
Motor tua itu terus melaju dengan hati-hati di atas permukaan jalan yang tidak rata serta berbatu itu. Salah-salah jika Giman ceroboh, ia bisa terjatuh dari atas motornya karena medan jalanan yang bisa dibilang masih cukup berbahaya untuk kendaraan bermotor roda dua. Tidak hanya itu, pencahayaan yang minim di sepanjang jalan juga menyulitkan Giman mengendarai motor tuanya itu. Giman juga sempat meruntuk dalam hati melihat kondisi dari lampu depan motornya yang ternyata tidak berfungsi dengan baik. Tadi sore ketika berangkat dari rumah Giman memang tidak menanyakan mengenai kondisi lampu motor tua itu kepada Pak Tani, karena motor tua ini hampir tidak pernah digunakan ketika berkendara di malam hari.
Sore ini Giman pergi secara mendadak ke salah satu rumah kerabatnya yang ada di Desa sebelah dikarenakan ada kerabatnya yang telah meninggal dunia. Kondisi Pak Tani yang sedang kurang sehat membuatnya mengurungkan diri untuk datang, ibunya sendiri harus ada di rumah untuk merawat suaminya itu, sementara Najim yang sedang tidak ada di rumah, akhirnya membuat Giman seorang diri yang pergi kesana. Ia ingat tadi pagi kerabat dari Pak Tani yang datang langsung ke rumahnya menginformasikan hal ini kepada keluarganya. Segera setelah mengetahui informasi ini, Pak Tani menyuruh putra sulungnya itu untuk melayat ke Desa sebelah.
Sebenarnya Giman sendiri tidak masalah jika ia harus melayat seorang diri ke Desa sebelah sebagai bentuk bela sungkawa kepada kerabatnya. Hanya saja, ia tahu sendiri jika ia pergi ke sana di sore hari seperti hari ini, otomatis di perjalanan pulang yang di tempuh nanti ia harus menembus malam yang temaram ini. Sebenarnya tadi ketika masih di rumah kerabatnya, salah satu dari Bibinya menyarankan Giman untuk pulang esok hari saja, Giman diajak untuk menginap di rumah kerabatnya itu, karena ia tahu jarak yang di tempuh Giman dari rumahnya ke Desa sebelah ini cukup jauh, sekitar dua jam lebih. Namun Giman menolak halus dengan alasan bahwa ia harus segera pulang karena keadaan Pak Tani yang sedang kurang sehat, di tambah lagi hanya ada ibunya saja yang berjaga di rumah. Giman memilih untuk pulang ke rumah untuk berjaga-jaga takut-takut terjadi keadaan darurat atas ayahnya itu.
"Apa tidak apa-apa Man kamu langsung pulang?", Bibinya kembali bertanya kepada Giman dengan nada sedikit khawatir, ia tahu bahwa jalan-jalan yang ada di Desa ini masih minim penerangan dan sangat beresiko jika Giman pulang seorang diri di malam hari.
"Iya Bi, saya tidak apa-apa kalau harus langsung pulang setelah ini. Lagi pula, Bapak juga lagi sakit di rumah, kasihan ibu jaga sendirian di rumah...", Jawab Giman seadanya, dan memang itu yang sedang terjadi di rumahnya.
__ADS_1
"Begitu ya Man?, ya sudah, tidak apa-apa kalau kamu mau pulang malam ini juga. Hati-hati ya di jalan, jangan kencang-kencang bawa motornya.., salam buat Ibu Bapak kamu...", Hanya itu yang bisa di ucapkan Bibinya sebelum Giman beranjak pulang.
Saat ini, Giman sudah setengah jalan dalam perjalanannya menuju rumahnya dengan banyak bungkusan besek berisi aneka kue dan makanan dari kerabatnya tadi. Besek itu terdiri dari satu besek yang berisikan aneka kue basah berwarna-warni dan tiga sisanya berisikan aneka lauk matang. Yah, setidaknya semua makanan yang dibawanya ini cukup untuk persediaan di rumah selama sehari penuh, jadi ibunya tidak perlu memasak lagi di rumah.
Setelah lama diperjalan, akhirnya motor tua Giman melintas di bagian samping rumah Nenek yang biasa di pergunakan untuk menjemur gabah-gabah hasil panen. Giman ingat, kemarin ia harus mengawasi para tukang bangunan yang bekerja untuk mengerjakan proses renovasi gudang tua yang ada di sebelah gudang padi atas perintah Papa sendiri karena papa harus kembali mengurus tokonya di pasar. Giman sudah mendengar cerita dari papa sendiri mengenai kejadian mengerikan di gudang itu beserta tentang Sukarsih, namun Papa memperingatkan Giman agar berhati-hati ketika menceritakan kembali kisah ini kepada Pak Tani dan Najim. Papa tidak pernah merasa bermasalah apabila tiga orang kepercayaannya ini mengetahui peristiwa itu. Giman yang sudah merasa diamanatkan seperti itu pun mengatakan bahwa Papa tidak perlu khawatir mengenai hal ini.
"Gua harap lu berhati-hati pas cerita Ke Bapak atau ke Najim, Man. Di luar itu, lu jangan bicara apa-apa. Mandor dan tukang bangunan juga sudah gua kasih tau semua...", Giman ingat betul ekspresi Papa yang terlihat lelah dan banyak pikiran. Mungkin karena peristiwa itu yang membuatnya sampai seperti ini.
Giman yang sempat melamun membuatnya menjadi tidak fokus berkendara dan akhirnya ban motor tuanya itu malah melangkah ke arah batu yang cukup besar yang ada di jalan dan seketika Giman langsung menghentikan laju motornya. Giman terpana melihat batu yang ada persis di depan ban motornya, untung saja dirinya langsung mengerem sepeda motornya itu, jika tidak, mungkin ia sudah terjatuh bersamaan dengan motornya itu dan mungkin juga motornya akan mengalami kerusakan dan harus mendapat perbaikan karena kelalaian dirinya.
__ADS_1
"Ya Allah..., untung saja langsung berhenti. Kalau tidak, bisa di marahin Bapak kalau motornya sampai rusak..", Giman bergumam sambil mengusap pelan matanya dengan punggung tangannya.
Giman sempat menghentikan motornya sejenak lalu melirik ke arah rumah Nenek yang hanya lampu bagian depan dan samping rumah yang menyala dengan temaram. Jelas saja, di jam segini mungkin Papa sekeluarga sudah beristirahat. Mengenai soal istirahat, Giman harus bertahan untuk terus melajukan motor tuanya ini sampai ke rumah. Ia yang sudah sampai di depan rumah Nenek ini, artinya sedikit lagi ia sampai ke rumahnya.
Giman yang sudah menyalakan kembali motor tuanya itu sempat melirik sekali lagi ke arah rumah Nenek. Dan entah bagaimana Giman seperi melihat sesuatu yang ada di dinding bagian samping rumah, seperti sesuatu berwarna hitam yang kontras dengan dinding bercat putih yang sudah terlihat kusam itu. Giman sempat tersentak melihat pemandangan yang ada di depannya. Terlihat sesosok aneh berambut panjang yang tengah menempel di dinding rumah itu seperti Cicak, hanya saja sosok itu lebih menyerupai manusia yang tengah menempel di dinding!!!.
Giman yang masih ada disana malah dibuat makin merinding dengan makhluk itu yang terlihat merangkak dari dinding ke teras samping rumah secara perlahan dengan senyum menyeringai yang mengerikan, mulutnya lebar berliur mengerikan. Sosok itu langsung menghilang begitu saja ketika langkahnya menyentuh tanah. Yang membuat Giman langsung menjalankan motornya kembali tanpa menengok ke kiri maupun ke kanan.
Kenapa Engkoh betah ya tinggal di rumah itu?,
__ADS_1
Batin Giman yang takut sekaligus keheranan.