
Hari ini menjadi hari yang sangat mengejutkan karena Tanteku yang lain yang merupakan anak pertama Nenek kembali pulang ke rumah secara mendadak tanpa anda pemberitahuan apapun. Nenek dan Tante Alin cukup kaget dengan kepulangannya yang sudah tentu di sambut hangat oleh mereka berdua. Tapi sayangnya Papaku masih ada di Pasar ketika Tante Dewi, begitulah biasa ia di panggil oleh Nenek dan semua saudaranya, ketika menanyai dimana keberadaan Papa.
"Jun dimana Nah?", Tanya Tante Dewi.
"Belum pulang, sepertinya masih di Pasar..", Nenek teringat jika Papa bilang hari ini ia hanya ke Pasar seperti biasanya, tidak akan pergi ke tempat lain dulu sebelum pulang ke rumah.
"Sepertinya Jun lagi semangat cari uang untuk modal menikahnya nanti....", jawab Tanteku dan di sambut tawa oleh Nenek dan Tante Alin.
Bisa dibilang, diantara semua saudara dan saudari Papa. Tante Dewi lah yang memiliki kemampuan finansial yang paling kuat. Setelah menikah, ia ikut tinggal dengan suaminya di Singapura dan juga ikut bekerja disana dan memang jarang sekali pulang ke rumah ini, bahkan untuk perayaan Tahun Baru Imlek sekalipun. Pada mulanya nenek dan kakekku begitu berat untuk melepasnya menikah dan ikut pergi ke Singapura bersama suaminya. Namun Tante Dewi meyakinkan Nenek dan Kakek bahwa ia juga akan bekerja disana dan akan mengirim uang kepada Nenek dan Kakek setiap bulannya. Suami Tante pun pada waktu itu ikut meyakinkan bahwa jika mereka memiliki waktu senggang, mereka akan datang berkunjung ke rumah ini. Mereka memang memiliki hidup yang makmur dengan finansial yang sangat berlebih, namun sayangnya sampai sekarang mereka masih belum di karuniai anak dan masih terus berusaha agar mereka memiliki momongan.
"Mungkin Koko lagi ribet Ci di Pasar. Tapi kenapa Cici sendirian aja pulangnya, si Koko (Suami Tante Dewi) ga ikut datang kemari?",
"Dia masih sibuk sama pekerjaannya di Singapura, karena Ci yang punya waktu kemari, jadi ya datang saja sendirian....", Tante Dewi berbicara dengan dialek yang sedikit aneh menurut Tante Alin, mungkin karena ia terbiasa berbicara dengan dialek seperti itu selama tinggal di Singapura.
"Si Toni masih sering kesini Li, Jim bagaimana kabarnya?", Tante Dewi menanyakan Omku dan keponakannya itu.
__ADS_1
"Kadang-kadang saja mereka datang kemari. Belum lama mereka menginap disini...", Jawab Tante Alin sekenanya.
"Begitu..., ngomong-ngomong Bibi mana ya?, dari tadi kok ga keliatan?,", Tante Dewi tahu betul kebiasaan Bibi yang selalu membawakan suguhan makanan atau minuman apabila ada yang datang ke rumah. Namun ia sedikit terheran karena Bibi yang tidak muncul dari tadi sejak kedatangannya di rumah ini.
Nenek dan Tante Alin hanya saling bertatapan satu sama lain, lalu Tante mengangguk kecil pada Nenek,memberikan isyarat agar dirinya yang menceritakan kejadian yang sebenarnya selama Tante Dewi tidak di rumah.
"Bibi sudah meninggal Ci, sudah beberapa hari yang lalu..., sekarang Enah lagi cari orang baru buat penggantinya Bibi...", Wajah Tante Alin berubah muram.
"Apa??, Memangnya Bibi sakit apa Lin?", Tante Dewi menutup mulutnya dengan telapak tangan disertai dengan tatapan wajah yang sangat terkejut, ia tak menyangka bahwa kepulangannya ke rumah hari ini malah harus mendengar kabar duka cita ini. Bibi yang memang sudah sejak lama bekerja disini sedari ia masih anak-anak sampai lahirnya Tante Alin yang merupakan anak bungsu Nenek.
"Alin, mending lu bantuin Dewi buat bawa kopernya ke dalam kamar, habis itu langsung ke dapur ya buat masak makan malam...", Nenek langsung mengakhiri kalimatnya dengan berjalan ke dapur, mungkin Nenek tidak ingin mendengar percakapan kembali mengenai Bibi yang sudah tiada.
******
Tante Dewi langsung kembali ke kamarnya setelah selesai makan malam dan membereskan sisa peralatan makan tadi di dapur. Karena Nenek belum menemukan pengganti Bibi di rumah ini, Nenek meminta Tante Dewi, Tante Alin bahkan Papaku untuk membereskan semua peralatan makan kotor sisa makan malam mereka, mencucinya dan menaruhnya kembali ke rak piring. Ia duduk sejenak di pinggir ranjang setelah menyalakan kipas angin di sudut ruangan kamar ini. Keadaan kamarnya ini masih saja seperti dulu, tidak ada yang berubah. Setelah ia pindah ke Singapura bersama suaminya, kamarnya ini kosong dan dikunci oleh Nenek. Kadang-kadang saja Bibi datang ke kamar ini untuk membersihkannya agar kamar ini tetap bersih dan bebas debu, seprai dan sarung-sarung bantalnya pun di ganti secara berkala oleh Bibi atas perintah Nenek. Tante Dewi menghela napas, sangat disayangkan ia harus datang ke rumah ini seorang diri, ia memang mengetahui bahwa suaminya memiliki posisi yang cukup penting di tempatnya bekerja sehingga hampir semua waktunya tersita untuk pekerjaannya. Ditengah lamunannya ia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk, dan terlihat Tante Alin yang ada di luar kamarnya.
__ADS_1
"Lin besok tolong bantu Cici beresin koper itu ya, banyak oleh-oleh itu tadi ngga sempet buka kopernya...", Tante Dewi menunjuk koper yang ada di dekat kipas angin. Tante Alin mengangguk dengan tatapan tertarik.
"Lu selama di Singapura ngapain aja Ci selain kerja?", Tante Alin bertanya dengan rasa penasaran. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Tante Dewi di pinggir ranjang.
"Ya, selain kerja paling konsultasi ke dokter kandungan sih..", Tante duduk di tengah ranjang dengan memeluk bantal guling bersarung batik warna coklat miliknya.
"Sudah konsultasi?, apa kata Dokter?" , Tante Alin tahu perjuangan Saudarinya ini untuk memiliki anak sangat keras. Dukungan moral selalu ia berikan melalui tulisan di suratnya yang ia kirimkan.
"Suami Cici yang bermasalah..., produksi spermanya kurang bagus gitu...", Tante Dewi menghela napas.
"Oh begitu ya...", Tante Alin menjawab sekenanya.
Mereka banyak membahas topik pembicaraan sekaligus melepas rindu karena mereka memang jarang sekali bertemu. Dari sesi obrolan mereka ini lah Tante Dewi mengetahui hubungan antara adik perempuannya ini dengan teman baik Papa yang juga sesama pedagang di pasar. Tante Dewi turut senang dengan Tante Alin yang sekarang sudah memiliki pasangan. Lama mereka mengobrol tida terasa waktu sudah hampir larut malam dan Tante Alin mohon diri untuk kembali ke kamarnya. Setelah Tante Alin keluar, Tante Dewi sudah akan bersiap untuk tidur. Ia mematikan lampu kamar dan ia sudah berbaring di ranjang. Ia baru saja memiringkan kepala dan memejamkan mata, namun ia merasakan perasaan yang aneh, ia secara tiba-tiba merasakan perasaan aneh seperti ada yang mengawasi tepat di belakangnya. Tanteku berbalik perlahan dan terdengar suara kayu yabg di ketuk pelan dan ia sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Sosok Hitam dengan rambut panjang berantakan kini berada tepat diatas lemarinya tengah mengetuk-ngetukan jarinya di lemari pakaiannya tersebut. Walaupun kamarnya dalam keadaan gelap, namun ia bisa melihat dengan jelas siluet makhluk mengerikan itu. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan berlari ke arah sakelar lampu dan ia langsung menekan tombol lampu di dinding itu dan langsung seisi ruangan menjadi terang benderang. Pandangan Tante langsung mengarah ke bagian atas lemari pakaiannya dan ternyata tidak ada apa-apa disana. Makhluk itu tidak ada!!. Tante menyandarkan dirinya di sisi dinding dekat sakelar lampu dan perlahan perduduk di lantai dengan wajah yang sedikit pucat dan ketakutan. Ternyata sedari dulu sampai sekarang, keadaan rumah ini memang tidak berubah.
__ADS_1
*******