
Di malam sebelum Mia memprovokasi Gasa, mimpi indahnya Gasa terusik dan ia terbangun dengan kesal mendengar bunyi riang dari nada dering ponselnya. Papa kandungnya Gasa yang menelepon dan menginginkan untuk bertemu dengan Gasa saat itu juga.
Ivan Goh menunggu di depan gerbang besar kediaman mewahnya Gasa dan memerintahkan Gasa untuk segera turun menemuinya.
Gasa dengan terpaksa turun lalu keluar dari halaman rumahnya dan masuk ke dalam mobil papa kandungnya yang bernama Ivan Goh.
Ivan menoleh ke Gasa dan tanpa membuang banyak waktu ia berkata, "Ini saatnya kau hancurkan Violet. Violet hamil kan saat ini, ceraikan dia! perceraian akan membuat noda hitam di keturunan Elruno dan Elmo pasti akan hancur jika ia melihat putri tunggal kesayangannya hancur.
Gasa terkesiap dan langsung menyemburkan protes, "Nggak! Aku nggak akan pernah menceraikan Violet karena, aku sadar kalau aku sangat mencintainya di saat aku tahu, Vio mengandung anakku"
"Kenapa kau bodoh sekali! Kenapa kau bisa jatuh cinta pada si penyihir itu? keturunan Elruno itu brengsek semuanya!" Ivan Goh menaikkan volume suaranya di titik yang paling tinggi karena kecewa dan kesal mendengar jawabannya Gasa.
"kita nggak pernah bisa mengelak saat cinta datang di hati kita, Pa" Gasa berkata lirih karena hatinya sedih di saat ia melihat papanya kecewa padanya.
"Kau itu tidak waras. Kau berjiwa binatang. Garang dan liar. Kau tidak mengenal cinta, kau sadar itu?.kau tidak kenal kasih dan cinta di jiwa kamu yang gelap itu. Maka dari itu Papa menunjukmu untuk membalaskan dendamnya Papa, kau masih ingat itu?"
"Papa benar. Aku ini berjiwa binatang, garang dan kejam Aku tidak pernah mengenal kasih dan cinta karena, jiwaku gelap. Namun, the thing about Violet, hari demi hari mulai memberi sinar di jiwaku yang gelap dan aku sangat mencintainya saat ini, Pa"
Ivan mencengkeram erat kemudi mobilnya lalu ia berucap, "Keluarlah dan jangan temui aku lagi!" Ivan berkata dengan tanpa menoleh ke Gasa.
Gasa keluar dari dalam mobil papanya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah tertunduk sedih.
__ADS_1
Dan provokasinya Mia menghidupkan kembali binatang liar di jiwanya Gasa. Mia tersenyum licik penuh dengan kepuasan karena Gasa berhasil ia pancing emosinya. Mia mengikuti langkah lebar penuh amarahnya Gasa sambil terus mengoceh, "Aku yakin seratus persen, istri kamu itu diak setia selama ini. Dia mengkhianatimu. Itulah kenapa dia, nggak hamil-hamil selama ini. Itu karena, istri tercintamu itu tidak mencintaimu dan tidak ingin mengandung anakmu. Dia hanya ingin mengandung anak pria lain yang bernama Mada Goh"
Gasa menghentikan langkahnya sejenak untuk berputar badan lalu ia mencekik Mia, "Diamlah!" lalu ia menarik tangannya dari leher pendeknya Mia dengan menghunus tatapan tajam dan menggertakkan rahangnya.
Mia tersengal-sengal dan memegang lehernya lalu mematung dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Gasa berbalik badan dan kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke kamarnya.
Gasa membuka pintu kamarnya dengan sangat kasar. Wajahnya tampak merah padam menahan amarah dan kecemburuan yang begitu besar dan ia langaung menyemburkan lahar panas dari hatinya dengan teriakan, "Katakan Vio! Apa benar waktu kau pergi dari rumah, Mada Goh ada bersamamu? Apa benar kau pergi dari rumah suami kamu dengan laki-laki lain, hah?! dasar wanita tidak tahu malu!"
Violet tersentak kaget dan otomatis bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang besar dan mewah itu. Violet menganggukkan kepalanya dengan pelan karena, selain ia masih lemah, dia bersikap waspada akan segala hal yang bisa terjadi akibat dari perubahan sikapnya Gasa yang sangat drastis itu.
Gasa berderap mendekati Violet lalu ia menampar keras pipinya Violet sampai di sudut bibirnya Violet mengeluarkan setitik darah segar. Violet mengusap sudut bibirnya lalu meringis saat ia merasakan ada sedikit rasa perih di sana.
Alisnya Violet mulai berkeringat dan mengucur pelan di pelipisnya, kedua bola matanya Violet menatap nanar kabut gelap di kedua manik hitamnya Gasa dan jantungnya berdegup keras namun, degupan jantungnya itu bukan disebabkan oleh rasa takut. Degupan jantungnya Violet itu merupakan refleksi dari rasa was-wasnya Violet jikalau keadaan menjadi memburuk dan ia tidak bisa melindungi janin yang berada di dalam kandungannya.
Gasa menyeringai bengis lalu kedua tangannya mencekik leher cantiknya Violet. Laki-laki dengan dua kepribadian itu mendelik ke istrinya, "Jawab! apa anak di dalam kandunganmu itu benar-benar adalah anakku? darah dagingku? keturunanku?"
"Uhuk-uhuk" Violet mencoba menarik tangan Gasa dari leher cantiknya namun, tenaganya kalah besar dengan Gasa. Lalu Violet memberanikan diri memberikan pukulan di perutnya Gasa yang terbuka, Gasa mengaduh dan menarik tangannya dari leher jenjangnya Violet untuk memegang perutnya sendiri sambil menghunus tatapan tajam ke istri cantiknya.
Violet tersengal-sengal sambil mengelus lehernya dan masih memandang suaminya dengan sikap waspada.
__ADS_1
Gasa berhasil menguasai rasa sakitnya lalu ia menegakkan tubuhnya. Gasa kembali berdiri tegak di depannya Violet lalu ia terkekeh dengan wajah menyeramkan, "Kau berani melawan suami kamu sekarang, Hah?!"
"Aku berani karena aku harus melindungi anak kita!" jerit Violet. "Ini anakmu, Mas! sadarlah!" pekik Violet dengan mata membulat penuh amarah dan kekecewaan.
"Bohong! Kau tinggal dengan Mada kan selama kau pergi dari rumah ini?" Gasa berucap sambil mulai melepas ikat pinggang di celananya.
Violet mulai menegakkan diri dan mengambil sikap waspada sembari berucap, "Iya benar. Aku memang pergi dengan Mas Mada dan tinggal dengan Mas Mada. Tapi, nggak ada hubungan yang melewati batas diantara aku dan Mas Mada. Aku dan Mas ..........."
"Kau bahkan memanggilnya Mas?" Gasa berucap garang sambil mengayunkan ikat pinggang yang sudah ia lepas dari celana kainnya ke tubuhnya Violet.
Violet dengan sigap menangkap ikat pinggang suaminya dan dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, ia menarik ikat pinggang itu dan di saat Gasa tertarik maju ke arah Violet, Violet mendaratkan bogem mentah di tangan kirinya tepat di rahangnya Gasa. Gasa langsung terjerembab di atas kasur.
Violet segera bangkit, melepas ikat pinggang yang ia genggam lalu ia memegang perutnya dan bergumam lirih, "Kuatlah ya, Nak dan doakan Mama biar kuat juga menghadapi ketidakwarasan dari Papa kamu!" Kemudian putri tunggalnya Elmo Elruno itu bergegas melompat turun dari ranjangnya dan segera berlari keluar dari kamarnya ketika ia melihat suaminya masih membungkuk kesakitan di atas kasur.
Sesampainya di luar kamar, Violet tiba-tiba mengerem langkahnya ketika ia hendak melangkah turun ke lantai bawah melewati anak tangga karena, Violet melihat Mia berada di atas anak tangga paling bawah dan berjalan pelan menaiki satu demi satu anak tangga untuk menghadang langkahnya dengan membawa pisau kecil. Pisau yang berada di dalam genggaman tangan kanannya Mia adalah pisau yang biasa dipakai untuk mengiris roti tawar.
Violet melangkah mundur dan segera berbalik badan, berlari kencang dan berhasil masuk ke dalam lift. Violet menekan tombol lift bertuliskan B dengan tangan gemetar. Degup jantung dan keringat mulai muncul menguasai raganya Violet dan Violet ingin segera sampai di garasi mobil untuk bergegas masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah suaminya untuk meminta menyelamatkan dirinya sendiri dan kandungannya.
Di dalam lift, Violet terus mengelus perutnya dan terus bergumam, "Kuat ya, Nak! kita harus berjuang bersama hari ini"
Saat lift terbuka, Violet segera berlari menuju ke laci penyimpanan kunci dan segera melesat masuk ke dalam mobilnya. Violet berhasil keluar dari rumah suaminya namun, Gasa berhasil mengikutinya.
__ADS_1
Violet menjulurkan leher jenjangnya ke rear-mirror vision di mobilnya dan menjadi panik saat ia melihat mobil suaminya terus mengikuti ke mana pun mobil yang Violet kemudikan melaju di keramaian jalan raya yang super padat di pagi hari itu.