The House 1937

The House 1937
30. Bi Inah (Perkenalan)


__ADS_3

Setelah sekian lama, akhirnya nenekku telah menemukan orang yang akan menggantikan posisi Almarhumah Bibi di rumah ini. Namanya Bi Inah, beliau tinggal tak jauh dari rumah Najim, putra kedua Pak Tani. Memang nenek sempat bilang kepada Papa bahwa ia ingin mencari orang baru menggantikan Bibi, Najim yang mendengar kabar itu langsung kembali menyampaikan bahwa salah satu tetangganya sedang mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Papa yang mendengar penuturan Najim langsung menyampaikannya kepada Nenek.


"Si Najim kenal orangnya Jun?", tanya Nenek yang tengah mengupas sayuran di meja dapur.


"Iya Nah, kata Najim itu tetangga dia..", Papa menyeruput teh hangat tawarnya.


"Begitu ya, kalau begitu besok suruh kesini aja orangnya kalau dia sempat..", Jawab Nenek sambil tetap fokus dengan kegiatannya. Nenek sedikit bernapas lega karena akhirnya ia menemukan orang yang bisa menjadi pengganti almarhumah bibi, namun tetap saja ia harus melihat calon pengganti tersebut, apakah sesuai dengan yang ia harapkan atau sebaliknya.


"Ya Nah, besok Jun bilang ke si Najim...", Papa kembali menyeruput teh hangatnya, hari ini ia sedikit lelah karena kemarin siang ia harus mengantar Tante Dewi menuju Bandara untuk kembali ke Singapura. Lokasi Bandara yang ada di daerah perkotaan memang cukup memakan waktu sepanjang perjalanan. Belum lagi Papa juga harus ikut menemani Tante Dewi selama menunggu pesawatnya di Bandara. Makanya hari ini papa memutuskan untuk membuka tokonya sampai tengah hari saja lalu pulang ke rumah lebih awal dari biasanya.


"Lu sendiri udah tau orangnya yang mana?", Nenek kembali bertanya kepada Papa.


"Belum sih Nah, belum pernah liat orangnya..," Papaku mengangkat bahu, sebelumnya ia memang belum pernah bertemu dengan Bi Inah ini yang menurut Najim sebelumnya ia juga pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga cukup lama di rumah majikannya yang lama, namun ia harus berhenti bekerja di rumah itu setelah sekian lama karena keluarga yang menjadi majikannya harus pindah keluar kota untuk pekerjaannya.


"Dia katanya pernah kerja lama Nah, kaya Bibi gitu. Cuma majikannya harus pindah ke luar kota karena dinas, PNS Nah...", Jelas Papa mengingat penuturan Najim.

__ADS_1


Nenek menganggukkan kepala dan hanya mengingatkan Papa untuk segera memberitahu Najim bahwa tetangganya yang mencari pekerjaan itu harus segera datang ke rumah ini secepatnya.


*******


"Nama saya Inah, Koh, Ci..., kata Enah hari ini saya sudah bisa kerja disini...", Terlihat Bi Inah yang memperkenalkan dirinya di depan Tante Alin dan Papa di dapur, dan keduanya mengangguk ramah atas perkenalan dari asisten rumah tangga mereka yang baru.


"Iya Bi, biar betah ya Bi kerjanya disini...", Tante Alin tersenyum sopan sementara Papa hanya menganggukkan kepala.


"Kalau boleh saya tahu kenapa Bibi langsung mau bekerja disini?, Keluarga Bibi dimana?", tanya papa yang memang merasa penasaran sejak mengetahui bahwa Bi Inah ini mau langsung bekerja di rumah ini.


"Oh gitu ya Bi, berarti suami Bibi sebelumnya sudah tau kalau Bibi kerjanya tinggal di rumah majikan Bibi?", Giliran Tante Alin yang bertanya pada Bi Inah.


"Iya Ci..., saya cerita pas suami saya pulang ke rumah..., saya juga sudah titip pesan ke Najim kalau suami saya pulang ke rumah lalu saya tidak ada, berarti saya sudah kerja lagi...",


"Berarti bibi sebelumnya sudah bilang ke suami ya kalau mau kerja lagi...", Tante Alin sebelumnya telah mengetahui bahwa Bi Inah memang pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga lain.

__ADS_1


"Iya Ci, untung aja suami saya kasih ijin buat saya kerja, tidak apa-apa katanya dari pada saya menganggur...", Bi Inah tersenyum dan sekilas sekelebat wajah suaminya terbayang dalam pikirannya.


"Suami Bibi kerja apa di Kota?",


Kini Papa yang kembali bertanya, dengan raut wajahnya yang cukup serius seperti biasanya, Tante Alin yang melihat papa memasang raut wajah seperti itu langsung menyikut lengannya. Papa hanya melemparkan tatapan bertanya kepada adiknya itu sambil mengelus lengannya yang tadi di sikut Tante. Bi Inah sejenak memperhatikan interaksi dari dua anak majikan barunya ini, yang menurutnya Papa dan Tanteku ini terlihat akrab dan memiliki interaksi yang cukup baik. Melihat papa dan tante di hadapannya ini juga mengingatkannya kepada dua orang anaknya yang juga satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang kini tinggal di kampung, hanya saja mereka masih berusia belasan dan masih duduk di bangku sekolah menengah.


"Bibi kenal Najim, berarti kenal Giman sama Pak Tani juga ya?",


"Saya tidak terlalu kenal dengan mereka Koh, saya hanya tahu sekilas saja dari Najim, saya pernah bertemu beberapa kali saja ketika mereka berdua datang ke rumah Najim...", Terang Bibi mengenai orang kepercayaan Papa itu.


"Tapi Najim bilang ke saya Koh waktu kasih tau ada pekerjaan disini, katanya disini orang-orangnya baik, gajinya juga lumayan gede.., makanya saya mau kerja disini...", Perkataan Bi Inah yang terdengar lugu itu langsung di sambut tawa yang cukup keras oleh Papa dan Tante Alin.


Setelah suara tawa mereka sedikit mereda, mereka berdua memperhatikan Bi Inah sejenak yang sepertinya baru berusia sekitar 30 tahunan. Sesi perkenalan itu terjadi di sore hari dan terasa cukup menyenangkan ketika semuanya sudah berkumpul di rumah , Bi Inah juga sudah membereskan segala pakaian dan barang-barang miliknya di kamar yang dahulu di tempati oleh almarhumah Bibi. Ketika Nenek menanyakan apakah ia mau tinggal disini jika nenek menerimanya bekerja disini, ia langsung mengangguk dan mengiyakan. Nenek senang akhirnya ia telah memiliki asisten rumah tangga yang baru dan mau tinggal di rumah ini. Karena sebelum Bi Inah datang kemari, ada beberapa orang lainnya yang mau bekerja di rumah ini, namun mereka terdiam ketika Nenek mengatakan bahwa mereka harus tinggal disini bila ingin bekerja sebagai asisten rumah tangga Nenek. Rupanya keengganan mereka itu bukan tanpa sebab, rumor mengenai rumah Nenekku yang 'angker' telah banyak tersebar ke warga sekitar. Selain itu, juga sempat beredar kabar angin bahwa keangkeran rumah ini dikarenakan keluarga Nenekku telah melakukan pesugihan, yang sudah tentu membuat Papa murka begitu mengetahui adanya kabar yang tidak-tidak ini. Jika sudah melihat papa yang murka seperti ini, Nenek hanya bisa menenangkannya dan berkata kepada papa ia tidak perlu memusingkan hal itu. Nenek tidak mau papa terlalu memikirkan kabar angin yang tidak jelas berasal dari mana.


********

__ADS_1


__ADS_2