
Selesai menyusui Adam, putra kecilnya, Violet yang masih duduk di atas kursi roda, kembali didorong oleh suaminya menuju ke kamar rawat inapnya.
Mada membopong Violet dan merebahkan tubuh ramping istrinya yang masih lemah itu di atas bed rumah sakit, lalu mencantolkan botol pada tempatnya. Lalu ia duduk di tepi ranjang, tersenyum ke Violet dan bertanya, "Kau menginginkan apa? kau tidak suka makanan dari rumah sakit, kan? masih suka nasi goreng dan es susu cokelat? atau mangga muda yang dipetik dari pohonnya langsung?"
Violet menepuk dada suaminya dan sambil terkekeh geli ia berucap, "Aku udah nggak ingin makan semua itu sejak Adam lahir di beberapa menit yang lalu. Emm, aku coba makan apa yang ada aja" Violet lalu bangun dan bersandar pada bed. Mada langsung menumpuk bantal dan guling agar istrinya nyaman bersandar. Kemudian Mada mengambil piring dari atas nampan, membuka plastik transparan yang membungkus piring itu lalu menunjukkannya ke Violet, "Ada omelet dan rolade daging ayam. Ini semua kesukaanmu, kan?" Violet tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
Mada tersenyum, mengecup keningnya Viilet lalu berkata, "Aku suapi, ya?"
Violet menganggukkan kepalanya dan terus tersenyum cantik untuk suami tercintanya yang memiliki hati tulus, polos, dan ikhlas.
Mada berkata, "Mamaku udah tenang di Surga sana. Aku baru saja dapat kabar dari Deo kalau pembunuhnya Mamaku, dijatuhi hukuman mati. Minggu depan, pembunuh kejam itu, akan menghadapi hukuman tembak di tempat"
Violet mengelus dadanya Mada, "Syukurlah Mas, aku senang karena kamu sudah bisa merasa damai dan tenang saat ini"
Mada menghela napas, "Sebenarnya nggak sepenuhnya merasa damai dan tenang juga karena........." Mada menatap lekat kedua bola mata indah miliknya Violet yang mampu menghipnotis semua pria normal di muka bumi ini. Mada merasa ragu untuk mengatakan ke Violet kalau pembunuh mamanya adalah Mama kandungnya Gasa Aefar dan Mada ragu mengatakan kepada Violet kalau sebenarnya, Gasa adalah kakak tirinya.
"Karena apa, Mas? kok nggak diteruskan?" Violet menelan makanan yang sudah selesai ia kunyah di dalam mulutnya.
"Karena pembunuh itu adalah Mama kandungnya Gasa Aefar dan Gasa Aefar sebenarnya adalah kakak tiriku. Gasa dan aku, satu Ayah beda Ibu" Mada meletakkan piring di atas nakas tanpa mengalihkan pandangannya dari dua bola mata indahnya Violet.
"Hah?!" Violet seketika itu, menarik rahang bawahnya.
"Hmm, itu benar, sayang. Maaf jika aku baru bisa mengatakannya ke kamu karena, aku nggak mau kamu terbebani. Aku hanya ingin melihat senyuman dan tawa di wajah kamu, aku nggak ingin melihat awan mendung menggantung kembali di wajah dan dia bola mata kamu yang indah itu"
__ADS_1
Violet tersenyum lalu mengelus pipi Mada sembari berkata, "Sejak kapan Suamiku ini menjadi seorang penyair? Kata-kata kamu barusan sangat indah Mas dan bikin aku merinding"
Mada terkekeh lirih lalu berkata sambil memegang tangannya Violet yang masih menempel di pipinya, "Sejak aku mengenalmu. Sejak aku mencintaimu karena, sejak itulah aku mulai melihat dunia dengan perspektif lain. Cintaku ke kamu membuatku memandang dunia itu indah dan menatap masa depan itu penuh dengan harapan"
"Mas, cukup! Bisa pingsan aku mendengar kata-kata puitis dari kamu. Dan aku hanya bisa membalas kata-kata puitis kamu dengan kata, aku mencintaimu"
Mada lalu menarik tengkuknya Violet dan mencium bibir Violet dengan penuh cinta, rasa syukur dan kebahagiaan yang berlimpah.
Mada lalu menarik bibirnya dari bibir Violet dan menempelkan keningnya di atas kening istri cantiknya itu sambil berucap, "Apa kau juga takut padaku setelah tahu kalau aku adik tirinya Gasa Aefar?"
Violet mendorong Mada. Kemudian perempuan cantik yang memiliki banyak kemiripan dengan Melati sang nenek itu, menatap Mada dengan wajah panik dan bingung, Violet tiba-tiba menjadi teringat dengan sosok pria asing yang dia temui di Mall.
Mada menatap Violet dengan wajah sedih, "Kau takut padaku ya, setelah tahu aku adik tirinya Gasa Aefar?"
"Bukan Mas, bukan itu. Dengar!" Violet menangkup kedua pipinya Mada, "Aku tidak pernah takut padamu karena kamu sangat jauh berbeda dengan Mas Gasa tapi, ada keraguan yang ingin aku sampaikan ke kamu, Mas"
"Aku pingsan di mall, kan?"
Mada menganggukkan kepalanya, "Iya. Apa yang kau lihat, sampai kau ketakutan seperti itu?"
"Mungkin ini terkesan aneh dan mungkin kau akan berpikir kalau aku berhalusinasi tapi, aku melihat sosok pria asing yang postur tubuh, bola mata, tatapan mata dan suaranya mirip banget dengan Mas Gasa"
"Hah!? Kamu serius?" Mada langsung menggenggam tangannya Violet.
__ADS_1
"Aku serius. Wajah pria itu berbeda dengan Mas Gasa tap anehnya, aku yakin banget kalau dia Mas Gasa, mantan suamiku, Papa kandungnya Adam dan........." Violet mulai bergetar seluruh badannya dan ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Mada langsung memeluk istrinya, mengelus punggung istrinya dan berkata, "Tenanglah! Kamu masih lemah habis bersalin jadi, jangan Bebani pikiran kamu dengan yang aneh-aneh"
Violet kemudian terisak dan berkata, "Di....dia, pria asing itu, menunjuk perutku dan berkata itu anakku......Kar.......karena itulah aku ketakutan. Bagaimana kalau dia menemuiku dan membawaku pergi? bagaimana kalau dia membawa Adam dan ........"
"Sssttt! udah tenanglah! Tidurlah ya! Aku akan menjagamu dan melindungimu dua puluh empat jam. Adam juga pasti akan berada di ruang PICU VVIP karena, dijaga oleh petugas medis selama dua puluh empat jam penuh" Mada mengusap-usap keningnya Violet setelah ia merebahkan Violet di atas kasur, "Tidurlah! aku akan terus berada di sampingmu"
Setengah jam kemudian, Violet tertidur dan saat Mada bangkit dan memutar badan, ia terkesiap. Elmo Elruno berdiri tegap di depannya Mada dan Elmo berucap, "Gasa Aefar memang masih hidup"
"Hah?! Papa nggak bercanda, kan?"
"Aku nggak bercanda" Elmo berucap sembari duduk di atas sofa, "Aku sudah dengar semua yang dikatakan Violet tadi. Dan aku yakin yang ditemui Violet adalah Gasa Aefar" Elmo melipat tangan saat Mada duduk di depannya.
"Apa yang harus kita lakukan, Pa?"
"Papa sudah memikirkan cara begitu Violet melahirkan. Papa tahu karakter dari psikopat. Dia selalu mengejar dan mencari keturunannya. Untuk itu, Papa menyuruh Ivan Goh, Papa kamu, memancing Gasa ke sini dengan kabar bahwa anaknya udah lahir" ucap Elmo dengan santainya.
"Hah?!" Mada tanpa sadar memekik kencang dan ia langsung menutup mulutnya sambil menoleh ke belakang karena ia tidak ingin Violet terbangun. Mada kembali menatap papa mertuanya saat ia melihat Violet masih nyenyak tertidur.
Mada lalu memajukan wajahnya dan berkata dengan nada setengah berbisik, "Pa, apakah itu tidak berbahaya untuk keselamatannya Adam dan Violet?"
"Papa adalah seorang Ayah dan Kakek, mana mungkin Papa membahayakan keselamatannya Adam Polisi sudah berjaga dengan menyamar sebagai petugas medis di ruang depan rumah sakit ini dan juga menyamar sebagai petugas medis di ruang PICU bersama dengan petugas medis yang asli jadi, tenang saja!" sahut Elmo.
__ADS_1
Mada langsung meraup kasar wajahnya dan berdoa semoga Gasa bisa dibekuk tanpa membahayakan nyawanya Adam.
Pancingannya Elmo dan Ivan membuahkan hasil. Gasa Aefar dengan wajah barunya, muncul di rumah sakit itu untuk menemui Papa kandungnya. Ivan Goh yang berpura-pura mendukung dan hendak membantu Gasa bertemu dengan anaknya Gasa yang baru lahir, berdiri tegak, menanti kedatangan putranya.