
Ini adalah kali kedua Papa melakukan sesi jaga malamnya. Kembali ia menggunakan kain sarungnya, dengan perlengkapan yang juga ada di bale yang sudah ia siapkan seperti lampu senter, sebilah golok, tongkat bambu, dan tidak lupa tiga cangkir kopi hitam hangat dan sepiring singkong goreng dengan teko berisi air beserta gelas kaca yang sudah disiapkan oleh Bibi untuk menemani mereka bertiga melakukan jaga malam kali ini. Ia melirik Pak Tani dan Najim yang tengah menyeruput kopi hitam sambil mengisap sebatang rokok kretek yang asapnya cukup tebal memenuhi udara. Giman tidak datang karena ia sedang ke kampung halaman istrinya untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Papa cukup merasa lega karena ia akhirnya tidak berjaga seorang diri lagi seperti kemarin.
"Rokoknya Koh...", Pak Tani menawarkan rokok yang ia bawa kepada Papa. Pak Tani memperhatikan sedari tadi Papa terlihat lesu dan sedikit gelisah, mungkin sebatang rokok kretek ini bisa membuatnya lebih baik.
"Terima kasih Pak, nanti saja...", Jawab Papa santai dan menuangkan air dari teko ke gelas kaca yang tersedia.
"Tumben Koh jaga malam lagi?, kata Enah kemarin-kemarin Engkoh jaga sendirian ya?", Najim bertanya sambil mengunyah singkong gorengnya.
"Iya, soalnya gua takut kemalingan lagi, gua ga mau kalau Enah sampai ribut gara-gara entoknya hilang lagi atau ayamnya yang hilang...", Papaku memijat sedikit pelipisnya. Mendengar nenek yang mengeluh adalah hal yang sangat dihindari Papa.
"Di tempat Bapak ada yang kemalingan lagi Pak?", Papa menyeruput kopi hitamnya yang masih utuh dan ternyata sudah hampir dingin.
"Semenjak warga siskamling ( sistem keamanan lingkungan ), ya hampir ngga ada warga yang mengeluh kehilangan lagi Koh...", Papa hanya mengangguk singkat setelah mendengar penjelasan Pak Tani.
"Apa ini hanya perasaan saya saja?. Malam ini Engkoh keliatan lesu lemas gitu. Kenapa Koh?", Najim yang emang suka berbicara tanpa basa-basi langsung mendapat tatapan peringatan dari Pak Tani.
"Iya.., saya memang sedang kepikiran omongan Enah Tadi sore...", Papa mengambil potongan kecil singkong goreng yang ternyata juga susah dingin itu dan mengunyahnya perlahan.
"Omongan?", Pak Tani dan Najim sampai bertanya secara bersamaan.
__ADS_1
"Enah bertanya ke saya, kapan saya punya pasangan dan menikah...", Papa menjawab sambil menutup matanya dengan telapak tangan dan menggeleng pelan. Pak Tani hanya mengangguk sambil tersenyum diikuti dengan Najim yang tertawa kecil.
"Enah pengen nambah Cucu ya Koh...", Najim terkekeh. Berbeda dengan Najim yang terlihat senang, Pak Tani yang tahu betul tabiat Papa yang terlihat serius dan kaku itu merasa sedikit pesimis bila Papa bisa mendapatkan pasangan secepatnya seperti yang diinginkan oleh Enah.
"Terus bagaimana lagi Koh?, Engkoh bilang apa sama Enah?",
"Ya Sudah Pak, saya bilang saja nanti. Cari Pasangan tentu tidak semudah itu bagi saya. Bapak juga tahu kan soal itu?", Kini giliran Papa yang terkekeh seolah-olah menertawakan diri sendiri.
"Ya sabar saja lah Ko, Kalau jodoh tidak akan kemana-mana, yang penting berdoa dan berusaha..", Pak Tani mengerutkan alis melihat papa dengan ekspresi setengah kaget, lebih tepatnya seperti teringat dengan sesuatu.
"Pak,saya baru ingat tadi sore sebelum Maghrib pas saya baru sampai di rumah dari pasar, banyak orang-orang berkumpul di pinggir jalan dekat lapangan rumah. Lumayan banyak yang berkumpul dan saya dengar ada yang meninggal karena kecelakaan...", Papa kembali menunjukkan ekspresi serius.
Papa hanya terdiam, tidak menanggapi apapun atas apa yang pak Tani bilang tadi. Ia memang tidak menampik bahwa jalanan yang ada di sepanjang rumah ini memang sering terjadi kecelakaan. Jumlah kendaraan yang melewati jalan tersebut memang sudah lebih banyak dibandingkan ketika ia masih anak-anak dulu, dan kondisinya pun sudah tidak separah dulu karena sudah di aspal sehingga lebih aman untuk berkendara. Entah apa yang membuat kecelakaan sering terjadi di jalan ini, ia tidak tahu.
Papa yang kembali menyeruput kopinya lalu melihat sejenak ke jalanan yang ada di depan rumah ini dengan seksama. Mungkin ini sudah lewat tengah malam sehingga jalanan menjadi sepi sekali dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Tiba-tiba ketika arah pandanganya menuju bagian jalanan yang tak jauh dari pohon jambu air merah, ia seperti melihat seseorang yang tengah berusaha berdiri dengan susah payah. Sepertinya sebelah kakinya sedang sakit atau bermasalah sampai-sampai orang yang papa lihat itu tertatih menahan tubuhnya agar bisa berdiri tegak walaupun tetap saja oleng. Papa mencolek bahu pak Tani dan Najim agar mereka berdua juga melihat orang aneh itu. Sosoknya tidak terlihat begitu jelas, hanya berupa siluet hitam saja. Pak Tani dan Najim hanya saling bertukar pandang dan kembali mengarahkan pandangannya ke sosok itu.
"Koh, itu siapa?", pak Tani bertanya dengan nada setengah berbisik.
"Saya juga tidak tahu Pak, dia seperti mau berdiri tapi kakinya sakit ya?", Papa terdengar tidak yakin dengan kalimatnya sendiri.
__ADS_1
Dan seketika itu juga mereka bertiga terkaget-kaget karena sosok aneh yang mereka lihat itu secara tiba-tiba terbang dan hinggap di salah satu dahan pohon jambu air merah yang cukup tinggi dan terlihat wajahnya yang hancur menakutkan dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Terlihat sebelah tangannya yang setengah patah itu membuat gerakan aneh seperti sedang menggapai-gapai. Dari rambutnya yang panjang berantakan itu seperti ya ia seorang wanita, dan papa ingat korban kecelakaan yang tadi dibicarakan warga itu juga....seorang wanita....??
********
Halo Semuanyaa.....
Author mengucapkan Terima Kasih untuk para Readers yang sudah mampir di Novel ini ya.., maaf juga author baru update karena lagi sibuk dengan urusan lain sehingga novel ini menjadi lama untuk updatenya *Hiks....*
Jangan lupa klik favorit, like dan komentar juga ya biar Author semakin semangat untuk update ke bab selanjutnya....
Tetap Stay tuned di Laman Novel ini ya dan nantikan karya author selanjutnya...
Terima Kasih
Regards
Mazukashina
__ADS_1