The House 1937

The House 1937
55. Kembali Pulang


__ADS_3

"Gua benar-benar tidak menyangka Jun, ternyata anak Ncek Afung yang kemarin itu suka sama lu.."


Om Herman masih tertawa dengan suara yang cukup keras, hampir terbahak-bahak. Saking kerasnya, membuat Papa yang duduk di sebelahnya menjadi lebih kesal dari sebelumnya. Siang ini mereka sudah dalam perjalanan pulang, truk kuning Papa sudah berjalan cukup jauh meninggalkan area Klenteng. Setelah sesi bersantap santainya dengan Ncek Afung selesai, mereka berdua mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa mereka akan bersiap-siap untuk pulang.


Papa sempat membuat alasan yang terkesan basa-basi dan cenderung menghindar ketika Ncek Afung yang sempat menahan mereka untuk pulang besok hari saja. Papa dan Om Herman sedari awal memang sudah menetapkan rencana, jika urusan mereka sudah selesai di Klenteng ini, mereka ingin segera pulang, karena mereka tetap harus melanjutkan beraktivitas mereka berjualan di pasar, di tambah lagi Papa juga ingin menghindari masalah anak perempuan dari laki-laki itu yang ternyata menaruh minat padanya. Papa tidak ingin di berondong terus dengan banyak pertanyaaan oleh Ncek Agung yang menurutnya cukup menggangu privasinya.


"Kalo lu terus ketawa begitu, dan mobil gue sampe oleng dan nabrak badan jalan. Lu harus ganti rugi, gua ga mau tahu...", Papa membalas tertawaan Om Herman dengan sikap sinis, dan juga menendang pelan sebelah kaki Om Herman.


Sesuai dengan kesepakatan yang sebelumnya, ketika perjalanan pulang, Om Herman lah yang bergantian dengan papa untuk membawa mobil truk kuningnya. Untungnya kini mobil truk kuning itu sudah melaju di jalanan yang beraspal, sehingga Om Herman tidak lagi kesulitan mengendarai truk itu.


"Eh Jun...", Om Herman berusaha meredakan tawanya sekuat mungkin.


"Apa?", Papa memandang Om Herman dengan tatapan malas.


"Yang kemarin lu cerita sama Chun In, itu lu serius?",


Papa melirik sekilas Om Herman, papa langsung teringat sesi konsultasinya bersama Chun In kemarin ketika mereka mulai menanyakan perihal jodoh. Om Herman dibuat terkejut oleh Papa ketika sahabatnya itu ternyata memiliki pertanyaan lain mengenai calon pasangannya, yang ia ketahui adalah teman dari Tante Alin. Mendengar itu Om Herman hanya menggelengkan kepala, ternyata dunia begitu sempit. Mereka semua bertemu pasangan mereka di lingkup yang sama.


"Kalau gue ngga serius, gue ga akan nanya itu ke si Chun In...", Intonasi bicara Papa begitu serius sambil melipat lengannya. Ia teringat kembali dengan perkataan Chun In ketika di sesi konsultasi mereka, bahwa mereka berdua telah bertemu dengan pasangan yang baik dan dapat saling melengkapi satu sama lain. Chun In juga menasihati kedua sahabat itu bahwa dalam menjalin hubungan tidak selalu mulus dan persis sesuai dengan apa yang dinginkan kehendak pribadi individu. Tetap harus bijaksana dalam mengambil langkah dan bertindak di situasi apapun, begitu nasihat putra Babah Hwan itu. Walau ia hampir tidak pernah memikirkannya, tetapi mau tidak mau, papa memang sudah sejak lama menyukai mama. Pada awalnya hanya menyukai sebatas rasa suka kepada anak-anak semata. Namun seiring berjalannya waktu, Papa yang sering melihat Mama datang berkunjung ke rumah ketika masih di bangku sekolah, telah menimbulkan rasa suka di dalam hatinya. Sayangnya, karena Papa adalah orang yang kaku dan introvert, sangat sulit baginya untuk mengutarakan perasaannya sendiri, dan ia hanya bisa diam menahan diri ketika mengetahui sahabat dari adiknya itu selepas lulus sekolah pindah tinggal di kota untuk bekerja.


"Lu kapan kenal sama.....,siapa namanya....?",

__ADS_1


"Yuli...", Papa menipiskan bibirnya begitu menyebutkan nama Mama, sahabat Tante Alin.


"Iya.., sejak kapan lu kenal sama dia?",


"Dari gue SMA, waktu itu..., mereka masih SD...",


"Lu gila apa?", Om Herman sekali lagi terkejut mendengar pernyataan Papa.


"Kenapa?",


"Lu Suka sama anak kecil?",


"Gue ketemu Alin kan pas dia sudah besar. Lah lu Jun, dia masih pakai seragam SD...",


"Mereka berdua umurnya sama, Man. Gue sama lu apa bedanya suka sama anak kecil?. Ga usah sok kaget kalo lu juga suka sama saja...", Papa terkekeh dengan sinar mata yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi.


"Apa.., sebelumnya lu pernah ngobrol sama dia?, waktu itu lu bilang dia dateng menginap ke rumah lu...", Om Herman bertanya dengan tetap memfokuskan pandangannya ke jalan raya.


"Sayangnya tidak, gua hampir tidak pernah bicara sama dia, cuma sapa menyapa saja...",


Om Herman kembali menghela napas, memang sahabatnya ini entah kenapa suka sekali memberikan jawaban yang mengecewakan.

__ADS_1


"Lu hampir tidak pernah bicara, tapi lu suka sama dia..?", Om Herman merasa bahwa Papa memang manusia paling 'ajaib' yang pernah Ian kenal. Tanpa ada obrolan yang berarti saja bisa seperti ini. Sungguh di luar dugaannya, dan jika Tante Alin tahu soal ini, mungkin ia akan memiliki pendapat yang sama dengannya.


"Lu pikir semua orang harus bergerak sesuai sama apa yang lu pikirin?, perasaan manusia ngga bisa di tebak maunya sama siapa, Man...",


"Gua kira lu bakalan mau sama yang sudah di kenalkan oleh Enah...", Om Herman tahu soal ini dari Tante Alin. Tante pernah bercerita jika Nenek pernah berniat mengenalkan Papa kepada anak dari kenalannya di suatu pesta resepsi pernikahan. Awalnya Papa hanya bersikap sopan semata untuk basa-basi di pergaulan saja, namun dua sampai tiga kali nenek melakukan hal yang sama. Papa dengan tegas langsung menolak perihal niat nenek yang menurutnya cukup konyol itu.


"Gue sama sekali tidak pernah mau di kenalkan, apalagi dijodohkan. Gua tahu maksud mereka baik, tapi jelas, tidak bisa....", Papa kembali memasang ekspresi serius khasnya, secara tidak langsung juga mengatakan bahwa ia tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut.


"Baik..,baik.. gue ngerti...", Om Herman terus fokus ke jalan raya di depannya.


\*\*\*\*\*\*\*


Hari ini sangat melelahkan, baik bagi Papa maupun bagi Om Herman sendiri. Untung saja hari ini jalanan tidak macet dan mereka berdua telah sampai di Kota ini tidak terlalu malam. Sebelumnya, Truk kuning papa berhenti terlebih dahulu di rumah Om Herman. Sebelum turun dari mobilnya, Om Herman sempat mengingatkan kepada Papa bahwa ia benar-benar harus memantapkan hatinya perihal keinginannya untuk melamar Mama. Papa hanya mengangguk mengerti dan berkata kepada Om Herman bahwa ia tidak perlu khawatir untuk itu. Langkahnya sudah bulat, dan mungkin ia akan segera menyampaikan niat baik ini kepada Nenek dan juga memberitahu Tante Alin.


Papa kini tengah memarkir truk kuningnya di halaman rumah, tidak jauh dari pohon jambu air merah yang ada di pelataran halaman itu. Papa mengusap wajahnya yang sudah terlihat lelah itu dan menatap sejenak ke arah bagian rumah yang hanya terlihat lampu bagian luar rumah yang menyala. Itu berarti semua penghuni rumah sudah tidur. Ia melirik tas miliknya yang ada di jok bangku di sebelahnya beserta 'bekal' yang diberikan oleh Chun In kepadanya. Apapun yang pernah terjadi, ia berharap apa yang telah dilakukannya ini dapat memberikan harapan yang sesuai dengan keinginannya.


Yah....semoga saja seperti itu.....



******

__ADS_1


__ADS_2