The Thing About Violet

The Thing About Violet
Violet Pulang ke Rumah Suaminya


__ADS_3

Tok, tok,tok.....Dan Violet langsung mendorong lalu menendang Mada sampai Mada terjatuh di atas lantai. Mada mendelik dan protes, "Kenapa ditendang sih, sakit nih"


"Sssttt! Ada orang di luar. Kau sembunyi dulu, cepat!" Violet berkata lirih ke Mada sembari bangun, ia merapikan rambut dan dressnya.


"Sembunyi di mana?" Mada bangkit sambil mengelus-elus pantatnya.


"Emm, di lemari baju"


Mada menoleh ke lemari baju, "Udah nggak muat masuk ke sana"


Tok,Tok,tok........Pintu kembali terketuk dan Mada langsung melesat ke kamar mandi saat Violet melangkah ke pintu dan berteriak, "Sebentar!"


Violet membuka pintu dan Deo langsung mengulas senyum di depannya Violet, "Aku butuh bantuanmu. Makanya aku balik ke sini lagi"


"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Violet sambil melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya.


"Kamu pandai melukis dan aku butuh bantuan kamu terkait dengan bakat kamu itu. Mada mana?" Deo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, "Tidur di kamarnya ya? kemarin kan dia tidur di kursi, kurang nyenyak pasti tidurnya"


"Emm, nggak. Mada nggak ada di kamarnya" Violet meringis canggung menyesali mulutnya yang telah berucap terlalu jujur.


"Hah? lalu Mada ke mana? dia nggak bisa pergi jauh karena, nggak ada mobil, kan?"


"Ah! dia ke pasar lagi" sahut Violet sembari merapikan rambutnya.


"Untuk apa?"


"Ah.....Untuk apa.....Emm, untuk menemui Ibu penjual dawet" Violet berucap asal.


"Kenapa menemui Ibu itu lagi?"


"Ah....itu....Emm, nggak tahu. Hehehehe" Violet meringis ke Deo.


"Okelah kalau begitu. Kita pergi sekarang? tapi, tunggu, Mada bawa kunci serep rumah, kan?"


"Bawa. Dia selalu bawa" ucap Violet dengan polosnya.


"Oke. Berarti aman kalau kita tinggalkan rumah ini dan menguncinya.


"Ah! hahahaha, iya benar. Aman" Violet tertawa aneh ke karena, sejujurnya ia kebingungan saat harus meninggalkan Mada sendirian dan terkunci di dalam.


Violet mengekor langkahnya Deo sembari sesekali menoleh ke belakang. Ia memprihatinkan Mada namun, ia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya ke Deo kalau Mada ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju ke kantor rahasianya Deo di mana seluruh timnya Deo sudah menunggu kedatangannya Deo, tiba-tiba mobilnya Deo di hadang mobil Jeep dengan lima orang bertubuh besar dan kekar di atasnya dan bersenjatakan senjata tajam.


"Kamu bawa uang atau kartu?" tanya Deo.


"Kenapa kau tanyakan itu?"


"Bawa nggak? cepat jawab!"


"Bawa. Aku nggak pernah meninggalkan dompetku ini" ucap Violet sambil menepuk saku dressnya.


"Kau segera pindah ke kemudi dan kunci pintunya begitu aku turun lalu segeralah meluncur ke bandara. Kau harus balik karena, di sini sudah tidak aman lagi"


Violet menganggukkan kepalanya dan melompat ke jok kemudi setelah Deo melompat turun dari dalam mobil. Violet segera meluncurkan mobil Deo untuk balik lagi ke rumahnya Mada bukannya ke bandara.


Violet menekan pedal gas mobil dalam-dalam dan sampai di rumahnya Mada lebih cepat. Violet membuka pintu dan Mada langsung nyerocos, "Tega banget kau tinggalkan aku dengan pintu terkunci dan......."


Violet menggenggam tangannya Mada lalu menarik Mada keluar, "Jangan banyak ngomong! ikut aku sekarang!" Violet kembali mengunci pintu rumahnya Mada lalu menyerahkan kunci mobil ke Mada, "Deo dalam bahaya. Kita harus segera menolongnya" Violet berkata sambil melesat masuk ke dalam mobil.


Mada pun segera masuk ke dalam mobil menyusul Violet dan melesatkan mobilnya Deo dengan kencang menuju ke lokasi di mana Deo dihadang oleh serombongan orang berbadan kekar dan bersenjatakan senjata tajam.


Sesampainya di Tempat Deo dikeroyok, Mada segera menoleh ke Violet, "Kau harus pergi dari sini dan langsung ke bandara. Kau harus pulang. Di sini sudah tidak aman lagi. Aku besok juga akan pulang untuk menemui Papaku. Kita bertemu lagi nanti"


Mada memegang pipinya Violet, "Dengar, di sini sudah tidak aman. Dan begitu aku keluar dari mobil ini, lompatlah ke kemudi dan pergilah ke bandara. Oke, Cinta?"


"Lalu kamu dan Deo?"


"Aku dan Deo laki-laki jadi nggak usah pikirkan kami. Kami akan naik taksi online untuk mengambil mobilnya Deo ke bandara nanti"


Mada berucap sambil melompat turun dari dalam mobil lalu menutup pintu mobil dan berkata, "Cepat pergilah!' Kemudian Mada.menutup pintu mobil dan berlari ke arah Deo yang sudah mulai terdesak.


Violet melompat ke jok kemudi dan langsung melesat ke bandara. Beberapa jam kemudian Violet telah berada di dalam pesawat.


Violet memutuskan untuk ke rumah papanya dari bandara karena ia masih malas pulang ke rumahnya. Tiga hari pergi dari rumahnya masih belum cukup untuk mengobati rasa sakit hatinya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh suaminya.


Galvin memekik senang melihat kedatangannya Violet. Setelah mandi, Violet bergabung dengan Galvin di meja makan dan di sana, sebelum memakan hidangan makan malam yang sudah disediakan, Violet menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya Galvin.


Setelah mampu menguasai gemuruh hebat yang ada di dalam dadanya, Violet berkata dengan lemas, "Mas Gasa selingkuh sedari aku dan Mas Gasa masih. berpacaran dan hubungan mereka terus berlanjut sampai aku menikah. Lalu, wanita itu hamil dan Mas Gasq sudah menikahinya"


"Aku sudah tahu itu" Sahut Galvin.


"Hah?!" Violet ternganga kaget mendengar ucapannya Galvin.

__ADS_1


"Apa kau juga sudah cerita sama Mama dan Papaku?"


Galvin menggelengkan kepalanya, "Aku pikir kurang tepat jika aku yang bercerita. Aku rasa kamu harus menceritakannya sendiri ke Mama dan Papa kamu secepatnya dan ceraikan Gasa karena dia bukan lelaki yang baik untukmu"


"Tapi, cerai? Apa aku yakin bisa menjalani hari-hariku sebagai seorang janda? apa aku bisa menghadapi keluarga kita? masyarakat sekitar? partner bisnisnya Papa? kolegaku?" Violet menatap Galvin dengan sorot mata penuh keputusasaan.


"Dengarkan aku! Kesalahan Gasa bukan cuma soal selingkuh dan menghamili wanita lain. Gasa juga yang sudah menyabotase pesawat Papa kamu" Galvin memegang tangannya Violet.


Hah?!" Violet kembali ternganga dan terhenyak lemas di sandaran kursi makan.


Galvin masih memegang tangannya Violet dan berkata, "Kau yakin masih bisa hidup satu atap dengan orang macam Gasa?"


Violet mengepalkan kedua tangannya, "Aku harus balik ke rumah dan membawa polisi untuk menangkapnya"


"Jangan dulu! bukti yang aku dapatkan masih belum cukup. Aku masih butuh rekaman pengakuan langsung dari Gasa karena yang aku dapatkan masih pengakuan terselubung dari Gasa tapi aku yakin dia pelakunya. Coba dengarkan!"


Violet mendengarkan rekamannya Galvin dan ia menganggukkan kepalanya sambil menatap Galvin ia berkata, "Kamu benar. Kalau begitu, aku harus pulang untuk membuat Mas Gasa mengakui perbuatannya dengan tidak sadar"


"Bagaimana caranya? Dan kau yakin kuat untuk tinggal serumah dengan seorang pelakor?"


"Hei! aku seorang Elruno. Aku harus kuat. Aku akan makan lalu pulang ke rumahnya Mas Gasa"


"Aku akan antarkan kamu" sahut Galvin.


"Hmm. Makasih" Violet tersenyum ke Galvin.


"Lalu soal perceraian kamu?"


"Aku akan pikirkan nanti sambil jalan" sahut Violet sembari mengunyah makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya.


"Aku akan katalan ke Gasa nanti kalau kamu tidak pergi dengan Mada selama.ini tapi, kamu aku sembunyikan" sahut Galvin.


"Kau juga tahu kalau aku pergi dengan Mas Mada?" Violet menoleh kaget ke Galvin.


"Iya dong Galvin" Galvin terkekeh di depannya Violet.


"Wah Brother! kau patutnya ambil jurusan yang sama.dengan Kak Barnes bukannya ambil kedokteran, hahahaha"


"Profesi dan hobi itu harus dibedakan. Aku senang berprofesi sebagai seorang dokter tapi aku hobi menyelidiki sesuatu" Galvin tersenyum lebar ke Violet dan Violet langsung tergelak geli.


Beberapa menit kemudian, Galvin mengantarkan Violet pulang ke rumahnya Gasa.

__ADS_1


__ADS_2