
Setelah turun dari pesawat dan telah sampai di Tiongkok, Violet mengajak Mada untuk makan sebelum berbelanja pakaian dan bahan makanan. Mereka duduk di meja persegi, berkaki empat, dan bertaplak kotak-kotak, kursi panjang saling berhadapan, dipilih Mada dan Violet untuk mereka duduki.
Mereka memilih makanan cepat saji. Burger dan kentang goreng menjadi pilihan sarapan mereka untuk menyapa sang mentari di daratan Tiongkok.
"Ceritakan tentang dirimu! Kita berteman tapi, aku tidak mengenal dirimu. Keluarga kamu, Papa, Mama, adik kamu?" ucap Violet sambil menunggu pesanan mereka datang.
Mada menyesap cangkir kopinya dan sambil tersenyum dia berkata, "Apa dengan bertanya seperti itu dan aku menceritakan tentang aku, maka kau akan lebih mengenalku?"
"Hmm" Violet tersenyum sambil bertopang dagu.
"Kamu juga nggak menceritakan apapun soal kamu tapi aku udah bisa mengenal kamu dengan baik" sahut Mada.
"Oke aku akan cerita ya. Aku memiliki tiga orang Kakek yang sangat aku cintai yaitu Kakek Maha, Kakek Alfa, dan Kakek Moses lalu memiliki dua Nenek yang aku cintai yaitu Nenek Rini dan Nenek Melati. Sebenarnya ada satu lagi Nenekku yang tinggal di luar negri namanya Nenek Angel tapi aku jarang bertemu dengannya jadi aku dan Nenek Angel tidak begitu dekat"
"Teruskan!" sahut Mada.
"Aku terinspirasi kisah cintanya Kakek Moses dan Nenek Melati. Dulu kata Papaku, Kakek Moses selalu memimpikan bisa meninggal sambil berpelukan dengan Nenekku, Nenek Melati. Karena Kakek sangat mencintai istrinya itu, beliau tidak ingin meninggalkan Nenek lebih dulu dan nggak mau ditinggalkan lebih dulu oleh Nenek jadi, beliau selalu berdoa agar bisa pergi ke Surga secara bersama-sama sambil berpelukan dengan Nenek. Dan kau tahu?! doa Kakekku terkabul. Kakek dan Nenek meninggal dunia saling berpelukkan"
"Manis sekali cinta Kakek dan Nenek kamu itu ya" sahut Mada.
"Iya. Itulah kenapa, aku selalu berdoa, semoga aku mendapatkan suami yang lembut, penuh kasih, setia, bertanggung jawab, sama seperti kakekku dan sama seperti Papaku" sahut Violet dengan mata berbinar-binar.
"Sayangnya aku tidak memercayai adanya cinta sejati seperti itu di dunia ini" sahut Mada.
"Itu karena kita belum menemukan cinta sejati kita" Sahut Violet.
"Cih! Cinta itu hanya akan memberikan, keribetan, kekecewaan dan luka" sahut Mada.
"Apa kau tidak pernah jatuh cinta?" tanya Violet sambil mulai memakan burgernya tanpa saos tomat.
Mada menggelengkan kepalanya dengan wajah datar.
"Kok bisa? kenapa? bahkan cinta monyet sekalipun?" tanya Violet.
Mada terkekeh geli, "Iya. Bahkan cinta monyet sekalipun, aku tidak pernah merasakannya. No reason, hehehehe. Aku hanya tidak memercayai adanya cinta sejati dan aku membenci cinta" sahut Mada.
"Aku percaya cinta sejati itu ada tapi setelah menemukan watak asli dari Mas Gasa tunanganku, aku rasa stok pria yang seperti Kakekku dan Papaku, udah habis di luar sana" Violet tersenyum tipis.
Mada terkekeh geli dan berkata untuk menyemangati Violet, "Kau orang baik. Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik pula dan akan dianugerahi cinta yang sempurna. Cinta sejati seperti yang kau bilang tadi"
"Amin! Makasih untuk doanya" Violet langsung tersenyum lebar dan berkata, "Aku doakan kau juga dianugerahi cinta yang sempurna"
__ADS_1
"Cih! cinta yang sempurna apa? aku ini orang yang brengsek dan kacau, aku rasa selamanya aku tidak akan menemukan cinta yang sempurna" Mada tersenyum lebar dengan helaan napas panjang untuk melepas kegetiran di hatinya.
Violet, "Tapi aku akan tetap terus mendoakan kamu, sampai kamu menemukan cinta sejati kamu"
Mada tersenyum tipis, "Well, thank you anyway"
Selesai makan, mereka segera meluncur ke mall terbesar di dekat sana. Violet menarik tangan Mada ke bagian pakaian dalam. Mada langsung mengerem langkahnya dan menarik tangannya, "Kenapa kau mengajakku ke sini?"
Violet menoleh ke Mada dengan wajah lugu, "Kenapa emangnya? aku mau beli pakaian dalam. Kau juga perlu beli kan?"
Mada langsung berbalik badan untuk menyembunyikan rasa canggungnya dan berkata di dalam hatinya, gadis ini bener-bener polos. Bisa-bisanya ia mengajak laki-laki yang bukan pacarnya ke rak yang berjejer berbagai macam model pakaian dalam untuk wanita.
"Kak, kenapa?" tanya Violet.
Mada berkata, "Nggak papa. Aku akan ke sana dulu" Mada lalu melangkah ke depan tanpa menoleh ke belakang.
"Ah sial! ada apa dengan otakku ini? kenapa aku jadi membayangkan yang tidak-tidak gara-gara pakaian dalam tadi, Huuffttt" Mada bergumam sambil menarik napas lalu menghembuskannya pelan untuk melepas pikiran aneh yang tiba-tiba merasuki jiwanya. Mada mulai memilih pakaian dalam untuknya setelah ia bisa menjinakkan kembali pikiran liarnya.
Mada melihat Violet telah selesai memilih pakaian dalam dan melambaikan tangan ke dia. Mada pun langsung berlari kecil mengikuti langkahnya Violet menuju ke bagian pakaian.
"Kakak pilih aja apa yang Kakak suka. Baju santai, kaos, celana kolor, juga beberapa baju untuk bepergian" sahut Violet
"Tapi aku yang ajak Kakak ke sini. Anggap saja sebagai bayaran untuk menjadi tour guide-ku. Kakak tour guide-ku saat ini" sahut Violet
"Tapi tetap saja aku merasa aneh dibayari belanjaanku oleh seorang cewek karena, ini baru pertama kalinya aku dibayari oleh cewek" Mada menatap Violet dengan wajah datar.
Violet menepuk bahunya Mada, "Udah santai aja. Kita kan teman. Kakak juga udah banyak membantuku" Lalu Violet berbelok ke arah pakaian untuk wanita dan Mada masih mematung melihat Violet. Dia tanpa sadar mengelus bahunya lalu bergumam, "Kenapa saat bahuku ditepuk Vio, ada percikan aliran listrik di badanku? ada apa denganku?" Mada lalu menggeleng-nggelengkan kepalanya dan segera berderap masuk ke deretan pakaian untuk pria.
Troli yang didorong oleh Mada telah penuh dengan pakaian. Lalu mereka menuju ke bagian makanan. Mereka mengambil banyak sekali camilan, minuman soda, dan beberapa bahan mentah seperti daging ayam, daging, sapi, sayuran segar, buah, bumbu dasar, telur, dan tidak lupa beras. Setelah semua kebutuhan mereka selama seminggu sudah masuk ke troli, mereka menuju ke kasir.
Antrean tidak begitu panjang dan sambil mengantre, Mada bertanya ke Violet, "Kau beli banyak sekali bahan mentah dan sayuran segar, emangnya kau bisa masak?"
Violet menoleh ke Mada dan sambil tersenyum lebar, ia menggelengkan kepalanya.
"Hah? lalu siapa yang akan memasak nanti?"
"Kakak dong" sahut Violet dengan santainya.
"Kok kamu tahu kalau aku bisa masak?" tanya Mada dengan tanda tanya besar di wajahnya.
"Dari mengamati. Kakak kan tinggal sendiri di kapal, Kakak juga punya bar, emm, paling nggak, Kakak bisa masak sup, telur dadar, atau nasi goreng. Benar kan pengamatanku?"
__ADS_1
Mada tergelak geli, "Kau memang cerdas. Iya benar sekali, aku bisa masak masakan sederhana dan tidak akan membuat kita kelaparan selama seminggu, hahahaha"
Dua jam kemudian, mereka telah sampai di villa yang sangat luas, mewah, dan besar. "Ini hotel apa Villa? besar dan mewah sekali, wow!" Mada terpesona melihat villa milik kakeknya Violet itu.
Mereka disambut tetangga di sekitar villa dengan tangan terbuka dan beberapa tetangga itu bahkan memekik senang lalu bertanya, "Non cucunya Tuan Maha, Tuan Moses dan Nyonya Melati ya? boleh saya memeluk Anda? Tuan Maha, Tuan dan Nyonya Moses adalah orang yang sudah berjasa besar bagi kami. Berkat mereka, kampung kami menjadi mandiri, sejahtera dan berpendidikan"
Violet tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Maka satu persatu penduduk yang tinggal di sekitar villa yang menyambut kedatangannya Violet, memeluk Violet dengan penuh kasih.
Mada tersenyum kagum melihat kebaikan dan kehangatannya Violet yang dengan sabar meladeni semua orang yang ingin memeluk atau sekadar menyalaminya.
Setelah ramah tamah itu, para penduduk yang baik dan ramah itu membantu Violet membawa masuk semua barang belanjaannya Violet dan salah satu Ibu paruh baya, mengantarkan Violet ke kamar utama dan berkata, "Kami akan menata kamarnya dulu Non, Anda bisa berjalan-jalan dulu"
"Ah tidak usah Bu, saya bisa membersihkan dan menata kamar sendiri kok"
"Jangan sungkan! karena Non cucunya Tuan Maha dan Tuan Moses maka, kami harus menyambut Non dengan sangat baik. Kami juga akan memasak setiap hari untuk Non"
Mada diantarkan ke sebuah kamar oleh seorang pemuda dan Mada bertanya, "Tuan Maha dan Tuan Moses sangat dihormati, dicintai, dan disegani ya di kampung ini. Bahkan kalian semua bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar di sini"
"Iya. Tuan Maha, Tuan Alfa, dan Tuan Moses mengembangkan perkebunan dan pertanian di sini sehingga penduduk di sini, hidupnya bisa mandiri dan lebih sejahtera. Lalu Nyonya Melati dan Nyonya Rini mendidik anak-anak di sini sehingga anak-anak kami menjadi anak-anak yang berpendidikan tinggi"
"Wow! keren sekali ya" Mada tersenyum penuh rasa kekaguman
"Untuk memberikan penghargaan kepada Tuan Moses Elruno dan Tuan Alfa Elruno kampung ini kami beri nama kampung Elruno. Dan dua Perpustakaan besar di sini diberi nama Melati dan Rini untuk mengenang kebaikan hati Nyonya Melati dan Nyonya Rini yang sudah mencerdaskan semua anak-anak di sini dan nama perkebunan di sini diberi nama perkebunan Maha lalu bukitnya diberi nama Adijaya untuk mengenang kehangatan Tuan Maha Adijaya" sahut pemuda yang seumuran dengan Mada itu.
Mada terkesiap, "Moses Elruno, Melati, dan Maha Adijaya kau bilang tadi?"
"Iya. Silakan beristirahat saya permisi. Saya akan membersihkan kolam renang dulu" sahut pemuda itu.
Mada langsung terduduk lemas di tepi ranjang. Kata-kata papanya kembali terngiang-ngiang di telinganya, "Kau harus membalaskan dendamnya Papa. Gara-gara Moses Elruno dan Maha Adijaya, Papa dan Kakek kamu mendekam di penjara dan Mama kamu mati karena mereka juga"
Mada menggelengkan-nggelengkan kepalanya untuk mengusir kata-kata papanya itu dari benaknya lalu ia bergumam, "Nggak! nggak mungkin orang sebaik Moses Elruno dan Maha Adijaya, tega membunuh Mama.Tapi, bagaimana jika itu benar? sial! kenapa aku tidak bertanya ke Vio nama lengkapnya. Aku cuma tahu nama yang ada di name tag-nya dr. Violet CE dan ternyata E itu adalah Elruno? sial! kenapa aku bodoh banget selama ini?"
Mada lalu melesat keluar dari dalam kamar dan berjalan-jalan di sekitar Villa untuk melepas kegundahan hatinya. Mada berada di persimpangan hati antara percaya akan semua cerita versi dari papanya atau percaya dengan kenyataan yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Moses Elruno dan Maha Adijaya adalah orang yang sangat baik.
Mada bahkan teringat akan perkataan papanya, yang sangat mencekik lehernya saat itu, "Cari keluarga Elmo Elruno, dekati anak gadisnya lalu rusaklah masa depan anak gadisnya Elmo Elruno!' Mada terengah-engah mengingat semua kata-kata papanya itu.
Setelah ia bisa kembali bernapas dengan baik, ia bergumam, "Apa papanya Violet bernama Elmo Elruno? dan kenapa harus Elmo Elruno? kenapa harus Violet? Nggak! aku nggak bisa dan nggak mau merusak Violet, nggak!" Mada berteriak frustasi dan semakin mencengkeram kuat kepalanya.
Mada akhirnya berjongkok lemas di pinggir jalan sambil terus mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya karena, ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan beban rasa dan pikiran yang begitu berat.
Di satu sisi, papanya Mada sudah mencekoki dan menanamkan kebencian di hati Mada untuk Elruno dan Adijaya namun, kenyataan yang mengejutkan bahwa Violet adalah cucunya Elruno dan Adijaya, membuat Mada bingung bagaimana harus mengambil sikap selanjutnya.
__ADS_1