
Mada membopong Violet sembari melangkah lebar untuk masuk ke dalam bangunan tempat ia tinggal dan Ratna yang tengah berdiri di bangunan yang satunya, langsung berlari mendekati Mada dan bertanya, "Cantik banget" Ratna mengimbangi langkahnya Mada sambil berjinjit-jinjit untuk melihat wajah wanita yang berada di dalam dekapannya Mada, "Siapa dia? kenapa kau bawa ke sini?"
Mada diam saja dan menoleh ke Ratna ketika ia telah sampai di depan pintu kamarnya, "Bisa tolong bukain pintunya?" Ratna membuka pintu kamarnya Mada dengan wajah ditekuk. Ratna kesal karena, pertanyaannya diabaikan oleh Mada.
Mada bergegas menuju ke ranjangnya dan merebahkan Violet di atas kasur busanya dengan hati-hati dan penuh dengan perasaan sayang. Mada lalu berdiri tegak dan menatap Ratna yang masih menatapnya dengan kesal. Mada bertanya ke Ratna, "Kenapa muka kamu jadi jelek kayak gitu?"
"Aku tanya siapa wanita itu, kenapa nggak kamu jawab?"
Mada lalu memegang kedua bahunya Ratna, memutar badannya Ratna ke arah pintu dan mendorong paksa tubuhnya Ratna keluar. Kemudian Mada berdiri di depan pintu setelah ia menutup pintu kamarnya, "Dia yang namanya Cinta"
Deg! jantung Ratna berdegup kencang karena cemburu. Ratna diam mematung tapi terus menatap Mada.
"Kembalilah ke tempatmu! aku masih banyak kerjaan"
"Tapi, kau akan sekamar dengan dia? kau akan........."
"Tentu saja nggak. Aku akan tidur di sofa ruang tamu malam ini" Mada menyentil pelan dahinya Ratna lalu berkata, "Dia adalah istri orang, aku harus jaga martabat dia"
"Hah?!" Ratna memekik kencang dan Mada langsung membungkam mulutnya Ratna dengan telapak tangannya, "Sssttt! jangan berisik! dia butuh banyak istirahat"
Ratna menepis tangannya Mada dan mendelik sambil mundur dan melipat tangannya, "Kamu membawa lari istri orang? Apa kau sudah gila?"
"Sejak awal aku jatuh cinta padanya, aku memang sudah gila" sahut Mada dengan nada ringan tanpa rasa bersalah.
"Bagaimana dengan suaminya? di mana kau bertemu dengan Cinta, dan kenapa kau bisa bertemu dengannya? apa dia sendirian, tidak bersama dengan suaminya?" Ratna memberondong Mada dengan semua tanya yang ada di benaknya.
Mada tersenyum lalu berkata, "Kasih tahu nggak ya?"
"Mada!" Ratna kembali memekik karena kesal.
"Ssstt!" Mada menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri dan melotot ke Ratna, "Jangan berisik!"
"Tapi Mada kau menyebalkan! kau tidak jawab semua pertanyaanku tadi. Lalu gimana kalau suaminya mencarinya?" Ratna melirihkan volume suaranya.
"Suaminya tidak akan mencarinya, suaminya tidak akan pulang ke rumahnya malam ini jadi saat aku temukan Cintaku pingsan, aku langsung berinisiatif membawanya ke sini dan jangan banyak tanya lagi! kau akan pusing sendiri nanti kalau tahu ceritanya" Mada lalu melangkah ke mobil untuk mengambil tas kerjanya. Ratna masih mengekor Mada dengan diam-diam.
Mada berbalik badan setelah ia menenteng tas kerja dan mengunci pintu mobilnya lalu tersentak kaget saat ia hampir saja menabrak Ratna, "Kenapa kau masih mengikutiku? kembalilah ke tempatmu!"
"Aku tidak percaya padamu. Jadi malam ini, aku akan tidur menemani putri tidur kamu" Ratna tersenyum lebar ke Mada.
__ADS_1
"Hah?!" Mada langsung menurunkan rahang bawahnya.
"Hmm! ide bagus kan" Ratna langsung berputar badan lalu berlari masuk ke gedung tempat Mada berteduh dari hujan dan panas. Mada hanya bisa menghela napas panjang dan bergumam, "Yeeaahh, suka-suka kamu lah" lalu Mada melangkah masuk, menuju ke sofa dan mulai membuka laptop di sana.
Gasa pulang ke villa tempat ia menyembunyikan Mia kekasih gelapnya dengan kesal. Ivan Goh papa kandungnya menamparnya dengan sangat keras saat tahu pesawat pribadinya Elmo Elruno meledak di udara dan Jelita Adijaya Elruno ada di dalamnya
Gasa masih merekam dengan jelas wajah papa kandungnya yang merah padam karena amarah dan masih mengingat dengan jelas ucapan papa kandungnya, "Kenapa kau mencelakai Lili? aku tidak menyuruhmu mencelakai Lili, dasar bodoh! aku hanya menyuruhmu menghancurkan putrinya Elmo supaya hatinya Elmo hancur seperti yang aku rasakan saat Elmo merebut Lili dariku tapi, sekarang apa? kau bunuh mereka semua, dasar bodoh!"
Gasa memukul-mukul kemudinya dan bergumam kesal, "Berarti Papa hanya mencintai Lili di hidupnya. Dia tidak pernah mencintai aku, Mamaku, Mada maupun Mamanya Mada selama ini. Dasar brengsek! tapi sialnya, aku sangat menyayangimu Pa dan aku selalu ingin bisa menjadi kebanggaanmu tapi, kenapa Papa justru membentak, menampar, dan menyalahkan aku?" Gasa kembali memukul kemudi mobilnya.
Sesampainya di villa, dia segera ke kamar dan memeluk tubuhnya Mia. Tangannya mengelus perutnya Mia yang sudah semakin membuncit karena kehamilannya Mia sudah masuk bulan kelima.
Mia terbangun lalu memutar badan dan tidur miring berhadapan dengan kekasih hatinya, "Kenapa pulang lagi ke sini? bagaimana dengan istri kamu?"
"Aku merindukanmu dan anakku yang ada di dalam kandunganmu. Besok aku akan bawa kau ke kantor catatan sipil, kita akan menikah di atas kertas dulu, resepsinya menyusul setelah semuanya mereda. Kau tidak keberatan kan?" tanya Gasa sambil terus mengelus perut buncitnya Mia.
Mia mencium dahinya Gasa lalu tersenyum dan berkata, "Aku tidak keberatan. Tapi setelah kita menikah, apa kau akan menceraikan istrimu?"
Gasa menggelengkan kepalanya, "The thing about Violet, membuatku tidak bisa berhenti mencintainya. Aku sejujurnya sangat mencintainya namun, entah kenapa aku justru sering menyakitinya" Gasa bergumam lirih lalu lambat laun tapi pasti, Gasa memejamkan kedua matanya dan dengan cepat dia tertidur.
Mia mendengus kesal dan bergumam, "Sial! aku sudah hamil anakmu tapi tetap saja kau hanya berkata cinta untuk Violet. Lihat aja, Violet aku akan membuat hidupmu lebih menderita dari apa yang aku alami"
Mada merekatkan kedua tangannya lalu ia dorong kedua tangannya ke depan lalu ke atas. Kemudian dia merebahkan diri di atas sofa setelah ia menutup laptopnya. Mada menatap langit-langit di ruang tamu dan kembali mengalami insomnia. Mada memikirkan banyak hal di otaknya sehingga membuat otaknya lupa memerintahkan matanya untuk terpejam.
Keesokan harinya, Galvin dan komandan kepolisian temannya Elmo bertemu di hotel The Rain, mereka menyusun rencana sebelum mereka pergi ke rumahnya Gasa.
Sedangkan di kediamannya Mada, terjadi huru-hara di pagi hari. Violet menjerit keras saat ia menemukan ada wanita muda tidur di sebelahnya. Mada yang tengah memasak nasi goreng segera mematikan kompor dan berlari ke kamarnya. Dia mengetuk pintu kamarnya dan bertanya, "Ada apa? aku boleh masuk?"
Ratna berteriak, "Masuklah!"
Mada membuka pintu dengan pelan lalu masuk dan langsung bersitatap dengan Violet. Mada tersenyum ke Violet, "Syukurlah kau baik-baik saja"
"Kau tidak tanya kabarku? aku kaget dengar teriakannya dan kau hanya peduli dengan keadaannya?" Ratna berkata sambil mendengus kesal lalu bangun dan duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut karena, ia masih sangat ngantuk.
Mada mengarahkan pandangannya ke Ratna dan langsung melotot ke Ratna.
"Kenapa aku bisa di sini? ini rumahmu?" tanya Violet dengan wajah tegang dan tubuh mematung karena, bingung. Violet masih belum bisa mencerna dengan baik keadaan yang ada di sekelilingnya saat itu.
Mada menganggukkan kepalanya, "Maaf aku terpaksa membawamu ke sini semalam karena kamu pingsan dan aku........."
__ADS_1
"Aku harus pulang secepatnya. Jam berapa ini?" Violet melihat jam di dinding sambil bangun lalu bangkit dan menghela lega karena, jam masih menunjukkan pukul empat pagi.
Mada yang masih berdiri tegak di depan pintu langsung melangkah hendak membantu Violet berjalan namun Violet segera memekik, "Jangan dekati aku! istrimu itu bisa cemburu nanti. Dan apa kabarnya istri kamu yang satunya lagi? dasar Playboy tengik"
Ratna menatap Mada dengan wajah kaget dan Mada hanya bisa menghela napas panjang sambil meraup kasar wajah tampannya lalu ia berkata, "Dia bukan.......dan istriku yang satunya? yang mana?.......... ah sial! itu bukan seperti yang kau ........"
Violet berdiri di depannya Mada persis lalu ia berkata dengan sorot mata penuh kebencian, "Aku tidak peduli dengan hidupmu dan aku tegaskan padamu aku tidak akan pernah lagi memercayai semua omonganmu dan jangan mengikuti aku lagi! Jangan muncul di depanku lagi! minggir!" Violet mendorong tubuhnya Mada untuk minggir lalu ia melangkah lebar keluar dari dalam kamar itu.
Sesampainya di teras depan, ia mencari mobilnya dan tidak ia temukan. Violet mendengus kesal lalu melangkah ke dalam kembali sambil berteriak, "Di mana mobilku?!"
Mada keluar dari dalam kamar dan berhadapan kembali dengan Violet, "Ijinkan aku mengantarmu"
"Di mana mobilku?" Violet mulai menggeram kesal.
"Hei Nona! kau ditolong oleh Mada, kenapa kau tidak berterima kasih tapi justru........"
Mada menyentuh pundaknya Ratna dan Ratna langsung terdiam dengan wajah kesal. Lalu Mada berkata dengan nada penuh dengan kesabaran, "Mobilmu sudah dibawa pulang ke rumah suamimu oleh Edo semalam"
Violet menghunus tatapan tajam ke Mada, "Baiklah! aku akan panggil taksi online kalau gitu" Violet berputar badan dan menuju ke teras depan kembali sambil memesan taksi online. Violet menunggu taksi online di depan gerbang kediamannya Mada.
Mada menyusul Violet dan berdiri di samping kirinya Violet, "Ijinkan aku mengantarmu?! Ini masih sangat pagi. Atau sarapan dulu, aku udah masak nasi goreng dan......."
"Kau harus menjaga jarak dariku!" sahut Violet sambil menoleh kesal ke Mada.
Mada melompat ke samping kiri sebanyak dua kali.
Violet mendelik ke Mada, "Bukan jaga jarak ala pocong gitu yang aku maksud"
Mada berkata, "Kenapa pocong sih? banyak karakter yang bisa melompat selain pocong. Kenapa tidak kau sebut kayak tupai atau kelinci yang lebih manis? kenapa malah pocong? hiks hiks, hiks" Mada memasang wajah mewek di depannya Violet
Violet langsung mengalihkan pandangannya ke depan saat bibirnya tanpa ia sadari tertarik membentuk sebuah senyuman. Lalu ia mengulum bibir untuk menahan senyumannya itu di saat sense of humornya tergelitik terkena sentilan guyonannya Mada sambil terus menatap ke arah depan.
Mada membungkukkan badannya dan bertanya, "Kau tersenyum ya?"
Violet menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke Mada dan Mada kembali berkata, "Iya kamu tersenyum. Aku tahu kau tersenyum walaupun tersembunyi tapi aku sudah terlanjur menangkap senyum kamu tadi"
Violet tidak menghiraukan ocehannya Mada dan tetap menatap ke arah depan dan langsung masuk kedalam taksi online begitu taksi online telah siap depannya, tanpa pamit ke Mada.
Mada hanya bisa menghela napas panjang menatap kepergiannya Violet dan bergumam, "Sekeras apapun kamu menolakku maka sekeras itu pula, aku akan tetap mengejarmu"
__ADS_1
Violet menoleh ke belakang. Entah kenapa, hati kecilnya merasa tidak rela ia pergi meninggalkan Mada.