
"Baik Mas, aku akan ikut pulang sama Mas" sahut Violet.
"Hei! hello everybody! aku baru sampai dan koperku aja belum sempat aku bongkar. Kok kalian mau pulang?' Galvin menoleh ke Violet lalu ke Mada.
"Kalau kamu masih mau di sini itu kan terserah kamu, kenapa tergantung pada.kami?" Violet berkata sambil melangkah menuju ke kamarnya. Galvin mengikuti langkah Violet dan Mada langsung menarik kerah belakang bajunya Galvin dan bertanya, "Kau mau ke mana?"
Galvin memutar badan, "I want to talk to my sister, tentu saja aku akan mengikutinya, ke kamarnya"
"Nggak boleh! Big No!" Mada berkata sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan Galvin.
Galvin langsung mendelik, "What!? but Why?! she is my sister"
"Kalian beda gender. Dia cewek, kamu cowok dan aku nggak suka seorang cowok masuk ke kamar pacarku, titik" Mada berucap tegas sambil menarik ujung jaketnya Galvin, dia memaksa Galvin untuk mengikutinya.
Mada.mengajak Galvin masuk ke kamarnya, "Aku yakin kamar kamu belum disiapkan jadi, kalau kamu masih belum mau pergi dari sini, kau bisa menempati kamar ini setelah aku balik ke Indonesia. Tunggu di sini sampai aku selesai berkemas dan jangan ke kamar kakakmu!"
"Yeeeaahhh! kau menjengkelkan" Galvin duduk di tepi ranjang dengan kesal.
"Siapa nama Papa dan Mama kamu?" tanya Mada.
"Celyn dan Gideon. Kenapa kau tanyakan itu?" Galvin menoleh ke Mada yang tengah memasukkan baju yang baru Mada beli bersama dengan Violet di hari pertana mereka sampai di Tiongkok ke dalam koper yang baru ia beli juga bersama dengan Violet setelah ia selesai ditato karena, ia dan Violet tidak membawa baju ataupun koper sewaktu mereka memutuskan pergi ke Tiongkok.
"Aku kira nama Mama kamu, Chery" sahut Mada acuh tak acuh.
"Chery itu Budheku. Budhe Chery sekeluarga tinggal di Amerika sekarang" ucap Galvin. "Hei! Bagaimana kau bisa tahu soal Budheku?"
"Aku pernah mendengar dari seseorang kalau Chery, pernah menolong Mamaku jadi aku ingin bertemu dengan beliau dan menanyakan sesuatu" sahut Mada.
"Budheku emang baik, penyayang, lembut, feminin, dan sabar, mirip dengan Nenek Melati. Nggak seperti Mamaku yang tomboy, barbar, dan galak banget" dengus Galvin.
"Sekarang Mama kamu di mana? di sini atau di Indonesia?" tanya Galvin.
"Mamaku sudah meninggal" sahut Mada sambil menurunkan kopernya dari atas kasur lalu duduk di sebelahnya Galvin menunggu Violet datang.
Galvin menatap Mada dengan penuh rasa simpati dan berucap, "I am sorry to hear that"
Mada cuma tersenyum tipis menanggapi ucapannya Galvin.
Tidak begitu lama, Violet muncul di ambang pintu dan bertanya, "Kita berangkat sekarang?"
"Well, aku ikut kalau gitu. Tapi, kita mampir sebentar ke makam Kakek dan Nenek boleh? selain kangen sama Kakek dan Nenek, aku juga ingin meminta jodoh sama Kakek dan Nenek, hehehe" sahut Galvin.
Violet tersenyum geli lalu ia menatap Mada, meminta persetujuannya Mada dan Mada tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah mengunjungi makam pembesarnya The Elruno dan makamnya Maha Adijaya, Mada, Violet, dan Galvin terbang ke Indonesia.
Sesampainya di bandara di Indonesia, Mada memegang bahunya Violet, "Maaf aku tinggalkan kamu dan Galvin. Ada urusan yang harus segera aku tangani"
Violet mengangguk. Mada mencium keningnya Violet, melambaikan tangan ke Galvin lalu melesat pergi meninggalkan bandara. Edo yang menjemput Mada segera meluncurkan mobil ke sebuah gudang tua yang ada di pinggiran kota, untuk menyelamatkan Katherine dan Hefin.
Galvin dan Violet menunggu jemputan di ruang tunggu.
"Kau sangat mencintainya ya?" Galvin melempar tanya saat ia melihat Violet masih menatap arah perginya Mada.
__ADS_1
Violet menoleh ke Galvin. Dia tersenyum lalu menyesap cangkir kopinya dengan canggung.
"Well, I can see that you love him so much but, sepertinya dia itu seorang bad boy dari gaya bicara dan gaya berpakaiannya yang kasual. Kau serius menjalin hubungan dengannya?"
"Dia memang bad boy tapi dia jinak di saat ia bersama denganku dan aku bisa merasakan kalau dia sangat mencintaiku" sahut Violet dengan senyum simpul kebahagiaan berbalut cinta.
"Oke, itu hidupmu, aku hanya doakan kau tidak salah memilih lagi" sahut Galvin.
"Aku yakin kali ini aku tidak salah memilih" Violet tersenyum lebar ke Galvin dan Galvin hanya bisa menghela napas panjang.
Mada dan Edo telah sampai di depan bangunan gedung tua berlantai dua yang besar dan luas halamannya namun, tampak kotor dan terbengkalai.
"Aku nggak peduli soal Katherine karena, yang menculik Katherine adalah mantan kekasihnya Katherine, yang sudah Katherine rugikan. Tapi permasalahannya sekarang adalah, Hefin pun ikut diculik. Aku nggak ingin sahabatku Hefin kenapa-kenapa. Kau yakin Hefin baik-baik saja, kan?"
"Iya Bos. Hefin baik-baik saja. Dia selalu bisa membalas pesan text dari saya" sahut Edo.
"Oke, ayok kita turun!" Mada berucap sambil membuka pintu mobil lalu turun dan Edo mengikutinya dari belakang dengan sikap penuh kewaspadaan.
Mada dan Edo terus melewati halaman gedung tua yang sangat luas itu sampai mereka masuk ke dalam dan langsung dipertontonkan keadaan Katherine dan Hefin yang terikat di atas bangku kayu, kedua kaki dan tangannya.
Katherine tersenyum lebar dan memekik senang, saat ia melihat suaminya yang sangat ia cintai datang untuk menyelamatkannya "Aku senang kau mau datang untukku"
"Cih! dasar binal! aku datang untuk Hefin bukan untukmu" Mada berteriak kesal ke Katherine.
The King Cobra menggemakan tawanya kemudian berteriak ke Mada, "Aku akan bebaskan mereka asal kau bayar semua kerugian yang sudah aku alami karena, wanita murahan dan brengsek itu!"
Mada menatap ke Katherine lalu beralih ke Hefin. Kemudian Mada bertanya ke Katherine, "Aku hanya ingin membebaskan Hefin jadi.........."
"Bebaskan Katherine juga Mada. Aku akan bantu kamu berapa pun yang harus kau bayar" sahut Hefin.
"Aku akan bebaskan Katherine asal Katherine mau berjanji dulu dan akan kurekam" Mada mulai menyiapkan ponselnya ke arah Katherine lalu berkata, "Berjanjilah, kau akan turuti apapun yang aku inginkan dengan keras. Katakan dan sebut nama kamu!"
"Baiklah! Aku Katherine istri sahnya Mada Goh berjanji akan lakukan apapun yang Mada Goh minta!" pekik Katherine dengan nada kesal.
Mada lalu menyimpan rekaman suaranya Katherine kemudian menoleh ke The King Cobra, "Katakan berapa yang harus aku bayar!?"
"Lima ratus juta rupiah dan satu mobil sport milikmu yang warna kuning. Aku lihat tadi pas aku ke rumahmu dan aku suka" The King Cobra menyeringai ke Mada.
"Baiklah! berapa nomer rekening mu? aku akan transfer dari ponselku" ucap Mada. The King Cobra mengucapkan sejumlah nomer dan Mada langsung mentransfer uang sebanyak lima ratus juta rupiah ke nomer rekening tersebut dan berkata, "Suruh anak buahmu ambil mobilku, kuncinya kalian bisa minta ke asistenku ini!" Mada berucap sambil menepuk pundaknya Edo.
Katherine dan Hefin pun akhirnya dibebaskan tanpa adanya baku tembak dan duel.
Hefin, Katherine, dan Edo masuk ke dalam mobil tapi, Mada masih berdiri di depan pintu kemudi. Dia memerintahkan Edo membawa Katherine ke kapalnya karena, rumahnya sudah tidak aman lagi. Mada tidak seratus persen memercayai omongannya The King Cobra yang mengatakan kalau nggak akan mengganggu Mada dan Katherine lagi. Mada melakukan semua itu bukan karena, ia peduli dengan Katherine tapi karena ia tidak mau lagi mengalami kerugian akibat dari tingkah polahnya Katherine.
"Lalu kau mau ke mana Mada?" teriak Katherine dari dalam mobil.
"Bukan urusanmu" Lalu Mada menepuk bodi mobil dan memerintahkan Edo untuk segera pergi membawa Katherine ke dermaga.
Mada lalu menelepon supirnya untuk menjemput dia dan saat ia sudah berada di dalam mobil, ia menelepon Violet, "Kamu ada di mana?"
"Tadi aku ke rumah sakit untuk memberikan laporan kalau aku udah pulang dan bisa dihubungi sewaktu-waktu kalau UGD membutuhkanku dan sekarang aku malah tertahan di rumah sakit"
"Oke aku ke sana ya" sahut Mada dan klik Mada mematikan ponselnya lalu menoleh ke supir pribadinya, "Antarkan aku ke rumah sakit Nature Medika.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Violet berdiri di depan pintu UGD. Mada segera membuka pintu mobil, melesat turun, berlari, dan langsung memeluk Violet, "Aku sangat merindukanmu" ucapnya.
Violet balas.memeluk Mada dan terkekeh geli, "Tadi kan baru saja bertemu. Apa urusanmu udah selesai?"
"Sudah dan aku lapar. Apa kau punya waktu untuk menemaniku makan?" Mada memegang kedua bahunya Violet.
"Ada. Aku udah selesai mengurus pasien terakhirku dan aku free sekarang. Untuk itu aku bisa menunggu kedatanganmu di luar" Violet tersenyum ke Mada.
"Cinta, aku boleh kan mulai memanggilmu.Cinta?" tanya Mada.
"Boleh" Violet tersenyum malu karena, baru pertama kali itu, ada orang yang memangilnya dengan nama panggilan Cinta dan orang itu adalah kekasih hatinya.
"Kenapa wajahmu merona malu? apa belum pernah ada orang, yang memanggilmu Cinta?"
Violet tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya.
"Aku senang aku selalu menjadi yang pertama bagimu. Aku seolah masih belum memercayai semua ini" sahut Mada sambil memakan nasi goreng pesanannya.
"Memercayai apa?"
"Kau menjadi milikku" Mada menatap Violet dengan tekun.
"Jangan katakan itu!"
"Tapi aku masih merasa kalau aku nggak pantas untuk kamu" sahut Mada.
"Kamu pantas untukku. Hanya kamu yang pantas untukku dan selamanya aku akan mencintaimu" sahut Violet.
"Apapun yang terjadi nanti? seberat apapun perjalanan kita nanti?" tanya Mada serius.
Violet yang naif dan polos, menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, "Iya. Apapun masalah yang ada nanti, aku akan tetap mencintaimu" ucap Violet dengan senyum penuh cinta.
Mada lalu bangkit, mendekati Violet, dan membungkukkan badan untuk mencium pipinya Violet, kemudian berkata, "Terima kasih"
Mereka akhirnya berpisah di halaman depan rumah sakit Natura Medika.
Mada ke kapalnya dan mendapati Katherine duduk di buritan.
Katherine langsung berdiri dan hendak memeluk Mada namun, Mada segera menghindar dengan kata, "Jangan menyentuhku! besok pengacaraku akan ke sini jam sepuluh pagi. Aku akan menceraikanmu"
"Hah?! Apa?! kau jangan bercanda Mada!" Katherine memekik frustasi.
"Apa aku terlihat sedang bercanda saat ini?" Mada menatap tajam wajah cantiknya Katherine yang sangat ia benci.
"Tapi aku tidak mau bercerai!" Katherine berteriak kencang ke Mada.
"Kau sudah berjanji akan menuruti semua keinginanku kan? dan aku sudah merekamnya. Kau tak bisa bersilat lidah" Mada menggoyang-nggoyangkan ponselnya di depan Katherine
"Kenapa kau ingin menceraikanku?" tanya Katherine dengan suara lirih.
"Cih! jangan pura- pura tak tahu alasannya. Dan karena aku capek untuk mengingatkanmu soal itu, biarkan pengacaraku besok yang akan menjelaskannya ke kamu, semua alasanku kenapa aku menceraikanmu" sahut Mada sambil berputar badan lalu pergi meninggalkan Katherine begitu saja. Mada memutuskan untuk tidur di hotel. Dia tidak sudi tidur seranjang dengan Katherine di kapal.
Katherine menyeringai sambil menatap layar ponselnya, "Sebelum kau ceraikan aku, aku akan mendatangi pacar kamu dan memberikan rekaman ini ke Violet. Apa tanggapan Violet soal rekaman ini ya, hahahaha. Jika kau tak bisa aku miliki, maka siapa pun juga nggak akan aku biarkan memilikimu"
__ADS_1