
Jim membuka tasnya yang penuh dengan mainan dan mengeluarkan semua mainan itu di atas kasur dan menatanya satu persatu. Hari ini ia menginap di rumah nenek karena Om dan istrinya sedang ada urusan terkait bisnis mereka dan mereka tidak bisa membawa Jim karena itu mereka berdua menitipkan Jim di rumah ini. Setelah kejadian yang dialami istri omku beberapa waktu yang lalu, ia sempat menolak keras jika Jim akan di titipkan di rumah nenekku ini. Namun omku itu memperingatkannya bahwa mereka benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Orang tua dari istrinya sudah meninggal dunia dan ia juga anak satu-satunya. Akhirnya dengan berat hati istrinya itu memperbolehkan Jim untuk tinggal di rumah nenekku. Memang ada Alin, tanteku sekaligus adik iparnya yang bersedia untuk menjaga putranya itu selama ada disini dan juga ada papa yang juga menyayangi Jim walau terlihat kaku. Tapi tetap saja ia yang ibu kandungnya merasa cemas jika putranya sementara harus tinggal disini.
"Mama ga perlu khawatir, kalo aku disini kan aku bisa main sama Akiong...", Jim memegang ujung baju mamanya yang masih menunjukkan raut wajah khawatir.
"Ohh..ya anak tetangga itu ya..., ya gapapa kamu bisa main sama dia...", jawabnya sekenanya agar Jim tidak lagi bertanya kenapa mamanya terlihat begitu khawatir seperti itu.
*****
"Udah lu ga usah terlalu khawatir, kan Ada Enah, Bibi, Jun sama Alin juga di rumah...", Omku fokus dengan setir mobil dan pandangannya menatap lurus ke jalan raya. Ia menggeleng sedikit melihat sikap istrinya yang begitu paranoid, namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan istrinya itu atas sikap paranoid yang ia tunjukkan padanya. Dirinya sendiri pun seandainya bisa membawa Jim bersamanya, tentu ia lebih memilih membawa semua keluarganya tanpa khawatir seperti ini.
"Kenapa Koko keliatan santai gitu ko?, jelas aja gue takut, Koko ga inget kejadian waktu malam itu?",
__ADS_1
"Tadi sebelum pergi gua udah bilang ke dia buat hati-hati, jangan asal maen ke belakang rumah sendirian, kalo maen ama anak tetangga itu juga kalo anaknya lagi di warung Enah aja..., ga usah kerumahnya, Emaknya galak....", Omku menunjukkan wajah setengah jengkel karena ia juga tahu betapa galaknya Nenek Akiong.
"Mudah-mudahan aja ga ada apa-apa ko..., perasaan gue jadi ga enak...", Jawab istrinya dengan nada lirih.
*****
Jim yang merasa bosan bermain dikamar yang ditempatinya yang merupakan kamar omku memutuskan untuk keluar dari kamar dan menengok ke kanan dan ke kiri, lalu memutuskan untuk pergi ke dapur dan melihat kondisi dapur juga sama sepinya. Begitu melihat pintu samping yang sedikit terbuka, ia akhirnya memutuskan untuk keluar melewati pintu samping itu dan terlihatlah olehnya lahan kosong yang biasa di pergunakan untuk menjemur padi, dan sebuah gubuk reyot yang merupakan kandang ayam milik nenek. Di dekat kandang ayam itu terlihat seekor ayam betina dengan bulu-bulu yang mengembang tengah berjalan-jalan di sekitar kandang dengan 8 anak-anak ayam yang mengitarinya dengan bulu-bulu halus yang nampak sangat lucu. Jim ingin sekali memegang anak ayam itu, namun ia pernah diperingatkan oleh nenekku untuk tidak menyentuh ayam betina yang memiliki anak karena ayam itu akan sangat galak jika ada yang berniat mengusik anaknya. Jim yang teringat nasihat itu akhirnya terlihat lesu, namun ia kembali bersemangat ketika melihat gudang barang-barang tua yang berada persis di samping gudang padi. Ia melangkah menuju gudang itu dan mendapati pintu dari gudang itu terlihat terbuka. Sekilas ia merasa takut melihat pintu gudang yang sudah tampak rapuh dan berkarat itu dan keseluruhan dari gudang yang tampak tua dan menyeramkan namun itu membuat dirinya semakin penasaran dan akhirnya ia memasuki gudang itu yang memang sedikit gelap dan terasa lembab karena minimnya ventilasi, lantainya pun hanya berupa tanah sehingga ia bisa mencium aroma tanah yang sedikit menyengat karena lembab. Perlahan ia berjalan masuk lebih dalam ke gudang itu dan melihat beberapa lemari tua dengan debu tebal disana yang berisikan berbagai piring, mangkok, cangkir dengan berbagai bentuk dan ukuran dan ia juga melihat sebuah meja rias tua yang cerminnya terlihat usang kecoklatan dan bagian kayunya yang terlihat sudah lapuk dimakan usia dan ia mulai berjalan ke arah meja rias itu. Jim yang sedang asyik mengamati meja rias tua itu dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang bahunya, ternyata itu adalah nenek yang berdiri persis dibelakangnya.
"Emak ngapain disini?, mau ambil barang ya?", tanya Jim sambil membuka salah satu laci meja rias tua itu. Nenekku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari cucunya itu, yang Jim tidak tahu adalah nenek tengah mengamatinya dengan tatapan yang tajam menusuk, hanya saja tidak begitu terlihat karena keadaan gudang yang gelap. Tiba-tiba saja nenek langsung memegang pergelangan tangan Jim, Jim yang kaget langsung menengok kearah nenek yang tidak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas karena gelapnya gudang itu.
"Eh..kenapa Mak?", Jim tiba-tiba merasakan pegangan tangan nenek yang begitu dingin menyentuh pergelangan tangannya. Apa nenek sakit? kenapa tangannya dingin ya?.
__ADS_1
Lalu dari luar gudang itu , terdengar suara langkah kaki yang sepertinya akan mendekat ke arah gudang ini. Dan Jim kembali kaget dengan nenek yang menarik pergelangan tangannya dengan sedikit menyentak. Dan dari luar sana tak hanya terdengar suara langkah kaki yang mendekat, namun Jim juga mendengar suara nenek dari luar gudang ini!!
Jika suara yang ada di luar gudang ini adalah suara nenek, lantas siapa yang kini tengah memegangi pergelangan tangannya dengan tangan dinginnya itu. Jim yang dikuasai oleh intuisi mempertahankan diri sontak berteriak memanggil nenekku yang sepertinya ada di luar gudang dengan sekuat tenaga menarik pergelangan tangannya. Namun cengkraman itu menjadi sedikit kasar dan terdengar suara serak yang tidak jelas dari "nenek" yang memegangi Jim itu. Nenek yang terpogoh-pogoh menghampiri pintu gudang disusul Jim yang berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman "nenek" itu dan langsung berlari ke arah nenek dan langsung menangis dalam pelukannya. Nenekku yang sedikit panik langsung membawa Jim keluar dari gudang itu yang masih menangis cukup keras sambil mencengkram ujung kebayanya.
"Ngapain Jim masuk ke gudang ini?, kan Emak bilang mainnya di dalem rumah aja...", Nenekku berusaha menenangkan cucunya itu yang masih menangis tersedu-sedu. Tadi Nenekku membuka pintu gudang ini memang untuk mengambil beberapa buah piring baru untuk ia bersihkan dan akan di taruh di rak piring di dapur rumah. Beberapa piring telah diambilnya dan begitu ia kembali ke gudang itu untuk mengunci pintunya, ia kaget mendengar teriakan cucunya itu dari dalam gudang. Ia tidak menyangka bahwa cucunya itu malah masuk ke dalam gudang ini dan entah kenapa langsung menangis seperti ini.
"Jim ta...takut..Mak..., Jim takut..., di dalem gudang itu ada yang mirip Emak tapi seremm...", Jim masih tersedu-sedu, dan mengusap matanya yang berlinang basah dan membuat wajahnya sedikit kotor karena debu yang tadi menempel di tangannya.
Nenek terkejut dengan apa yang dikatakan oleh cucunya itu dan langsung membawa Jim ke dalam rumah dan meminta tolong bibi untuk mengambilkan segelas air untuk Jim. Nenek yang masih shock dengan kejadian ini nanti akan memberitahu papa untuk memasangkan lampu atau penerangan lainnya agar gudang itu tidak lagi gelap seperti itu. Jim yang kini tengah di dapur kini duduk di kursi dapur dengan napas yang masih belum teratur. Bibi hanya mengelus pundak anak itu, beruntung Enah dateng pas waktunya, kalau sampe telat dia bisa diculik. Tiba-tiba bibi membisikan sesuatu ke telinga Jim yang membuat Jim mengernyit kebingungan.
"Hati-hati neng...., itu Wewe Gombel..."
__ADS_1
*********