The House 1937

The House 1937
42. "Melihat"


__ADS_3

"Bagaimana Bi?, betah kerja disana?", Seorang wanita yang tengah memilih sayur dihadapan Bi Inah bertanya dengan intonasi yang terdengar sangat menyebalkan.


"Alhamdulilah, saya betah Bu, majikan baru saya baik orangnya..", Bi Inah mengatur napasnya agar intonasinya ketika menjawab terdengar wajar, tidak


Bi Inah hanya menjawab sekedarnya dan berusaha memfokuskan pandangannya ke arah sayur mayur yang ada di hadapannya saat ini. Saat ini Bi Inah sedang berada di gerobak tukang sayur yang selalu lewat di depan rumah nenek di waktu pagi. Gerobak itu kini berada tak jauh dari pohon jambu air merah yang memang dekat dengan pinggir jalan. Tadi pagi nenek memang memberitahu Bi Inah untuk menunggu tukang sayur ini untuk membeli bumbu dapur seperti cabai, bawang merah, bawang putih, garam dan merica serta beberapa jenis sayuran dan daging ayam segar untuk makan siang dan makan malam nanti. Nenek hari ini belum menyempatkan diri kembali untuk berbelanja ke pasar karena rematiknya yang kini sedang kumat. Nenek akhirnya berpesan kepada Tante Alin agar nanti menyempatkan diri untuk berbelanja di pasar setelah ia selesai bekerja. Sedangkan yang ia beli di tukang sayur ini adalah persediaan bahan makanan untuk hari ini saja. Padahal tadi Bi Inah sudah bilang kepada nenek agar ia saja yang pergi ke pasar untuk berbelanja, namun nenek menolaknya dengan alasan sekalian ingin keluar rumah karena bosan.


"Bi Inah..", Salah satu ibu yang sedang berbelanja juga disana memanggil Bu Inah.


"Kenapa Bu?", tanpa bertanya pun sebenarnya Bi Inah sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Sudah berapa lama Bi Inah kerja di rumah itu?",


"Sudah hampir satu bulan Bu...", Bi Inah kembali menatap seikat bayam di gerobak itu, mau bagaimanapun saat ini ia nenek sekaligus pemilik rumah besar yang ada di belakang ini adalah majikannya, ia tidak mau bicara macam-macam ataupun yang tidak-tidak.


"Waktu itu tetangga saya sempat mau kerja di rumah itu loh Bi...",


"Oh begitu Bu..", jawab Bi Inah malas. Bi Inah melihat wanita yang terlihat seusia dengannya itu dengan tatapan malas, menjawab sekedarnya saja hanya untuk kesopanan semata.


Walaupun ia berusaha menutup pendengarannya, para ibu-ibu disana masih sempat-sempatnya merumpikan hal yang sepantasnya mereka bicarakan, mulai dari membicarakan anak gadis tetangganya yang di duga hamil di luar nikah, membicarakan wanita yang sering pulang malam, rumah tangga orang lain yang menurut perkiraan mereka bermasalah, anak laki-laki dari tetangga mereka yang lain yang terkenal suka bermalas-malasan yang menjadi beban keluarga, atau bahkan mereka membicarakan Bi Inah sendiri yang bekerja di rumah nenek, yang memang terkenal angker.

__ADS_1


"Ibu-ibu, mari saya duluan...",


Setelah selesai memilih dan membayar belanjaannya, Bi Inah mulai pamit kepada mereka yang masih ada disana dan mulai melangkah menjauhi gerobak sayur itu yang diiringi dengan aneka tatapan yang memandang Bi Inah.


"Saya tidak sangka loh Bu, ternyata Bu Inah bisa betah kerja disini..., yang saya tahu, katanya rumah besar itu angker..",


"Ya...,saya juga pernah mendengar Bu, dari orang-orang, memang katanya rumah ini seram...",


"Iya Bu, saudara saya saja tidak jadi ketika ingin bekerja di sana karena harus tinggal di rumah itu juga...",


"Apa Bi Inah tidak takut ya?, saya sih jika sudah tahu seperti itu tidak akan berani untuk datang, tapi yang saya dengar soal keluarga soal pemilik rumah yang melakukan pemujaan itu tidak benar...",


"Yang kerja mengurus sawah yang punya rumah itu Bu, Cerita ke saya...",


"Kalau saya jadi Bi Inah ya Bu, saya tidak akan mau kerja di rumah itu, karena suami saya...",


"Memang suaminya kenapa Bu?, pernah mau bekerja di rumah Ndoro itu?", salah satu dari mereka yang memang asli orang Jawa memanggil nenek dengan sebutan Ndoro, semacam sebutan atau panggilan untuk majikan atau untuk memanggil kaum priyayi. Dan fakta bahwa keluarga nenek masih memiliki darah "orang besar", sudah tersebar juga dikalangan orang sekitar, biasanya diceritakan oleh orang-orang generasi lama yang mengenal keluarga nenek yang masih hidup.


"Buka begitu Mbo, suami saya bercerita kalau waktu itu.......",

__ADS_1


********


Suparto melajukan kendaraan truk kuning yang ia kemudikan dengan hati-hati karena kondisi jalanan yang masih berbatu dan belum teraspal. Belum lagi penerangan jalan yang tergolong masih seadanya membuatnya harus jeli memperhatikan jalanan yang hanya disoroti lampu dari truk kuningnya. Entah jam berapa sekarang ini, tapi Suparto memperkirakan bahwa ini sudah hampir tengah malam. Ia menjadi sedikit menyesal karena malam ini harus pulang sampai selarut ini karena pekerjaan yang cukup menggiurkan dengan pembayaran yang lumayan besar, namun resiko dari pekerjaan itu adalah ia harus rela pulang sampai larut seperti ini.


Walaupun harus tetap fokus untuk menyetir di waktu yang sudah larut, hati dan perasannya tetap bersorak Sorai memberinya semangat kelelahannya terbayar dengan pembayaran dengan nominal yang cukup besar, bisa dibilang berlebih dari biasanya yang ia terima. ia juga membayangkan betapa senangnya dari raut wajah istrinya yang terpancar karena pekerjaannya kali ini membuat kantungnya tebal. Ia berencana besok pagi akan menyuruh istrinya untuk berbelanja di pasar, membeli beberapa bahan makanan untuk di olah menjadi hidangan lezat menggugah selera, seperti bahan-bahan untuk membuat sop ayam atau pepes ikam mas.


Namun, walaupun ia pulang dengan pembayaran yang berlimpah ruah, ia tetap merasa was-was karena saat ini ia pulang larut malam seorang diri karena kawannya yang lain tidak ada yang mau ikut dengannya untuk pekerjaannya ini, namun atasannya memberitahunya biar saja mereka tidak ikut dengan begitu Suparto bisa mengambil pembayaran secara penuh untuk dirinya sendiri.


Ia menarik napasnya perlahan sampai truk kuning yang di kendarai dirinya melintasi pelarangan rumah nenek yang cukup luas itu, ia melirik sepintas halaman rumah nenek dan teringat bahwa pemilik rumah dan lahan ini adalah juga pemilik dari sebagian besar sawah yang ada di wilayah ini dan juga memiliki peternakan babi yang cukup luas dekat dengan lahan persawahan milik mereka. Sepintas Suparto merasa kagum dengan pemilik rumah itu, ia pernah bertemu sekali dan merasa terkesan karena pemilik rumah ini terlihat baik dan ramah, diluar berita miring di luar sana yang terdengar bahwa ia dan keluarganya melakukan pesugihan atas kekayaan yang mereka miliki saat ini. Suparto memiringkan kepalanya, tak hanya merasa pegal karena perjalanannya ini, tapi juga kabar miring yang ia dengar itu. Bisa-bisanya mereka yang tak tahu apa-apa tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya menuduh orang lain dengan keji seperti itu, apa karena mereka iri dengan keberhasilan milik orang lain sehingga tega melontarkan fitnah?, entahlah. Suparto hanya berpikir semoga ia tidak menjadi orang yang seperti itu. Jika kabar burung itu benar pun, orang-orang tidak bisa berbuat apapun bukan?.


Suparto tidak sengaja melirik pohon jambu air merah yang ada di halaman rumah itu yang memang jaraknya cukup dekat dengan jalan yang ia lalui ini. Ia cukup terkejut melihat ada seperti sosok aneh yang seperti nya tanpa busana berlari dan bersembunyi di balik batang pohon yang cukup besar itu. Suparto sempat terlonjak kaget karena sosok itu terlihat sangat aneh, tanpa busana dan sekilas tangannya terlihat sangat panjang, berbeda dengan ukuran tangan manusia normal. Ia hanya berusaha menghela napas, mungkin karena ia terlalu lelah jadi melihat hal-hal aneh yang tak masuk akal.


Suparto yang merasa sedikit lega karena sudah melewati halaman rumah yang luas ketika menengok kembali ke arah jendela yabg ada di sebelah kursi di sampingnya sangat kaget karena melihat sosok aneh tadi kini ada di luar jendela itu dengan penampakan yang sangat jelas dan mengerikan. Menyeringai lebar dengan mata berwarna putih seutuhnya serta tangannya yang panjang dan kurus seperti ranting pohon bergerak-gerak di kaca depan mobilnya seperti wiper mobil. Suparto yang kalap langsung membelokkan truk kuningnya ke sisi jalan yang sepi dan memberhentikan mobilnya. Napasnya naik turun dengan keras dan makhluk mengerikan itu sudah tidak ada. Ia sampai lemas di kursi supirnya dan dalam hati ia membacakan ayat-ayat suci yang ia hafal m secara berulang.


Apa yang ia lihat tadi terasa sangat nyata, namun hilang begitu saja dalam sekejap mata.Pemandangan tadi sangat ekstrim baginya dan seumur hidupnya baru melihat hak yang seperti itu. Mungkin nanti ia akan mempertimbangkan kembali apakah ia akan mengambil pekerjaan di waktu larut seperti ini...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_1


__ADS_2