
Satu bulan kemudian, Mada mendarat di bandara dengan selamat dan wajah ceria karena, ia bisa menginjakkan kakinya kembali di atas tanah airnya. Dia bisa bersantai sejenak lepas dari penyamarannya dan kembali memakai nama aslinya dan yang melebihi itu semua, keceriaannya terus terlukis di wajah tampannya karena, ia akan segera menemui Violet.
Mada menelepon Galvin saat ia.sudah berada di dalam mobil bersama dengan asisten pribadinya, "Vin, Vio ada di mana sekarang?"
"Kenapa mencari Vio? emangnya kau ada di mana? berbulan-bulan nggak ada kabar beritanya, kok tiba-tiba nyari Violet?" dengus Galvin kesal.
"Aku di Indonesia" sahut Mada dengan nada riang gembira.
Galvin yang sudah berdinas menjadi dokter jiwa di rumah sakit jiwa tempat Gasa dirawat, tersentak kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya saat ia mendengar Mada berkata ada di Indonesia, "Kamu serius nih?"
"Iya. Aku ingin menemui Violet. Aku sangat merindukannya" sahut Mada.
"Violet jam empat tadi pulang ke rumah lalu pergi lagi pamitnya sih ke rumahnya Gasa karena, ada calon pembeli yang berminat melihat-lihat rumahnya Gasa"
"Rumah Gasa dijual?" tanya Mada.
"Iya. Gasa yang memintanya karena, rumah itu menyimpan kenangan buruknya akan Mia" sahut Galvin.
"Oh iya! bagaimana kabarnya Mia?" tanya Mada.
"Mia akhirnya meninggal dunia tanpa sempat meminta maaf pada.siapa saja yang pernah ia singgung terlebih pada Violet. Semoga jiwanya tenang di alam baka sana" sahut Galvin.
"Aku ikut prihatin mendengarnya"
"Oke aku akan menemui Violet dengan memakai masker dan topi karena, aku nggak ingin ada orang yang melihatku menemui Violet dan akan menyeret Violet ke dalam bahaya"
"Kalau kau tahu menemui Violet akan membahayakan kamu dan Violet, kenapa kamu nekat ingin menemui Violet? tunggu aja sampai pembunuh Mama kamu tertangkap!" sahut Galvin.
"Aku tak kuasa menahan rindu, Bro. Benar kata para pujangga, kalau rindu itu menyesakkan dada dan kita nggak bisa bernapas dengan lega sebelum kita menemui kekasih hati kita, hehehehe"
"Dasar gila! oke lah temui saja kekasih hati kamu itu tapi, harus tetap berhati-hati dan waspada" sahut Galvin.
__ADS_1
Mada akhirnya sampai di depan gerbang kediaman mewahnya Gasa Aefar. Dia segera mengenakan topi dan masker lalu melangkah keluar dari dalam mobilnya. Asisten pribadinya Mada menunggu di dalam mobil.
Mada melangkah masuk dan semacam dejavu, ia melihat Violet berdiri di bawah pohon dan melamun di sana. Sebuah papan besar bertuliskan Rumah Dijual dan nomer ponselnya Violet masih tertancap di halaman rumah itu, berarti rumah itu belum laku.
Mada mendekati Violet dan langsung bertanya, "Rumah ini dijual, kan?"
Violet sontak menoleh ke asal suara dan berucap, "Ya, dijual" Violet lalu membasahi bibirnya yang mulai terasa kering karena, tanpa ia sadari, ia telah lama berdiri dan melamun di halaman rumah suaminya, tepatnya di bawah pohon.
"Mengapa Anda bersembunyi di balik pohon?" tanya Mada sambil terus menatap Violet dari balik topinya.
"Saya ridak bersembunyi. Saya cuma merasa lelah dan butuh menghirup lebih banyak udara segar di luar sini" sahut Violet.
"Anda pemilik rumah ini atau makelar rumah?" tanya Mada.
Violet tidak mengenali Mada karena Mada memakai topi dan masker.
"Saya pemilik rumah ini. Lebih tepatnya, istri dari pemilik rumah ini"dengan sikap agak angkuh.
"Iya, Anda benar? Dan Anda?" sahut Violet.
Mada mengeluarkan kartu nama dengan nama samarannya.
Violet menerima kartu nama itu lalu membacanya, Tuan, Johny Prastowo? Anda datang dari Negeri Gajah Putih, Thailand?"
"Iya Anda benar. Apa saya boleh melihat-lihat ke dalam rumah?" tanya Mada tanpa melepas topi dan Maskernya. Mada akan melepas topi dan maskernya setelah ia membawa Violet masuk ke dalam rumah.
"Anda naiklah dulu ke atas!" perintah Violet.
Mada melangkah naik mendahului Violet dan Violet mengamati cara berjalannya pria itu menaiki tangga serambi muka dengan perlahan dan tenang, membuat Violet jadi ragu-ragu apakah pria itu bersungguh-sungguh ingin membeli rumah suaminya.
Ada terbersit sedikit rasa takut di hati Violet karena, ia hanya seorang diri kala itu dan rumah itu sepi. Namun, dia adalah seorang Elruno, yang dapat dengan mudahnya menepis segala rasa takut.
__ADS_1
Violet memasukkan anak kunci ke lubang kunci lalu membuka pintu depan rumah itu, "Silakan masuk!" ucap Violet sambil menyalakan lampu.
Alih-alih melangkah menuju ke tengah ruang tamu, pria itu justru membelokkan langkah dan berdiri tegap menjulang tinggi di depannya Violet dan berkata dengan suara parau menahan kerinduan, "Tolong tutup pintunya!"
"Ke....kenapa? kau mau apa?" Violet tersentak kaget mendapati sikap laki-laki itu mulai terasa mengganggu dan yang paling menganggu adalah cara lelaki itu berjalan mendekatinya. Violet bergerak mundur hingga punggungnya menempel rapat di kayu pintu depan.
Mada lalu menutup pintu itu saat ia sudah berdiri begitu dekat dengan Violet. Lalu ia kunci pintu itu.
Violet bisa merasakan panas tubuh lelaki itu dan dadanya mulai berdegup kencang, dia berkata lirih, "Jangan sakiti saya! saya sedang hamil"
Lelaki itu tergelak pelan dengan suara serak dan membuat Violet merinding. Mada segera melepas topi dan maskernya lalu menunduk dan berucap, "Jangan takut dan buka mata kamu! Ini aku, Cinta"
Violet membuka kedua bola matanya dengan ragu lalu mengangkat wajahnya dan langsung bernapas lega. Violet terisak sambil terus memukul dada bidangnya Mada.
Mada terkekeh pelan lalu ia menangkap kedua tangannya Violet, ia tarik tangan itu dan ia segera memeluk Violet. Mada mencium wangi rambutnya Violet yang sangat ia rindukan lalu berkata, "Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak pernah membalas semua Emailku?"
"Tidak ada gunanya membalas email kamu" ujar Violet tenang.
Mada masih mendekap Violet karena, ia lihat Violet nyaman berada di dalam pelukannya. Lalu Mada berucap setelah ia menghela napas panjang, "Apa kau tidak merindukan aku?"
"Tidak ada gunanya juga merindukan kamu. Aku ini istri orang, Mas. Ingatlah itu dan lupakan aku!" sahut Violet.
"Kau bisa menceraikan Gasa. Kenapa kau tidak menceraikannya?"
"Aku mengandung anaknya Mas Gasa, Mas. Kau lupa itu?"
"Aku bersedia menjadi papa dari anak yang kau kandung. Aku akan menyayangi anakmu dengan sepenuh hatiku" Mada mengelus perut buncitnya Violet.
Violet melepaskan diri dari pelukannya Mada dan langsung mundur satu langkah.
Mada menatap Violet, ia kembali melangkah maju untuk mencium keningnya Violet lalu ia pakai kembali topi dan maskernya dan berkata, "Aku di Indonesia cuma seminggu. Aku tunggu jawabanmu. Minggu depan datanglah ke kafe Bintang yang ada di dekat rumahmu, aku menunggumu" lalu Mada membuka pintu dan berlari menuruni anak tangga lalu lenyap dari pandangannya Violet.
__ADS_1