
Violet terbangun di keesokan harinya dengan tangan masih menggenggam kartu pos kiriman dari Mada. Violet menatap kartu pos itu lalu ia bangun, duduk di tepi ranjang dan ia membuka laci di bawah nakas. Ia taruh kartu pos itu di dalam sana. Kemudian Violet bergegas mandi untuk memulai berdinas. Hari kelima belas di bulan Maret, adalah titik awal di kembali berdinas di rumah sakit sebagai dokter spesialis penyakit dalam setelah vakum selama beberapa bulan karena, mengalami kekacauan mental yang cukup parah.
Violet sampai di ruang kerja prakteknya dengan sepqmat.dan memulai aktivitasnya memeriksa para pasien yang datang menemuinya dengan keluhan sakit di tubuh bagian dalam yang berbeda-beda sampai siang hari tiba. Kehamilannya menyebabkan dia mudah merasa lapar dan yang pertama kali dia lahap adalah mangga masam yang masih mentah yang sudah terkupas dan tertata apik di dalam tempat makan yang ia bawa dari rumah. Mangga pemberian dari dokter Bayu Darsono semalam terasa sangat enak mendarat di Indra pengecapnya.
Setelah mangga di dalam kotak makannya habis, dokter muda nan cantik itu membuka kotak makan berikutnya yang berisi nasi goreng karena memang hanya nasi goreng yang berhasil masuk sampai ke lambungnya tanpa mual. Makanan selain nasi goreng, tidak bisa ditolerir oleh lambungnya, baru makan sesuap saja maka Violet akan langsung merasa mual dan muntah-muntah tiada henti.
Setelah menghabiskan nasi goreng masakan Mama tercintanya, Violet membuka tumbler (gelas minum yang tinggi) yang terbuat dari plastik kualitas tinggi yang berisi susu untuk ibu hamil dengan rasa cokelat yang dingin karena, ditaruh di lemari es selama lima jam. Dan hanya susu untuk ibu hamil dengan rasa cokelat yang bisa masuk ke dalam tubuhnya tanpa rasa mual dan harus dingin.
Violet merapikan semua wadah bekal makan dan minumnya lalu ia bersandar di kursi kerjanya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit dengan senyum lebar. "Nak, udah kenyang belum? emm, kamu ingin makan apalagi? Mama akan carikan"
Tiba-tiba, Mira sahabatnya Violet yang masih setia bertugas di UGD sebagai dokter umum dan belum menikah itu, muncul di depannya Violet dan berkata, "Kau sudah makan siang?"
"Sudah" sahut Violet dengan kerutan di dahinya saat ia melihat Mira terengah-engah di depannya, "Kau habis berlari, ya?"
"Iya. Aku berlari karena, aku ingin makan kue waffle ini. Ini bikinanku sendiri. Cicipi ya?!"
Mira menaruh kotak makanan cukup besar berbentuk persegi panjang yang berisi kue waffle di depannya Violet
Violet tersenyum, "Maaf banget Mir, aku nggak bisa makan makanan selain nasi goreng, susu cokelat dan mangga saat ini. Kalau aku paksa cicipi sedikit aja, aku takut muntah. Muntah itu rasanya nggak enak banget, kau pernah mengalaminya juga kan walaupun kau belum pernah hamil?"
__ADS_1
Mira tersenyum, "Iya kau benar. Baiklah aku balik lagi ke.ruanganku" Mira mengambil kembali kotak makanannya yang berisi kue waffle itu tapi dengan segera Violet memeluk kota makanan itu dan sambil meringis ia berkata, "Aku akan coba memakannya nanti di rumah, hehehehehe. Kue bikinanmu, sangat sayang untuk dilewatkan"
Mira tertawa senang mendengar ucapannya Violet lalu ia menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruang prakteknya Violet.
Violet masukkan kotak makanan yang berisi kue waffle hasil karya sahabatnya, ke dalam tas kerjanya yang cukup besar. Violet membawa tas kerja yang cukup besar agar bisa membawa camilan yang berupa manisan buah kering seperti, manisan buah cermai, mangga dan salak Bali. Untuk camilan dengan rasa gurih, dia selalu membawa keripik kentang. Dan hanya kedua camilan itu yang bisa ditolerir oleh tubuhnya Violet dan tidak menimbulkan mual.
Violet melirik layar laptop ya di menit-menit terakhir jam istirahat makan siangnya akan berakhir. Dia melihat ada beberapa pesan masuk ke emailnya. Violet membukanya dan membalas satu persatu email itu yang kebanyakkan berasal dari pasien langganannya. Dan di email yang terakhir, Violet langsung menghentikan gerakan jari jemarinya di atas keyboard. Email terakhir itu berasal dari Mada. Email itu bertuliskan, *Hidup itu ibarat minum kopi. Jatuh cinta pun sama. Takarannya gak melulu pas. Kadang manisnya sangat berlebihan namun, seringkali pahit justru yang membalut lidah perasa kita. Nikmati saja hingga kau akan menjadi terbiasa. Aku menikmati rasa cintaku untukmu yang aku rasakan saat aku menikmati kopi di sini dan kutemukan rasa cintaku ini sama seperti kopi yang sering aku nikmati di sini.
Walaupun kadang terasa sangat pahit namun, tiada yang lebih nikmat mereguk cinta ini karena, tidak ada bagiku rasa cinta yang seunik ini di luar sana dan hanya ada rasa cintaku untukmu.
Aku rindu hari-hari di mana kamu bermanja-manja padaku, aku rindu senyumanku, sinar jernih di kedua bola matamu, merdunya tawa kamu dan manisnya bibir kamu.
Seringkali aku bermimpi di malam hari merengkuhmu* dari belakang dan aku belai rambutmu dan aku bisikkan lembut di telingamu, betapa aku sangat mencintaimu.
Yang selalu mencintaimu,
Mada Goh.
Violet membaca email dari Mada sambil terus meremas dadanya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan setetes pun air mata karena, lima menit berikutnya, ia akan berhadapan kembali dengan pasien-pasien berikutnya.
__ADS_1
Violet bergumam, "Kenapa dia sebodoh ini? Kenapa dia masih menyimpan cinta yang sia-sia ini? kenapa dia tidak melupakanku saja?"
Sementara itu, Mada memulai penyamarannya bersama dengan Deo di hari kedua dan di siang hari, CEO perusahaan tempat Mada dan Deo bekerja sebagai OB, memanggil Mada untuk datang ke ruangannya.
Mada muncul di depan CEO itu dan bertanya, "Ada apa Ibu memanggil saya?"
"Gantilah baju di sana!" Liu Yin nam CEO itu menunjuk ke sebuah ruangan yang terbuka lebar pintunya.
Mada mengikuti arah telunjuknya Liu Yin lalu menoleh ke Liu Yin, "Untuk apa saya berganti baju?"
"Aku sudah sediakan setelan baju mewah dan sudah menyediakan sebuah mobil sport mewah atas nama kamu. Untuk menunjang sandiwara kita sebagai sepasang kekasih. Aku nggak mungkin dong, berpacaran dengan seorang OB yang naik Bus umum dan tidak punya mobil, iya, kan?" Liu Yin tersenyum tipis ke Mada.
"Tapi ini kan hampir jam makan siang dan Anda biasanya makan di dalam ruangan ini kan, Bu?"
"Mulai hari ini dan sampai batas waktu yang belum ditentukan, kita berdua akan makan siang bersama di luar dan jangan khawatir akan cibiran dari kolega kamu karena, kita akan keluar melalui ruang khusus untuk CEO. Buruan ganti baju sana!"
Mada melangkah malas-malasan dan masuk ke ruang ganti baju, menutup pintunya dan mulai mengomel di dalam ruangan itu sembari ia berganti baju, "Kalau bukan karena, aku ingin mengetahui keberadaan Mama kamu, aku nggak sudi berkencan denganmu"
Mada keluar dengan mengenakan baju basic yang sederhana namun, terlihat mewah dan enak dipandang. Mada mendapatkan tepuk tangan dari Liu Yin dan Liu Yin segera berkata, "Ternyata kaos polos berwarna abu-abu, dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dengan panjang di atas mata kaki dan sepatu sneakers berwarna putih polos, membuatmu terlihat mewah dan juga ..........sangat tampan" Liu Yin berucap tampan sembari mengalihkan pandangannya karena dia bisa merasakan wajahnya merona dan ia tidak mau Mada melihat rona wajahnya itu. Liu Yin meraih tas tangannya lalu berjalan mendahului Mada sembari berkata, "Ikuti aku!"
__ADS_1
Mada bergegas mengikuti bos wanitanya dan di dalam lift khusus untuk CEO Mada berkata, "Sesuai dengan perjanjian kita kemarin ya, Bu!? Kita hanya akan makan siang atau makan malam bersama dan tidak memakai sentuhan fisik apalagi berciuman karena, saya sudah memiliki kekasih dan saya sangat mencintai kekasih saya itu dan........"
"Iya, iya! bawel banget sih kamu" sahut Liu Yin kesal karena, sesungguhnya Liu Yin mulai menyukai Mada Goh.