
Setelah semua keluarganya Violet pulang, Gasa menunggu Violet. Violet melihat ketulusannya Gasa dan dia menjadi tersentuh sehingga mulutnya tanpa Violet sadari,menjadi terbuka, untuk meloloskan kata, "Aku bersedia menikah denganmu secepatnya, Mas"
Gasa melongo di depannya Violet, sebagai bentuk reaksi refleksnya Gasa atas stimulan yang ditangkap oleh fisik, pikiran dan nalarnya. Kata dari Violet, kesediaannya Violet menikah dengannya, sudah lama ia tunggu dan harapkan, membuat ia kemudian berkata dengan penuh semangat, "Apa aku tidak salah dengar?" tanya Gasa.
"Tidak Mas. Aku serius. Tapi, aku tidak mau tinggal di Jerman dan ridak mau melepas karirku sebagai dokter. Aku sangat mencintai pekerjaanku dan aku tidak bisa hidup di luar negri. Aku cinta Indonesia" sahut Violet sambil memegang tangannya Gasa.
Gasa langsung menggenggam tangannya Violet, "Baiklah aku turuti kemauan kamu tapi, kamu juga harus bersedia bersabar menungguku pulang jika harus aku tinggal cukup lama di Jerman karena, pusat Bisnisku ada di sana"
"Untuk berapa lama Mas di Jerman? seperti biasanya kan, hanya seminggu atau dua Minggu?"
Gasa mencium tangannya Violet, "Karena bisnisku mulai berkembang, untuk ke depannya jika aku ke Jerman, akan memakan waktu cukup lama, bisa sampai satu bulan"
"Nggak papa Mas. Aku akan setia menunggumu sebagai istri yang bertanggung jawab"
Gasa langsung mencium keningnya Violet, turun ke hidung sampai ke pucuk hidungnya Violet dan ketika bibirnya sampai di depan bibirnya Violet, Gasa bertanya, "Bolehkah?"
Violet terdiam beberapa detik dan akhirnya menganggukkan kepalanya karena, Violet berpikir, dia ingin menghapus jejak Mada dengan ciumannya Gasa.
Gasa langsung meraup bibirnya Violet dan Gasa menjadi terbuai karena, rasa yang ada di Violet, The Thing about Violet membuat Gasa terus merasa kehausan, seperti musafir yang sudah berjalan lama di Padang gurun dan akhirnya bertemu dengan oase. Gasa menghisap bibir itu dan dia ingin lagi, dan lagi. Rasa yang ia kecap melebihi semua rasa yang ada di dunia ini.
Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh Violet. Violet tidak membalas ciumannya Gasa karena, ia merasa hambar. Ciumannya Gasa tidak membuat hatinya terpercik aliran listrik seperti ciumannya Mada. Violet tanpa sadar menitikkan air mata dan setitik air bening yang keluar dari kedua bola mata indahnya Violet mengenai keningnya Gasa dan membuat Gasa mengehentikan ciumannya.
Gasa mengusap bibir Violet dengan ibu jarinya lalu mengusap air mata Violet yang jatuh di kedua pipinya Violet dengan bibirnya. Kemudian dia menempelkan keningnya di keningnya Violet, "Maaf kalau aku menyakitimu. Ciumanku terlalu liar dan membuatmu ketakutan ya?"
Violet menggelengkan kepalanya, "Aku hanya merasa pelipisku yang terluka terasa berdenyut dan tanpa sadar air mataku menetes Mas" Violet terpaksa berbohong walupun sebenarnya luka di pelipisnya memang kembali berdenyut nyeri tapi dia menangis bukan karena nyeri di pelipisnya tapi karena nyeri di hatinya yang timbul karena ia kembali merindukan Mada.
"Kamu ternyata memiliki sesuatu yang membuatku kecanduan. Maaf jika aku mencium kamu dengan sangat rakus tadi, padahal ciuman tadi adalah ciuman pertama kita" ucap Gasa sambil menarik wajah dan mengusap pipinya Violet.
__ADS_1
Violet tersenyum dan berkata, "Aku yang harus meminta maaf karena, aku kaku tadi. Aku tidak membalas ciuman kamu, Mas"
Gasa tersenyum penuh cinta lalu merebahkan Violet secara perlahan, mengecup keningnya Violet dan berkata, "Tidurlah! aku akan menjagamu. Soal.ciuman tidak usah dipikirkan. Masih banyak waktu untuk kita saling belajar nanti"
Violet tersenyum mengucapkan terima kasih lalu tidur miring membelakangi Gasa. Dia tidak ingin Gasa melihatnya menitikkan air mata kembali.
Gasa kemudian berpindah duduk ke sofa dan merebahkan tubuh penatnya di sana.
Mada menatap jendela di pesawat, dia melihat sayap pesawat lalu melihat ke awan dan dia menghela napas panjang karena, kenyataan bahwa dia tidak bisa bertemu dengan Violet kembali bahkan hanya untuk berkirim pesan text ataupun menelepon, membuatnya terus berkata pada dirinya sendiri, kalau dia tidak baik-baik saja.
Sebagian besar dari dirinya Mada membutuhkan wiski, anggur, atau minuman beralkohol lainnya untuk melepaskan diri dari kekecewaan dan kesedihannya tapi, perkataan Violet yang selalu mengingatkan dia untuk tidak menyentuh minuman beralkohol lagi, membuat Mada bisa bertahan untuk tidak mencari minuman memabukkan itu.
"Tato di leher belakang Anda, cute sekali" suara seorang perempuan, mengagetkan Mada dari lamunannya. Mada menoleh ke samping kirinya dan kedua netranya menangkap seraut wajah cantik seorang perempuan yang masih muda, kira-kira seumuran dengan Violet.
"Kapan Anda muncul?" Mada bertanya dengan menautkan alisnya.
Perempuan muda itu terkekeh geli, "Saya bukan hantu. Sedari tadi Saya duduk di sebelah Anda. Namun, Anda langsung tidur pas pesawat sudah mengudara tadi dan sewaktu Anda bangun, Anda langsung menatap ke jendela"
"Perjalanan kita masih sangat panjang. Kita akan mengobrol panjang sepertinya jadi saya perlu memperkenalkan diri saya, nama saya Ratna Buana, umur saya dua puluh satu tahun, saya lulus kuliah D tiga jurusan sekretaris dan saya sangat beruntung, perusahaan besar Elruno di Amerika, merekrut saya untuk menjadi karyawan di sana"
"Oh! kita satu tujuan berarti. Saya juga akan menemui Chery Elruno, pemilik perusahaan Elruno itu. Nama saya Mada Goh dan tebak berapa umur saya?" tanya Mada dengan ramah.
"Emm, tiga puluh tahun?" tanya Ratna.
"Hahahaha, aku tampak setua itu ya, hahahaha"
"Ah! Maafkan saya kalau saya salah menebak"
__ADS_1
"Nggak papa. Saya masih dua puluh lima tahun"
"Kalau Anda tersenyum Anda kelihatan muda tapi, sayangnya Anda saya lihat lebih banyak menekuk wajah jadi Anda kelihatan lebih tua"
Mada tersenyum lebar, "Terima kasih atas pujiannya"
Mada merasa bersyukur bertemu dengan Ratna Buana yang lumayan ceriwis dan enak diajak mengobrol, membuat Mada untuk sejenak bisa melupakan kesedihannya kehilangan Violet, gadis yang merupakan cinta pertamanya dan akan menjadi cinta selamanya bagi Mada walaupun Mada tidak bisa memiliki Violet.
Setelah menikmati penerbangan yang cukup panjang dan lama, Ratna Buana dan Mada Goh turun di negeri Paman Sam. Mereka segera menuju ke hotel karena, mereka tiba di sana tepat jam sembilan malam. Mada mengajak Ratna menuju ke hotel yang sama dengannya karena, ia merasa nggak tega meninggalkan Ratna naik taksi dan menuju ke hotel sendirian di negeri asing dan di pekatnya malam.
Perjalanan panjang membuat Mada dan Ratna menjadi semakin akrab dan mengubah kata formal di awal perkenalan mereka menjadi bahasa informal di dua jam berikutnya setelah perkenalan awal mereka.
"Selamat beristirahat" ucap Mada Goh sambil membuka pintu kamarnya.
Ratna yang kebetulan bisa mendapatkan kamar di sebelah kamarnya Mada tersenyum dan berkata, "Selamat tidur Kak, selamat beristirahat pula"
Mada dan Ratna kemudian masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Mada segera mengguyur tubuhnya dengan guyuran air hangat dan ia kembali menangis di sana. Rasa cintanya untuk Violet baru ia sadari sangat menyesakkan dadanya di saat ia jauh dari Violet dan kenyataan pahit bahwa ia benar-benar telah kehilangan Violet, kembali membuat dirinya kehilangan daya.
Sedangkan Ratna senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Dia menyukai laki-laki seperti Mada yang dewasa, perhatian, dan santai orangnya, juga apa adanya. Ratna juga menyukai cowok bertato. Apalagi tato itu tato karakter lumba-lumba yang sangat ia sukai dan ada tulisan cinta di tubuh karakter lumba-lumba itu. Ratna melompat ke atas ranjang dan bergumam, "Apa arti tulisan cinta di tato lumba-lumbanya itu? apa dia begitu menyukai karakter lumba-lumba maka dia menorehkan tulisan cinta di sana? Ah! dia sweet sekali, aku sangat menyukainya" Ratna langsung menutup wajahnya sendiri karena malu dengan perasaan sukanya pada Mada Goh.
Mada melompat ke atas ranjang lalu membuka layar ponselnya, dia melihat wajah ayu alaminya Violet saat dulu, Violet pernah tidur di dalam dekapannya. Mada diam-diam mengambil gambar wajah ayu alaminya Violet waktu itu dan dia pakai menjadi gambar wallpaper di ponselnya.
Mada mengusap wajah Violet yang terpampang indah di dalam ponselnya dan bergumam, "Apa yang harus kulakukan, aku bisa saja menghapus foto kamu, menghapus foto-foto kenangan kita berdua jika aku mau tapi, suara kamu, wajah kamu, kelembutanmu, perhatianmu, tertoreh dalam sekali di hatiku dan tidak bisa aku hapus. Aku akan selalu mencintaimu sejak aku menyatakan rasaku ke kamu dan sampai selama-lamanya, hanya akan ada dirimu di hati dan seluruh jiwa ragaku. Semoga kau bahagia dengan Kak Gasa"
Mada kemudian tertidur dan di tengah malam, dia kembali dihantui mimpi buruk yang selalu ia dapatkan sejak ia menemukan mamanya meninggal bersimbah darah. Mada terbangun, terengah-engah dan ia sangat ingin menelepon Violet, meminta Violet menyanyikan lagu Bintang untuknya tapi dia justru melempar ponselnya dengan keras dan ponsel itu pun jatuh ke lantai menjadi berkeping-keping sama nasibnya dengan hatinya Mada saat itu.
__ADS_1
Mada lalu melompat turun membuka lemari kulkas mini dan ia tersenyum lega ketika ia menemukan ada tiga kaleng bir di sana. ia segera menenggak ketiga kaleng bir itu dengan rakus dan dengan tangan gemetar lalu ia memutuskan untuk tidur di atas lantai, berteman dengan dinginnya lantai kamar hotel itu karena, kehangatan sebuah ranjang justru membuatnya merasa semakin merana.
Mada akan menemui Chery Elruno keesokan harinya dan semoga dia mendapatkan pencerahan setelah bertemu dengan Chery Elruno.