untuk menyimpan telur yang ada di dalam kandang. Namun hari ini nenek terkejut dengan jumlah entoknya yang berkurang 6 ekor dan semua telur yang ia simpan di dalam kandang pun raib. Entok-entok peliharaan nenek itu sebenarnya merupakan milik almarhum kakekku yang dulu ia beli untuk ia ternakkan baik entok maupun telurnya dan akan di jual kembali sekaligus untuk mengisi kegiatan waktu senggang. Tak hanya entok, kakek juga sengaja membeli beberapa ekor ayam baik itu ayam jantan dan ayam betina dan membangun gubuk kecil di dekat rumah untuk kandangnya. Untuk kandang entok sendiri ada di bagian belakang rumah ini, berbentuk seperti rumah kecil dengan jaro sebagai dindingnya, sejenis pagar yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan ada tempat khusus di dalam kandang itu untuk menyimpan telur-telurnya. Papaku yang berpikir sejenak mungkin karena jarang rumah dan kandang entok yang memang cukup jauh, ditambah lagi dengan tidak adanya penerangan yang di pasang disana dan pintu kandang yang hanya diselot biasa membuat hal itu menjadi sasaran empuk orang yang tidak bertanggung jawab untuk mencuri entok milik nenek.


"Kandangnya harus dibenerin deh Nah, pintunya pake gembok gitu biar lebih aman...", Papa menjelaskan pendapatnya kepada nenekku dengan ekspresi sedikit kesal. Kesal karena ulah manusia tidak bertanggung jawab yang sudah berani mengambil entok milik nenek.


"Begitu ya..., ya udah kalo bisa masangnya sekarang aja...", Nenekku sedikit memijat pelipisnya dan benar-benar berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali.


"Ga cuma pasang gembok aja Nah, Kita tangkep juga siapa malingnya...", Papa melipat sikunya dengan menunjukkan wajahnya yang memang selalu terlihat serius itu.


"Gimana lu nangkepnya Jun..", Nenekku sedikit mengernyit mendengar ide papa yang menurutnya cukup berbahaya.


" Jun ga bakal sendiri Enah, nanti Jun bilang ke Pak Tani, Giman, sama Najim Nah...", Papa langsung teringat dengan Pak Tani dan kedua putranya untuk meminta tolong kepada mereka untuk menjalankan rencananya.


*****


"Yang kaya gitu emang harus di tangkep Koh...", Jawab Pak Tani yang juga kesal dengan insiden entok dan telurnya itu, ia pun pernah mengalami hal serupa ketika ayam jantannya dicuri dan bukan hanya ia saja yang kehilangan ayamnya namun ada tetangga lain yang juga bernasib serupa dan akhirnya pencuri itu berhasil diringkus setelah pengawasan selama beberapa hari yang dilakukan oleh warga. Pak Tani mengambil satu singkong rebus yang tadi dibawakan oleh bibi dari dapur dan memakannya.

__ADS_1


"Iya Pak, jadi pusing saya, Enah ngeluh Mulu dari pagi gara-gara ini. Enah emang ngurusin banget soalnya entok itu dulu Babah yang beli...", Papa menyeruput kopi hitamnya yang masih hangat.


"Iya saya tahu Koh..., dari masih sedikit Ampe udah banyak tuh entok...", Pak Tani terkekeh dan mulai menyalakan rokok kreteknya.


"Jadi jam berapa ko kita ke belakangnya...?", Giman terlihat malu-malu ketika mengambil satu singkong rebus di depannya.


"Tapi kalo kita kebelakang sekarang apa malingnya bakalan dateng malam ini juga?", Najim menggaruk dagunya dan menatap ayah serta saudaranya itu.


"Perkiraan saya dia bakal Dateng malam ini..., abis ini kita siap-siap...."


******


Papa yang kini tengah bersembunyi di antara rimbunan pohon pandan bersama pak Tani, Giman, dan Najim dan sedikit merasa gatal dipipinya akibat nyamuk yang cukup banyak mengitarinya belum lagi dengan suara nyamuk itu yang cukup mengganggu. Walaupun merasa sedikit tidak nyaman namun ia bertekad malam ini harus bisa meringkus pencuri itu. Ia mengenakan sarung berwarna campuran antara putih dan abu-abu dengan sebilah golok berukuran cukup besar yang ia bawa dari dalam rumah. Tak hanya papa, Pak Tani dan kedua putranya pun membawa senjata mereka masing-masing, Pak Tani membawa sebilah golok dan celurit berukuran sedang begitu juga dengan kedua putranya.


"Sedikit lagi,, kalo masih ga muncul juga, kita awasin lagi besok malem..", Tegas papa sambil mengibaskan sarungnya.


Beberapa lama mereka mengawasi kandang itu sambil sesekali merasa terganggu dengan banyaknya nyamuk yang mengitari mereka akhirnya mereka mendengar suara yang sepertinya mendekat ke arah kandang entok itu. Mereka begitu mengawasi dengan seksama dan benar saja terlihat dua orang bersarung yang menggunakan topi rajut di kepala mereka dan menyorotkan lampu senter ke sekitar kandang, seperti ingin memastikan keamanan di sekitar kandang itu. Untung saja Papa dan yang lainnya bersembunyi cukup jauh dari kandang itu sehingga mereka tidak menyadarinya.


"Koh.., mereka udah di deket kandang Koh...", Pak Tani menarik ujung sarung papa dengan gusar.


"Ayo...", Papa bergerak perlahan dengan melepas sandalnya agar langkah kakinya bisa lebih leluasa bergerak diikuti Pak Tani, Giman dan Najim yang berjalan berjinjit pelan di belakang Papa. Mereka berempat yang sudah berada di dekat kandang lalu terkaget dengan kedua pencuri itu yang lari tunggang langgang keluar dari kandang dan langsung saja papa, Pak Tani, Giman serta Najim meringkus mereka tanpa ampun. Papa bahkan sempat memukul wajah mereka berdua dan mungkin akan memukul lagi jika Giman dan Najim tidak mencegahnya. Kini dua kawanan pencuri itu telah diikat erat di dekat kandang dan telah mereka bawa ke teras samping rumah. Papa menanyakan kepada mereka dengan nada marah apa mereka sebelumnya pernah melakukan aksi pencurian di tempat lain. Mereka mengaku dengan wajah lesu bahwa ini pertama kali mereka melakukan aksinya karena begitu terhimpit dengan masalah ekonomi sehingga terpaksa harus melakukan ini.

__ADS_1


"Terus tadi lu ngapain lari ketakutan keluar dari kandang??", Papa menatap mereka dengan tatapan menghakimi. Sambil memegang goloknya yabg cukup besar itu. Pak Tani yang memang sudah lama mengenal papa tidak heran lagi dengan sifatnya yang memang sangat menakutkan jika sedang marah seperti ini. Sementara Giman dan Najim hanya terdiam kaku yang baru pertama kali melihat kemurkaan papa dengan mata kepala mereka sendiri.


"A...anu Koh...,tadi kita lari soalnya....", Mereka berdua terlihat pucat.


"Kenapa??!", Papa berteriak cukup keras yang mengagetkan semua orang yang ada disana.


Akhirnya kedua pencuri itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


*******


Udin dan Acup berhasil melewati jaro yang memang sudah lapuk itu dan perlahan-lahan berjalan mengendap-endap melewati lahan kosong yang cukup luas itu. Banyak Tanaman liar yang tumbuh disana sehingga memungkinkan adanya ular yang berhabitat di lahan kosong ini karena mereka menemukan kulit mati ular dengan sinar lampu senter yang mereka bawa. Mereka tetap awas menatap keadaan sekitar dan terus melangkah menuju kandang entok yang menjadi tujuan mereka. Jika mereka melewati kandang itu dan berjalan lebih jauh lagi ke arah luar lahan kosong ini terdapat rumah besar dengan arsitektur Tionghoa peranakan yang mereka berdua tahu adalah pemilik dari kandang entok itu dan juga pemilik dari gudang padi, kandang ayam, dan tentu saja lahan kosong ini. Mereka mengetahui perihal kandang entok itu dari seseorang yang pernah membeli entok disana ketika laki-laki pemilik rumah itu masih hidup. Di Malam sebelumnya mereka sukses membawa 6 ekor entok berikut dengan semua telurnya dan mereka cukup beruntung kandang itu cukup jauh dari bagian belakang rumah sehingga kecil kemungkinan mereka untuk ketahuan dan tertangkap. Karena aksi mereka yang sebelumnya sukses, tanpa pikir panjang akhirnya mereka memutuskan kembali untuk beraksi malam ini. Walaupun mereka berhasil di malam sebelumnya, mereka tetap harus berhati-hati karena yang mereka dengar pemilik dari kandang ini adalah seorang laki-laki muda yang merupakan putra almarhum pemilik rumah yang terkenal galak.


"Bae-Bae Cup, katanya Engkoh yang punya entok tuh galak orangnya...", Udin memperingatkan kawannya itu menurutnya sangat bernafsu untuk "membawa" kembali entok dari dalam kandang itu.


"Tenang aja Din, kandangnya aja jauh dari rumah, ga bakal ketahuan asal kita ga berisik...", Acup dengan "ngeyel"nya sangat yakin bahwa aksinya kali ini juga bisa sukses seperti kemarin malam.


Mereka akhirnya tiba di tujuan dan pelan-pelan membuka selot kandang setelah melihat keadaan sekitar kemudian masuk dengan langkah berjinjit yang di sambut dengan beberapa entok yang bersuara, mengetahui ada seseorang yang masuk kandang mereka. Begitu mereka sudah di dalam kandang dan siap "membawa" entok, mereka mendengar suara memekik yang cukup merinding yang mereka tahu tentu itu bukan dari entok-entok ini. Mereka hanya terdiam dan merasa suara aneh itu dari atas kandang ini dan reflek mereka menengadah ke atap kandang yang juga terbuat dari jaro. Mereka kaget dan langsung ketakutan melihat sekelebat wajah aneh nan menakutkan yang ada di bagian atas kandang ini dengan mulut terbuka lebar, wajah pucat , dan mata kosong yang menakutkan, rambut sosok itu yang panjang dan tidak beraturan sampai masuk ke sela-sela atap kandang yang membuatnya seperti akar-akar yang menggantung di pohon beringin.


"MAAUU NYOOPEET YAAA......???" Tak hanya wajahnya saja yang menakutkan namun juga suaranya benar-benar membuat buku kuduk merinding.


Merek yang melihat penampakan itu tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah pintu kandang, tidak mempedulikan suara entok-entok itu. Memang jika mereka mengingat kembali, kemarin malam pun mereka seperti mendengar suara memekik yang sama ketika memasuki kandang ini.........

__ADS_1


..........



__ADS_2