The House 1937

The House 1937
72. Kenyataan yang mengerikan (3)


__ADS_3

Kini Papa dan Pak RT sedang dalam perjalanan kembali menuju rumah. Pak RT sendiri sampai memperingatkan papa agar berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor tanya, karena Papa mengendarai motornya sedikit ngebut. Membawa sepeda motor dengan ngebut di jalan yang permukaannya masih banyak yang tidak rata dan berbatu di sana sini tentu sangat berbahaya dan beresiko kecelakaan. Papa hanya menghela napas kalau memelankan laju motornya menjadi laju yang normal sambil meminta maaf kepada Pria yang ia bonceng di belakangnya itu. Mau bagaimanapun ia mencoba untuk merasa tenang, tetap saja papa bisa merasakan jantungnya sendiri yang berdebar kencang.


"Hati-hati Koh..,jangan ngebut..", Pak RT menepuk pelan bahu papa yang juga merasa takut karena Papa yang ngebut seperti itu, ia sampai menayangkan bisa saja motor ini tersungkur karena melewati salah satu bagian yang berbatu di jalanan ini.


"Maaf pak..", hanya itu yang papa ucapkan dan kembali mengendarai motornya dengan laju normal, walaupun itu juga sangat mengganggu mengingat jalanan yang kondisinya masih seperti ini.


Setelah beberapa lama mereka melewati jalan yang terlihat menyedihkan itu, akhirnya motor papa tega memasuki halaman depan dan motornya itu telah sampai di teras depan tempat papa memarkirkan motornya semula. Nenek yang melihat kedatangan Pak RT bersama papa kemudian menghampiri mereka berdua yang masih ada di teras depan rumah dan Nenek menyalami Pak RT dan mereka bertiga malah terlibat pembicaraan mengenai penggalian di tanah bekas gudang tua.


"Siang Pak RT, maaf kalau siang-siang begini anak saya mendadak memanggil Bapak kesini..", Sebetulnya nenek merasa tidak enak hati, dan memiliki perasaan yang kuat kalau Papa sudah setengah memaksa pria dengan rambut yang sudah memutih itu untuk datang ke rumah ini.


"Iya Nah, tidak apa-apa, kebetulan saya juga sedang tidak sibuk, jadi saya bisa kesini, untung Koh Jun bawa motor, jadinya cepat sampai kesini...", Pak RT berbasa-basi membalas sapaan nenek kemudian perhatiannya teralih kembali ke Papa.


"Koh, tadi waktu Engkoh datang kerumah saya bilang ada urusan yang penting dan mendadak...", Pak RT mulai membuka percakapan. Nenek masih disana karena ingin ikut mendengarkan pembicaraan mengenai tanah gudang tua itu. Sebelumnya memang ia sudah tahu bahwa pembongkaran itu akan dilakukan dan memang atas persetujuan darinya.

__ADS_1


"Iya Pak RT, jadi begini...", Papa mulai menarik napas sejenak dan mulai menceritakan peristiwa mengerikan itu kepada Pak RT. Selama papa bercerita, Pria paruh baya yang juga mengenal baik Pak Tani beserta keluarganya itu pun hanya menunjukkan ekspresi tidak percaya, sebuah peristiwa yang. bisa dibilang mengerikan itu tidak ia sangka terjadi di lahan besar milik keluarga Tionghoa yang dikenal baik oleh masyarakat di daerah ini. Sebagai aparat yang dapat di jangkau langsung oleh masyarakat sekitar, tentu ia sangat setuju untuk membantu papa terkait masalah ini.


"Saya sengaja pak tidak ingin melapor ke Polisi, karena saya tahu bahwa itu akan memakan waktu untuk penyelidikan pihak kepolisian dan akan menyita banyak waktu kami sebagai pelapor, dan yang saya takutkan juga akan banyak warga yang tahu soal ini dan.., Pak RT juga pasti sudah tahu pembicaraan yang tersebar mengenai rumah saya ini kan?,", Papa sedikit mendekus di akhir kalimatnya. Ia jadi teringat peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika ada seorang perempuan yang ternyata mati gantung diri di halaman belakang rumah yang sontak membuat halaman rumah penuh sesak karena banyak warga yang ingin menyaksikan tempat kejadian perkara, dan itu cukup menganggu anggota kepolisian untuk melakukan penyelidikan di TKP. Peristiwa itu saja sudah cukup menggangu Papa, Nenek dan penghuni rumah lainnya. Bagaimana nanti jika peristiwa di gudang belakang ini juga tersebar?, tentu papa tidak mau hal itu terjadi.


"Makanya saya minta tolong Pak RT untuk membantu saya mengurus ini semua, saya jga tidak ingin kalau sampai soal ini tersebar luas ke orang-orang, Pak...", Papa menatap Pak RT dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Iya Koh saya paham. Siapa yang mau rumahnya terus di perbincangkan dan si kaitkan dengan hal-hal yang seperti itu..., saya mau ke tempat yang tadi Engkoh bilang, bisa sekarang Koh?",


"Bisa Pak, mari ikut saya...".


"Koh, Itu tulangnya susah si angkat dari galian tanah, di suruh Engkoh yang itu...", Salah satu tukang menunjuk Chun In yang terlihat sangat berhati-hati memegang belulang itu dengan jari telunjuknya. Kedua tukang yang tadi menggali tanah pun tengah berduduk santai di pinggir galian tanah itu.


Chun In yang melihat Papa bersama Pak RT, ia langsung berdiri dan menyapa Pak RT yang tampak mengernyitkan dahi ke arahnya, mungkin karena ia belum pernah melihat Chun In sebelumnya.

__ADS_1


"Pak RT, ini Chun In, kerabat saya yang membantu saya untuk penggalian ini...", Chun In menyalami Pak RT dengan ramah, mereka bertiga akhirnya berfokus kepada tukang belulang yang terlihat menyedihkan itu, de sebelahnya terdapat kain bercampur tanah yang merupakan pakaian Sukarsih sendiri yang sudah sangat Kumal hampir terlihat seperti gundukan tanah.


Pak RT berinisiatif memanggil semua tukang bangunan yang ada disana beserta papa dan Chun In untuk sama-sama berdoa untuk Sukarsih. Setelah berpikir sejenak, Pak RT akhirnya Pak RT menyuruh salah satu tukang untuk meminta kain kafan putih yang ada di mushola terdekat atas perintah beliau sendiri. Mereka bertiga telah sepakat untuk melakukan penguburan secara layak bagi tukang belulang Sukarsih hari ini juga. Sekitar lima orang tukang di tugaskan oleh papa untuk tetap berjaga di bagian belakang rumah, sementara sisa tukang lainnya dan mereka bertiga membawa belulang yang telah di bungkus kain kafan itu untuk di makamkan di area makam yang letaknya persis di samping mushola tempat lain kafan itu di ambil. Setelah melakukan beberapa prosesi, akhirnya tukang belulang Sukarsih itu di makamkan secara layak dengan bantuan ustadz setempat, semua yang ada di sama turut berdoa untuk ketenangan arwah wanita itu.


"Pak PT, Pak Ustadz, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah membantu saya untuk mengurus ini semua...", Papa menyalami mereka berdua sambil mengepalkan uang di tangan mereka sebagai ucapan tanda terima kasih. Walaupun mereka berdua sempat menolak, papa berdalih bahwa itu adalah rejeki dari yang Maha Kuasa lewat dirinya untuk Pak Ustad dan Pak RT.


"Terima Kasih jika Koh, karena Engkoh susah mau beramal baik mau memakamkan beliau secara layak...", Pak RT turut mengangguk setuju.


"Tapi yang saya ingin infokan ke Pak Ustadz dan semuanya, tolong hal ini jangan sampai melebar kemanapun, maksud saya jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini Pak, saya tidak mau ada pembicaraan yang tidak-tidak..",


"Engkoh tidak usah khawatir, hal ini akan menjadi rahasia saya pribadi...",


Papa mengangguk tanda setuju dan ia juga tidak lupa memberitahukan kepada semua tukang yang ada disana untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Agar tidak ada lagi pembicaraan atau desas desus yang tidak-tidak di lingkungan masyarakat. Mereka semua pun mengerti dan tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2